Tagged Emha

Nasionalisme Muhammad

Jika segala nilai hidup, segala konsep dan isme, digali dan dikelola oleh manusia (kualitas kepribadiannya), maka komitmen kebangsaan Muhammad bukan saja tidak dibatasi oleh ras dan geografi, bukan saja meluas ke pembelaan atas kaum tertindas sebagai sebuah ‘bangsa’ tersendiri, namun bahkan juga bersih dari kehendak kekuasaan dan nafsu ekonomi yang berlebihan. Muhammad tidak mendirikan Negara Arab atau Negara Islam yang memaksa setiap warganya untuk beragama Islam, melainkan menyebarkan berita keselamatan, memperjuangkan keselamatan kemanusiaan, dengan tetap memelihara hak setiap manusia dalam “la ikraha fi ad-din”.

Antara Kambing dengan “Kambing”

Dari mana Allah kulakan bahan untuk membuat manusia dan alam, juga jin, setan, dan malaikat, kalau tidak dari diri-Nya sendiri? Tidak ada apa-apa selain Allah, karena memang hanya Allah yang memiliki kepastian untuk ada. Yang lainnya, kita-kita semua ini, tidak pernah ada, melainkan sekadar diadakan alias diselenggarakan. Kita semua, juga gunung dan burung-burung, adalah penjelmaan Allah di muka bumi, melalui konsep dan konfigurasi budaya yang diizinkan-Nya. Apalagi Ibrahim, Ismail, Musa, Isa, dan Muhammad. Dari mana asal nasi kalau tak dari padi? Dari mana asalnya kita kalau tak dari Tuhan?

Mengenang Estetika Takbiran

APA YANG tersisa dari suasana Idul Fitri pada diri Anda? Kenangan kebahagiaan bersama keluarga? Capek dan absurdnya perjalanan mudik yang tahun ini benar-benar dahsyat?  

Pada saya, yang terngiang-ngiang selalu sehabis Lebaran adalah suara-suara takbiran masal. Baik di masjid kita masing-masing, di jalanan, di teve, atau mungkin takbir dalam film The Messenger yang disuarakan secara sangat sederhana.  

Buruh Itu Kekasih

Kalau hati para buruh beserta keluarganya bahagia, maka mereka ikhlas dan bangga bekerja di perusahaan saya. Dan kalau mereka ikhlas dan bangga di sisi saya, insyaallah mereka akan selalu memacu kerajinan serta kreativitas kerja. Etos kerja mereka akan maksimal. Hati mereka semua akan memancarkan energi, semangat dan doa bagi kemaslahatan perusahaan.

Sakti, Ahmaq, atau Kalap

“Makanya saya tawarkan Catur Sila saja. Hapus Sila Pertama, daripada ruwet berurusan dengan Tuhan. Tapi kemudian saya pikir lebih lanjut: empat Sila yang lain juga merepotkan. Mana mungkin habitat politik nasional dan budaya kependidikan kita ditabrakkan dengan kemanusiaan yang adil dan beradab. Mustahil Parpol-parpol dan Ormas-ormas, bahkan konstelasi ketokohan nasional dari berbagai latar belakang dituntut membangun Persatuan Indonesia. Lha wong mereka berhenti pada kebenaran masing-masing, tidak meneruskan langkahnya ke kebijaksanaan bersama. Mereka pikir kebenaran adalah puncak nilai hidup. Padahal kebenaran hanyalah salah satu input, alat, bekal, modal atau perangkat untuk bersama-sama mencapai hikmat kebijaksanaan”

Surat Pengusiran

Saya bilang sudah sejak lahir 72 tahun silam Indonesia sudah mendasari Negaranya dengan Pancasila. Dia membantah “Siapa bilang? Mana Buktinya?”. Kalau rakyatnya, terutama yang di bawah, relatif selalu sangat Pancasilais — tanpa merasa sok Pancasilais. Tapi elitnya? Pemerintahnya? Stakeholder-nya? Banyak perilaku mereka yang mencederai Pancasila, bahkan menentang atau mengkhianatinya”. Lantas kami berdebat, sangat panjang, dan makin tidak selesai.

Memang hutan di mana ia menyepi itu secara teritorial adalah bagian dari tanah air Indonesia. Hutan ini resminya milik Negara: entah siapa yang dimaksud Negara. Tetapi koordinat dan frekuensi rimba yang ia tinggali itu hampir tidak pernah tersentuh oleh mekanisme Negara.

Harga Mati NKRI

Harga Yang Mati itu NKRI yang mana. Yang awal mula diproklamasikan, ketika bergeser-geser formula kenegaraannya, ketika tangannya terluka dan jari-jarinya terputus 1948 dan 1965. Atau NKRI sesudah kakinya diborgol dan tangannya diputus oleh Amandemen. Ataukah NKRI yang menjelang terpenggal lehernya sekarang ini. NKRI yang tak pakai celana dalam dan celana luarnya sudah dipelorotkan oleh tangannya sendiri atas perintah kepalanya. NKRI yang membungkuk-bungkuk mengemis-ngemis.

NKRI yang tidak percaya kepada kebesaran Indonesianya sendiri. NKRI yang kaya raya tapi berlaku sebagai fakir miskin di muka bumi. NKRI yang raksasa tapi melangkahkan kaki seperti orang kerdil. NKRI yang papan namanya Republik tapi dikuasai oleh Kerajaan-kerajaan yang berwajah Parpol. NKRI yang ber-KTP demokrasi namun bergantung pada Raja-Raja, Ratu-Ratu, Putri Raja, Raja Baru, yang bersaing satu sama lain sebelum menemukan kesepakatan untuk berkuasa bersama. Kerajaan-Kerajaan samar yang terpecah belah dalam kesatuan, dan pura-pura berkawan di panggung persatuan.

Sila 1: Buy Two Get Four

Kita nikmati pernyataan Tuhan Buy Two Get Four, serta meyakini bahwa Ia lebih memenuhi janji itu justru kalau kita tidak menagih-nagih-Nya. Barangsiapa bertaqwa kepada Tuhan, mengikatkan hidupnya selalu kepada-Nya dengan cara senantiasa waspada atas diri dan sesamanya (buy 1), akan memperoleh solusi bagi setiap masalahnya (get 1). Serta akan mendapatkan rejeki dari jalan yang tak terduga, yang di luar perhitungannya, bahkan di luar gaji atau pendapatannya (get more 1).

Dan barangsiapa bertawakkal (mewakilkan) kepada Tuhan (buy another 1), mempercayakan kepada-Nya urusan yang ia tidak sanggup menggapainya dengan batas kapasitas kemanusiaannya, akan memperoleh dua pemenuhan lagi (get 2 others) dari Tuhan. Pertama (atau ketiga di urutannya), Allah tampil sebagai manajer atau akuntan hidupnya, menyusun hitungan yang diperlukannya kemudian memenuhinya. Kedua (: keempat), menyampaikan hamba yang bertawakkal itu ke sesuatu yang diidamkannya, sepanjang disatu-arahkan dengan kebaikan menurut ilmu-Nya. Tentu saja ini tidak berlaku jika manusia merasa lebih tahu dibanding Tuhan tentang apa yang dibutuhkan atau dicita-citakannya.

Ah, Apa Tuhan Itu Ada

Demikian pun posisi Tuhan pada dan di Indonesia. Meskipun sudah resmi konstitusional dicantumkan Tuhan Yang Maha Esa, tetapi pada manusia Indonesia, terutama Pemerintahnya, keberadaan Tuhan itu masih sebatas sosok ghaib di permukaan instingnya. Umumnya rakyat Indonesia mengenali keberadaan Tuhan secara samar-samar, meskipun mereka berposisi sangka baik, memiliki naluri untuk menghormati Tuhan.

Pada Pemerintah dan kumpulan makhluk yang menjulur-julurkan lidah kepadanya: sosok samar-samar Tuhan Yang Maha Esa itu direkrut sebagai anasir dari logo nasional, warna ikon, jargon, komponen emblem di kostum golongannya, serta dipakai sewaktu-waktu untuk memastikan keuntungan yang diperjuangkan demi kepentingan subjektifnya.

Simpan Dulu Sila Pertama

Setoran saya hari ini: Seandainya untuk sementara kita anggap tidak ada Sila Pertama, insyaallah (lho kok pakai insyaallah, katanya Sila Pertama dianggap tidak ada): Indonesia bisa tetap bercahaya dan (entah di dunia atau akhirat) menjadi mercusuar dunia.

Asalkan bangsa Indonesia, terutama Pemerintahnya, adalah manusia beneran. Manusia sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh manusia. Bukan ayam dan musang berakal, karena meskipun berakal tapi tetap ayam dan musang. Bukan pula lintah penghisap darah, atau heyna predator, atau tikus pemakan apa saja, dari roti, besi, karat, hingga kepala dan nasib manusia.