Mukadimah: GURU-GURU PERADABAN

DALAM PROSES kehidupan, baik individu dan sosial, diperlukan suatu “penjelmaan” penyantun ilmu pengetahuan yang bisa sebut sebagai guru. Guru adalah proses dialektika antar beberapa murid. Murid-murid satu sama lain berdialektika dengan tekun sehingga menemukan proporsi bahwa si A adalah orang yang cocok untuk melaksanakan niat mulia yaitu menyantunkan ilmu ke orang yang lebih kurang tahu. Bisa diakibatkan oleh karena si A memiliki ilmu yang lebih mendalam karena lebih tekun, atau mungkin karena si A lebih bisa menyampaikan dengan jelas keilmuannya kepada orang lain. Mudahnya, manusia yang ditakdirkan menjadi seorang guru adalah seorang murid yang dipantaskan akhlak, ilmu dan niatnya, sehingga bisa dipandang sebagai seorang guru. Bukan proses terbalik yaitu “saya adalah guru, kemarilah wahai para murid agar kalian pintar”. Bukan. Guru harus tertempa dengan pengalaman keilmuannya. Taraf pengetahuan guru adalah taraf nyemplung, renang, nyelem, sampai titik dasar samudera keilmuannya. Bukan sekedar raup, opyok-opyok.

Guru, digugu lan ditiru. Guru sejatinya harus mempunyai kelengkapan keilmuan dan kelengkapan sikap. Bukan guru namanya kalau hanya memberikan materi atau ceramah, itu namanya “teks yang bisa bersuara”. Seorang guru yang kompeten adalah ia yang mampu mendekatkan dirinya dengan murid-muridnya. Setiap sikap, tingkah lakunya menjadi sumber ilmu muridnya. Bahkan bisa jadi sampai cara berjalannya bisa mengisyaratkan ilmu, dan keilmuan yang dimilikinya. Keikhlasannya dalam meridhoi setiap manusia dan ciptaan-Nya menjadikan guru memiliki kemampuan untuk bisa diterima masyarakat banyak, atau lebih khusus diterima oleh muridnya. Guru harus bisa menjelma menjadi ilmu itu sendiri. Karena setiap kedalaman ilmunya, ditampakkan baik secara kasar maupun halus dalam setiap nilai kehidupannya. Semakin berisi semakin merunduk. Semakin banyak bibit-bibit dari dirinya yang bisa tumbuh walaupun dia tidak meniatkannya. Semua secara ikhlas terjadi dengan sendirinya.

Awal peradaban pertama umat manusia dimulai dengan kesadaran bahwa dirinya berbeda dari bangsa binatang dalam cara memenuhi kebutuhan hidupnya. Akal dan budipekerti menjadikan prilaku manusiawi dalam berkerjasama mengelola alam lingkungan guna memenuhi kebutuhan bersama. Pada masyarakat bercocok tanam, pelaksanaan tugas setiap komponen masyarakat jauh memerlukan kesabaran untuk mendapatkan hasil usaha bersama ketimbang pembagian tugas dalam strategi berburu. Hukum alam dipelajari sebagai objek yang seolah ditinggalkan begitu saja oleh Sang Pencipta. Ummat manusia berdasarkan pengalamannya berusaha mengkhalifahi alam ciptaan-Nya. Nabi Idris AS menjahit pakaian peradaban awal ummat manusia ini berupa kesadaran kemanusiaan untuk menjadi khalifah di muka bumi. Hingga pada puncak peradaban awal ini diluluh- lantakkan oleh peristiwa banjir besar yang hampir menutupi seluruh permukaan muka bumi.

Setelah sekian generasi pasca Banjir Nuh, naik-turun peradaban ditandai dengan kemajuan teknologi yang dicapai oleh ummat manusia pada tiap-tiap zaman. Kemajuan teknologi yang dicapai oleh suatu kaum seringkali menjadikan kaum itu sombong. Sejak Nabi Hud AS hingga Isa AS, peradaban ummat manusia mengalami fluktuasi. Guru-guru peradaban ini hadir ditengah ummatnya untuk menunjukan bahwa Tuhan tidaklah menciptakan alam raya ini lantas meninggalkan begitu saja. Justru keberadaan semesta alam ini menunjukan eksistensi kehadiran-Nya. Pencapaian kemajuan teknologi ummat manusia untuk mengelola alam sekitarnya pada dasarnya tidak berarti apa-apa jika tanpa ada daya dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Begitupun yang terjadi dengan mukjizat-mukjizat dari Allah SWT melalui para nabi, seringkali peristiwa itu terjadi setelah para Nabi kekasih Allah itu disakiti oleh kaumnya, lantas mereka mengadu kepada ‘Engkau’ Yang Maha Kuasa untuk memberikan mukjizat pertolongan.

Dalam mekanisme Tuhan dan hambanya, apa yang baru di dunia ini? Apa yang menjadi ciptaan terbaru Gusti Allah di rentang kehidupan kita? Semua sudah diciptakan dalam perspektif dan skala waktu umur manusia. Apa yang menurut manusia ditemukan, sejatinya hanya rekayasa dan penegasan dari ciptaan Allah. Semua ilmu yang kita dapatkan hanya penegasan-penegasan baru, dari semula yang tidak kita ketahui, menjadi kita ketahui, menjadi kita fahami.

Tuhan menjadi subjek utama dalam setiap proses di dunia ini. Ada bahasa embun atau air yang menetes. Apakah air itu menetes dengan sendirinya? Kita tidak pernah tegas akan subjek utama kehidupan yaitu Tuhan. Air tersebut bukan menetes dengan sendirinya, tetapi diteteskan oleh Tuhan. Manusia tidak hidup tetapi dihidupkan oleh Tuhan. Bahkan perjalanan kehidupan manusia bukan mekanisme kita berjalan. Kita hanya mengusahakan untuk berjalan, tetapi seyogyanya kita diperjalankan oleh Tuhan.

Dalam setiap tulisan Tetes Mataair Maiyah, penegasan kembali tentang nilai-nilai Maiyah disampaikan oleh Cak Nun, agar menjadi bahan instrospeksi diri. Dalam setiap perjalanan Maiyah diperlukan penaataan kembali cara berfikir dan cara bersikap kita dalam menyikapi semua kondisi-kondisi yang sedang terjadi, dan memposikan dengan tepat kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi. Perlu rekonstruksi ulang mekanisme hidup dan penghidupan manusia, yang mana subjek primer kehidupan kita. Kita sendiri atau Allah? Menata kembali tujuan kesejatian manusia, apakah dunia atau akhirat. Atau mungkin dunia dan akhirat merupakan bulatan penuh yang tidak bisa kita kategorikan. Evaluasi menyeluruh dari sikap pribadi dan golongan-golongan kehidupan kita. “Urip tenanan” agar tidak hilang dan sirna akibat dari “kemalasan mental, kesemberonoan ilmu, kejumudan spiritual, atau ketidakberdayaan memanggul berkah”.

Maiyah bukan sesuatu yang hebat, bukan hasil dari kehebatan manusia apalagi golongan-golongan tertentu. Setiap energi Maiyah mulai dari jamaah yang setia datang dan duduk berjam-jam, sampai energi dan kesetiaan penggiat Maiyah di setiap simpul-simpul bukan hasil dari kehebatan manusianya. Tetapi murni karena berkah dan rahmat yang dilimpahkan Allah kepada mereka semua. Niat-niat tulus setiap manusianya, yang memungkinkan kita untuk tetap berada didalam pagar “kesunyian”, selalu diuji dengan ketidaktahuan dan mungkin “kebodohan” karena nafsu-nafsu yang masuk dan menggerogoti sikap manusianya.

Dari 10 hal yang dijabarkan oleh Cak Nun dalam Tetes Mataair Maiyah, “Kenapa Maiyah itu tidak ada manfaatnya bagi kehidupan di mana manusia menikmati dan merakusi dunia”, semua merupakan penegasan kembali nilai-nilai maiyah, jalan sunyi yang selalu ditempuh oleh Maiyah. Tidak ada kesucian menyeluruh, keabadian yang sejati kecuali Allah semata. Setiap Jamaah Maiyah perlu secara terus menerus melakukan perjalanan sunyi kehidupan, agar tidak ikut-ikutan serakah dunia, merusak nilai-nilai kesejatian manusia dan Tuhan, sombong menjadi sumber solusi permasalahan, dan terus menjadi teman setia yang menemani dalam setiap kebahagiaan dan penderitaan manusia dan ciptaanNya.

Kita Jamaah Maiyah, tidak hanya selalu meneguk mataair Maiyah, hanya mengambil kesegaran-kesegarannya saja, tetapi seyogyanya memantaskan diri dihadapan Allah, dan RasulNya, agar Allah meridhoi kita menjadi mataair itu sendiri.