Kenduri Cinta
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Download
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Download
No Result
View All Result
Home Esensia

Di Antara Dua Lingkaran

Putra Ansa Gaora by Putra Ansa Gaora
March 11, 2026
in Esensia
Reading Time: 4 mins read
Di Antara Dua Lingkaran

SUATU malam, saya duduk di selasar Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, berdiskusi dengan sejumlah orang. Seorang lulusan universitas bercerita bahwa ia telah mengirim puluhan lamaran kerja tanpa hasil. Di sebelahnya, seorang pengemudi ojek daring mengatakan bahwa ia bekerja hampir empat belas jam sehari agar penghasilannya cukup. Di sisi lain, seorang anak muda mengelola kelas belajar mandiri yang tidak diakui negara, tetapi justru di situlah ia merasa paling berguna.

Mereka tidak saling mengenal. Mereka berada dalam satu keadaan yang sama. Mereka hidup di dalam sistem yang masih ada, tetapi serasa tidak lagi bekerja untuk mereka.

Di atas kertas, Indonesia tampak stabil. Tingkat pengangguran nasional hanya sekitar 5%. Angka ini sering digunakan untuk menunjukkan bahwa pasar kerja masih mampu menyerap tenaga kerja. Namun, jika dilihat lebih dalam, realitasnya berbeda. Tingkat pengangguran usia muda mencapai lebih dari 15% pada kelompok usia 20 sampai 24 tahun; bahkan dalam beberapa sumber lain mencapai sekitar 16%. Hal ini berarti, 1 dari 6 anak muda berada dalam kondisi tidak bekerja.

Lebih jauh lagi, sekitar 23% pemuda Indonesia tidak berada dalam pendidikan, pekerjaan, maupun pelatihan. Mereka bukan hanya menganggur. Mereka berada di luar sistem sepenuhnya.

Di titik ini, kita tidak lagi berbicara tentang kekurangan lapangan kerja semata. Kita sedang melihat kegagalan sistem dalam mengintegrasikan generasi yang seharusnya menjadi tulang punggung masa depan.

Sistem merespons dengan cara yang tampak adaptif. Ekonomi gig berkembang pesat. Jumlah pekerja dalam skema ini meningkat dari sekitar 2,2 juta menjadi lebih dari 4 juta dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu, lebih dari 57% tenaga kerja Indonesia berada di sektor informal. Ini sering disebut sebagai “fleksibilitas”. Tetapi, fleksibilitas itu datang dengan harga yang tidak kecil.

Banyak pekerja gig bekerja tanpa jaminan sosial, tanpa kepastian pendapatan, dan tanpa perlindungan kerja. Mereka bekerja lebih lama, tetapi tidak selalu lebih aman. Mereka bebas, tetapi dalam batas yang ditentukan oleh algoritma dan permintaan pasar.

Di sini, kita melihat sebuah paradoks. Sistem tidak runtuh. Ia justru bertransformasi menjadi bentuk yang lebih lentur. Kelenturan itu bukan tanda kesehatan, tetapi strategi bertahan.

Dalam waktu yang sama, institusi pendidikan terus memproduksi lulusan. Tetapi dunia kerja tidak lagi mampu menyerap mereka secara proporsional. Bahkan, dalam sektor industri, peningkatan efisiensi tidak selalu diikuti oleh peningkatan penyerapan tenaga kerja. Produktivitas naik, tetapi pekerjaan tidak bertambah secara signifikan.

Di titik ini, janji klasik tentang pendidikan sebagai jalan mobilitas sosial mulai kehilangan daya yakinnya.

Di luar semua itu, sesuatu yang lain tumbuh. Di berbagai kota, muncul komunitas belajar mandiri, gerakan literasi, kolektif kreatif, dan jaringan ekonomi lokal. Mereka tidak menunggu sistem memperbaiki diri. Mereka membangun praktik sendiri, meskipun dalam skala kecil.

Ini bukan sekadar fenomena sosial. Sebuah indikasi bahwa struktur baru sedang mencoba lahir.

Hal yang jadi masalah, ia lahir tanpa arsitektur. Ia tersebar, tidak terhubung, dan sering kali tidak saling mengenali. Banyak komunitas bergerak, tetapi tidak menjadi ekosistem. Banyak inovasi muncul, tetapi tidak menjadi sistem.

Di sinilah kegagalan terbesar kita. Kita terlalu fokus pada individu. Kita berbicara tentang peningkatan skill, tentang kewirausahaan, tentang inovasi personal. Padahal persoalan utamanya bukan pada individu yang kurang siap, namun pada ketiadaan keterhubungan antar upaya yang sudah ada.

Tanpa keterhubungan, setiap inisiatif akan tetap kecil. Ia bisa bertahan, tetapi tidak akan menggantikan sistem lama yang lebih besar dan lebih mapan.

Sementara itu, sistem lama tidak benar-benar ditinggalkan. Ia terus diperpanjang melalui berbagai penyesuaian. Reformasi dilakukan, tetapi tidak menyentuh fondasi. Yang berubah adalah bentuknya, bukan logikanya.

Kita hidup dalam dua realitas yang berjalan bersamaan. Sistem lama yang melemah tetapi masih dominan. Sistem baru yang hidup tetapi belum menentukan.

Saya teringat kembali pada malam itu. Percakapan yang tampak sederhana dengan orang-orang yang saya temui itu sebenarnya adalah potret dari sesuatu yang lebih besar. Mereka bukan sekadar individu dengan masalah masing-masing. Mereka adalah fragmen dari sebuah perubahan yang belum selesai.

Saya pikir, generasi muda Indonesia hari ini tidak sedang tersesat. Mereka sedang hidup di antara dua lingkaran. Yang satu belum benar-benar pergi. Yang lain belum cukup kuat untuk menggantikan. Di antara keduanya, mereka bekerja, belajar, dan bertahan. Bukan karena sistem memberi jalan, tetapi karena mereka mulai, perlahan, membuat jalan itu sendiri.

Barangkali di titik ini, yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak pelatihan, lebih banyak program, atau lebih banyak dorongan untuk menjadi individu yang kompetitif. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mulai menghubungkan yang selama ini terpisah. Menghubungkan komunitas belajar dengan dunia kerja yang nyata. Menghubungkan inisiatif lokal dengan kebijakan yang lebih luas. Menghubungkan mereka yang bekerja sendiri-sendiri menjadi bagian dari gerakan yang saling menguatkan.

Negara tidak harus selalu hadir sebagai pusat yang mengatur, tetapi sebagai ruang yang memungkinkan pertemuan. Institusi pendidikan tidak cukup menjadi tempat produksi ijazah, tetapi harus menjadi simpul yang hidup di tengah ekosistem sosial. Generasi muda sendiri tidak lagi cukup bergerak sebagai individu, tetapi sebagai jejaring yang sadar akan kekuatannya.

Saya membayangkan, jika malam itu orang-orang yang saya temui tidak hanya berbagi cerita, tetapi mulai saling terhubung. Lulusan yang mencari kerja bertemu dengan pengelola komunitas belajar. Pengemudi ojek daring menemukan akses pada pelatihan yang relevan. Komunitas kecil itu terhubung dengan dunia yang lebih luas.

Mungkin dari situ, sesuatu yang selama ini terasa terpisah akan mulai menemukan bentuknya. Bisa jadi, dari percakapan sederhana di selasar itu, sebuah sistem baru tidak lagi hanya menjadi kemungkinan, tetapi perlahan menjadi kenyataan.

SendTweetShare
Previous Post

Simulakra Ramadan

Next Post

Reportase: Upa Angkara

Putra Ansa Gaora

Putra Ansa Gaora

Related Posts

Simulakra Ramadan
Esensia

Simulakra Ramadan

March 9, 2026
Heuristika Pencapaian: Menemukan Kemenangan dalam Kekurangan
Esensia

Heuristika Pencapaian: Menemukan Kemenangan dalam Kekurangan

February 27, 2026
Jubilee yang Hilang: Utang, Tanah, dan Ingatan yang Diputus Sejarah
Esensia

Jubilee yang Hilang: Utang, Tanah, dan Ingatan yang Diputus Sejarah

February 25, 2026
Rumah Patangpuluhan
Esensia

Rumah Patangpuluhan

February 24, 2026
Shalat Ritual dan Shalat Sosial: Visi Pembebasan Islam dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
Esensia

Shalat Ritual dan Shalat Sosial: Visi Pembebasan Islam dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj

February 23, 2026
Memerdekakan atau Menyeragamkan?
Esensia

Memerdekakan atau Menyeragamkan?

February 11, 2026

Copyright © 2025 Kenduri Cinta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Download

Copyright © 2025 Kenduri Cinta