DUNIA pendidikan kita hari ini sedang berada di persimpangan jalan yang riuh. Satu sisi menawarkan kebebasan melalui “Kurikulum Merdeka”, sisi lain menyisakan kegamangan akan hilangnya pegangan nilai. Jika kita menilik karya monumental KH Hasyim Asy’ari yang disandingkan dengan visi transformasi hari ini, kita menemukan sebuah pesan mendalam: **kemerdekaan tanpa adab hanyalah pengembaraan tanpa arah, dan kecerdasan tanpa ketundukan batin hanyalah kesombongan yang terbungkus ijazah.
Adab di Atas Ilmu: Pondasi yang Terlupakan
Dalam buku Konsep Pendidikan KH Hasyim Asy’ari, ditekankan bahwa tujuan utama pendidikan adalah al-akhlaq al-karimah. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan bagi siswa untuk mendalami minat, namun Mbah Hasyim mengingatkan bahwa ilmu tidak akan bermanfaat tanpa adab*.*
Hari ini, kita sering terjebak pada capaian pembelajaran (CP) yang bersifat kognitif dan teknis. Kita merdeka secara pilihan mata pelajaran, namun apakah kita sudah merdeka dari krisis karakter? Kurikulum Merdeka harus mampu mengadopsi konsep Mbah Hasyim bahwa hubungan guru dan murid bukan sekadar transaksi informasi, melainkan pertautan ruhani.
Guru bukan hanya “fasilitator” yang netral, melainkan “murobbi” (pendidik jiwa) yang setiap katanya adalah teladan dan setiap diamnya adalah pengajaran.
Meluruskan Niat di Tengah Arus Teknokratis
Salah satu poin paling mendalam dari pemikiran KH Hasyim Asy’ari adalah urgensi niat. Pendidikan bertujuan untuk lillahi ta’ala mencari ridha Allah dan menghilangkan kebodohan. Sementara itu, tantangan terbesar Kurikulum Merdeka adalah godaan untuk terjebak pada aspek “administratif digital”.
Pengalaman para guru menunjukkan bahwa mereka seringkali lebih disibukkan dengan “bagaimana mengisi aplikasi PMM” daripada “bagaimana menyentuh hati murid”. Di sini, pemikiran Mbah Hasyim hadir sebagai pengingat keras: Jika pendidikan hanya diniatkan untuk mencetak tenaga kerja yang relevan dengan pasar industri (materialistik), maka kita sedang mengalami kemunduran peradaban. Kemerdekaan belajar sejati adalah merdekanya niat dari kepentingan duniawi yang sempit, menuju pengabdian yang luas bagi kemanusiaan.
Guru sebagai Sanad, Bukan Sekadar Alat
Kurikulum Merdeka mendorong digitalisasi besar-besaran. Namun, pada buku Konsep Pendidikan KH Hasyim Asyari Dan Relevansinya Dengan Merdeka Belajar ini mengingatkan kita pada konsep sanad atau silsilah keilmuan. Pengetahuan bisa didapat dari Google, tapi “barokah” hanya bisa didapat melalui khidmah (pengabdian) dan interaksi langsung dengan guru.
Kehadiran guru di kelas tidak boleh digantikan oleh algoritma. Guru-guru kita saat ini sedang berjuang di antara tuntutan menjadi “modern” dan panggilan jiwa untuk tetap menjadi “pamong”. Kita butuh kurikulum yang memerdekakan guru dari beban teknis yang tidak perlu, agar mereka memiliki waktu untuk duduk melingkar bersama murid, mendengar keluh kesah mereka, dan menanamkan nilai-nilai ke-Indonesiaan yang religius sebagaimana tradisi pesantren yang dijaga oleh Mbah Hasyim.
Menanam Benih yang Berkah
Pendidikan yang memerdekakan haruslah pendidikan yang memanusiakan. Sesuai dengan relevansi pemikiran KH Hasyim Asy’ari terhadap Merdeka Belajar, maka sekolah harus menjadi taman persemaian di mana adab tumbuh lebih dulu sebelum ilmu, dan karakter tegak lebih kuat sebelum angka-angka ujian bicara.
Suara Hati Sang Pamong: “Tuhan, di tengah riuh rendah pergantian kebijakan, jangan biarkan aku kehilangan wajah muridku di balik tumpukan dokumen. Ajari aku menjadi pendidik yang tidak hanya mentransfer logika, tapi juga mentransfer cinta dan adab sebagaimana teladan para kiai kami. Merdekakanlah hatiku dari rasa lelah, agar aku bisa terus memerdekakan pikiran anak-anak bangsa ini dengan cahaya ilmu yang barokah.”
Kemerdekaan belajar adalah jalan panjang menuju manusia yang berdaulat secara pikir dan suci secara hati. Jika kedua hal ini bersatu, maka Kurikulum Merdeka bukan lagi sekadar kebijakan negara, melainkan sebuah gerakan kebangkitan batin bangsa.






