KITA HIDUP dalam sebuah ekosistem baru yang bernapas dengan logika yang berbeda. Udara yang kita hirup sarat dengan penilaian cepat, mata uang yang kita gunakan adalah perhatian, dan bahasa yang kita ucapkan adalah bahasa penampakan.
Ini adalah Dunia Suprafisial, sebuah realitas yang tidak lagi menganggap permukaan sebagai pintu masuk, melainkan sebagai kebenaran akhir yang mutlak.
Sering kali, kita terjebak dalam mekanisme penilaian yang reduksionis, di mana martabat manusia hanya dinilai dari data-data yang kasat mata. Dunia Suprafisial memaksa kita menjadi kurator. Kita sibuk menyortir orang ke dalam hierarki sosial dan materi, seolah itu semua adalah indikator kemuliaan paling wahid. Dalam ekosistem prasangka ini, kita tergesa melabeli “kulit” seseorang. Kita abai bahwa ada kedalaman jiwa dan manusia yang sebenarnya hidup di balik itu semua.
Bagi saya, meremehkan sesuatu hanya karena ia tampak tak berarti adalah bentuk pengingkaran terhadap prinsip desain semesta. Alam bekerja dalam harmoni. Setiap entitas, sekecil apa pun, memiliki peran. Setiap entitas, seremeh apa pun, tidak diciptakan dengan kesia-siaan.
Sang Pencipta tidak meletakkan kemuliaan-Nya pada ukuran, melainkan pada kebermanfaatan. Tuhan menciptakan nyamuk, yang kita sering kesal dibuatnya, sebagai simpul krusial dalam rantai makanan dan katalis riset medis yang canggih. Tuhan menciptakan cacing, dalam kesunyiannya di bawah tanah, sebagai arsitek kesuburan tanah yang menopang tegaknya peradaban manusia. Keberadaan mereka menjadi pengingat bahwa nilai sejati manusia tidak pernah terletak pada kemasan atau statusnya, melainkan pada seberapa bermanfaat ia bagi manusia lainnya. Bukan berarti semua manusia setara dalam perilaku; tetapi semua manusia punya potensi kebaikan yang tak selalu tampak di permukaan—seperti akar yang tak kelihatan, tapi menopang pohon.
Jika Sang Maha Sempurna pun tidak “gengsi” dengan ciptaan-Nya yang tampak “remeh” di mata manusia, atas dasar apa kita, sebagai makhluk yang jauh lebih terbatas, merasa berhak merendahkan dan menolak sesama manusia hanya karena ukuran-ukuran suprafisial?
Mengapa kita begitu mudah terperangkap dalam mekanisme menyimpulkan seseorang hanya dari kulit luarnya? Jawabannya berakar jauh pada cara masyarakat kita terstruktur dan sejarah panjang stratifikasi sosial. Otak manusia, dalam upayanya mencari efisiensi, dengan mudah mengadopsi kategorisasi yang disediakan oleh lingkungan: kelompok “kita” dan “mereka”, “setara” dan “tidak setara”, “cocok” dan “tidak cocok”. Instrumen mental ini awalnya diciptakan untuk membantu kita menavigasi sosial. Namun, tanpa sadar, ia justru berubah menjadi penjara yang membatasi pandangan kita.
Penelitian Willis dan Todorov dari Princeton University tahun 2006 membuktikan bahwa kesan pertama—tentang status, kepercayaan, bahkan moral—terbentuk hanya dalam waktu 0,1 detik. Studi eksperimental itu menunjukkan bahwa otak kita, dalam upaya efisiensi, membentuk menyusun narasi moral hanya dari wajah, tanpa data lain.
“Sepersepuluh detik yang ringkas itu menjadi hakim yang menentukan apakah seseorang baik atau buruk, hanya dari seiris tipis identitas yang kita lihat.”
Bayangkan, sepersepuluh detik yang ringkas itu menjadi hakim yang menentukan apakah seseorang baik atau buruk. Hanya dengan melihat pakaian, logat, atau latar belakang keluarga, benak kita secara instan menyusun narasi utuh yang sering kali hanyalah fiksi penuh prasangka. Fenomena ini adalah thin-slicing, sebuah kekeliruan kognitif di mana kita mengambil seiris tipis identitas seseorang, lalu dengan angkuh menganggapnya telah mewakili seluruh kompleksitas hidup seseorang.
Jika otak kita yang begitu canggih saja bisa salah menilai dalam waktu kurang dari kedipan mata, atas dasar apa kita merasa layak menilai nilai intrinsik seseorang? Apalagi menolaknya, hanya karena tidak sesuai ekspektasi?
Di balik kecepatan penilaian itu, bias yang paling licik bermain: Halo Effect. Kita membiarkan satu atribut yang terlihat mewarnai seluruh penilaian kita. Bahkan yang tak terlihat, tapi kita duga, ikut membentuk narasi yang bias. Jika seseorang berasal dari latar yang dianggap “biasa-biasa saja”, secara otomatis kita mungkin meragukan pendidikannya, etos kerjanya, atau bahkan niat baiknya. Sebaliknya, jika seseorang datang dari latar yang “wah”, kita memberi kredit berlebih pada karakter dan kemampuannya.
“Don’t judge a book by its cover,” kata orang Barat. Kita sering terburu-buru memuji atau menghakimi “sampul” kehidupan seseorang—latar keluarga, gelar, atau status—seolah itu cukup untuk mewakili seluruh ceritanya. Padahal, hidup tak pernah sesederhana sampulnya. Meski latar belakang membentuk awal perjalanan, ia bukan akhir dari narasi. Kelembutan hati, ketulusan, dan kebijaksanaan bisa tumbuh dalam kondisi apa pun, kadang justru di tempat yang tak terduga. Mereka ditempa bukan hanya oleh keadaan, tapi oleh cara seseorang merespons keadaan itu: dalam sunyi, dalam pilihan-pilihan hidup, dalam kesetiaan pada nilai meski tak ada yang melihat. Itulah bagian dari kisah yang sangat jarang terpampang di feed Instagram atau status WhatsApp-nya.
Logika suprafisial ini diperkuat oleh sistem sosial yang lebih sering menghargai simbol daripada substansi. Lebih dari terlalu cepat menilai, kita juga dibiasakan untuk cepat mengategorikan.
Jika halo effect bekerja di dalam kepala kita, maka dramaturgi Goffman menjelaskan bagaimana ilusi itu dipentaskan di ruang publik. Ia menggambarkan bagaimana kita memainkan peran di “panggung depan”, tempat citra, gengsi, dan kesan harmonis menjadi prioritas. Tapi panggung ini tidak bekerja sendiri. Ia bergantung pada penonton yang sudah terlatih oleh halo effect—yang memberi nilai tinggi hanya karena satu atribut menyenangkan, dan menolak hanya karena satu ketidaksesuaian.
Akibatnya, setiap orang yang tidak “sesuai skrip” dianggap mengganggu pertunjukan. Dalam sistem seperti ini, pertanyaan etis seperti ‘Apakah ini benar?’ atau ‘Apakah ini baik?’ tergeser oleh pertanyaan yang jauh lebih dangkal: ‘Apakah ini akan merusak citra?’ Kita terlalu sibuk menilai sampul, tetapi lupa bahwa yang menentukan seberapa baik sebuah buku adalah cerita yang tertulis di dalamnya.
Dari sinilah lahir tragedi sosial yang paling merusak: penilaian berdasarkan cerita tunggal. Cukup dengan satu narasi, kita langsung menutup buku itu sebelum membaca bab berikutnya. Ketika kita hanya melihat satu sudut dari seorang manusia, kita melakukan reduksi yang kejam: mengubah manusia yang kompleks menjadi stereotip atau angka statistik. Dalam proses itu, kita menutup mata terhadap kemungkinan bahwa dari kesederhanaan lahir ketangguhan, dari keterbatasan tumbuh empati, dan dari kerendahan hati muncul integritas yang jauh lebih bernilai daripada segala label yang melekat di permukaan.
Efek dari penilaian berdasarkan penampilan luar adalah perlahan-lahan kita kehilangan kepekaan terhadap kemanusiaan di balik wajah-wajah itu. Saat menghakimi lebih cepat daripada memahami, kita sedang melatih diri untuk curiga. Kita kehilangan kemampuan untuk terbuka. Padahal, perbedaan seharusnya menjadi pintu masuk menuju perspektif baru, bukan justru dianggap sebagai penghalang.
Hubungan antarmanusia, yang idealnya tumbuh dari rasa saling mengenal dan kerendahan hati, malah dibangun di atas asumsi rapuh prasangka dan gengsi. Akibatnya, banyak ruang yang seharusnya penuh dialog justru kosong karena kita terlalu cepat menutup pintu. Ini menciptakan lingkaran setan di mana orang-orang baik dengan hati yang tulus justru tersingkir karena “tidak memenuhi kriteria permukaan”, sementara kita sendiri terjebak dalam penjara ekspektasi sosial yang sempit.
Lalu, bagaimana kita melawan arus ini? Cara pertama dan terpenting adalah dengan mempraktikkan kerendahan hati untuk mengakui ketidaktahuan kita. Kita harus jujur pada diri sendiri: “Apa yang saya ketahui tentang perjalanan hidup dan nilai-nilai yang dipegang orang ini? Hampir tidak ada.” Mengakui bahwa penilaian kita berdasarkan “kulit” sangatlah terbatas adalah langkah pertama menuju kebijaksanaan. Langkah ini selaras dengan kesadaran bahwa segala sesuatu, bahkan yang tampak kecil, diciptakan dengan tujuan yang mungkin tidak kita pahami.
Kedua, kita perlu mengganti kacamata hakim dengan kacamata penjelajah. Daripada terpaku pada latar belakang dan apa yang tampak di permukaan, lebih bermakna untuk menggali nilai-nilai yang membentuk cara seseorang berdiri di tengah ujian, memperlakukan sesama, dan memaknai kehidupan. Yang perlu ditanyakan bukan sekadar dari mana ia berasal, tetapi bagaimana pengalaman dan keyakinannya membentuk cara ia hadir di dunia. Pertanyaan semacam ini tidak lahir dari keinginan menghakimi, tapi dari keinginan untuk benar-benar memahami. Lewat pemahaman itu, kita bisa menghormati kemungkinan bahwa setiap orang, seperti setiap ciptaan, memiliki “tujuan” yang unik.
Ketiga, berani memprioritaskan “isi” di atas “sampul” dalam cara kita memandang sesama. Nilai seseorang tak pernah sepenuhnya terbaca dari gelar, latar, atau pencapaian yang tampak di permukaan. Ia justru tersirat dalam konsistensi tindakan, kerendahan hati dalam berkomunikasi, dan bagaimana ia bisa bermanfaat bagi sekelilingnya. Ketika kita melatih diri untuk peka terhadap dimensi-dimensi tak kasatmata ini, kita juga mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa kemanusiaan terlalu berharga untuk direduksi menjadi angka dan status.
Pilihan untuk tidak menilai buku dari sampulnya adalah pilihan untuk membebaskan diri kita sendiri. Kita membebaskan diri dari penjara prasangka, dari beban menjaga penampilan, dan dari ketakutan akan omongan orang lain. Lebih penting lagi, kita membuka diri pada kemungkinan menemukan harta karun tersembunyi di balik sampul yang mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Dunia ini penuh dengan cerita-cerita indah yang sampulnya sederhana, tetapi isinya mengubah hidup. Cerita tentang kesetiaan yang tak tergoyahkan, tentang ketabahan yang menginspirasi, dan tentang cinta yang tumbuh subur justru di tanah yang dianggap tandus oleh banyak orang.
Karakter sejati seseorang, seperti akar pohon, tumbuh dalam kegelapan tanah, tidak terlihat oleh mata yang hanya menatap permukaan. Tugas kitalah untuk berhenti menjadi ahli penilai sampul, dan mulai menjadi pembaca yang sabar, yang mau menggali lebih dalam, yang percaya bahwa cerita terbaik sering kali tersembunyi dari pandangan sekilas. Sebab pada akhirnya, yang membentuk hidup kita bukanlah latar belakang seseorang, melainkan bentang kemanfaatan yang ia tebarkan bagi sekelilingnya.
“Karakter sejati manusia, seperti akar pohon, tumbuh dalam kegelapan tanah—tak terlihat oleh mata yang hanya terpaku menatap permukaan.”
Dengan meneladani hikmah bahwa tidak ada satu pun ciptaan, dan tidak ada satu pun manusia, yang diciptakan untuk kesia-siaan, kita baru saja mengambil satu langkah besar untuk keluar dari bayang-bayang Dunia Suprafisial—sebuah dunia yang selama ini mendewakan kemasan, namun kering akan kemanusiaan.






