Mukadimah: Evolusi ke 4- (Abad 20-21)

LINGKUP PERADABAN dapat didefinisikan dari personal ke global atau dari global ke personal. Peradaban sangat erat kaitannya dengan perilaku. Perilaku yang dimaksud disini bisa ditujukan kepada personal, kolektif sekumpulan orang atau menyeluruh secara global. Berdasarkan pengalaman, pemahaman terhadap suatu hal dapat menentukan perilaku. Seorang pengendara mobil yang baru pertama kali melewati jalan sempit dan berliku di malam hari akan lebih berhati-hati ketimbang pengendara lain yang sudah terbiasa dengan rute itu, atau ada tidaknya marka dan rabu-rambu jalan juga dapat mempengaruhi prilaku pengendara. Pengendara yang ugal-ugalan akan mengabaikan kesalamatan dirinya juga kesalamatan orang lain. Melanggar rambu dan mengabaikan marka jalan dapat berakibat kecelakan.

Perbedaan pemahaman sering kali memicu konflik. Kenyataan bahwa arus globalisasi semakin mengikis eksistensi Negara sulit untuk diperdebatkan. Orang-orang dari berbagai belahan dunia dengan mudah saling terkoneksi menembus batas-batas Negara. Bahasa Internasional dipergunakan sebagai sarana komunikasi untuk menjalankan berbagai bisnis dan kepentingan. Namun tidak semua negara lantas menerima arus globalisasi, bahkan tidak jarang yang memahami globalisasi hanya sebagai kedok invasi ekonomi dan kebudayaan.

Teknologi Informasi yang ada saat ini sangat memungkinkan bagi siapa saja untuk berkomunikasi secara real time meski berada di antara belahan dunia yang berjauhan. Siapa saja dapat dengan mudah menyebarluaskan broadcast video tentang sebuah peristiwa yang dapat disaksikan secara live meskipun itu sering kali melanggar privasi pihak lain. Selebriti-selebriti dunia maya dengan follower-follower dadakan bermunculan. Sekali tempo dipuji-puji layaknya burung merak, namun seketika dapat berbalik dicaci-maki seperti bangkai diantara kawanan burung condor yang siap dicabik-cabik.Tokoh-tokoh nasional dan internasional-pun tidak luput, paginya dipuji-puji sorenya menjadi bahan bully.

Ummat manusia dengan segala pencapaian pada zaman globalisasi seolah sudah beranjak meninggalkan kehidupan primitif hewani menuju modernisasi yang lebih beradab. Baju Demokrasi dijadikan model standar yang harus dipakai oleh setiap bangsa dan negara, namun bagi negara yang menentangnya dapat dipastikan akan mendapat intimidasi, bahkan pembumi hangusan. Ritme kehidupan masyarakat bernegara berdenyut dengan rutinitas demokrasi, yaitu pemilihan presiden di tiap-tiap negara. Seiring dengan anak-anak bangsa sedang berlomba-lomba merancang dan membangun surga duniawi di muka bumi, untuk mengenang surga yang ditingalkan Kakek Adam. Sementara para kapitalis global nyaris tak tersentuh berada di puncak-puncak bangunan ‘piramida rantai makanan’ ekosistem global ini, dengan infrastruktur dan aparatur perpanjangan kekuasaan kaki-tangan mereka. Padahal yang ada adalah nafsu penguasaan ekonomi yang bersembunyi dibalik kelambu demokrasi.

Dalam era globalisasi hari ini, Indonesia berada satu langkah lebih maju dibanding Negara-Negara lain di dunia. Dengan Pancasila sebagai dasar Negara, sesungguhnya Indonesia sudah mengikatkan dirinya bahwa ia tidak akan bisa lepas dari Islam. Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan satu idiom yang hanya dimiliki oleh Islam. Siapa gerangan yang mengajarkan bapak bangsa Indonesia tentang Tauhid itu? Khilafahnya manusia dalam Islam adalah sebuah keniscayaan. Allah sendiri yang menyatakan bahwa Innii jaa’ilun fi-l-ardhli kholifah. Manusia diciptakan oleh Allah untuk menjadi Khalifah di muka bumi. Di bumi, bukan di planet yang lain. Bukan di Mars, Venus, Jupiter, Merkurius dan yang lainnya, tetapi di Bumi. Khalifatullah merupakan puncak dari proses evolusi pencapaian manusia di muka bumi.

Cak Nun pada Kenduri Cinta episode Juni 2017 menyampaikan bahwa Allah Swt menggelar alam semesta ini dalam enam hari. Kun fa yakuun bukan Kun fa kaana, artinya proses penciptaan alam semesta ini masih terus berlangsung. Rentang waktu enam hari itu masih berlangsung dalam tahapan evolusi penciptaan materi benda, tetumbuhan, hewan, manusia, abdullah, hingga khalifatullah. Peradaban zaman globalisasi saat ini berada pada tahap evolusi ke 4 – (minus). Artinya, sudah melewati tahap ke 3, tetapi belum benar-benar mencapai tahap ke 4.

Namun ada sebagian pihak yang bernafsu ingin segera merubah zaman dan tidak peduli dengan konflik, benturan, bahkan siap sedia menyelenggarakan peperangan. Ada sebagian pihak yang terlalu terburu-buru untuk mengaplikasikan Khilafah di dunia. Ibarat sebuah ladang pertanian, seharusnya sebelum ditanami maka seorang petani akan mengolah terlebih dahulu ladang yang akan ia tanami dengan tanaman “Khilafah” ini. Era globalisasi adalah sebuah ladang dimana tanahnya belum siap untuk ditanami tanaman “Khilafah” ini. Khilafah adalah puncak pencapaian Islam, puncak pencapaian evolusi 6 tahap. Era globalisasi baru mampu mencapai tahap ke 3, selangkah lebih dekat menuju tahap ke 4. Maka, tidak mungkin dipaksakan untuk ditanami benih-benih Khilafah di era globalisasi ini. Semua harus dipersiapkan dengan baik, sehingga benturan-benturan dapat diminimalisir.

Manusia dibekali akal, hati dan hawa nafsu oleh Tuhan. 3 elemen yang sudah semestinya harus disinergikan satu sama lain. Sehingga keseimbangan tercipta dalam diri setiap manusia. Tuhan membekali manusia dengan Agama agar 3 elemen tersebut dapat diseimbangkan perannya masing-masing. Maiyah adalah salah satu wahana yang terus menerus mengupayakan dan memperjuangkan manusia-manusia di dalamnya untuk melatih dirinya menuju keseimbangan. Maiyah dengan bekal nilai-nilai ilmu Allah menjalani proses untuk menuju puncak evolusi 6 tahap, yaitu Khalifatullah.