# Kenduri Cinta > Merangkai Nilai Merajut Makna ## Posts - [Peradaban di Tepi Kata](https://kenduricinta.com/peradaban-di-tepi-kata/): Ada kata yang tampak kukuh seperti batu, tetapi sesungguhnya rapuh seperti kabut. Kata itu: civilisation. Sejak abad ke-18, sejak para filsuf di salon-salon Paris berbicara tentang lumières, kata itu mengilap—seperti lampu minyak di malam yang panjang. Ia menjanjikan terang. Ia menjanjikan arah. Tapi seperti semua cahaya, ia juga menciptakan bayang-bayang. Di tangan Immanuel Kant, peradaban adalah kematangan rasio—Ausgang des Menschen aus seiner selbstverschuldeten Unmündigkeit, keluarnya manusia dari ketidakdewasaan yang ia ciptakan sendiri. Di tangan Auguste Comte, ia menjadi tangga: teologis, metafisik, positif—sebuah garis lurus menuju kemajuan. Dan di tangan Karl Marx, ia berubah menjadi mesin sejarah: bergerak oleh tenaga produksi, […] - [REPORTASE: AKTIVASI NASIB](https://kenduricinta.com/reportase-aktivasi-nasib/): MALAM ITU, langit Jakarta membentang cerah. Jam menunjukkan pukul 19.45, area jamaah di halaman Masjid Amir Hamzah masih terlihat tenang, seolah memberi jeda sebelum perjumpaan dimulai. Kenduri Cinta edisi ke-267 bertema Aktivasi Nasib kali ini digelar di ruang terbuka halaman Masjid Amir Hamzah Taman Ismail Marzuki, sebuah pilihan yang diambil karena padatnya jadwal TIM di akhir pekan. Perlahan, tim tawashshulan mulai menaiki panggung. Mizani, Munawir, Haddad, M. Rizal, dan Awan mempersiapkan diri, lalu membuka malam dengan lantunan doa dan zikir. Dalam suasana itu, seakan terucap makna yang sama: malam ini bukan sekadar pertemuan, tetapi pertautan hati yang dipanggil untuk kembali […] - [Gema di Jalan Sunyi](https://kenduricinta.com/gema-di-jalan-sunyi/): MANUSIA tidak pernah benar-benar hidup di ruang hampa. Ia adalah bagian dari semesta yang luas, bergerak bersama waktu, sekaligus dibatasi oleh ketidaktahuannya sendiri. Di planet yang kita huni, sekitar 71% permukaan bumi berupa lautan dan hanya 29% daratan. Fakta ini bukan sekadar data geografi, melainkan isyarat bahwa wilayah yang belum dijelajahi—baik di luar diri maupun di dalam batin—masih jauh lebih luas daripada yang telah kita pahami. Ketika manusia berhenti menjelajah, cara berpikirnya menyempit. Dari sanalah lahir generasi yang mudah reaktif terhadap peristiwa, tetapi miskin kedalaman makna. Padahal, Al-Qur’an memanggil manusia untuk berjalan di bumi, melihat jejak sejarah, dan membaca tanda-tanda […] - [Media Teknologi yang Membentuk Kemanusiaan](https://kenduricinta.com/media-teknologi-yang-membentuk-kemanusiaan/): SAAT INI kita sedang hidup dalam suatu era di mana kecepatan jari lebih cepat bekerja dibandingkan kecepatan berpikir. Tampaknya, kita telah memasuki era post truth sehingga sulit sekali membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Banyak sekali informasi yang datang secara bertubi-tubi dan berseliweran di era digital. Algoritma media teknologi di era digital pun nyaris tidak pernah menemukan titik kesunyian. Banjir informasi seolah hadir seperti sebuah gelombang tsunami yang secara tiba-tiba hadir menggulung tanpa diminta. Sejenak, mari kita coba untuk mengingat-ingat kembali aktivitas yang mungkin sebagian orang juga mengalaminya. Seperti pada saat bangun tidur, sering kali refleks tangan kita pertama kali biasanya […] - [Psiko-propaganda Membajak Emosi Kita](https://kenduricinta.com/psiko-propaganda-membajak-emosi-kita/): PRAKTIK psikoanalisis pertama yang diterapkan secara praktis di Amerika Serikat bukan dilakukan di ruang terapi, melainkan di ruang redaksi dan biro iklan. Para pelaku periklananlah yang pertama kali mengoperasikan gagasan psikoanalisis sebagai alat rekayasa perilaku massal. Tokoh sentralnya adalah Edward Bernays—keponakan dari Sigmund Freud. Hubungan intelektual mereka dimulai dari sebuah adegan sederhana. Pada 1917, Bernays mengirimkan sekotak cerutu Havana kesukaan Freud. Sang paman membalasnya dengan mengirimkan buku terbarunya, Introductory Lectures on Psycho-Analysis. Buku inilah yang mempopulerkan konsep “ketidaksadaran”—gagasan bahwa dorongan terdalam manusia sering kali tidak mereka sadari sendiri. Dari pertukaran cerutu dan buku itu, lahirlah salah satu eksperimen psikologis massal paling berpengaruh dalam […] - [Mukadimah: Aktivasi Nasib](https://kenduricinta.com/mukadimah-aktivasi-nasib/): TIDAK ADA di antara kita yang memilih untuk lahir dari rahim siapa, di suku apa, atau dalam strata ekonomi mana. Itulah nasab, sebuah titik awal yang given. Nasab bukan prestasi, bukan aib, bukan jaminan kesuksesan. Nasab bukan legitimasi untuk menyombongkan diri, bukan pembenaran atas kemalangan, dan pasti bukan garis finish. Nasab hanyalah konteks, awal dari pertanggungjawaban. Dari titik inilah, perjalanan nasib dimulai. Jika nasab adalah data awal, maka nasib adalah proses dinamis yang menyusulnya. Namun, sering kali kita keliru membaca nasib sebagai goresan takdir yang tidak dapat diubah. Padahal, jika kita telaah lebih jernih, nasib merupakan chapter awal dari perjalanan […] - [Bersepakat untuk Tidak Harus Sepakat: “Seandainya MBG…”](https://kenduricinta.com/bersepakat-untuk-tidak-harus-sepakat-seandainya-mbg/): PAGI ITU, di sela perjalanan menuju kantor, saya memutar unggahan YouTube Mas Sabrang berjudul “Seandainya MBG…”. Saya mencermati buah-buah pikirnya dengan hati-hati, lalu sampai pada satu kesimpulan: ya, Mas Sabrang benar dengan konsep “seandainya” itu. Justru karena ia benar, percakapan ini membutuhkan kaki-kaki yang lebih panjang daripada yang diceritakannya—sesuatu yang mestinya melampaui sekadar kata “seandainya”. Mas Sabrang membingkai Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan cara yang jujur: program ini punya masalah, tetapi juga menyimpan potensi yang baik. Ia tidak serta-merta memilih sudut pandang hitam-putih. Ia memilih memeriksa arsitekturnya. Bagi saya, itu adalah sikap yang baik sebagai pijakan awal dalam menentukan posisi […] - [Maiyah dan Trias Politica](https://kenduricinta.com/maiyah-dan-trias-politica/): SECARA UMUM, kata Maiyah bermakna “bersama” atau “kebersamaan”. Contoh kata yang semakna, ma’ashobirin, berarti “bersama orang-orang yang sabar”. Ada juga yang memberi makna Maiyah adalah air hujan—sesuatu yang terus mengalir dan mengalirkan. Bicara tentang Maiyah di Indonesia tentu tidak lepas dari acara komunitas Padhang mBulan di Jombang, Jawa Timur. Awalnya, hanya acara sederhana: pengajian, yasinan, tahlilan, shalawatan khas kaum kultural, Nahdliyin (NU). Juga diisi ceramah dan tanya jawab dengan tokoh-tokoh lokal dan nasional. Rhoma Irama dan Franky Sahilatua adalah di antara yang pernah hadir di acara tersebut. Seiring berjalan waktu, ternyata pola, gaya, dan tampilan Padhang mBulan disukai masyarakat. Ada dialog, […] - [Kaya Melampaui Harta](https://kenduricinta.com/kaya-melampaui-harta/): BAGI siapa pun yang pernah bersinggungan dengan Cak Nun, masa-masa di Patangpuluhan adalah puncak produktivitas. Hampir setiap hari, Cak Nun menghiasi media massa; entah itu sebagai kolumnis yang tajam, narasumber yang blak-blakan, atau penulis artikel lepas. Dari sanalah lahir tumpukan buku yang sebagian besar adalah kumpulan tulisan dari koran dan majalah. Hanya sedikit karya yang benar-benar beliau tulis secara khusus dari awal, seperti Dari Pojok Sejarah atau Seribu Masjid Satu Jumlahnya. Maka, sempat ada kegembiraan luar biasa ketika Cak Nun berniat menulis buku berjudul Tafsir Liar. Isinya adalah tadabbur personalnya atas semesta: air yang mengalir, daun yang gugur, hingga langit […] - [Cermin yang Sederhana dan Sebenar-benarnya](https://kenduricinta.com/cermin-yang-sederhana-dan-sebenar-benarnya/): Beberapa waktu lalu, seusai shalat Jumat, saya melihat seorang kakek berjalan pelan di tepi jalan. Langkahnya kecil-kecil. Badannya sedikit membungkuk. Tangannya gemetar menopang sisa tenaga yang masih ia miliki. Kendaraan lalu-lalang melewatinya. Motor-motor melaju seperti biasa, tanpa banyak menoleh. Saya pun sempat hendak berlalu. Namun, ada sesuatu yang tertahan di dalam diri. Sebuah suara kecil yang tidak keras, tetapi cukup jelas. Seperti ada yang berbisik pelan: bagaimana jika suatu hari engkau berada di posisi itu? Saya membayangkan menjadi renta, berjalan sendirian, tidak ingin merepotkan siapa pun, tetapi juga tidak cukup kuat untuk menolak bantuan jika ada yang mengulurkan tangan. Di […] - [Reportase: Upa Angkara](https://kenduricinta.com/reportase-upa-angkara/): HUJAN turun hampir sepanjang hari, bahkan semakin deras menjelang acara dimulai—seolah berkah ditumpahkan tanpa jeda pada hari itu. Menjelang malam, hujan akhirnya mereda, memberi kesempatan para penggiat untuk kembali merapikan area tenda dan panggung Kenduri Cinta di Plaza Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Satu per satu jamaah mulai berdatangan; sebagian masih menenteng payung yang basah, sebagian lainnya melangkah cepat agar segera mendapatkan tempat di bawah tenda. Meski tanah masih lembap oleh sisa hujan, kehadiran mereka tetap mengalir—membawa semangat untuk kembali berkumpul dan sinau bareng di malam itu. Rangkaian Kenduri Cinta edisi ke-266 bertema “Upa Angkara” yang digelar pada Jumat, 6 […] - [Di Antara Dua Lingkaran](https://kenduricinta.com/di-antara-dua-lingkaran/): SUATU malam, saya duduk di selasar Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, berdiskusi dengan sejumlah orang. Seorang lulusan universitas bercerita bahwa ia telah mengirim puluhan lamaran kerja tanpa hasil. Di sebelahnya, seorang pengemudi ojek daring mengatakan bahwa ia bekerja hampir empat belas jam sehari agar penghasilannya cukup. Di sisi lain, seorang anak muda mengelola kelas belajar mandiri yang tidak diakui negara, tetapi justru di situlah ia merasa paling berguna. Mereka tidak saling mengenal. Mereka berada dalam satu keadaan yang sama. Mereka hidup di dalam sistem yang masih ada, tetapi serasa tidak lagi bekerja untuk mereka. Di atas kertas, Indonesia tampak stabil. […] - [Simulakra Ramadan](https://kenduricinta.com/simulakra-ramadan/): Pernahkah Anda merasa bahwa keriuhan menyambut bulan puasa belakangan ini terasa agak “berisik”? Di layar ponsel, iklan sirup dan sarung muncul masif. Di media sosial, linimasa penuh dengan foto rekomendasi menu sahur dan takjil yang estetik, video vibes Ramadan yang sinematik, hingga kutipan bijak dengan desain yang sangat rapi. Potongan video tasuiah para ustaz pun berhamburan menyeruak memenuhi linimasa kita hari-hari ini. Semua itu terlihat indah, tapi ada satu pertanyaan kecil yang sering menyelinap: Mana puasa yang sesungguhnya? Dalam filsafat Jean Baudrillard, ada istilah menarik yang disebut simulakra. Sederhananya, ini adalah kondisi ketika “tiruan” dianggap lebih nyata daripada “aslinya”. Kita […] - [Mukadimah : Upa Angkara](https://kenduricinta.com/mukadimah-upa-angkara/): DI DUNIA ISLAM, hanya di Nusantara (Melayu Asia Tenggara) dimana Bulan Ramadan disebut juga ‘bulan puasa’. Asalnya dari bahasa Sanskerta, upawasa. Penyebutan bulan ini dalam konstruk linguistik Sanskerta tentu bukan kebetulan kultural belaka, dan bukan pula bentuk sinkretisme. Justru, ia menunjukkan rekam jejak kesinambungan wahyu di umat-umat terdahulu, yang alhamdulillah ditakdirkan bertemu dengan apik di Nusantara. Toh, akhirnya Gusti Allah ingkang Murbeng Dumadhi, Sang Maha Esa dan Maha Pencipta memang mengindikasikan pada kita bahwa siyam juga diwajibkan atas umat-umat sebelum Nabi terakhir ini, bukan? Maka, mari kita gali kawruhan ini. Puasa berasal dari kata upawasa. Ia terdiri atas dua suku […] - [Heuristika Pencapaian: Menemukan Kemenangan dalam Kekurangan](https://kenduricinta.com/heuristika-pencapaian-menemukan-kemenangan-dalam-kekurangan/): HIDUP jarang berjalan sesuai rencana. Ada orang yang tampak lahir dengan banyak kelebihan—cerdas, berbakat, punya kesempatan besar sejak awal. Mereka seperti berlari dari garis start yang lebih depan. Sementara sebagian besar dari kita mungkin mulai dari tengah, bahkan dari belakang, berusaha keras hanya untuk tetap ikut berlari. Dalam keadaan seperti ini, mudah sekali muncul rasa iri, kecewa, atau putus asa. Kita merasa hidup tidak adil karena tidak memberi kita bakat istimewa. Namun barangkali masalah terbesar bukan terletak pada bakat atau keberuntungan, melainkan pada cara kita memahami arti “berhasil”. Sejak kecil, banyak dari kita tumbuh dengan satu narasi besar: hidup harus […] - [Jubilee yang Hilang: Utang, Tanah, dan Ingatan yang Diputus Sejarah](https://kenduricinta.com/jubilee-yang-hilang-utang-tanah-dan-ingatan-yang-diputus-sejarah/): KRISIS keuangan global datang seperti musim yang lupa kalender. Ia berulang, tapi selalu disebut “tak terduga”. Tahun berganti, grafik naik-turun dipelajari, model matematika dipoles, komputer dipercepat—namun, krisis tetap menyelinap dari pintu belakang. Yang menarik: ia bukan gagal diprediksi oleh orang sembarangan, melainkan oleh para ekonom terbaik dunia, termasuk mereka yang pernah dianugerahi Nobel. Seakan-akan ilmu yang dibanggakan itu sendiri memilih untuk menutup mata. Ekonomi modern, sejak abad ke-20, terlalu percaya pada angka. Ia ingin menjadi fisika: pasti, presisi, netral. Manusia direduksi menjadi variabel, sejarah dianggap gangguan, moral dinilai subjektif. Padahal, seperti diingatkan Michael Hudson, ekonomi pernah lahir sebagai ilmu tentang […] - [Rumah Patangpuluhan](https://kenduricinta.com/rumah-patangpuluhan/): Sebuah Pengantar Catatan tentang Patangpuluhan ini sebenarnya sudah saya tulis sekitar lima belas tahun yang lalu. Saat itu, hadir secara bersambung menghiasi laman media sosial resmi Kenduri Cinta serta situs caknun.com. Kini, saya kembali menyentuh tulisan-tulisan tersebut. Ada beberapa kalimat yang saya rapihkan dan diksi yang saya pilih ulang agar alurnya terasa lebih mengalir saat dibaca hari ini. Namun, perubahan yang paling mendasar adalah soal penyebutan nama. Dulu, saya lebih sering menuliskan “Emha”. Rupanya, hal itu sempat memicu keberatan dari beberapa pihak yang merasa sebutan tersebut kurang menunjukkan rasa takzim. Saat itu, alasan saya sederhana: nama “Emha” memang terasa lebih […] - [Shalat Ritual dan Shalat Sosial: Visi Pembebasan Islam dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj](https://kenduricinta.com/shalat-ritual-dan-shalat-sosial-visi-pembebasan-islam-dalam-peristiwa-isra-miraj/): MERUPAKAN sebuah kepongahan diri jika orang tidak mau memahami sejarah, belajar dari sejarah, dan berkesadaran sejarah. Tanpa itu, orang akan terus terjerembap ke dalam lubang kesalahan yang sama, terjebak dalam pengulangan tragedi yang melelahkan karena gagal membaca pola dan ritme peradaban. Sebagaimana kata George Santayana, mereka yang tidak mampu mengingat masa lalu akan dikutuk untuk mengulanginya. Serupa dengan itu, Mahbub Djunaidi pernah berucap bahwa setolol-tololnya orang adalah mereka yang tak tahu apa itu sejarah. Tentu, yang dimaksudkan Mahbub ini tak sekadar meromantisasi atau mengenang kejayaan suatu peristiwa sejarah, tapi juga dimaksudkan untuk menghidupkan sejarah itu sendiri; mempelajari dan memahaminya untuk […] - [REPORTASE: METRONOM](https://kenduricinta.com/reportase-metronom/): LANGIT Jakarta malam itu menggantung mendung, namun bukan mendung yang mengancam—ia teduh, seperti memberi naungan bagi siapa pun yang datang. Di Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki, jamaah Kenduri Cinta berdatangan dengan langkah santai dan wajah-wajah yang akrab. Sebagian langsung duduk bersila di atas terpal yang sudah digelar, sebagian lain saling menyapa, berjabat tangan, atau berbincang ringan sebelum forum dimulai. Di sela suara kendaraan yang masih melintas di kejauhan, suara mikrofon dan percakapan kecil menyatu menjadi denyut awal perjumpaan. Edisi ke-265 bertajuk “Metronom” dibuka dengan sholawat dalam suasana yang hidup namun tetap hangat. Tidak ada sekat antara panggung dan jamaah—yang […] - [Memerdekakan atau Menyeragamkan?](https://kenduricinta.com/memerdekakan-atau-menyeragamkan/): Refleksi Kurikulum Merdeka di Ruang Kelas Kita Dunia pendidikan kita hari ini sedang riuh oleh satu kata sakti: merdeka. Melalui “Kurikulum Merdeka”, pemerintah mencoba merombak struktur kaku persekolahan yang selama puluhan tahun dianggap sebagai pabrik massal yang mencetak robot-robot penghafal. Di atas kertas, kurikulum ini menjanjikan kebebasan bagi guru untuk mengajar sesuai tahap perkembangan siswa dan keleluasaan bagi siswa untuk mendalami minatnya. Namun, benarkah kemerdekaan bisa dicapai hanya dengan mengganti dokumen administratif? Antara Konsep dan Realitas Lapangan Secara filosofis, Kurikulum Merdeka mencoba kembali ke akar pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan adalah tuntunan bagi tumbuhnya kekuatan kodrat yang ada pada […] - [Mukadimah: Metronom](https://kenduricinta.com/mukadimah-metronom/): METRONOM adalah alat untuk menciptakan interval yang kecepatannya adjustable, fungsinya untuk mengukur tempo. Ukuran tempo-nya menggunakan bunyi (atau tanda visual), dengan satuan detak per menit. Metronom menyimulasikan fenomena alamiah dalam semesta yang bisa bersifat organik, semisal denyut nadi atau detak jantung mamalia, atau fenomena elektromagnetik semisal pulsar. Ini bintang neutron dengan core hyper-magnetic dan mengeluarkan emisi denyut (pulse) elektromagnetik dengan interval yang berpresisi tinggi, dari milliseconds hingga seconds. Artinya, denyut ber-interval sifatnya sangat semesta. Organik, baik sentient maupun non-sentient, hingga fenomena elektromagnetik dalam kosmos, eksistensinya ditandai dengan denyutan. Semakin kuat dan aktif suatu entitas, semakin singkat interval denyutnya. Semakin lemah […] - [Boti: Cermin Sunyi Peradaban](https://kenduricinta.com/boti-cermin-sunyi-peradaban/): Di dataran tinggi Gunung Lamu, di lipatan tanah Timor yang keras dan angin yang tak pernah sepenuhnya jinak, orang-orang Boti hidup dengan cara yang tampak sederhana—nyaris purba—namun justru itu yang membuat mereka radikal di zaman ini. Sementara dunia berlari menumpuk, Boti memilih menahan diri. Di saat kota-kota berisik dengan jargon “pembangunan berkelanjutan,” mereka bekerja dalam diam, menanam, menenun, dan menunggu musim seperti menunggu wahyu yang tak bisa dipaksakan. Kesabaran mereka nyaris dianggap kemunduran; saya, yang datang dari zaman mesin dan jam, belajar bahwa kemunduran itu mungkin hanyalah perspektif orang yang lupa cara mendengar tanah. Saya pertama kali datang ke Boti […] - [Peradaban Dimulai dari Pelukan Ibu](https://kenduricinta.com/peradaban-dimulai-dari-pelukan-ibu/): PELUKAN ibu adalah peradaban pertama tempat manusia belajar menjadi manusia. Sebelum bahasa dipahami, sebelum nilai moral diajarkan, bahkan sebelum kesadaran tentang diri tumbuh, seorang bayi lebih dahulu merasakan dunia melalui kehangatan tubuh, irama napas, dan kasih tanpa syarat dari seorang ibu. Dalam psikologi perkembangan, fase ini dikenal sebagai masa pembentukan secure attachment, yaitu kondisi dasar yang menentukan kemampuan manusia membangun relasi sehat di masa depan (Bowlby, 1969 dan Ainsworth, 1979). Dari pelukan seorang ibu, rasa aman, empati, dan kepercayaan terhadap dunia mulai bertumbuh. Pelukan ibu bukan sekadar momen biologis, melainkan titik mula peradaban itu sendiri. Bicara tentang peradaban secara umum […] - [Dunia Suprafisial](https://kenduricinta.com/dunia-suprafisial/): KITA HIDUP dalam sebuah ekosistem baru yang bernapas dengan logika yang berbeda. Udara yang kita hirup sarat dengan penilaian cepat, mata uang yang kita gunakan adalah perhatian, dan bahasa yang kita ucapkan adalah bahasa penampakan. Ini adalah Dunia Suprafisial, sebuah realitas yang tidak lagi menganggap permukaan sebagai pintu masuk, melainkan sebagai kebenaran akhir yang mutlak. Sering kali, kita terjebak dalam mekanisme penilaian yang reduksionis, di mana martabat manusia hanya dinilai dari data-data yang kasat mata. Dunia Suprafisial memaksa kita menjadi kurator. Kita sibuk menyortir orang ke dalam hierarki sosial dan materi, seolah itu semua adalah indikator kemuliaan paling wahid. Dalam ekosistem […] - [Menjadi Manusia Penuh Manfaat](https://kenduricinta.com/menjadi-manusia-penuh-manfaat/): SALAH SATU pesan Rasulullah SAW yang selalu saya ingat adalah bahwa kerasulan beliau alasan utamanya adalah untuk memperbaiki akhlaq manusia. Innama bu’istu liutammima makarima-l-akhlaq. Perjalanan panjang menuju usia 40 tahun, sebelum beliau menerima wahyu pertama membuktikan bahwa ada persiapan yang sangat matang untuk membangun personal branding seorang Muhammad bin Abdullah sebelum diresmikan sebagai Rasul pamungkas. Proses penyucian jiwa oleh Malaikat Jibril saat beliau masih sangat belia, kemudian peristiwa dipercayainya beliau oleh masyarakat untuk menjadi penengah saat Ka’bah selesai dipugar, proses peletakkan kembali Hajar Aswad, beliau menjadi mediator masyarakat Quraisy dan banyak lagi peristiwa yang menguatkan posisi Muhammad bin Abdullah memang […] - [Dialektika Adab KH Hasyim Asy’ari dalam Gelombang Merdeka Belajar](https://kenduricinta.com/dialektika-adab-kh-hasyim-asyari-dalam-gelombang-merdeka-belajar/): DUNIA pendidikan kita hari ini sedang berada di persimpangan jalan yang riuh. Satu sisi menawarkan kebebasan melalui “Kurikulum Merdeka”, sisi lain menyisakan kegamangan akan hilangnya pegangan nilai. Jika kita menilik karya monumental KH Hasyim Asy’ari yang disandingkan dengan visi transformasi hari ini, kita menemukan sebuah pesan mendalam: kemerdekaan tanpa adab hanyalah pengembaraan tanpa arah, dan kecerdasan tanpa ketundukan batin hanyalah kesombongan yang terbungkus ijazah. Adab di Atas Ilmu: Pondasi yang Terlupakan Dalam buku Konsep Pendidikan KH Hasyim Asy’ari, ditekankan bahwa tujuan utama pendidikan adalah al-akhlaq al-karimah. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan bagi siswa untuk mendalami minat, namun Mbah Hasyim mengingatkan bahwa […] - [Senja, Sekolah dan Kurikulum yang Menjaga Sunyi](https://kenduricinta.com/senja-sekolah-dan-kurikulum-yang-menjaga-sunyi/): PADA MULANYA, pendidikan bukanlah kata yang jinak. Ia lahir bukan dari cinta pada pengetahuan, melainkan dari kegelisahan kekuasaan. Di Yunani Kuno—yang sering kita puja sebagai rahim rasionalitas—pendidikan disusun seperti pagar: rapat, sistematis, dan tak mudah dilompati. Ia bukan sekadar cara berpikir, melainkan cara mengatur hidup orang lain. Ada satu kata yang jarang kita dengar hari ini: transgression. Bukan pelanggaran, melainkan penyaringan. Anak-anak direkrut sejak usia lima atau enam tahun, bukan untuk merdeka, tetapi untuk dilipat masuk ke dalam sistem. Seperti tanah liat yang belum mengeras, mereka dibentuk sebelum sempat bertanya. Pendidikan bekerja di hulu: sebelum kesadaran tumbuh, sebelum kata “mengapa” […] - [Hegemoni Semantik: Konsep Destruktif di Balik Kata "Pemerintah"](https://kenduricinta.com/hegemoni-semantik-konsep-destruktif-di-balik-kata-pemerintah/): Bahasa tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia bukan sekadar deretan fonem yang bunyinya disepakati untuk menunjuk sebuah benda, melainkan sebuah entitas yang hidup, bernapas, dan yang paling berbahayanya adalah membentuk realitas. Ludwig Wittgenstein pernah berujar, “Batas bahasaku adalah batas duniaku.” Di balik setiap kata, ada konsep yang melatarbelakanginya. Dan jauh di kedalaman konsep tersebut, bersemayam sebuah gagasan ideologis serta cara berpikir yang menjadi pondasinya. Dalam struktur bahasa Indonesia, imbuhan pe- sering kali menunjukkan pelaku atau profesi. Seseorang yang kerjanya memancing disebut pemancing, artinya tukang pancing. Seseorang yang profesinya membalap di sirkuit disebut pembalap, artinya tukang balap. Lantas, bagaimana dengan […] - [REPORTASE: MILLATA HANIFA](https://kenduricinta.com/reportase-millata-hanifa/): JAKARTA hari itu diguyur cuaca yang tak menentu. Hujan, panas, gerimis, lalu hujan kembali silih berganti sejak siang. Namun ketika malam tiba, perubahan cuaca itu justru menjadi latar yang mengantar jamaah berkumpul, menyiapkan diri memasuki Kenduri Cinta edisi Januari 2026. Tepat pukul 20.00 WIB, forum dibuka dengan pembacaan Tawashshulan. Mizani, Munawir, Haddad, Rizal, dan Awan duduk di panggung, membersamai jamaah dalam lantunan sholawat dan doa yang mengalir tenang. Seperti biasa, pembukaan ini menjadi penanda awal perjumpaan: menyatukan niat, menata rasa, dan membuka ruang kebersamaan. Suasana kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi Masih Perlukah Air Mata karya Emha Ainun Nadjib. Jay—penggiat Kenduri […] - [Hikmah dari Secangkir Kopi](https://kenduricinta.com/hikmah-dari-secangkir-kopi/): WAHYU pertama adalah Iqra’. Tentu kita sangat mafhum bahwa Iqra’ yang dimaksud bukan hanya tentang membaca secara tekstual, namun juga kontekstual. Ketika Rasulullah SAW disebut sebagai Annabi Al Ummiy, tentu kita juga tidak mungkin benar-benar percaya begitu saja bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia yang bodoh. Maka salah satu pesan Rasulullah SAW di awal kerasulannya adalah: innama bu’istu liutammima makarimal akhlaq. Tugas utamanya adalah memperbaiki akhlak manusia. Manusia yang ditugaskan untuk memperbaiki moral manusia lainnya tentu bukan hanya pintar, namun juga pandai, cakap, bijaksana, cerdas, unggul, bahkan paripurna. Kita sebagai manusia tidak mungkin bisa hidup sendirian. Kita akan selalu membutuhkan […] - [Di Antara Dua Gajah](https://kenduricinta.com/di-antara-dua-gajah/): SEJARAH, kata orang, tak pernah berulang. Ia hanya menukar wajah, seperti aktor lama yang muncul kembali dengan riasan baru. Tahun 2026—jika kelak dicatat—barangkali bukanlah sebuah permulaan. Ia lebih mirip catatan kaki dari sebuah kisah panjang yang kita pura-pura lupa, padahal masih kita hidupi. Di panggung dunia, dua gajah kembali saling berhadapan. Yang satu tua, berisik oleh ingatan tentang kejayaan, membawa luka-luka perang yang disamarkan sebagai moral. Yang lain lebih muda, bergerak pelan, nyaris tanpa pidato, tetapi tubuhnya tumbuh tanpa meminta izin. Amerika dan Cina. Seperti pepatah lama yang terlalu sering kita kutip tanpa sungguh memikirkannya: ketika gajah bertarung, rumputlah yang […] - [Mukadimah: Millata Hanifa](https://kenduricinta.com/mukadimah-millata-hanifa/): MILLATA HANIFA—diucapkan Millah Hanifa—adalah ungkapan cinta Sang Pencipta atas perjalanan seorang hamba yang memilih jalan lurus. Secara etimologis, millata berarti “jalan” dan hanifa berarti “benar”. Keduanya bersatu dalam sosok Ibrahim, sang Aba Rahm—“Bapak Rahmat”—yang justru dikenal karena keberaniannya memecah kebohongan kolektif dengan nurani dan akal yang jernih. Pandangan-Nya yang tajam senantiasa menyaksikan perjuangan jatuh bangun seorang pemuda bernama Ibrahim dalam pencarian menemukan Sang Haq. Seperti jiwa muda di setiap zaman, ia tak mempan oleh “nina bobo” konformitas sosial. Ia menolak tradisi karena hatinya menolak apa yang tak bisa dibuktikan pengamatannya sendiri. Penyembahan berhala bukan hanya tidak masuk akal, tapi juga […] - [Mencari Titik Equilibrium Batin](https://kenduricinta.com/mencari-titik-equilibrium-batin/): PADA suatu sore yang semilir-cerah, seorang suami berangkat memancing untuk meredakan riuh yang tak terlihat dalam kepalanya. Air sungai memantulkan cahaya tenang yang tak ia temukan dalam rutinitas. Saat menjelang magrib, ia pun pulang dengan raut sumringah karena mendapatkan tiga ekor mujaer. Namun, setelah sampai rumah—ketenangan itu retak oleh kemarahan istrinya yang merasa ditinggalkan tanpa kabar. Pertengkaran pun terjadi—sebuah benturan dua kesunyian yang ingin didengar, tetapi sama-sama tak tahu cara meminta ruang. Cerita ini tampak sederhana, tetapi di dalamnya bersembunyi dinamika batin dan komunikasi manusia yang tak pernah benar-benar mudah. Setelah kata-kata tajam mereda, keduanya mulai menyadari bahwa persoalan itu […] - [Sambal: Rasa Pedas di Pisang Goreng dan Kepala Kecilku](https://kenduricinta.com/sambal-rasa-pedas-di-pisang-goreng-dan-kepala-kecilku/): “SAMBAL itu bukan asli nusantara,” begitulah perdebatan yang dimulai temanku saat aku memakan pisang goreng dengan sambal roa di sebuah kedai kopi di Jakarta. Sambil terus mengunyah, aku dengar dia masih meneruskan dari mana sambal berasal. Katanya, sambal adalah produk pasca kolonialisme, karena cabai adalah komoditas antara bangsa Portugis yang berdagang di Amerika Latin dengan jalur perdagangan Nusantara. Aku terus menikmati hihang hoheng (pisang goreng) yang masih panas ini sambil mendengarkan sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan, bahkan tidak sempat aku pikirkan selama ini. Aku bertanya pada temanku, “Lagi pula, kenapa kalau aku makan makanan yang bukan dari negeriku?” Dia […] - [Menyongsong Tahun Baru 2026](https://kenduricinta.com/menyongsong-tahun-baru-2026/): DI PENGHUJUNG tahun, ketika kalender tinggal selembar dan kota dipenuhi baliho harapan yang dicetak massal, kita sering lupa bahwa harapan sejati justru lahir dari sesuatu yang tidak pernah dipamerkan: luka. Luka yang tidak sempat difoto, air mata yang jatuh tanpa saksi, doa yang diucapkan pelan agar tidak terdengar oleh siapa pun—bahkan oleh diri sendiri. Tahun-tahun terakhir mengajari kita satu hal yang pahit: hidup tidak pernah berjalan lurus seperti proposal pembangunan. Ia berbelok, runtuh, tersendat. Banyak yang tumbang tanpa upacara, banyak yang bertahan tanpa tepuk tangan. Di tengah statistik pertumbuhan dan jargon optimisme, ada manusia-manusia yang menjalani hari dengan tubuh lelah […] - [Ekosida: Memperkaya si Tamak, Membunuh si Bijak](https://kenduricinta.com/ekosida-memperkaya-si-tamak-membunuh-si-bijak/): LELUHUR Nusantara hidup dengan kesadaran mendalam bahwa manusia bukan pusat semesta. Mereka memahami diri bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang jauh lebih luas—teranyam bersama hutan, sungai, gunung, burung, hewan liar, tanah, air, dan roh-roh penjaga alam. Dalam kosmologi ini, hidup bukanlah proyek penaklukan, melainkan laku menjaga keseimbangan. Manusia tidak berdiri di atas alam dengan klaim kepemilikan, tetapi berjalan di dalamnya dengan kesadaran akan keterbatasan dan tanggung jawab. Cara pandang ini membentuk etika hidup yang halus namun kokoh. Alam tidak diperlakukan sebagai benda mati yang menunggu dieksploitasi, tetapi sebagai sesama makhluk yang memiliki peran, hak hidup, dan […] - [Hati Selesai: Bukan karena Dunia Berubah, tapi Karena Kita Belajar Melihat](https://kenduricinta.com/hati-selesai-bukan-karena-dunia-berubah-tapi-karena-kita-belajar-melihat/): “I failed over and over and over again in my life and that is why I success” -Michael Jordan TULISAN di sudut tembok kamar mandi sebuah kafe menginspirasi saya untuk mendalami maknanya, berbarengan dengan itu tema mengenai awareness dan mindfulness seperti terbersit dalam pikiran, hingga akhirnya dapat saya kaji lebih mendalam. Akhir-akhir ini, era banjirnya informasi mengasah kita untuk bekejaran dengan update aplikasi dan dunia digital, lagi asyiknya menikmati ChatGPT versi 4.1, sudah muncul beta versi 5. Maka tak ayal bahwa dunia yang serba cepat ini membutuhkan kesadaran-kesadaran baru yang senantiasa di kendalikan. Dalam sebuah ruang diskusi, ada peristiwa di […] - [REPORTASE: WARTHASASTRA](https://kenduricinta.com/reportase-warthasastra/): Hujan deras bercampur angin kencang mengguyur Jakarta sore itu. Sisa-sisa awan mendung terbawa menutupi langit di halaman Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki. Harum tanah basah turut menyambut langkah kaki para jamaah Kenduri Cinta. Cahaya panggung sederhana, memantulkan kehangatan ke wajah-wajah jamaah yang duduk bersila di atas hamparan terpal. Satu per satu mereka berdatangan dengan latar belakang yang beragam: , sebagian masih mengenakan pakaian kerja, sebagian lain hadir bersama kawan, ada pula yang datang bersama keluarga. Diantara hiruk pikuk kota dan rutinitas yang melelahkan, malam itu mereka bertemu dalam satu niat yang sama: berkumpul, berbagi, dan menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan […] - [Peradaban Cahaya; Terang, Keterangan, dan Informasi](https://kenduricinta.com/peradaban-cahaya-terang-keterangan-dan-informasi/): BLUEPRINT suatu peradaban terkadang dapat dilihat dari apa yang menjadi preokupasi atau pusat perhatian kolektifnya. Dalam hal ini, kita terbiasa untuk menggunakan pendekatan dalam mempelajari lini masa peradaban manusia berdasarkan kemampuan olah materialnya. Tentu ini instrumen yang sah dan memiliki validitas teknologis, dan akhirnya, bahkan deterministik secara (geo)politis. Bukankah setiap hegemoni selalu dicirikan dengan (upaya) monopoli atas teknologi tertentu di setiap zamannya? Tentu, sekaligus kuasa itu pun berakhir manakala monopoli itu akhirnya harus menyerah pada sifat dasar pengetahuan, yakni selalu tinular alias difusif. Monopoli hanya memperlambat proses itu, namun tak bisa sepenuhnya mematikannya. Akibatnya, setiap epoch teknologis sekaligus juga epoch […] - [Dari Jazz ke Gamelan](https://kenduricinta.com/dari-jazz-ke-gamelan/): DASAR dari setiap pengetahuan adalah pengalaman. Melalui pengalaman, manusia membangun fondasi rasional untuk memahami dunia. Tanpa pengalaman, pengetahuan hanya akan menjadi spekulasi yang rapuh. Imajinasi memang penting, tetapi ia tidak bisa berdiri sendiri sebagai landasan pengetahuan. Imajinasi berfungsi sebagai jembatan menuju kemungkinan baru, namun jembatan itu harus ditopang oleh pijakan empiris agar tidak runtuh. Albert Einstein pernah berkata: “Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited, whereas imagination embraces the entire world.” Kutipan ini sering disalahpahami seolah-olah imajinasi lebih berharga daripada pengetahuan empiris. Padahal, maksud Einstein bukanlah menyingkirkan pengetahuan, melainkan menekankan bahwa imajinasi membuka cakrawala yang lebih luas […] - [Perbankan sebagai Takdir Pendidikan: Dari Kampus hingga Kebudayaan Nasional](https://kenduricinta.com/perbankan-sebagai-takdir-pendidikan-dari-kampus-hingga-kebudayaan-nasional/): “The Age of Fake Work” — sebuah ironi yang tak kita sadari pelan-pelan menguasai hidup kita. Ada sebuah adegan yang berulang tiap kali bencana datang. Air bah tiba lebih cepat dari dokumen yang harus ditandatangani; tanah longsor lebih dulu bergerak daripada tim penanganan yang masih sibuk mencari tanda tangan berlapis. Seolah-olah alam meminta izin dahulu—sedang manusia menunggu format laporan yang belum selesai diisi. Di masa lalu, kita mengenang negara sebagai tangan yang sigap. Tapi kini birokrasi ternyata lebih percaya pada kertas ketimbang kehidupan. Bencana bukan lagi persoalan tanah, hujan, atau angin; ia menjadi korban lambat dari mesin administratif yang kita […] - [Mukadimah: Warthasastra](https://kenduricinta.com/mukadimahwarthasastra/): WARTHASASTRA adalah sebuah portmanteau, gabungan dari kata warta (kabar), artha (harta), sastra (seni/disiplin), dan arthasastra (seni mengatur dunia). Aslinya, Arthasastra adalah sebuah karya klasik dari peradaban India klasik di era 4-3 SM, yang digubah oleh Resi Kautilya, penasihat Raja Chandragupta dari Kekaisaran Maurya. Sebagai sebuah magnum opus, Arthasastra dipandang setara dengan Ping Fa (Art of War) gubahan Sun Tzu dari peradaban Tiongkok klasik yang berisi seni perang, seni menang, seni menaklukkan, dan seni berkuasa. Dari situ, istilah Warthasastra dibentuk sebagai respons terhadap realitas kontemporer, yang kini sudah jarang merujuk pada fakta objektif. Lebih sering, ia adalah versi resmi yang direstui […] - [Hobi Proyeksi dan Keberhalaan Modern](https://kenduricinta.com/hobi-proyeksi-dan-keberhalaan-modern/): BARANGKALI setiap manusia, tanpa terkecuali, pernah merasakan dorongan untuk mengagumi seseorang. Dalam setiap kekaguman, ada pengakuan kecil bahwa kita ingin menjadi seperti dia, dari cara ia berpikir, menulis, atau bahkan tersenyum di depan kamera. Idola, pada dasarnya, adalah cermin: memantulkan versi terbaik dari diri kita yang belum sempat tumbuh. Tapi seperti semua cermin, ia juga bisa menipu, memantulkan sesuatu yang terlalu kita percayai hingga lupa bahwa bayangan itu bukan kita. Kekaguman, bila berlarut, sering berubah menjadi semacam kebiasaan emosional: hobi proyeksi. Hobi ini tak terasa, tapi menggerakkan banyak hal dalam diri, dari pilihan siapa yang kita bela di dunia maya, sampai […] - [Kepalsuan di Balik Jendela Kelas](https://kenduricinta.com/kepalsuan-di-balik-jendela-kelas/): SUATU PAGI yang tampak biasa, seorang guru berdiri di depan kelas. Di tangannya ada spidol, di sudut ruangan berdiri sebuah tripod yang menopang ponsel. Murid-murid duduk rapi, sebagian sudah paham perannya. Kamera menyala. Guru mulai menulis di papan, bertanya, dan sesekali menatap ke arah lensa — memastikan semua tampak hidup. “Bagus, anak-anak,” ujarnya, “ini akan jadi video pembelajaran yang menarik.” Setelah kamera mati, suasana pun kembali datar. Tak ada diskusi lanjutan, tak ada percikan tanya. Pelajaran berakhir, tetapi pembelajaran tidak pernah benar-benar dimulai. Pemandangan seperti ini kini bukan hal asing. Di berbagai platform media sosial, bertebaran potongan video guru mengajar […] - [Kebebasan Tanpa Batas Menghancurkan Sumber Daya Bersama](https://kenduricinta.com/kebebasan-tanpa-batas-menghancurkan-sumber-daya-bersama/): SELALU ADA saat ketika manusia merasa paling merdeka justru ketika ia lupa bahwa dunia ini tidak hanya dihuni oleh dirinya. Di situlah, kata Garrett Hardin, tragedi mulai mengintai: tragedi bukan sebagai dentang gong dramatis, melainkan sebagai gumaman pelan yang lama-lama menjadi reruntuhan. Tragedy of the Commons, 1968. Tahun ketika dunia sedang sibuk merayakan kebebasan baru: musik rock, gelombang protes mahasiswa, dan manusia yang pertama kali menjejak bulan. Tapi Hardin mengingatkan sesuatu yang jauh lebih tua dari itu—setua ilusi bahwa kebebasan tanpa batas adalah hadiah paling mulia umat manusia. Bayangkan sebidang padang rumput komunal di desa kecil Inggris abad ke-16. Semua […] - [Kultus Visibility](https://kenduricinta.com/kultus-visibility/): KADANG, ketika kita duduk di tengah keramaian, kita melihat wajah-wajah yang tampak utuh dari kejauhan, padahal masing-masing sedang berjuang dengan kecemasan yang sama: rasa takut tidak dianggap ada. Entah sejak kapan, keinginan untuk “tampak” menjadi lebih kuat daripada keinginan untuk benar-benar hidup. Ada sesuatu yang pelan-pelan berubah dalam diri manusia modern sebuah pergeseran halus yang jarang kita sadari, seperti rambut yang memutih sedikit demi sedikit, atau suara yang makin parau setelah sekian tahun bicara untuk hal-hal yang tak kita yakini. Kita tidak pernah benar-benar memilih menjadi seperti ini; dunia yang lebih dulu memaksa kita untuk menyesuaikan diri dengan ritme yang […] - [Menulis Itu Tidak Gampang](https://kenduricinta.com/menulis-itu-tidak-gampang/): “MENGARANG itu gampang,” kata Arswendo Atmowiloto. Ungkapan yang kemudian menjadi judul bukunya itu sejatinya ditujukan untuk memotivasi anak-anak muda agar berani menulis. Saat itu Arswendo, yang nama aslinya Sarwendo, mengasuh Majalah Remaja HAI, sebuah ruang kreatif bagi banyak generasi muda. Melalui bukunya, ia seolah berkata bahwa siapa pun bisa membuat cerita: cerpen, novel, atau tulisan apa saja, asal berani mencoba. Namun terus terang, saya tidak sependapat. Berkali-kali saya ingin memulai menulis, tetapi selalu kandas. Ide-ide yang semula mengalir tiba-tiba mandek. Dalam perjalanan dari rumah ke tempat kerja, misalnya, pikiran saya sering melayang, memetakan kerangka tulisan dengan rapi. Pembuka tulisan, termasuk […] - [Tumbuh tapi Tidak Sadar](https://kenduricinta.com/tumbuh-tapi-tidak-sadar/): SEBUAH BANGSA bisa tumbuh tanpa benar-benar berkembang. Ia bisa meninggi, tapi kehilangan akar. Dalam seminar-seminar korporasi dan ruang kelas, kata growth telah menjelma mantra: diulang-ulang dalam motivasi, presentasi, hingga kebijakan publik. Kita diajari untuk “berubah”, “naik kelas”, “meningkatkan potensi”. Tapi sedikit yang bertanya: tumbuh ke arah mana? dan dengan jiwa yang bagaimana? Konsep growth mindset berangkat dari penelitian Carol S. Dweck (2006), yang membedakan antara fixed mindset (keyakinan bahwa kemampuan adalah sifat bawaan) dan growth mindset (keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha, strategi, dan pembelajaran dari kegagalan). Dalam banyak riset psikologi, konsep ini terbukti berkorelasi dengan ketahanan belajar (resilience), […] - [Penjahat Tak Pernah Membangun Negara](https://kenduricinta.com/penjahat-tak-pernah-membangun-negara/): Ternyata kekuasaan selalu datang dengan topeng: satu sisi menjanjikan ketertiban, di sisi lain menyembunyikan kecemasan akan kehilangan dirinya sendiri. Di sebuah foto lama, Nelson Mandela berdiri tegak dengan senyum yang seperti menyimpan luka dan kemenangan sekaligus. Ia pernah mengingatkan bahwa seorang penjahat tidak pernah membangun negara; ia hanya memperkaya diri sambil merusaknya. Sebuah kalimat yang terdengar sederhana, tapi menggema seperti palu yang jatuh ke meja hakim—menandai siapa sesungguhnya yang tengah mengadili siapa. Dalam sejarah kita sendiri, para penguasa kerap tampil bagaikan pawang hujan yang menjanjikan langit cerah, padahal sembunyi-sembunyi mereka menadah air untuk kepentingan ladangnya sendiri. Negara menjadi semacam kebun […] - [Sadar, Menyadari, Bernurani](https://kenduricinta.com/sadar-menyadari-bernurani/): JAM DELAPAN PAGI, udara pendingin ruangan bercampur samar dengan aroma kopi pertama yang diseduh di pantry. Kantor belum sepenuhnya memulai aktivitas, namun deretan lampu sudah menyala, menyoroti kursi dan meja yang perlahan terisi. Bunyi clack dari keyboard beradu dengan click dari mouse, menyambut notifikasi yang masuk beruntun, seperti sebuah orkestra yang menandakan dimulainya perlombaan harian melawan waktu. Di meja, laptop sudah menyala, menampilkan spreadsheet dan kalender yang penuh blok warna. Di ruang meeting, dua orang terlibat diskusi serius, suara mereka tertahan di balik kaca, menyisakan gestur tangan yang tampak gelisah. Banyak dari kita yang tidak asing dengan suasana ini: dari […] - [Reportase: Fragmen Kesadaran](https://kenduricinta.com/reportase-fragmen-kesadaran/): LANGIT JAKARTA telah gelap. Malam itu, halaman depan Masjid Amir Hamzah, Taman Ismail Marzuki (TIM), berubah menjadi ruang refleksi. Kenduri Cinta memang tidak digelar di Plaza Teater Besar atau Teater Kecil seperti biasa, karena TIM tengah merayakan ulang tahun ke-57. Oleh sebab itu, forum dipindahkan ke halaman Masjid Amir Hamzah. Perpindahan ini justru menjadi metafora fisik dari tema acara Kenduri Cinta edisi 262: “Fragmen Kesadaran”. Lampu serambi masjid yang temaram bersanding dengan lampu panggung sederhana, memantulkan cahaya hangat ke wajah-wajah yang duduk di atas alas terpal. Jamaah mulai berdatangan dengan beragam latar belakang. Ada yang masih mengenakan baju kantor, ada […] - [Dialektika Iman, Ilmu, dan Amal](https://kenduricinta.com/dialektika-iman-ilmu-dan-amal/): ISLAM bukan sekadar sistem kepercayaan yang terkurung dalam ruang ibadah dan ritual privat. Ia adalah din, sebuah pandangan hidup yang menyeluruh, yang sejak awal kelahirannya telah menyentuh seluruh aspek kehidupan: spiritualitas, etika, ekonomi, hingga politik. Namun, ketika Islam bersentuhan dengan politik, yakni arena kekuasaan yang sarat dengan kompromi dan kalkulasi, muncul ketegangan antara nilai-nilai ideal wahyu dan realitas yang sering kali brutal. Di titik inilah kebijaksanaan (hikmah) menjadi jembatan epistemologis dan praksis yang krusial. Muhammad Iqbal, dalam Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam, menekankan bahwa Islam adalah agama aksi, bukan sekadar kontemplasi. Bagi Iqbal, wahyu bukanlah teks mati, melainkan energi kreatif […] - [Guru Siapa? Guru yang Mana?](https://kenduricinta.com/guru-siapa-guru-yang-mana/): PARADIGMA tentang guru dan keguruan tengah mengalami turbulensi semantik dan epistemologis dalam arus deras modernitas, memicu sebuah pertanyaan eksistensial: Siapa guru yang sesungguhnya kita cari, dan guru yang manakah yang pantas kita ikuti di tengah riuh-serbaknya informasi? Kita tidak lagi berada di ruang kelas yang terisolasi secara kognitif, melainkan di dalam sebuah ekosistem belajar yang bersifat panoptik dan omnipresent, di mana sumber pengetahuan melimpah ruah, menuntut sebuah seleksi yang bijaksana. Esensi pendidikan sejati, secara teoretis, adalah proses humanisasi, sebuah upaya pembebasan diri dari belenggu ketidaktahuan menuju otonomi berpikir dan kemuliaan perilaku. Guru, dalam konteks ini, harus melampaui peran sebagai sekadar […] - [Slow Growth, Deep Meaning](https://kenduricinta.com/slow-growth-deep-meaning/): Sore ini, saya melihat sebuah buku berjudul Think Remarkable. Cover-nya mencolok, dengan kombinasi warna yang seolah sengaja dibuat untuk menarik mata siapa pun yang melintas. Tapi yang membuat saya berhenti bukan warnanya, melainkan kata di tengahnya: remarkable. Entah kenapa, kata itu terasa akrab, seperti berbicara langsung pada diri sendiri. Di beberapa kesempatan, saya selalu membagikan konsep bahwa menemukan value preposition menjadi penting bagi diri kita sendiri. Saya tidak tahu apakah itu kebetulan atau pertanda, tapi ada sesuatu yang menggugah di sana—semacam panggilan untuk berhenti sejenak dan merenung. Selama ini, saya sering berpikir bahwa menjadi remarkable berarti menjadi luar biasa, berbeda, […] - [Ketika Negeri Menjual Paru-Paru, Lalu Bangga Bisa Membeli Mobil Sebagai Gantinya](https://kenduricinta.com/ketika-negeri-menjual-paru-paru-lalu-bangga-bisa-membeli-mobil-sebagai-gantinya/): AKU PERNAH melihat hutan terbakar. Dari jauh, warnanya oranye seperti senja yang datang terlalu cepat. Asapnya naik pelan, seperti doa yang kehilangan alamat. Di televisi, berita itu disebut “kebakaran lahan”. Tapi di depan mataku, itu bukan sekadar lahan itu rumah bagi penghuni rimba, udara bagi manusia, dan nyawa bagi tanah yang selama ini diam menjaga kita. Hutan itu tidak sedang terbakar karena nasib. Ia dibakar oleh keserakahan yang dibungkus rapi dalam nama pembangunan. Negeri ini punya cara yang indah sekaligus mengerikan dalam memberi makna pada kata “maju”. Kita menambang gunung untuk nikel, menebang hutan untuk sawit, mengeringkan rawa untuk kota […] - [Mencari Sekolah yang Tak Runtuh](https://kenduricinta.com/mencari-sekolah-yang-tak-runtuh/): MUNGKIN kita memang sedang hidup di zaman ketika sekolah lebih sering runtuh daripada tumbuh. Bukan hanya gedungnya yang ambruk setelah musim hujan, tapi juga ide dasarnya: untuk apa manusia belajar. Pendidikan kini lebih tampak sebagai urusan logistik—bantuan operasional, sertifikasi, akreditasi, dan tender proyek—ketimbang urusan kebudayaan. Ia seperti pohon yang sibuk mengurus daunnya sendiri, sementara akarnya mulai lapuk dimakan waktu dan kelalaian. Tiap kali ada gedung sekolah ambruk, kita menyebutnya kecelakaan. Tapi mungkin itu bukan kecelakaan. Mungkin itu gejala. Runtuhnya atap adalah tanda dari rapuhnya fondasi yang lebih dalam: cara berpikir kita tentang belajar. Kita telah memisahkan “pendidikan” dari “kehidupan”, seolah keduanya […] - [Mukadimah: Fragmen Kesadaran](https://kenduricinta.com/mukadimah-fragmen-kesadaran/): “What’s in a name? That which we call a rose, by any other name would smell as sweet.” — William Shakespeare, Romeo and Juliet (1590) Kalimat ini menjadi quote abadi yang melintasi zaman dan budaya. Ada benarnya memang, nama bunga mawar tak akan mengubah baunya. Esensi suatu hal tidak bergantung pada label atau sebutannya. Wangi khas mawar tak berubah meskipun namanya diganti menjadi kenikir. Namun, dalam khazanah Islam yang juga selaras dengan beragam tradisi spiritual Nusantara, nama bukan sekadar penanda. Ia adalah doa, aspirasi moral, harapan orang tua atau sang pemberi nama, bahkan menjadi semacam penyimpan memori kognitif yang melekat […] - [Kita Mulai dari Hati yang Selesai](https://kenduricinta.com/kita-mulai-dari-hati-yang-selesai/): DI BALIK berbagai krisis sosial yang kita hadapi, dari ketidakadilan hingga intoleransi, terdapat akar yang sering kali terabaikan: kondisi batin yang belum menemukan kedamaian. Banyak dari kita masih hidup dalam cengkeraman hasrat yang tak kunjung puas: ingin diakui, ingin menang, ingin menguasai, atau ingin membuktikan bahwa diri dan kelompok kita “lebih benar” daripada yang lain. Ketika batin dikuasai oleh kekacauan semacam ini, ia menjadi rapuh, mudah tersinggung, defensif terhadap perbedaan, dan terus-menerus merasa kurang. Dalam tradisi Maiyah, kondisi ini disebut “hati yang belum selesai”: sebuah keadaan di mana seseorang belum lepas dari narasi egosentris yang menjadikan dunia sebagai panggung untuk […] - [Manusia dan Simbol: Membaca Ketundukan Santri kepada Kiai](https://kenduricinta.com/manusia-dan-simbol-membaca-ketundukan-santri-kepada-kiai/): Di sebuah pesantren, di antara tembok bata yang kusam dan halaman berpasir yang sering berdebu oleh angin, pagi selalu tiba dengan ritme yang sama. Santri-santri muda berdiri berbaris di halaman. Sebagian mengenakan sarung yang sudah pudar warnanya, sebagian lain masih menguap menahan kantuk. Namun begitu sosok kiai melangkah pelan di hadapan mereka, semua kepala menunduk serempak. Tubuh menunduk, tangan menyentuh tangan, tatapan hormat mengiringi langkah sang guru. Pemandangan ini mungkin terlihat sederhana, bahkan biasa. Tapi di balik gerakan itu ada sesuatu yang lebih dalam, ada makna, ada simbol, ada upaya manusia untuk terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya […] - [Feodalisme yang Mendidik, Egaliterisme yang Membebaskan](https://kenduricinta.com/feodalisme-yang-mendidik-egaliterisme-yang-membebaskan/): “Ilmu tanpa adab ibarat api tanpa cahaya.” BEGITU petuah lama yang sering kita dengar sebagai masyarakat awam. Kalimat ini sederhana, tetapi menyimpan filosofi mendalam, bahwa ilmu sejatinya tidak hanya untuk mengasah akal, melainkan juga menundukkan hati. Berbicara tentang ilmu dan adab tidak bisa dipisahkan dari kultur budaya yang sudah ada di Indonesia. Salah satu yang paling mencolok dan kentara jika membahas ilmu dan adab adalah model pendidikan kultural Indonesia yang khas: “Pesantren Nusantara”. Kita tahu eksistensi atau keberadaan pesantren sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Sejarah mencatat, pesantren sudah eksis jauh sebelum berdirinya negara ini. Sejak abad ke-15, lembaga pendidikan Islam […] - [Pendidikan, STEM, dan Cermin Kebudayaan Kita](https://kenduricinta.com/pendidikan-stem-dan-cermin-kebudayaan-kita/): ADA SESUATU yang ganjil dari cara bangsa ini mendidik dirinya sendiri. Di atas kertas, kita bicara tentang kemerdekaan belajar, tentang inovasi, tentang abad 21 yang menuntut kreativitas dan nalar kritis. Tapi di ruang-ruang kelas, yang tumbuh justru ketakutan untuk berpikir. Siswa-siswa dilatih untuk menjawab, bukan untuk bertanya. Guru-guru diajarkan untuk tahu segalanya, bukan untuk mengakui ketidaktahuan. Pendidikan yang seharusnya menjadi ruang kemungkinan, berubah menjadi ritual kepatuhan yang hampa makna. Kita hidup di tengah sistem yang menyanjung formalitas lebih tinggi dari pengetahuan. Paperwork menjadi agama baru, di mana daftar hadir, sertifikat, dan format laporan dianggap lebih penting daripada isi. Anak-anak belajar […] - [Kiai, Karisma, dan Krisis Kepercayaan: Menata Ulang Marwah Pesantren](https://kenduricinta.com/kiai-karisma-dan-krisis-kepercayaan-menata-ulang-marwah-pesantren/): PESANTREN adalah warisan agung Islam Nusantara. Ia bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi ruang spiritual yang membentuk karakter, membangun kesadaran sosial, dan melahirkan pemimpin bangsa. Dari Resolusi Jihad Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari hingga kiprah Gus Dur dan KH. Ma’ruf Amin, pesantren telah membuktikan diri sebagai benteng moral sekaligus aktor politik yang berpengaruh. Namun, di tengah pujian itu, kita harus berani melihat kenyataan bahwa marwah pesantren sedang diuji. Bukan oleh musuh luar, tetapi oleh kelalaian internal yang dibiarkan berlarut-larut. Dua peristiwa yang terjadi berdekatan menjadi titik balik refleksi: tragedi robohnya bangunan Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo dan polemik tayangan Trans7 tentang gaya […] - [Air Gratis dan Bayangan Kekuasaan](https://kenduricinta.com/air-gratis-dan-bayangan-kekuasaan/): SETIAP kali kita mendengar kata gratis, selalu ada gema yang menipu di baliknya. Seolah-olah alam masih murah hati, padahal setiap tetes air hari ini sudah lebih tunduk pada izin, meteran, dan neraca ekonomi ketimbang pada hujan. Namun, ketika seorang gubernur menuding ada perusahaan besar yang mengambil air “gratis”, publik tersentak—bukan karena haus pada fakta, tapi karena lapar pada sensasi. Kata “gratis” seolah lebih menggoda daripada kata “izin”, “audit”, atau “konservasi”. Di media sosial, air mendadak menjadi simbol ketidakadilan. “Perusahaan meneguk sumber daya rakyat!” tulis seseorang. “Kita kehausan, mereka kaya raya,” tulis yang lain. Padahal, di balik kata “gratis” itu, ada […] - [Jangan Salahkan Tuhan Kalau Itu Kesalahanmu](https://kenduricinta.com/jangan-salahkan-tuhan-kalau-itu-kesalahanmu/): BUKAN gemuruh petir atau guntur, tapi gemuruh dari beton dan besi yang menyerah. Sebuah gedung runtuh. Puluhan nyawa melayang. Laporan investigasi awal tak terbantahkan: fondasi dirancang untuk satu lantai, dipaksakan menjadi empat. Izin keluar atas dasar dokumen yang tidak lengkap. Prosedur keselamatan yang diabaikan begitu saja. Ini adalah sebuah tragedi yang disusun oleh manusia, bagi manusia. Di antara air mata dan duka keluarga yang ditinggal, respons tenang sang pemilik gedung muncul: “Ini sudah takdir.” Kalimat itu bukan miliknya sendiri. Ia adalah cermin dari percakapan kolektif yang sering kita dengar—dan bahkan ucapkan—tanpa sadar. “Kalau sudah rezeki, nggak ke mana” adalah mantra […] - [Bekerja untuk Tuhan Wajib Arif Profesional](https://kenduricinta.com/bekerja-untuk-tuhan-wajib-arif-profesional/): DI TEPI Sungai Tunca, Kota Edirne, Turki terdapat makam seseorang bernama Yahya Baba dari abad ke-15. Gelarnya Aşçı yang berarti koki. Ia adalah seorang koki terkenal yang bekerja di Imaret (dapur umum) Sultan Bayezid II (sultan Utsmani 1481-1512). Masakannya terkenal lezat karena ia memasaknya dengan sungguh-sungguh dan profesional. Saat menghidangkan ke pengunjung yang kelaparan ia biasa memuji Tuhan dan berdoa “Devam-ı devlet, nasib-i cennet” yang berarti semoga daulah ini langgeng dan tempatnya di surga. Selain profesional sebagai koki, ia juga seorang arif bijaksana sebagaimana seharusnya seseorang yang mengabdikan hidup di bidang sosial dan bekerja bagi umat. Salah satu perkataannya yang […] - [Residu-Residu Kebenaran](https://kenduricinta.com/residu-residu-kebenaran/): DELAPAN PULUH tahun lalu, kabar kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak serta-merta terdengar di seluruh penjuru nusantara. Di Sumatra, misalnya, butuh hampir satu pekan hingga berita proklamasi sampai, bersamaan dengan rakyat melucuti tentara Jepang yang kalah Perang Dunia II. Keterbatasan akses informasi membuat masyarakat kala itu hanya bisa mengandalkan kabar berantai. Kini, keadaan berbalik 180 derajat. Informasi mengalir deras tanpa batas ruang dan waktu. Hanya dengan ponsel di tangan, kita bisa mengetahui peristiwa di belahan dunia lain dalam hitungan detik. Teknologi digital membawa keterbukaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, justru di sinilah paradoks itu muncul: di tengah banjir […] - [Dekadensi Epistemik dan Krisis Nalar](https://kenduricinta.com/dekadensi-epistemik-dan-krisis-nalar/): DI TENGAH hiruk-pikuk pembangunan, bangsa ini tampak bergegas menuju masa depan yang belum ia pahami. Indonesia Emas 2045 menjadi mantra yang diulang dalam pidato, peraturan, dan iklan kementerian. Namun di balik retorika kemajuan itu, tersimpan kekosongan konseptual. Bangsa ini ingin maju, tetapi belum tahu bagaimana cara berpikir tentang kemajuan itu sendiri. Kita memuja infrastruktur, tapi abai pada epistemologi. Kita berbicara tentang transformasi digital, tetapi belum menyentuh transformasi mental. Di ruang publik, diskursus digantikan oleh deklarasi; dalam pendidikan, pengetahuan digantikan oleh hafalan; dalam politik, ide digantikan oleh aklamasi. Inilah yang disebut oleh filsuf Jürgen Habermas sebagai pathology of modernity, ketika rasionalitas […] - [Kereta yang Tak Pernah Pulang](https://kenduricinta.com/kereta-yang-tak-pernah-pulang/): DI ANTARA kabut pagi yang menggantung di atas Cawang dan denting baja yang memantul dari dinding kaca, sebuah kereta meluncur. Namanya Whoosh—sebuah kata yang tak berakar pada bahasa ibu, tapi dipilih karena bunyinya yang futuristik, karena ia terdengar seperti dunia yang ingin kita tiru. Di layar televisi, di baliho yang menggantung di simpang kota, Whoosh disebut sebagai “lompatan peradaban.” Tapi dari balik jendela kereta yang mengilap, sawah-sawah mundur seperti bayangan masa lalu yang tak diinginkan lagi. Mereka yang naik tampak sibuk memotret, merekam, menandai kecepatan di ponsel mereka: 350 km per jam. Sementara itu, di luar sana, seorang petani di […] - [Negarawan Jumud vs Rakyat Ajaib](https://kenduricinta.com/negarawan-jumud-vs-rakyat-ajaib/): DALAM sejarah panjang bangsa ini, kita sering terjebak dalam ilusi bahwa kemerdekaan sudah tuntas hanya karena proklamasi 1945. Padahal, setiap zaman menghadirkan bentuk penjajahan baru, yang sering kali lebih halus namun tidak kalah berbahaya. Jika dulu musuh kita adalah bangsa asing bersenjata, kini musuh itu bersemayam di tubuh bangsa sendiri: pada ketamakan segelintir pemburu rente, pada elite yang menukar kepemimpinan dengan kuasa, dan pada pejabat yang membekukan rakyatnya dalam kejumudan. Cak Nun pernah menulis dalam Puasa Kemakhlukan Manusia (2018), “Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk bermental jumud, konservatif dan mandek. Bahkan para pejalan Ilmu kebanyakan juga mandek di batas kebenarannya masing-masing.” […] - [REPORTASE: MENGHADIRKAN CAHAYA](https://kenduricinta.com/reportase-menghadirkan-cahaya/): MESKIPUN malam mulai menjelang, suasana di Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki justru kian bercahaya. Langit Jakarta yang sempat kelabu oleh mendung sore tadi kini bersih, seolah ikut menyambut kedatangan para jamaah. Senyum dan tawa sederhana mereka menambah hangat suasana yang mulai terasa khidmat. Tenda sudah berdiri, terpal telah digelar, layar putih ditegakkan, dan di seberang tenda Kenduri Cinta, sebuah proyektor dan layar—yang tak biasanya ada di Kenduri Cinta—siap menayangkan film. Malam itu memang istimewa. Pada edisi 10 Oktober 2025, Kenduri Cinta berkolaborasi dengan Madani International Film Festival, membuka ruang dialog lintas iman dan lintas cara pandang. Kolaborasi ini tidak […] - [Ekonomi, Perang, dan Ilusi Kemakmuran](https://kenduricinta.com/ekonomi-perang-dan-ilusi-kemakmuran/): ADA SATU ironi yang terus hidup, bahkan setelah meriam diam dan bom berhenti meledak: perang ternyata adalah ibu dari kemakmuran modern. Dari reruntuhan kota, lahir pabrik-pabrik baja. Dari darah para serdadu, tumbuh bank-bank raksasa. Keynes mungkin tak pernah membayangkan bahwa teorinya tentang belanja publik untuk menstimulasi ekonomi akan menjelma menjadi doktrin ekonomi perang—Military Keynesianism—di mana peluru dan senjata menjadi alat paling efisien untuk menggerakkan mesin kapitalisme. Eropa sudah membuktikannya. Di bawah Hitler, Jerman bangkit dari depresi, menghapus pengangguran, dan memutar ekonomi lewat industri militer yang didanai—ironisnya—oleh bank-bank Wall Street. Sejarah tidak pernah sepolos yang kita baca di buku teks. Di […] - [Indonesia dan Mimpi Peradaban Cahaya](https://kenduricinta.com/indonesia-dan-mimpi-peradaban-cahaya/): KITA hidup di tengah ironi. Informasi mengalir deras, namun kebenaran makin sulit ditemukan. Pendidikan diperluas, tetapi kesenjangan sosial tak kunjung menyusut. Jalan tol dan jaringan digital menyambungkan pulau-pulau, namun kebersamaan antara anak bangsa semakin renggang. Kita terhubung secara teknis, tapi terpecah secara emosional dalam hoaks, kebencian, dan identitas sempit. Ini bukan hanya soal kebijakan gagal—ini adalah gejala ketidakseimbangan dalam konsep pembangunan kita. Kita sibuk membangun sistem infrastruktur, tapi lupa merawat jiwa; mengejar angka, tapi kehilangan mimpi. Pembangunan Indonesia terlalu sering diglorifikasi oleh angka. PDB naik, IPM membaik, jumlah kilometer jalan tol bertambah. Namun, ketika angka naik tapi rasa keadilan turun, […] - [Empati: Jembatan Kemanusiaan atau Senjata Manipulasi](https://kenduricinta.com/empati-jembatan-kemanusiaan-atau-senjata-manipulasi/): PADA rilisan podcast kanal Akbar Faisal, Ketua Tim Reformasi Polri menyatakan permohonan maaf atas tindakan dan perilaku anggota lembaganya selama ini. Meski judul podcast “Ketua Tim Akui Dosa-dosa Polri” terkesan clickbait, namun terang menunjukkan isi obrolannya. Pada kesempatan itu, Ketua Tim menyampaikan bahwa reformasi Polri seperti membangun peradaban. Sebuah pernyataan yang menunjukkan bahwa Polri mampu berempati. Pada waktu lain, Kepala Badan Gizi Nasional juga menyatakan permohonan maaf saat merespons banyaknya kasus keracunan program makan bergizi gratis di Jawa Barat. Katanya, tim khusus telah dibentuk untuk melakukan investigasi. Ia pun berjanji untuk melakukan perbaikan, memastikan penanganan kesehatan terbaik untuk anak-anak yang terdampak. Peristiwa keracunan ini juga ditandai […] - [Mukadimah:Menghadirkan Cahaya](https://kenduricinta.com/mukadimahmenghadirkan-cahaya/): Dalam surat Az-Zariyat ayat 49, Allah berfirman: “Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” Prinsip berpasang-pasangan ini mewujud dalam segala hal yang lazim kita kenal, misalnya makhluk–Khaliq, pria–wanita, baik–buruk, bumi–langit, surga–neraka, jauh–dekat, sedih–bahagia, kuat–lemah, menang–kalah, benci–cinta, bodoh–pintar, hilang–ketemu, pergi-datang, tinggi–pendek, hingga siang–malam, timur–barat, matahari–rembulan, dan seterusnya. Jika kita elaborasi lebih jauh, pasangan itu bisa bersifat koheren, komplementer, kausal, inkoheren, atau bahkan konfrontasional. Dalam khazanah sastra, misalnya, termanifestasi menjadi ungkapan “bagai pinang dibelah dua”, “siapa menanam akan menuai”, “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya”, atau “satu-satunya hal yang tak pernah berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri”, […] - [Partai Politik Semakin Lemah](https://kenduricinta.com/partai-politik-semakin-lemah/): PARTAI POLITIK merupakan lembaga atau suatu kelompok yang mengorganisasikan anggotanya dengan kepentingan maupun tujuan yang sama (Budiardjo, 2008). Kepentingan yang sama ini erat kaitannya dengan kekuasaan. Kekuasaan, di sisi lain, dapat dimaknai sebagai usaha untuk memengaruhi pihak lain agar sesuai dengan apa yang telah ditentukan atau diharapkan. Cara untuk memperoleh atau mempertahankan kekuasaan tersebut cenderung dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan menggunakan lembaga partai politik. Partai politik mempunyai pandangan yang sama dalam memperjuangkan kepentingan ideologi partai, terutama dalam mencetak pemimpin melalui kaderisasi internal yang memungkinkan adanya kesatuan paham atau tujuan dalam menjalankan pemerintahan nantinya. Dalam memahami jalannya partai politik, […] - [Gelap Terang Topeng Digital](https://kenduricinta.com/gelap-terang-topeng-digital/): DAVID adalah seseorang yang pendiam. Ia sopan kepada orang tua, rajin membantu sesama, dan suaranya jarang terdengar dalam keributan. Tapi begitu membuka media sosial, David berubah. Jempolnya menari lincah, melontarkan kata-kata kasar yang tak pernah terbayang akan keluar dari mulutnya. Dia dengan berani menyerbu kolom komentar, menyebar kebencian, dan merasa itu semua adalah permainan. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, di dunia game online, saya sempat menjadi David dalam bentuk yang lain. Apa yang dimulai sebagai reaksi balas dendam terhadap cacian, berubah menjadi kebiasaan aktif memulai ejekan provokatif. Saat itu, merendahkan orang lain memberi rasa menang yang palsu. Pengalaman itu menunjukkan […] - [“Eling lan Waspada”: Sebuah Pijakan](https://kenduricinta.com/eling-lan-waspada-sebuah-pijakan/): MANUSIA memang tempatnya salah dan lupa. Begitulah cara banyak orang membentengi diri saat dia berbuat kesalahan. Dengan sebuah ungkapan sederhana, tampak terasa cukup untuk menutupi kesalahan yang diperbuat, alih-alih meminta maaf dan memperbaiki diri. Padahal, sering kali manusia itu melakukan kesalahan karena langkah yang sudah dia prediksi sebelumnya. Terkadang, manusia hanya ingin mendapatkan validasi untuk kesekian kali atas keputusan yang dia ambil sebelumnya. Sementara, Al Qur’an sudah menegaskan bahwa hidup adalah permainan dan senda gurau. Meskipun hanya permainan dan senda gurau, kita melalui kehidupan ini dengan sangat dinamis. Tidak selalu bercanda, justru lebih sering serius. Pertandingan sepakbola saja yang hanya […] - [Janji Gizi, Pengkhianatan di Piring Sekolah](https://kenduricinta.com/janji-gizi-pengkhianatan-di-piring-sekolah/): DI SEBUAH ruang kelas sederhana, sepiring nasi hangat dan sepotong lauk pernah menjadi jembatan antara mimpi seorang anak dan nasib sebuah bangsa. Program makan sekolah, yang bagi sebagian orang tampak remeh, sejatinya adalah cermin dari bagaimana sebuah negara memperlakukan masa depannya sendiri. Apakah ia menaruh perhatian pada perut anak-anak, ataukah membiarkan mereka tumbuh dengan rasa lapar yang diam-diam meluruhkan harapan? Sejarah panjangnya berawal jauh dari sini. Di Inggris abad ke-19, ketika pabrik-pabrik mengepulkan asap dan kota-kota dipenuhi buruh cilik dengan wajah pucat, makan sekolah lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari belas kasihan. Gereja dan para filantropis berusaha memberi makan anak-anak […] - [Paradoks Keahlian](https://kenduricinta.com/paradoks-keahlian/): MALAM ITU turun pelan, seperti kabut yang menyusup tanpa disadari. Di sebuah ruang kerja yang dipenuhi aroma kertas tua dan cahaya lampu kuning yang lembut, Ratna Prameswari duduk sendirian. Di hadapannya, berlembar-lembar laporan makroekonomi menumpuk: grafik pertumbuhan yang naik-turun bagai detak jantung, tabel inflasi pangan yang semakin panjang, serta proyeksi neraca pembayaran yang tampak kian rapuh. Ia menghela napas pelan. Puluhan tahun ia telah menjadi penjaga angka-angka itu. Dari krisis finansial Asia di akhir 1990-an hingga gejolak pandemi dua dekade kemudian, ia selalu hadir di ruang keputusan. Pers menyebutnya arsitek fiskal, sementara rakyat awam mengenalnya hanya sebagai “menteri yang pandai […] - [Gelombang Baru Itu Bernama Gen Z](https://kenduricinta.com/gelombang-baru-itu-bernama-gen-z/): BUNG KARNO pernah berkata, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Kalimat itu kini terasa kembali nyata ketika kita menyaksikan gelombang baru atau generasi baru yang biasa disebut “Gen Z”. Siapa yang akan menyangka bahwa para anak anak muda yang lahir di tengah banjir informasi, tumbuh dengan media sosial, dan sudah melek teknologi sejak lahir, ternyata menjadi kunci dan juga garda terdepan yang berani menyuarakan opini dan pendapat dengan model serta gaya yang berbeda generasi sebelumnya. Hari ini, dunia kembali ramai dengan suara Gen Z yang menginisiasi aksi dan juga perubahan. Di Nepal, ribuan anak muda turun ke jalan […] - [Asap yang Dilarang, Hutang yang Dibiarkan](https://kenduricinta.com/asap-yang-dilarang-hutang-yang-dibiarkan/): DI WARUNG KOPI pojok kampung, asap rokok masih jadi kabut yang menyelimuti obrolan. Bedanya, kini bungkus-bungkus murahan tanpa pita cukai ikut beredar, diselipkan di bawah meja, dibungkus koran bekas, dijual dengan lirikan curiga. Teman-temanku yang dulu bebas menyalakan sebatang kretek di sela diskusi kini seperti perokok gelap—membeli barang ilegal sembunyi-sembunyi, seolah rokok bukan lagi kenikmatan, melainkan kejahatan kecil. Cukai yang dipatok negara hari ini mencapai 57 persen dari harga jual. Angka itu bukan sekadar persentase di kertas, tapi berarti satu batang kretek lebih mahal daripada sepiring nasi kucing di angkringan. Ironisnya, industri rokok kecil terseok, petani tembakau kian terjepit, sementara […] - [Pemimpin, Kesakralan, Ibu Pertiwi, dan Ksatria](https://kenduricinta.com/pemimpin-kesakralan-ibu-pertiwi-dan-ksatria/): SEJARAH mencatat skandal outrages yang pernah dilakukan oleh Kaisar Romawi bernama Caligula yang berkuasa pada tahun 37-41 M.. Ini bukan cerita Caligula membakar Kota Roma, tapi lebih gila lagi. Di masa pemerintahannya, ia pernah mengangkat kudanya yang bernama Incitatus menjadi senator Romawi. Lebih absurd lagi, ia mau mengangkatnya menjadi konsul—jabatan yang memiliki otoritas hukum dan peradilan. Bayangkan seekor binatang menentukan hidup mati seseorang. Itu pernah terjadi 2000 tahun yang lalu. Tentunya, kegilaan Caligula tidak dibiarkan begitu saja. Orang-orang bersepakat untuk menghentikan kegilaan tersebut. Maka, ada tanggal 35 Januari 41 Masehi, Cassius Chaerea—seorang komandan Tribun Pratorian—bersama beberapa senator mengeksekusi Caligula di […] - [Mantan Khalifah Mewariskan Laku Pencarian Diri](https://kenduricinta.com/mantan-khalifah-mewariskan-laku-pencarian-diri/): AWAL MULA saya bertemu dengan Maiyah sebagai tempat belajar adalah momen ketika dulu saya tengah merasa gamang dengan nilai benar-salahnya dunia pendidikan formal, yang menaungi proses belajar saya sebagai mahasiswa seni. Utamanya pada praktik transfer ilmu pengetahuan secara umum, yang waktu itu saya rasakan hanya sebagai serangkaian proses formalitas yang memperlambat gerak hidup di masa muda. Mengingat kembali adanya proses perlambatan yang berakibat kemunduran diri dari segi kesadaran akan realitas itu terkadang cukup menyebalkan. Namun ada satu hal yang saya maknai sebagai keberuntungan, bidang yang waktu itu saya tekuni adalah ilmu seni rupa. Dalam proses pembelajaran ilmu seni rupa yang […] - [Kebenaran yang Berlapis, Cinta yang Menyatu](https://kenduricinta.com/kebenaran-yang-berlapis-cinta-yang-menyatu/): AKU MENDENGAR lagi lagu itu belakangan ini, berkali-kali, seakan tombol playback di dalam kepalaku sedang rusak. “Kulihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati.” Ia bukan lagi lirik di buku musik sekolah dasar. Ia adalah gambaran nyata kondisi belakangan ini yang terpampang di linimasa, dalam berita, dalam percakapan sehari-hari yang berhenti di tengah jalan, helaan napas panjang. Resah dan gelisah adalah udara yang kita hirup. Setiap upaya menyampaikan keresahan yang real, yang jujur, sering kali dibajak oleh kepentingan yang lebih besar, disisipi narasi yang bukan milik kita. Kita juga mencoba ke medan perang lain: media sosial. Di sana, yang terjadi justru bukan […] - [Feodalisme: Tak Mati, Hanya Berganti Kostum Demokrasi](https://kenduricinta.com/feodalisme-tak-mati-hanya-berganti-kostum-demokrasi/): Padahal feodalisme itu, kalau mau jujur, semacam penyakit sosial. Tapi alih-alih dianggap wabah yang harus segera ditumpas, ia justru diwarisi dan disimpan dalam ruang bawah sadar manusia Indonesia seperti pusaka leluhur. Dengan bangga orang membawa penyakit itu ke pesta, ke gedung parlemen, bahkan ke layar kaca. Feodalisme tak lagi sekadar hubungan tuan–jongos di perkebunan kolonial, ia sudah berubah menjadi semacam “prestise” sosial: gelar di depan nama, kursi empuk yang hanya bisa diduduki oleh darah tertentu, atau bahasa tubuh yang menuntut orang lain menunduk lebih dulu. Sejarah kita tahu bahwa feodalisme pernah dipakai kolonial untuk menaklukkan pribumi. Tapi siapa sangka, setelah […] - [Pewaris, Perintis, dan Penjaja Bakso di Simpang Jalan](https://kenduricinta.com/pewaris-perintis-dan-penjaja-bakso-di-simpang-jalan/): MALAM ITU, gerimis turun pelan-pelan di ujung jalan kecil di Pasar Minggu. Bau kuah bakso dan uap panas dari gerobak kayu tua membumbung ke udara, menyatu dengan asap knalpot dan dengung kendaraan yang belum jua reda. Di bawah lampu jalan yang setengah redup, seorang pria paruh baya menggenggam centong sambil menatap bakso dalam panci mendidih. Namanya Pak Darma. Usianya mungkin hampir enam puluh. Sudah lebih dari tiga dekade ia menjajakan bakso di sudut yang sama, setiap hari dari pukul tiga sore hingga tengah malam. Yang membuat saya berhenti malam itu bukan semata lapar, tapi cerita. Di tengah kepulan uap, Pak […] - [REPORTASE: SILAT(U)RAHIM IBU PERTIWI](https://kenduricinta.com/reportase-silaturahim-ibu-pertiwi/): MALAM ITU, beberapa sisi Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki masih tergenang karena hujan deras yang turun di sore hari. Tapi, itu semua tak mengurangi niat jamaah untuk hadir dan kembali berkumpul dalam kekhidmatan Kenduri Cinta edisi ke-260, yang diselenggatakan pada tanggal 12 September 2025. Shalawat mengikat awal, merapikan ritme sebelum memasuki sesi-sesi yang penuh. Jay, pegiat teater, turut menyelaraskan ritme setelah sesi shalawat dengan membacakan sebuah puisi berjudul “Menyorong Rembulan” karya Cak Nun. Ia tidak menjadikan panggung dramatis berlebihan; ia hanya menempatkan kata pada posisi yang membuat jamaah sadar bahwa malam ini bukan untuk riuh, melainkan untuk menautkan tema […] - [Merdeka dari Penantian](https://kenduricinta.com/merdeka-dari-penantian/): IBU SAYA beberapa kali bercerita mengenang masa kecilnya. Di suatu sore di hari kematian Soekarno, ibu saya dan teman-temannya melihat awan yang menyerupai wajah Soekarno. Seperti orang-orang dewasa di kampung pada masa itu, kakek saya juga pengagum Soekarno, melihatnya sebagai sosok gagah, yang berdasar weton lahirnya memang ditakdir jadi orang besar, alias bukan dari kalangan biasa. Sementara, kakek nenek saya sendiri hidupnya susah. Kesusahan mereka tidaklah unik, kesusahan yang dirasakan sebagian besar rakyat di masa itu. Ibu saya cerita bagaimana ibu tidak pernah bisa fokus di sekolah. Pikirannya selalu tertuju pada nenek saya yang sedang dagang di pasar: Apakah dagangannya […] - [Ketika Rupee, Demokrasi, dan Kepercayaan Pecah di Cermin yang Sama](https://kenduricinta.com/ketika-rupee-demokrasi-dan-kepercayaan-pecah-di-cermin-yang-sama/): BAYANGKAN sebuah negeri di ketinggian, Himalaya yang menjulang, di mana langit dekat sekali dengan kepala manusia, tetapi justru suara mereka diputus di bumi. Nepal, negeri yang sering kita dengar dari legenda para pendaki, kini berubah menjadi sebuah laboratorium kecil: bagaimana suara rakyat, yang terhubung lewat kabel-kabel tak terlihat, bisa lebih dahsyat dari gempa yang pernah mengguncang lembah Kathmandu. Pemerintah menutup Facebook, WhatsApp, Instagram—seolah-olah dengan mematikan saklar listrik, gelombang protes akan mereda. Tetapi sejarah selalu punya ingatan lain. Kekuasaan, dari masa ke masa, percaya bahwa yang bisa dikendalikan hanyalah mulut manusia. Padahal hari ini, “mulut” itu sudah berubah menjadi layar kecil […] - [Cermin di Ruang Baca](https://kenduricinta.com/cermin-di-ruang-baca/): RUANG BACA itu sepi. Hanya suara kipas angin tua yang berderit, seolah berusaha menjaga sisa-sisa keheningan. Harun duduk di kursi kayu yang sudah lama kehilangan pernisnya. Ia sedang menjalani semester akhir, di antara draft tumpukan referensi skripsi yang tak kunjung rampung. Lelah, ia memilih menyusuri rak perpustakaan, berharap menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar teori metodologi. Tangannya berhenti pada sebuah buku tebal, sampulnya hampir terkelupas, baunya menyengat seperti debu yang berusia puluhan tahun. Ia membukanya pelan. Di sana, halaman-halaman yang menguning bercerita tentang seorang anak kelahiran Surabaya, 1930. Anak itu tumbuh di sebuah kota pelabuhan yang sibuk, tapi hatinya selalu […] - [Menjadi Kaleng Khong Guan di Minimarket](https://kenduricinta.com/menjadi-kaleng-khong-guan-di-minimarket/): SUDAH 40 HARI lamanya aku harus menerima keadaanku yang baru, berubah menjadi kaleng Khong Guan di mini market pinggir kota kecil. Tidak ada yang mencariku, bahkan pasanganku mungkin pergi dengan kekasihnya yang baru. Tapi, sesekali aku melihat keluargaku yang tidak sadar aku menjadi kaleng yang didambakannya setiap tahun. Aku memang berasal dari keluarga kurang mampu di pinggiran kota. Sehari-hari keluarga kami selalu bertengkar soal dengan apa kami makan. Apakah dengan beras aking, singkong yang didapatkan dengan mencuri kebun milik orang lain, atau menunggu bantuan uang dari pemerintah. Tidak pernah terbayang oleh kami apa itu nasi putih atau merah, apalagi Khong […] - [Mukadimah:Silat(u)rahim Ibu Pertiwi](https://kenduricinta.com/mukadimahsilaturahim-ibu-pertiwi/): Kulihat Ibu Pertiwi Sedang bersusah hati Air matanya berlinang Mas intannya terkenang Untaian Ibu Pertiwi karya Kamsidi Samsuddin—kemudian digubah oleh Ismail Marzuki yang namanya tak lekang oleh waktu dan terabadikan dengan penuh hormat sebagai lokasi gelaran Kenduri Cinta sejak seperempat abad yang lalu—rasanya cukup mewakili hati kita hari-hari ini: barisan kata-kata ini bukan sekadar syair, melainkan cermin getir kenyataan bangsa hari-hari belakangan ini. Pasca Perayaan 80 Tahun Kemerdekaan RI dan Kenduri Cinta Agustus dengan tema “Ruang Sempit Kemerdekaan” yang meneguhkan rasa syukur seraya berintrospeksi diri, sekonyong-konyong ternyata kita diuji lagi. Harapan atas kesejahteraan rakyat, keadilan sosial, dan empati yang tersimpan […] - [Permintaan Maaf dan Runtuhnya Makna](https://kenduricinta.com/permintaan-maaf-dan-runtuhnya-makna/): TIDAK ADA pilihan lain, negara ini memang harus membenahi dirinya sampai ke akar. Sebab apa yang kita saksikan kini bukan hanya keroposnya sebuah gedung, melainkan lapuknya tiang yang menyangga. Ketika institusi yang seharusnya menjaga nilai—departemen agama, pendidikan, bahkan peradilan—justru ikut berkarat oleh korupsi, bagaimana mungkin kita masih percaya ada rumah yang kokoh berdiri di atasnya? Sejarah pernah memberi kita cermin yakni kekuasaan yang runtuh bukan selalu karena serangan dari luar, melainkan karena rayap di dalam. Kerajaan-kerajaan besar tumbang bukan karena meriam musuh, tetapi karena pengkhianatan pada nilai yang mereka agungkan sendiri. Di titik itulah, hukum menjadi dagangan, agama menjadi jubah […] - [Humanisme dan Harmoni dalam Kepemimpinan](https://kenduricinta.com/humanisme-dan-harmoni-dalam-kepemimpinan/): ADA YANG BILANG, kekuasaan itu seperti panggung besar: gemerlap, penuh tepuk tangan, tapi rawan membuat orang lupa pada penonton yang duduk di bangku belakang. Di negeri ini, banyak pemimpin berpidato lantang tentang kesejahteraan rakyat, namun semakin jarang terlihat duduk bersama rakyat itu sendiri. Kondisi yang terjadi belakangan ini di kabupaten Pati menjadi refleksi bagi para pemimpin bangsa bahwasanya rakyat adalah pengendali utama (arus utama) dalam pengambilan keputusan, Namun para umara seakan tutup mata dalam pengambilan keputusan. Keputusan diambil bukan atas dasar keinginan rakyat namun atas dasar keinginan para penguasa. Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu daerah. Dalam skala nasional, […] - [Solidaritas di Lampu Merah](https://kenduricinta.com/solidaritas-di-lampu-merah/): SIAPA SANGKA—bahkan pendiri Ojol pun tak membayangkan—bahwa dari sekadar aplikasi transportasi, lahir sebuah entitas kekuatan sosial baru di masyarakat Indonesia. Dulu, orang berpikir teknologi hanya soal efisiensi. Soal cepat sampai, soal murah ongkos. Tapi tanpa sadar, ia melahirkan solidaritas baru, persaudaraan baru, bahkan perjuangan kelas versi abad digital. Driver Ojol bukan sekadar tukang antar. Mereka mendadak menjadi cermin kehidupan: tabah menunggu order, sabar menelan penolakan, hafal jalan-jalan tikus kota. Mereka hafal wajah pelanggan yang pelit bintang, sekaligus wajah pelanggan yang lebih dermawan daripada pejabat negara. Lihatlah, betapa rakyat yang dulu tercerai-berai oleh sekat profesi, tiba-tiba menemukan seragam hijau sebagai identitas […] - [Angka yang Bicara dan Suara yang Hilang](https://kenduricinta.com/angka-yang-bicara-dan-suara-yang-hilang/): PAGI ITU, layar televisi di ruang tamu menampilkan angka 5,12%. Suara pembawa berita terdengar mantap: “Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua 2025 melampaui ekspektasi…” Di balik layar, seorang bapak yang baru saja kehilangan pekerjaannya hanya mendengar angka itu seperti gema yang asing. Baginya, pertumbuhan bukan 5,12%. Pertumbuhan adalah uang kontrakan yang naik, cicilan motor yang macet, dan anak sulungnya yang terpaksa cuti kuliah. Di sudut lain, seorang pejabat BPS tengah menjelaskan dengan percaya diri. Dengan metodologi yang tidak main-main—1.058 indikator, survei pada 220.000 titik, ribuan enumerator—ia tahu, di balik data itu ada keringat para petugas lapangan, ada algoritma statistik yang […] - [Penguasa Kaget Melihat Api yang Disulutnya](https://kenduricinta.com/penguasa-kaget-melihat-api-yang-disulutnya/): Mereka tak percaya lagi pada siapa pun karena terlalu sering ditipu. Di titik itu, sebuah kata lama kembali: amok. - [Ketika Kebaikan Perlu Mendahului Kebenaran](https://kenduricinta.com/ketika-kebaikan-perlu-mendahului-kebenaran/): SETIAP HARI saya menyaksikan banyak pertikaian lahir dari satu hal yang sama: keinginan untuk membela kebenaran. Orang saling debat di media sosial, memaki, menyindir, bahkan mengancam, demi menunjukkan bahwa dirinyalah yang benar dan yang lain salah. Kadang alasan perseteruannya sepele, seperti urusan siapa yang cocok menjadi pasangan artis tertentu atau persoalan hubungan lelaki dan perempuan. Namun tak jarang pula, hal itu menjalar ke ranah politik, agama, hingga kekerasan fisik. Hal yang menarik, hampir semua pihak dalam konflik itu merasa sedang memperjuangkan hal baik. Mereka meyakini argumen masing-masing sebagai kebenaran. Bahkan, karena merasa benar, mereka merasa berhak untuk menyakiti, seolah kebenaran […] - [Berpikir Benar dan Benar Berpikir](https://kenduricinta.com/berpikir-benar-dan-benar-berpikir/): MANUSIA adalah makhluk yang unik di antara seluruh ciptaan Tuhan. Keunikan ini bukan semata karena bentuk fisik atau kekuatan tubuh, melainkan karena dianugerahi sesuatu yang tidak dimiliki makhluk lain: akal budi. Al-Qur’an mengabadikan hal ini dalam firman-Nya bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11). Ilmu itu sendiri adalah buah dari akal budi—kemampuan untuk berpikir, menimbang, dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan. Kisah Iblis yang menolak bersujud kepada Adam (QS. Al-Baqarah: 34) menjadi ilustrasi yang kuat. Penolakan itu bukan karena Adam lebih kuat secara fisik, tetapi karena Adam memiliki akal budi dan pengetahuan yang tidak dimiliki makhluk […] - [Negara Merenggut Desa Saya](https://kenduricinta.com/negara-merenggut-desa-saya/): DULU, desa saya tenang. Semua orang berdaya dan tak ada yang merasa tertinggal. Bapak-bapak punya acara tahlilan rutin setiap malam Jumat, tempat mereka berkumpul dan mendoakan para keluarga yang sudah meninggal dunia sambil berbagi cerita. Ibu-ibu punya manaqiban, tradisi yang bukan hanya soal doa tapi juga ruang untuk saling menguatkan. Anak-anak pun tak ketinggalan, mereka punya dhiba’an, semacam latihan seni hadrah yang sekaligus jadi ruang bermain dan belajar. Jalan tanah memang belum diaspal, jembatan sederhana masih jadi penghubung antardusun, tapi semua orang saling mengenal, dan saling percaya. Tidak ada banyak uang, tapi ada cukup. Tidak ada kemewahan, tapi ada rasa […] ## Pages - [Download](https://kenduricinta.com/download/): Untuk mengunduh text tawashsulan, silakan klik tautan di bawah ini. - [Karya](https://kenduricinta.com/karya/) - [My account](https://kenduricinta.com/my-account/) - [Checkout](https://kenduricinta.com/checkout/) - [Cart](https://kenduricinta.com/cart/) - [Shop](https://kenduricinta.com/shop/) - [Tentang](https://kenduricinta.com/tentang/): Kenduri Cinta, majelis ilmu, sumur spiritual, laboratorium sosial, basis gerakan politik bahkan universitas jalanan yang tidak pernah habis pembahasan SKS nya, kurikulum dan mata kuliahnya selalu bertambah, dosennya adalah alam semesta. - [Jadwal Kenduri Cinta](https://kenduricinta.com/jadwal-kenduri-cinta/): Kenduri Cinta Jumat, 6 Maret 2026 · 19:30 WIB Plaza Teater Kecil TIM Jakarta Jl. Cikini Raya, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, DKI Jakarta Peta Lokasi - [Video](https://kenduricinta.com/video/): https://www.youtube.com/watch?v=p5jHQN1Yjx8https://www.youtube.com/watch?v=tuqP8g99tmghttps://www.youtube.com/watch?v=VjNP8CA-d5ghttps://www.youtube.com/watch?v=Q4JcJ_a-hW8https://www.youtube.com/watch?v=L0VoPXAx5nMhttps://www.youtube.com/watch?v=RdDcaoLCscwhttps://www.youtube.com/watch?v=o5elaphjpik - [Beranda](https://kenduricinta.com/): edit post Reportase REPORTASE: WARTHASASTRA by Redaksi Kenduri Cinta December 18, 2025 Hujan deras bercampur angin kencang mengguyur Jakarta sore itu. Sisa-sisa awan mendung terbawa menutupi langit di halaman Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki. Harum tanah basah turut menyambut langkah kaki Read moreDetails edit post Reportase REPORTASE: MENGHADIRKAN CAHAYA by Redaksi Kenduri Cinta October 15, 2025 MESKIPUN malam mulai menjelang, suasana di Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki justru kian bercahaya. Langit Jakarta yang sempat kelabu oleh mendung sore tadi kini bersih, seolah ikut menyambut kedatangan… Selengkapnya edit post Reportase Frekuensi Kegembiraan: Perjalanan Menuju Kebahagiaan Sejati by Redaksi Kenduri […] - [Kontak](https://kenduricinta.com/kontak/): Kenduri Cinta Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10330Email : redaksi@kenduricinta.com ## Products - [Kaos Kolaborasi Kenduri Cinta X Banggaber](https://kenduricinta.com/karya/t-shirt-kenduri-cinta-x-gaber-1/): Kolaborasi ini bukan sekadar fashion, tapi pernyataan. Di tengah dunia yang gaduh oleh gaya tanpa makna, kaos ini hadir sebagai simbol kesadaran akan kebersamaan. Dirancang dengan desain eksklusif dan diproduksi terbatas, setiap helai membawa semangat cinta. Ini bukan sekadar kaos—ini narasi diam dari mereka yang memilih untuk tidak ikut-ikutan. [comment]: # (Generated by Hostinger Tools Plugin)