Mukadimah: TAKFIRI VERSUS TAMKIRY

KITA HIDUP di sebuah Negara yang mengagung-agungkan Demokrasi. Watak utama dari Sistem Demokrasi adalah menerima semua yang ada, tidak boleh menolak, menyingkirkan apalagi membuang. Konsekuensinya, semua ideologi boleh hidup berdampingan dengan Demokrasi, bahkan Kapitalis sekalipun boleh memperkosa Demokrasi, dan sadar atau tidak, itu yang terjadi hari ini di Indonesia. Dalam demokrasi, kita semakin sulit mengidentifikasi mana pahlawan mana penjajah, mana malaikat mana iblis, mana kawan mana musuh.

Tidak bisa kita hindari sebuah fakta bahwa Indonesia adalah sebuah Negara yang dibangun dari berbagai suku, bangsa dan agama. Perjuangan untuk mempersatukan seluruh elemen bangsa ini tidaklah mudah, butuh proses panjang untuk meyakinkan semua lapisan masyarakat bahwa mereka harus dipersatukan dibawah satu bendera. Kita tidak bisa begitu saja merasa paling berjasa karena golongan atau kelompok kita adalah pihak yang paling berjuang dalam melahirkan NKRI, sembari mengeliminir golongan lain yang juga memiliki peran yang sama. Keragaman suku dan bangsa ini menjadi satu fondasi yang kuat hingga akhirnya semua elemen yang ada menyepakati untuk melebur menjadi satu; Indonesia.

Ummat Islam adalah masyarakat mayoritas yang tinggal di Indonesia, bahkan NKRI dianggap sebagai Negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Di Negara ini, kita memiliki NU, Muhammadiyah, Persis, HMI, PMII, IMM,KAMMI, GMNI, GP Anshor, Pemuda Muhammadiyah dengan ribuan ulama dan beserta kader-kadernya, ribuan pondok pesantren telah berdiri tegak di berbagai daerah di Negeri ini, komunitas-komunitas studi ke-Islaman juga tak kalah banyaknya mewarnai perkembangan Islam di Indonesia. Islam memiliki kekuatan yang luar biasa andai saja mereka mau disatukan dalam satu wadah.

Nafas Islam adalah menyelamatkan, sehingga seandainya Islam memiliki kesempatan untuk dipersatukan, Islam tidak akan berlaku sebagai pihak yang merasa untuk menjadi Pemimpin, kemudian menindas pihak yang lain agar tunduk kepada aturan mainnya. Tidak, Islam tidak seperti itu. Islam yang sebenarnya adalah Islam yang mampu merangkul semua pihak, yang mengamankan 3 hal dari setiap pihak yang bersinggungan dengan Islam; Nyawa, Harta dan Martabat.

Hanya saja, ada pihak-pihak yang memang tidak menginginkan Islam merangkul semua pihak, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di Dunia. Tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara di seluruh dunia dikondisikan merujuk pada satu rumusan, bahwa apapun Ideologinya yang terpenting jangan sampai sistem tatanan Islam yang diberlakukan. Tidak usah kita melihat jauh ke negeri seberang, di Indonesia ini saja hingga hari ini kita melihat fakta bahwa Ummat Islam dikondisikan untuk terus menerus berbenturan, baik secara internal maupun eksternal. Polarisasi ini sedang menuju puncaknya akhir-akhir ini, berbagai isu dihembuskan oleh penguasa untuk membenturkan Ummat Islam secara internal. Sebagian berlindung dibelakang tameng Demokrasi dan NKRI, sebagian yang lain berlindung di belakang tembok Syari’ah Islam. Islamis dan Nasionalis diatur sedemikian rupa menjadi dua entitas yang selalu dibenturkan.

Demokrasi sebenarnya bukanlah barang yang haram untuk digunakan. Hanya saja, untuk mencapai kebenaran demokrasi, ia tidak bisa berdiri sendiri. Kebenaran Demokrasi harus berdampingan dengan Keindahan Moral dan Kebaikan Hukum. Ketiga elemen ini harus bersinergi dan berdialektika terus menerus. Demokrasi tidak boleh meninggalkan Moral dan hanya mementingkan Hukum, begitu juga sebaliknya. Dan yang terjadi hari ini, Demokrasi di Indonesia tidak benar-benar melibatkan Moral dan Hukum dalam dialektika proses perjalanannya. Sehingga, pihak-pihak yang berkuasa hanya memanfaatkan Demokrasi demi kepentingan kelompoknya saja.

Situasi ini melahirkan efek benturan rakyat yang semakin mengerucut dalam dua wilayah yang masing-masing semakin tidak jelas juga menegaskan identitasnya. Semua pihak berlaku sama, merasa paling benar sendiri atas pendapat yang diyakini sebagai sebuah kebenaran. Hari-hari ini kita semakin terbiasa mendengar istilah-istilah; Kafir, Bid’ah, Sesat, Munafik, Murtad, Neraka. Dalam waktu yang bersamaan ada pula pihak-pihak lain yang meneriakkan istilah-istilah; Radikal, Teroris, Fundamentalis, Anti Bhinneka Tunggal Ika, Anti NKRI. Ummat Islam di Indonesia sedang berada dalam gelanggang bertajuk; Takfiri vs Tamkiry.

Dan kita hidup dalam suasana yang semakin rumit; Jika kita tidak pro terhadap A, kita dianggap pro B. Jika kita anti terhadap B, kita dianggap pro A. Jika berpegang teguh pada prinsip Syari’at Islam, kita dianggap Anti NKRI. Jika kita berpegang teguh kepada Pancasila, kita dianggap anti terhadap Syari’at Islam. Mungkinkah ini sebuah resiko dari Demokrasi? Kehidupan multiple choice ini sepertinya tidak akan pernah menemui titik temunya. Akan selalu muncul perpecahan-perpecahan baru yang melibatkan kelompok-kelompok yang sama. Beruntungnya Pemerintah Indonesia adalah bahwa Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang memiliki kelegaan hati yang sangat luwes. Meskipun setiap rezim selalu meninggalkan kekecewaan, Rakyat Indonesia akan selalu memaafkannya.

Dalam kacamata Maiyah, Demokrasi adalah barang yang halal, artinya kita boleh menggunakan Demokrasi sebagai sebuah sistem politik di Indonesia, tetapi pilihan untuk tidak berdemokrasi juga tidak boleh dianggap sebagai sikap Anti Demokrasi. Daging ayam itu halal untuk dimakan, tetapi memilih untuk tidak memakan daging ayam jangan lantas kemudian dianggap anti daging ayam, atau lebih ekstrim lagi; dianggap vegetarian. Mungkin, jika kita memiliki kepekaan ilmu untuk lebih mendetail, kita baru kemudian akan menemukan letak wajibnya, haramnya, sunnahnya, atau makruhnya Demokrasi. Karena kesemuanya itu akan bergantung pada nuansa ruang dan waktu dimana Demokrasi digunakan.

Maiyah terus menerus menekankan pentingnya keseimbangan. Di Maiyah, semua orang diterima, semua orang boleh datang, semua orang boleh berpendapat, semua orang dengan latar belakang yang bermacam-macam silahkan datang tanpa persyaratan apapun. Semua orang datang dengan kesucian hatinya masing-masing, semua menjaga suasana kekeluargaan yang terbangun di Maiyah. Tidak mencari siapa yang benar, melainkan mencari apa yang benar.

Tidak bisa dinafikkan, sosok Muhammad Ainun Nadjib di Maiyah adalah mesin utama penggerak Maiyah. Perjalanan hidup Cak Nun yang bersinggungan dengan semua pihak, mulai dari petani di pedesaan, pedagang di pasar, tukang becak, tukang parkir hingga para intelektual, cendekiawan, pejabat negara, politisi, ulama hingga jenderal militer. Semua dirangkul dan diterima, tanpa melihat suku dan etnis, apalagi latar belakang pendidikan. Fondasi egalitarianisme yang disusung oleh Cak Nun mendarah daging dalam langkah pergerakan Maiyah. Menjadi hal yang biasa jika kita memahami perjalanan hidup Cak Nun kemudian kita mengkomparasinya dengan Maiyah yang semakin berkembang hari ini.

Maka, Maiyah tidak berposisi pada pro atau kontra. Maiyah berusaha untuk terus menerus berada dalam titik keseimbangan kehidupan di dunia. Maiyah menyadari bahwa secuil hak manusia berupa Khalifah di muka bumi adalah sebuah bekal yang harus dieksplorasi untuk menciptakan suasana Rahmatan Lil ‘Alamin. Maiyah memiliki pendapat bahwa Demokrasi harus tinggal di sebuah rumah bernama Hukum yang berlandaskan Ilmu, merasakan aliran udara Kebudayaan, hidup di lingkungan Moral, dengan sorot Mata Nurani, dan tetap dalam kewaspadaan Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Jika Indonesia dianugerahi Almari, tetapi hingga hari ini Indonesia tidak pernah menemukan kunci untuk membuka Almari tersebut. Maiyah dengan perjalanan panjangnya, memiliki kunci, tetapi Maiyah tidak merasa sombong bahwa Maiyah adalah pihak yang paling mampu untuk membuka Almari itu. Maiyah menawarkan formula yang sudah terdapat dalam Al Qur’an; Wa amruhum syuroo bainahum. Mari kita duduk bersama untuk membicarakan masa depan Bangsa Indonesia, mengambil langkah-langkah terbaik yang melegakan hati semua pihak, demi masa depan Bangsa Indonesia.

Maiyah mengambil peran untuk menciptakan kondisi agar Allah memilihkan Pemimpin untuk Bangsa ini, berusaha untuk terus menerus merangkul semua pihak agar bersedia untuk berendah hati satu sama lain untuk bergandengan tangan, duduk bersama berembug dan bersepakat mengambil langkah-langkah terbaik untuk masa depan Bangsa. Selagi momentum itu belum terwujud, Maiyah akan terus menanam dan terus menanam.