Wanita Berambut Perak

SEPTEMBER segera berakhir. Getaran vibrasi di saku celana meminta perhatian. Segera saja Smartphone produk Cina buru-buru dibuka. Ada beberapa notifikasi WAG—WhatsApp Group—, salah satunya dari grup Pendopo Kenduri Cinta. Seorang penggiat mengajak untuk beranjangsana ke tempat putri pertama Pakde Mus, seorang dokter yang sedang menempuh S2 di Universitas Diponegoro Semarang. Putri Pakde, kami memanggilnya Mbak Lupi, bertempat tinggal di daerah Harjamukti, Depok, Jawa Barat, sekira 30 menit perjalanan dari pusat kota Jakarta. Di rumah putrinya, kami bersilaturrahmi dengan Pakde Musthofa Wagianto.

Pakde Mus sering disebut sebagai “gurunya” Sabrang Mowo Damar Panuluh, berasal dari Bandar Lampung. Di awal karir musiknya, Sabrang, yang sejak usia TK sampai SMP menempuh pendidikan di Kota Metro, Provinsi Lampung; acap diajak pamannya berkonsultasi spiritual dengan Pakde Mus. Belakangan terkuak, seolah saling melengkapi, tumbu ketemu tutup, Pakde Mus adalah santri dari kyai kharismatik dari Klaten, KH. Muslim Imam Puro, yang sangat ditakzimi oleh Gus Dur. Kalangan nahdliyin menyebutnya Mbah Lim.

Pakde Mus mengemban amanah dari Mbah Lim untuk membuka pesantren di tanah Sumatera, dipilihlah kota Bandar Lampung dengan nama Pondok Pesantren Al Muttaqien, persis nama pesantrennya Mbah Lim yang berada di Klaten. Bagi jamaah maiyah telah banyak yang memafhumi bahwa dari Mbah Lim lah sebutan pertama kali terucap untuk Cak Nun dipanggil sebagai Mbah Nun, saat itu dalam sebuah acara di pondok pesantren asuhan Mbah Lim, salah satu santri yang bertindak sebagai MC memanggil Cak Nun dengan nama lengkap “Bapak Emha Ainun Nadjib” ditegur dengan keras oleh Mbah Lim:

“Panggillah Mbah Nun, jangan Bapak Emha!” teriak Mbah Lim sambil menabok santrinya. Tentu saja bukan tabokan yang keras.

Di kala masih jumeneng, Mbah Lim sering satu acara dengan Cak Nun. Pergaulan Cak Nun dengan Mbah Lim tidak sekedar seremonial di acara-acara formal. Beberapa kali Cak Nun menghadiri hajatan Mbah Lim, yang menikahkan anak-anaknya, misalnya.

Ketakziman Pakde Mus terhadap Cak Nun semacam “amanat” yang harus tetap terjaga dari Almaghfurlah KH Muslim Imam Puro kepada santri kinasihnya.

Bagi penggiat Kenduri Cinta, Pakde Mus sudah dianggap “orang tua” sendiri, tempat bergantung dari permasalahan-permasalahan hidup, memohon didoakan, meminta advis-advis dst. Beliau seorang doktor Ilmu Hukum dari Undip Semarang, kini salah satu dosen Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung.

DUA KALI helatan Kenduri Cinta, ia tak kelihatan. Beberapa penggiat merasa gelisah, kemana wanita separuh baya berambut perak itu, yang setia bertahun-tahun tiap bulan duduk di antara jamaah tiga-empat baris dari panggung. Namanya entah siapa. Salah satu penggiat yang pernah sekilas bertegursapa mengingat bahwa ia bertempat tinggal di Panti Werdha Cibubur.

Kami berlima; Oman, Ningrum, Yudi, Bram, dan saya sendiri usai pamitan dengan Pakde Mus segera meluncur ke kawasan Komplek Pramuka di Cibubur, yang ternyata tidak terlalu jauh. Bermodal nama “Panti Werdha” kami bertanya kepada seorang petugas security, ditunjuki sebuah bangunan wisma asri dengan dikelilingi pepohanan hijau, yang semilir menghantarkan sapuan angin sejuk di tengah terik matahari yang menyengat. Nama pantinya Sasana Tresna Werdha.

Sesampainya di komplek wisma, kami kebingungan, mau menjenguk siapa, namanya tidak tahu, hanya yang kami ingat, wanita sepuh berambut perak. Sementara, hampir semua penghuninya berambut sama, putih.

Beruntunglah di antara kami ada yang menyimpan fotonya, ditunjukkan kepada salah seorang penjaga.

“Oo ibu Zulfa, coba masuk saja melalui pintu lobby!”

Di lobby kami menuju dua orang penjaga, mengutarakan maksudnya untuk bertemu Ibu Zulfa, bahwa kami dari Komunitas Kenduri Cinta, sudah dua kali acara berlangsung beliau tidak hadir, kami merasa khawatir. Salah satu penjaga mengantar kami ke kamarnya, melalui lorong-lorong. Di ruang tengah, agak luas, meja-meja tertata, ibu-ibu usia lanjut bercengkerama dengan sesama. Dokter-dokter muda dan para “pengasuh” (maaf, apa sebutan yang paling pas ya) hilir mudik melayani para penghuni wisma. Terdengar canda ria, saling menyapa antar mereka. Sampailah kami di satu kamar yang dituju.

Ibu Zulfa duduk di depan bilik kamarnya, di pintu tertempel nama “Zulfa Yasin”. Tidak salah, orang ini yang kami cari. Saat itu saya berharap ada keterkejutan dengan datangnya kami berlima, ternyata tidak. Raut wajahnya biasa saja. Ibu Zulfa menerima kami dengan ramah. Semua menyalami. Bertanyalah kami, kenapa sudah dua acara terlewati, tidak terlihat di antara jamaah Kenduri Cinta.

“Pada bulan Agustus, memang berhalangan, ada kegiatan lain. Sementara, di bulan ini acara Kenduri Cinta tidak sesuai jadwal, tidak tahu bahwa diundur tidak tepat di hari Jumat minggu kedua,” Ibu Zulfa menerangkan panjang lebar.

Saya merasa bersyukur, keempat kawan pastilah sama, bahwa Ibu Zulfa sehat-sehat saja. Namun dibarengi dengan rasa bersalah. Kenapa sejak lama kami tidak menyapanya, menanyakan tempat tinggalnya di mana, nomer telepon berapa, sehingga kami bisa saling komunikasi, mengabarkan jadwal-jadwal kegiatan Kenduri Cinta.

Belum banyak yang bisa digali dari Ibu Zulfa, perlu waktu khusus untuk mengorek pelan-pelan profil Ibu kita ini. Yang jelas, beliau bukan “orang kebanyakan”, berasal dari Sumatera Barat, seorang terdidik, pernah mengajar Bahasa Inggris di beberapa sekolah menengah, dan Lembaga Bahasa LIA (Lembaga Indonesia Amerika), salah satu lembaga bahasa yang terkenal di Jakarta.

Ada yang terlupa, kami tak membawa buah tangan apapun. Agak malu menyampaikan. Untung saja, diantara kami ada yang membawa kaos Kenduri Cinta, masih tersegel dalam plastik. Alhamdulillah terselamatkan, kami serahkan sebagai bentuk cinta kami.

Sekitar satu jam kami bersama Ibu Zulfa. Di antara kami, tak lupa mencatat nomer telepon yang bisa dikontak.

“Sehat-sehat ya Bu….!” serentak kami menyampaikan pamit.