Tagged berita

Kenduri Cinta, Menanam Benih Manusia Indonesia Baru

Cak Nun menjelaskan bahwa manusia dalam satu detik hanya mampu merekam 40 frame peristiwa. Sementara dalam alam bawah sadarnya terdapat sekitar 1,2 juta frame yang sudah terekam. Setiap keputusan hidup manusia lebih banyak dipengaruhi oleh 1,2 juta frame di alam bawah sadar. Manusia sangat jarang menggunakan akal untuk mengkonfirmasi setiap keputusan akalnya yang muncul secara spontan. Setiap pertanyaan tentang apapun akan dijawab spontan berdasarkan data yang tersedia di alam bawah sadar manusia. “Maka Anda jangan mengandalakan ilmu, dalam konteks bahwa Anda dikuasai secara terus menerus oleh alam bawah sadar Anda”, ungkap Cak Nun.

Audien Utama Kita Adalah Allah

HUJAN YANG mengguyur Jakarta di Jumat sore (15/3) cukup deras, bahkan merata di berbagai daerah, tidak hanya di Jakarta saja. Alhamdulillah, menjelang pukul 5 sore, hujan mulai reda. Penggiat pun menggelar karpet untuk alas duduk jamaah. Panggung Kenduri Cinta kali ini tampak lebih besar dari biasanya, karena memang pada edisi Maret ini Kenduri Cinta kedatangan…

Tadabbur “Slilit Sang Kiai”

Berbicara tentang Maiyah sudah pasti kita tidak bisa melepaskan diri dari sosok Cak Nun. Salah satu hal yang belum tampak di Maiyah hari ini adalah adanya sebuah klub pecinta buku karya-karya Cak Nun. Hal ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi para penggiat Kenduri Cinta. Semua gagasan-gagasan dan nilai-nilai yang disampaikan ketika Maiyahan sebenarnya sudah disampaikan jauh sebelum Maiyah itu sendiri lahir. Maka penggiat Kenduri Cinta menggagas adanya sebuah forum diskusi yang khusus untuk membahas tulisan-tulisan karya Cak Nun.

Mengidentifikasi ‘Garis’ dan ‘Bidang’ menuju ‘Manusia Ruang’

“HENDAKLAH waspada kepada saya. Anda harus hati-hati kepada saya”, Cak Nun menyapa jamaah Kenduri Cinta pada Jumat malam (14/9) lalu. Setelah jeda penampilan musik dari “Golek Suwong” dan “Project Cinta”, Cak Nun naik ke Panggung bersama Andre Dwi. Sementara Ali Hasbullah, Ust. Fauzan dan Kyai Syauqi juga masih berada di panggung setelah sebelumnya berdiskusi bersama…

Indonesia Yang Semakin Jelas

Menegaskan paparan Sabrang, Cak Nun menambahkan bahwa dalam berkeluarga jika ukuran yang digunakan adalah istri cantik atau tidak, suami ganteng atau tidak, maka rumah tangga yang dibangun tidak akan bertahan lama. Karena cantik dan ganteng itu hanyalah ukuran-ukuran pendek. Sementara rumah tangga itu contoh sebuah peristiwa yang tidak ada endingnya,  berapapun usianya suami akan tetap mencintai istrinya, begitu juga sebaliknya. Karena ukuran untuk mencintai tidak menggunakan ukuran yang pendek, melainkan menggunakan ukuran untuk jangka panjang.

Membangun Kemesraan dan Cinta di Kenduri Cinta

SEORANG PRIA berbadan kekar, terdapat tattoo di lengan kanannya. Kaos yang dikenakan pun sepertinya memang ia pilih yang lengannya pendek, supaya tattoo tersebut dilihat orang. Orang lain yang pertama melihat sudah pasti akan berprasangka bahwa laki-laki bertatto itu adalah preman. Laki-laki itu memperkenalkan diri, Budi namanya. Di sesi awal Kenduri Cinta, ia memberanikan diri untuk…

Workshop Desain Visual Publikasi Maiyah

Apa maksud dari “Jadikan Maiyah sebagai beban”? Maiyah adalah pusaka bagi kita sebagai Jamaah Maiyah, sehingga apapun yang kita lakukan di Maiyah, salah satu pijakan utamanya adalah bahwa kita membawa nama Maiyah. Tidak terkecuali dengan materi publikasi Maiyahan yang setiap bulan dirilis oleh setiap Simpul Maiyah, segala prosesnya harus bermula dari keberangkatan bahwa Maiyah adalah pusaka bagi mereka.

Ikhlas Berdaulat Menjadi Diri Sendiri Seutuhnya

Malam itu Cak Nun menyampaikan, dengan adanya Maiyah ini kita bersama-sama menjadikan forum Maiyahan untuk menemukan jati diri kita masing-masing. Untuk menemukan siapa kita dan bagaimana seharusnya kita bersikap dalam kehidupan ini. Konsep keseimbangan yang ditawarkan oleh Maiyah adalah mekanisme yang juga harus terus-menerus kita asah, sehingga pada akhirnya kita akan mampu menemukan kedaulatan dalam diri kita sendiri. Kita menjadi diri kita sendiri, bukan menjadi orang lain yang bukan diri kita.

Supremasi Keadilan atau Supremasi Hukum?

Seluruh mekanime politik kita saat ini berpedoman pada syahwat, api yang tak terbatas. Oleh karena itu berkuasa berapa lama pun tak akan pernah cukup. Syahwat dalam arti sosial adalah segala bentuk keserakahan dan penguasaan yang tidak pernah ada batasnya.

Padhang mBulan, Pohon Rindang

Sebuah arena yang tetap teguh menjaga kesehatan akal dalam kancah Indonesia yang silang sengkarut. Padhang mBulan telah menjadi pohon yang rindang, dan tetap tak memilih siapapun yang mendatanginya. Dia tetap teguh berdiri dan menaungi.