Tagged jaburan

Setan Diborgol, Mestinya Kita Juga

Puasa itu artinya kita berhak melakukan sesuatu tapi tak melakukannya. Berhak mendapatkan, mengenyam, menikmati, tapi sengaja dan sadar menolaknya, pada batas waktu dan konteks tertentu. Berhak atas makanan, minuman, peluang, jabatan, akses, popularitas, modal, atau apa pun saja, namun dengan pertimbangan dan perhitungan tertentu, semua itu tidak diambil.

“Mengendarai” Al-Qur`an, Melintasi Tujuh Langit

Orang melakukan shalat seperti pegawai yang menandatangani buku presensi, seperti serdadu berbaris, atau seperti konsumen yang membayar kredit untuk memperoleh “komoditi” yang bernama surga. Sikap orang-orang bersembahyang terhadap Tuhan sangat kapitalistik. Sedemikian rupa ‘maniak’ pahala dalam arti ekonomis ini—sehingga yang mereka Tuhankan bukanlah Tuhan itu sendiri melainkan pahala atau laba.

The Night of A Thousand Months

Malam yang tak terbandingkan. Malam yang hanya bisa dibayangkan sebagai lebih baik daripada malam-malam seribu bulan. Khiarun min alfi syahr. Malam ketika para malaikat yang cantic turun menaburi langit dan merasuki galaksi jiwa kita yang telah dibersihkan oleh lapar dahaga Ramadan.

Tingkat-tingkat Kesucian

Ketika shalat kita diharuskan berpakaian menutupi aurat: dan bukan karena aurat kita tidak suci. Tapi karena kita dididik oleh Allah untuk menggapai kesucian religius. Dan untuk itu diperkenalkan kepada kita konsep najis dalam konteks ibadah.

Bulan Tidak Suci

Apakah bulan yang selain Ramadhan boleh kita sebut bulan tidak suci? Apakah Syawal bukan bulan suci, padahal padanya justru para pelaku puasa yang sukses mencapai kesucian atau kefitrihannya kembali? Apakah bulan tatkala Rasulullah dilahirkan ke dunia bukan bulan suci? 

Ibadah Rahasia

Kalau orang pergi ke masjid dan menjalankan gerak gerik tertentu, kita tahu bahwa ia bersembahyang. Tapi kalau orang makan sahur dan sorenya makan saat maghrib, itu tidak pasti merupakan pertanda bahwa ia berpuasa. 

Menomorduakan Kenikmatan Pribadi

Kita bisa dan boleh membeli ranjang dan kasur tidur seharga 65 juta rupiah. Tapi kita pilih yang harganya satu juta rupiah saja. Itulah puasa. Kepekaan untuk melihat kemashlahatan sosial, dan kita pilih itu, kita letakkan di atas kenikmatan pribadi.

Berpuasa di Dunia, Berhari Raya di Surga

Keberadaan di neraka mungkin justru merupakan pengalaman puasa puncak, gara-gara selama hidup di dunia kita maunya berhari raya melulu, maunya pesta pora terus, bersenang-senang, menghambur-hamburkan rejeki anugerah Tuhan.

Menomorsatukan Kemerataan

Semakin tinggi kadar puasa sosial kita, semakin luas radius puasa horisontal kita—maka darajah dan karamah akan melejitkan kita semakin dekat kepada kasih sayang Allah. Persoalannya apakah kita berpendapat bahwa kasih sayang Allah itu tak terhingga lebih mahal dibanding jumlah deposito dan banyaknya perusahaan kita, ataukah kita beranggapan sebaliknya.

Malam Prerogatifnya Allah

Dan Anda bisa menciptakan malammu sendiri, menciptakan siangmu sendiri, sehingga malam Lailatul Qodar itu tidak bisa dibantah seratus persen bahwa dia juga bisa diberikan Allah kapan saja. Ciptakan saja setoran-setoran yang memikat hatinya Allah. Maka engkau akan mendapatkan anugerah prerogatif itu dari Allah Swt. Anytime. Kapan saja.