Refleksi Kurikulum Merdeka di Ruang Kelas Kita
Dunia pendidikan kita hari ini sedang riuh oleh satu kata sakti: merdeka. Melalui “Kurikulum Merdeka”, pemerintah mencoba merombak struktur kaku persekolahan yang selama puluhan tahun dianggap sebagai pabrik massal yang mencetak robot-robot penghafal. Di atas kertas, kurikulum ini menjanjikan kebebasan bagi guru untuk mengajar sesuai tahap perkembangan siswa dan keleluasaan bagi siswa untuk mendalami minatnya. Namun, benarkah kemerdekaan bisa dicapai hanya dengan mengganti dokumen administratif?
Antara Konsep dan Realitas Lapangan
Secara filosofis, Kurikulum Merdeka mencoba kembali ke akar pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan adalah tuntunan bagi tumbuhnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak. Tidak ada lagi penjurusan IPA atau IPS yang kaku di tingkat SMA, digantikan dengan pilihan mata pelajaran yang lebih cair. Tujuannya mulia: agar anak didik tidak dipaksa menjadi “ikan yang harus belajar memanjat pohon atau terbang seperti elang”.
Namun, di ruang-ruang kelas yang jauh dari hiruk-pikuk kementerian, wajah kurikulum ini sering kali masih tampak samar. Guru-guru kita, yang selama ini terbiasa dengan “petunjuk teknis” yang serba diatur dari pusat, kini tiba-tiba diminta untuk menjadi kreator. Ada kegagapan yang muncul ketika kemerdekaan diberikan tanpa kesiapan mentalitas. Banyak sekolah akhirnya terjebak pada formalitas administratif baru, aplikasi baru, platform baru, dan istilah-istilah baru, sementara substansi pendidikannya masih tetap sama: mengejar nilai dan kelulusan.
Suara dari Ruang Kelas: Antara Harapan dan Kelelahan
Di balik gemerlap presentasi kebijakan, ada denyut nadi guru yang sering kali terabaikan. Pengalaman guru di lapangan adalah saksi bisu betapa “merdeka” sering kali masih terasa seperti beban baru. Guru, yang seharusnya menjadi “pamong” atau penuntun, kini dipaksa berakrobat di antara dua dunia: keharusan untuk kreatif secara pedagogis dan tuntutan untuk patuh secara digital pada berbagai platform pelaporan.
Banyak guru merasa kemerdekaan ini datang dengan syarat yang melelahkan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk menatap mata siswa, mendengarkan kegelisahan mereka, atau merancang metode belajar yang unik, justru tersedot oleh layar gawai demi mengejar indikator “centang hijau” di aplikasi. Ada paradoks yang nyata ketika guru diminta memanusiakan siswa, namun mereka sendiri sering kali diperlakukan seperti penginput data dalam sistem birokrasi yang impersonal.
Belajar dari Filosofi Maiyah
Jika kita tarik ke ruang lingkup yang lebih luas, “merdeka” dalam pendidikan seharusnya bukan sekadar bebas memilih mata pelajaran. Merdeka adalah kemampuan seseorang untuk mengenali jati dirinya, mengetahui potensi yang dititipkan Tuhan padanya, dan memiliki kedaulatan atas pikirannya sendiri.
Kurikulum Merdeka seharusnya menjadi momentum untuk merobohkan tembok pemisah antara sekolah dan kehidupan nyata. Pendidikan bukan lagi soal berapa banyak teori yang dihafal, melainkan seberapa mampu seorang siswa memahami realitas di sekitarnya. Apakah sekolah berhasil menumbuhkan rasa empati? Apakah sekolah berhasil melatih logika berpikir yang jernih? Ataukah sekolah hanya sekadar tempat “parkir” sebelum mereka masuk ke dunia kerja yang kompetitif?
Menuju Pendidikan yang Memanusiakan
Persoalan pendidikan kita bukan hanya soal kurikulum apa yang dipakai, tetapi soal bagaimana cara pandang kita terhadap manusia. Selama keberhasilan pendidikan masih diukur dengan standar seragam yang mengabaikan keunikan setiap individu, maka kemerdekaan itu masih berupa slogan. Kemerdekaan belajar bagi siswa tidak boleh dibayar dengan “ketidakmerdekaan” batin para gurunya.
Kita perlu bertanya kembali: apakah Kurikulum Merdeka ini benar-benar memberikan ruang bagi tumbuhnya “manusia utuh”, atau ia hanyalah sekadar penyesuaian teknokratis agar tenaga kerja kita lebih relevan dengan kebutuhan pasar industri global?
Pendidikan adalah proses menanam. Setiap tanaman butuh waktu untuk berakar kuat sebelum ia mampu menjulang tinggi. Mari kita pastikan bahwa “kemerdekaan” ini bukan sekadar angin lewat yang menggugurkan daun-daun harapan, melainkan hujan yang meresap ke dalam tanah, menghidupkan akar, dan menguatkan jati diri kemanusiaan kita sebagai bangsa yang bermartabat.
Penutup: Catatan Kecil dari Meja Guru
Pada akhirnya, di balik riuhnya perdebatan kurikulum dan tumpukan laporan administratif, izinkan kami kembali ke hakikat yang paling sederhana: menatap mata anak-anak kami. Sebab, di sana kami tidak melihat angka-angka, kami tidak melihat statistik, dan kami tidak melihat “objek” dari sebuah proyek pendidikan. Di sana, kami melihat harapan orang tua, kami melihat masa depan bangsa, dan kami melihat titipan Tuhan yang suci.
Kemerdekaan yang sejati bagi kami bukanlah saat beban administrasi berkurang, melainkan saat kami melihat binar cahaya di mata seorang murid yang baru saja memahami makna kehidupan. Kami hanya ingin merdeka untuk mencintai tugas kami kembali—tanpa dihantui rasa takut salah pada aplikasi, tanpa merasa dikejar-kejar oleh indikator yang dingin.
Jauh di dalam lubuk hati, doa kami tetap sama: “Tuhan, jangan biarkan kurikulum ini menjauhkan jarak antara aku dan muridku. Biarkan aku tetap menjadi cahaya kecil bagi mereka; yang memeluk kegelisahan mereka, yang menghapus air mata kegagalan mereka, dan yang meyakinkan mereka bahwa mereka berharga apa adanya.” Sebab, bagi seorang guru, kemerdekaan adalah ketika kami berhasil mengantarkan seorang manusia menjadi dirinya sendiri—berdiri tegak di atas kakinya sendiri dengan hati yang penuh cinta dan pikiran yang merdeka.






