Mukadimah: KECELA KECÈLÈ

BANGSA INDONESIA adalah bangsa yang sangat mampu bergembira dalam kondisi apapun. Penderitaan sepedih apapun mampu dikelola dengan baik oleh bangsa Indonesia untuk kemudian menjadi kegembiraan. Ketika merasakan kepedihan, sedih sudah pasti. Tapi bangsa Indonesia memiliki formula khusus untuk merubah itu semua menjadi kegembiraan. Tak ada bangsa lain di dunia ini yang mampu menandingi ketangguhan bangsa Indonesia.

Hanya saja, bangsa ini seakan mengalami amnesia total terhadap jati dirinya sendiri. Sehingga merasa sangat yakin bahwa untuk mencapai kejayaan adalah dengan cara menganut sistem yang diaplikasikan oleh bangsa lain yang sebenarnya tidak berhasil diterapkan di tempat asalnya. Nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu secara perlahan ditinggalkan dan disingkirkan. Bangsa ini sangat percaya diri bahwa dengan sistem yang diadopsi dari bangsa lain akan manjur dan efektif jika diaplikasikan disini.

Alangkah menggelikkan nasib bangsa yang menjunjung-junjung berhala dan meyakininya sebagai ratu adil. Lha wong boneka kok dianggap Imam Mahdi. Patung dikhayalkan sebagai Messiah.
Alangkah perih nasib bangsa yang kerjaannya dibohongi melulu. Kemudian diberi harapan, tetapi ternyata dibohonhi lagi. Kemudian diberi harapan lagi, tapi kemudian ternyata dibohongi lagi, dibohongi lagi, dibohongi lagi.

Inilah bangsa yang yang tidak ada kapok-kapoknya untuk dibohongi oleh pemerintahnya. Inilah bangsa yang sangat sabar penuh ketelatenan menuruti pemerintahnya untuk melakukan apa saja yang mereka kehendaki. Dengan dalih kesejahteraan rakyat, meskipun rakyatnya sendiri sudah faham bahwa kesejahteraan mereka itu sangat sulit untuk diwujudkan, tetapi rakyatnya tetap menerima dan legowo mengikuti keinginan pemerintahnya dalam menyelenggarakan Negara. Padahal, dalam hati rakyat sendiri mungkin saja muncul pertanyaan: Negara kok begini? Begini kok dinamakan Negara?

Bangsa Indonesia mungkin perlu menyadari bahwa sistem kerajaan adalah sistem yang sudah mendarah daging dalam tubuh mereka. Sehingga sangat mustahil sistem Demokrasi dapat diaplikasikan dengan baik dan benar di Indonesia. Bangsa ini lahir atas kerelaan kerajaan-kerajaan di Nusantara untuk disatukan. Bangsa ini lahir bukan dari sebuah peperangan.

Dan pada faktanya, Bangsa ini adalah bangsa Kerajaan yang memaksakan diri menganut sistem Demokrasi. Sejak Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi hingga Orde Revolusi Mental ini yang berlaku tetap sama; Kerajaan. Ketika seseorang terpilih menjadi pemimpin sebuah pemerintahan, maka orang-orang yang ada di sekitarnya adalah orang-orang yang dipilih untuk menjadi pembantu di pemerintahan yang ia jalankan selama 5 tahun. Jika dalam perjalanan selama 5 tahun ada yang mbalelo, maka kartu reshuffle akan digunakan. Hanya mereka yang taat dan patuh kepada Raja yang bertahan di jabatannya. Meskipun ia taat pada undang-undang, tetapi melanggar perintah Raja, maka ia akan ditendang.

Kecèlè berkali-kali. Katanya Negara, tapi berlaku seperti kerajaan. Katanya Negara tetapi kok wewenangnya Pemerintah. Katanya Pemerintah tetapi kok berlaku sebagai Negara. Katanya Pegawai Negara kok takut kepada Pegawai Pemerintah. Padahal Pegawai Pemerintah adalah pegawai sistem kontrak maksimal 5 tahun, sedangkan Pegawai Negara adalah pegawai tetap seumur hidup. Katanya Lembaga Negara kok berlaku sebagai Lembaga Pemerintah. Katanya Demokrasi, tetapi ketika ada yang berbeda pendapat dibully habis-habisan. Giliran dibully balik, merengek-rengek dan berteriak bahwa ini adalah Negara Demokrasi. Katanya Demokrasi, tetapi hanya dia dan kelompoknya sendiri yang boleh bebas dalam berpendapat. Katanya Demokrasi, tetapi kemudian mengeluh katanya Demokrasi kita sudah kebablasan. Padahal ia lahir dari sistem Demokrasi yang ia katakan sudah kebablasan ini.

Alangkah pedih nasib bangsa yang tidak pernah boleh mengerti sesungguhnya apa yang mengancam masa depan mereka, sehingga mereka sibuk bertengkar dengan tetangga dan saudara mereka untuk hal-hal yang remeh temeh.

Atau jangan-jangan memang ini adalah proses yang harus kita jalani? Di Maiyah kita menyadari betapa dinamisnya kehidupan berlangsung. Di Maiyah kita memiliki fondasi bahwa yang seharusnya dilakukan dalam kehidupan ini adalah berbuat baik. Apapun keadaannya, berbuat baik. Sesulit apapun kondisi kita, kuncinya adalah berbuat baik. Shirotol Mustaqim bukanlah jalan yang lurus, tanpa hambatan, tanpa lubang, tanpa batu dan kerikil. Shirotol mustaqiim adalah jalan dimana kita tetap berada dalam titik gravitatif yang tepat dengan kehendak Allah. Jalan yang dilalui boleh naik, turun, berkelok, berlubang, bahkan buntu sekalipun. Tetapi pada saat kita melewati itu semua, kita istiqomah berada dalam titik gravitatif Allah.

Bisa jadi juga bahwa kita sudah Ahmaq. Seringkali kita berdalih pada saat kita atau orang lain berlaku salah, kita berdo’a semoga segera mendapatkan hidayah dari Allah. Padahal bisa jadi hidayah dari Allah itu datang setiap hari. Hanya kita saja yang tidak mau menerima hidayah itu. Atau, ibarat sebuah komputer, kita tidak mau mengupgrade hardware kita sehingga kita tidak mampu menerima dan membaca software yang dikirim oleh Allah yang berupa hidayah itu. Sehingga kita sangat keras kepala untuk tetap meyakini bahwa kebenaran kita ini adalah kebenaran yang paling benar.

Setiap lima tahun sekali, kita berpesta untuk mengulangi kesalahan yang sama. Setiap lima tahun sekali, kita bergembira untuk mengulangi Kecèlè yang baru lagi. Kita seakan-akan tidak pernah kapok untuk Kecèlè. Kita meyakini bahwa Demokrasi yang kita anut ini akan melahirkan pemimpin yang sejati, padahal kita tahu bahwa mereka yang muncul di Poster-Poster dan Baliho saat kampanye adalah produk partai politik yang selama ini selalu menipu kita. Kita ikut menabuh genderang dan meniupkan terompet bahkan ikut menyalakan petasan kembang api ketika pesta demokrasi digelar. Padahal kita sebenarnya memahami bahwa badut-badut politik yang kemudian menjadi wakil rakyat di parlemen kerjaannya hanya begitu-begitu saja. Tak ada yang spesial, tak ada yang bombastis, tak ada yang spektakuler.

Alangkah perih nasib bangsa yang beramai-ramai membenci harimau sambil menyerahkan lehernya ke harimau yang lebih besar.

Maka, suatu kali Cak Nun pernah menyampaikan, Bangsa yang selalu salah memilih pemimpin sisa modalnya hanyalah kasih sayang Tuhan. Dan inilah Bangsa Indonesia hari ini, kita sudah tidak memiliki modal apapun lagi dihadapan Tuhan selain Rahman dan Rahim-Nya. Kurang durhaka apa kita sebagai manusia? Kurang ingkar apa kita sebagai makhluk Allah? Kita dianugerahi tanah dan air yang sangat kaya raya, kekayaan alam kita begitu melimpah, tetapi kita gagal mengelola dan memgolah ini semua. Kita gagal mendayagunakan potensi yang ada yang kita punya ini untuk kita kelola agar juga kelak dinikmati oleh generasi anak cucu kita. Tetapi mungkin memang kita tidak serius dalam menjalankan amanat sebagai Khalifatullah Fil Ardhli.

Maka, Fundamentalisme Khandaq adalah salah satu cara bahwa Maiyah memposisikan diri untuk tidak ingin terlibat dalam Indonesia hari ini. Maiyah membangun wilayahnya sendiri, mengayomi Indonesia. Maiyah menyadari bahwa Maiyah tidak bisa berbuat apa-apa untuk Indonesia dan sejauh ini Indonesia juga tidak berbuat apa-apa untuk Maiyah. Sehingga secara de facto, Maiyah tidak memiliki kewajiban apa-apa terhadap Indonesia. Jikalau suatu hari Maiyah melakukan sesuatu untuk Indonesia, itu bukanlah kewajiban melainkan ungkapan cinta. Dan Maiyah akan terus berjuang untuk tetap Istiqomah dalam pagar fa idza faroghta fanshob, wa ilaa robbika farghob.