MENGHISAB TUHAN

reportase kenduri cinta mei 2012

Telah lama jamaah Kenduri Cinta belajar bahwa tidak ada yang namanya tokoh. Majelis ilmu memberikan hak dan kesempatan yang sama bagi siapapun untuk berbicara, tanpa harus terlebih dahulu dikenal sebagai ‘seseorang’. Tak terkecuali malam itu, dimana jamaah yang hadir ditempatkan sebagai narasumber Kenduri Cinta. Usai tadarus dan salawat, Adi Pujo, Rusdianto, dan Soleh memandu dan memberikan pengantar atas tema: Menghisab Tuhan.

Kata hisab berasal dari bahasa Arab yang memiliki makna berhitung. Menghisab adalah melakukan perhitungan-perhitungan. Tuhan, secara umum dapat ditafsirkan sebagai segala sesuatu yang disembah atau dibela mati-matian. Kita sering merasa mempunyai Tuhan, tapi Tuhan justru sering kita perlakukan sebagai bagian dari aset kita, bagian dari perhitungan laba-rugi kita, sehingga justru yang terjadi adalah ketiadaan Tuhan itu sendiri. Tuhan tidak lain hanya kita anggap sebagai alat untuk mensukseskan keinginan-keinginan kita sedemikian rupa hingga ketika keinginan itu tak tercapai, yang kita lakukan pertama kali adalah menghisab Tuhan.

Dua tanggapan datang dari jamaah. Fajar, kelahiran Purwokerto dan saat ini tinggal di Aceh, mempertanyakan bagaimana bisa manusia menghisab Tuhan, sementara rahmat-Nya kepada alam semesta ini tak pernah terhitung. Juga, menghisab merupakan hak Tuhan atas makhluk-makhlukNya. Ataukah menghisab Tuhan hanyalah permainan kata agar menarik, sedangkan yang dimaksudkan adalah jangan menghisab Tuhan? Mbah Jen juga mengungkapkan hal yang serupa, mengaku kaget begitu melihat tema Kenduri Cinta bulan ini, yang baru pertama kali dijumpainya selama 70 tahun hidupnya. Yang menjadi pertanyaan adalah ada apa dengan penggunaan huruf ‘t’ kecil pada kata ‘tuhan’.

Sebelum pembahasan lebih mendalam lagi, sesaat kemudian disuguhkan kolaborasi apik antara Wahyu, Anjar, dan Urang-Aring Percussion membawakan nomor musikalisasi puisi Engkau Kaca Bukan Cahaya karya Cak Nun.

Mengabdi adalah memanfaatkan semua elemen di dalam tubuh kita untuk mengenal Tuhan.

Setelahnya, Qadarian Bahagia (Ian) memaparkan bahwa ide tema Kenduri Cinta bulan ini muncul saat di Majlis Reboan, yang diilhami dari fragmen yang diceritakan Cak Nun pada Kenduri Cinta pada forum Kenduri Cinta bulan sebelumnya. Ketika itu, konteks menghisab tuhan dibawa ke ranah akuntansi, mengenai kalkulasi. Tuhan menghisab manusia secara detil, sementara manusia ketika menghisab Tuhan sama sekali tidak detil. Ketika mendapat kenikmatan, manusia tak pernah bertanya, “Why me?” – sangat berbeda dengan saat mendapat kesusahan.

Ketika berhadapan dengan yang namanya risiko, manusia menjadi demikian pesimis sampai-sampai mengasuransikan semua kepunyaannya. Ini merupakan inkonsistensi yang muncul dari ketidakmampuan menghisab Tuhan secara detil. Ketika neraca kita mengalami surplus, harus mampu kita temukan faktor-faktor dalam kesuksesan kita itu. Selama ini kita seringkali ke-GR-an menganggap bahwa semua itu hasil dari kerja keras kita. Kita harus mampu merekalkulasi semua kenikmatan yang selama ini cenderung kita abaikan. Bisa jadi, yang menyelamatkan bangsa ini adalah orang-orang kecil dengan kemampuan untuk menghisab Tuhan secara detil.

Fajar yang sebelumnya menjadi penanya, kemudian diminta untuk maju ke depan untuk menjadi narasumber. “Sepemahaman saya, hisab bukanlah sebatas berhitung, tapi meminta pertanggungjawaban. Ini pemahaman saya sebelum mendapat informasi dari penggagas tema. Tapi begitu disampaikan, menjadi gamblang buat saya. Dan ternyata makna dari ‘tuhan’ adalah segala yang dituhankan. Menghisab tuhan bukan berarti menghisab Allah, melainkan menghisab apa-apa yang kita tuhankan—bisa berupa smartphone, televisi, maupun Google sebagaimana telah disampaikan oleh Mas Ian.”

Muhammad Zimamul Arzi, seorang mahasiswa Fisika IPB sekaligus aktivis dalam Ikatan Mahasiswa NU, ikut mengurai dengan menyampaikan satu kutipan favoritnya: Aku bukanlah aku dan semuanya bukanlah aku. “Kalimat itu berkaitan dengan keikhlasan. Di dunia ini kita sering merasa kecewa karena kita menganggap bahwa yang kita lakukan adalah ‘aku’, padahal apa-apa yang kita lakukan bukanlah ‘aku’. Kita kecewa begitu kita menganggap bahwasanya hal tertentu begitu pentingnya. Saya ingin mengajak, hilangkan kata-kata ‘aku’ di dalam hidup kita sehingga apapun yang kita lakukan bukan karena kemampuan-‘ku’.

Zaki, yang sehari-harinya bekerja di pasar modal, menceritakan kedatangannya ke Kenduri Cinta berawal dari ketidaksengajaan melintas dan ketertarikan terhadap judul di baliho, “Menghisab kan pasti produk akal, sedangkan Allah adanya di hati. Akal dan hati nggak pernah nyambung. Lalu apanya yang dihisab? Makanya tadi saya memutuskan belok ke sini. Penyucian jiwa merupakan metode yang ada di dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah: 256, bahwa barangsiapa berpegang pada tali agama Allah akan kuat selamanya. Guru kerohanian saya pernah berkata bahwa ketika beribadah akal harus dimatikan dan hatilah yang mesti dihidupkan. Pengalaman saya ketika berdzikir, ada titik kebahagiaan di dalamnya.”

Hidup ini cuma soal melayani orang lain atau melayani diri sendiri. Keduanya pilihan yang terbuka buat kita. Rasulullah tidak pernah melayani diri sendiri. Seluruh hidup beliau untuk melayani orang lain. Lantas kita mau niru siapa?

Narasumber berikutnya, yang mengaku bernama Ery, memantik lahirnya pertanyaan-pertanyaan melalui lontaran informasi dan pertanyaan-pertanyaan mendasar. “Saya berangkat dari seorang ilmuwan Galileo, yang mengatakan bahwa alam semesta ini diciptakan dengan bahasa Matematika. Banyak sekali angka-angka di dalam hidup kita. Coba tengok Al Mu’minun: 112-114. Di situ disebutkan: Kamu tidak tinggal (di Bumi) melainkan sebentar saja, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung. Dalam Al An’am dijelaskan bahwa Allah memberikan balasan atas setiap kebaikan sepuluh kali lipat, sementara balasan atas kesalahan hanya satu kali. Ini melibatkan hitungan semua. Para motivator bilang bahwa hidup adalah tentang mencari jawaban, padahal itu salah tafsir. Semua jawaban sebenarnya sudah tersedia; dan tugas kita adalah menciptakan pertanyaan-pertanyaan. Akal itu berbeda dengan otak. Akal itu software, yang lahir dari sinkronisasi antara otak dan qalbu.

“Misi hidup adalah berproses untuk memahami. Ketika anda lahir, anda belajar menafsirkan cinta. Melalui hubungan kasih sayang dengan ibu, kita menafsirkan bahwa cinta itu begini dan benci itu begitu; kita belajar bahwa pandai itu begini dan bodoh itu begitu. Akan tetapi pemahaman ini lambat-laun dirusak oleh sekolah yang semakin menjauhkan manusia dari sisi kemanusiaannya. Kepandaian dipatok dengan angka 9 dan kebodohan diwakili oleh angka 5, misalnya. Sedemikian rupa sehingga kita tercerabut ke luar. Ketika kecil, kita belajar bahwa ikhlas adalah tidak mengharapkan apa-apa, tapi sekolah mengajarkan bahwa ikhlas adalah ketika kita berbuat baik pada orang lain, kita mengharap pahala dari Allah. Kita menjadi semakin jauh dari bayi kita.

“Ketika ada orang yang sibuk menanyakan Tuhan agamanya apa, kenapa Tuhan tidak menciptakan tuhan lain, kenapa Dia menciptakan malaikat sebagai pembantu-Nya, saya menantang mereka untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar dari semua itu, yaitu mengapa harus ada penciptaan? Bagi saya dan temen-temen, hisab adalah menghitung setiap kehendak Tuhan, apa tujuan-Nya membuat semua ini. Mengabdi adalah memanfaatkan semua elemen di dalam tubuh kita untuk mengenal Tuhan.

“Ketika Rasul ditanya mengapa berperang, beliau langsung menjawab karena Tuhan yang menyuruhnya. Mampukah pemahaman modern menyertakan Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan kita sehingga apapun yang Tuhan suruh menjadi tendensi kita? Permasalahannya, sekarang Tuhan justru kita suruh ikut dalam kehendak kita. Anda pikir musibah itu nggak baik untuk anda. Nikmat anda persepsikan sebagai sesuatu yang menyenangkan anda. Semua lahir dari persepsi kita; apakah pernah kita mengkonfirmasikannya? Paradoks-paradoks dalam hidup ini sangat jarang kita pikirkan.

“Dalam Surah Al-Mukminun tadi, disebutkan bahwa tujuan hidup adalah untuk mati. Ilmu pengetahuan yang sekarang tidak pernah membahas tentang after life. Ada apa setelah mati? Kenapa kita tidak berusaha untuk meneropong Quran satu per satu? Contoh lagi pertanyaan ‘nakal’ adalah: kalau surga itu kekal, berarti Tuhan punya competitor dong? Bagaimana cara turunnya Nabi Adam ke muka bumi? Konon katanya Adam itu dari surga (masa lalu), sementara kita sekarang berjalan ke depan menuju surga; nah jangan-jangan Adam dilemparkan dari masa depan? Saya yakin ada tujuan besar di balik ini semua. Manunggaling kawula-Gusti seringkali kita persepsikan dengan memaksa Tuhan untuk masuk menuju kita. Ini yang membuat kita semakin jauh. Mustahil kita tahu tujuan kalau kita tak pernah tahu di mana rumah. Siapa Adam, siapa Nuh? Maka kita akan tahu sebenarnya maksud Allah itu apa.”


Kehidupan spiritual kita dilindas habis-habisan oleh kehidupan material. Pahala kita persepsikan serupa buah di meja makan, dan dosa adalah serupa batu yang membentur jidat kita. Kita menghitung 27 derajat dalam salat berjamaah pun secara sangat material. Begitu suatu ide datang dari luar, kita mengikutinya habis-habisan. Man jadda wajada misalnya. Padahal kita sudah punya sopo sing temen tinemenan. Kita sangat jarang bercermin pada diri sendiri. Hal yang sama juga terjadi dalam dunia kesehatan. Kalau sedang merasa demam, omongan anda di dalam hati tidak anda percayai, tetapi begitu yang ngomong dokter, anda langsung percaya dan patuh. Dalam tingkat yang lebih detil, adakah manusia yang menyadari aliran darahnya? Al-Quran sudah menyediakan semua jawaban, kita tinggal mencari pertanyaan-pertanyaan yang sesuai.

“Anda dibatasi oleh lupa. Lalu bagaimana anda dimintai pertanggungjawaban? Kenapa anda bisa lupa? Ketika dada Muhammad dibelah oleh malaikat, orang-orang menyebutnya sebagai pembersihan hati. Apakah sebelumnya hati Muhammad kotor? Adegan itu merupakan adegan dibukanya hijab pada Muhammad, sehingga beliau tidak lagi punya lupa. Betapa beratnya beban beliau, karena telah mengetahui masa depan dan masa lalu. Maka orang Jawa pernah bilang, sakbeja-bejane wong kang lali, isih bejo wong kan eling lan waspada. Ingat saja ndak cukup; kita harus pula waspada.

“Kemanusiaan itu apa? Saya agak terganggu dengan kata kesuksesan. Sukses adalah menggagalkan orang lain untuk sukses. Sukses adalah sarana orang untuk mengungguli orang lain. Maka sekarang parameter sukses menjadi sedemikian lucu. Lho Allah di mana? Ketika sakit lalu minum obat, kita percaya sama obatnya sampai-sampai lupa sama Allah. Kita harus mampu memetakan pemahaman kita. Kehidupan spiritual yang dihabisi oleh kehidupan material membentuk kita untuk hanya memanggil Allah ketika terdesak. Apa yang kita lakukan pada Allah harus menghasilkan feedback yang sifatnya material. Ini bukan berarti bahwa kita harus tidak mengindahkan materi, tapi harus kita pahami letak: mana yang sarana, mana yang tujuan.

“Kami mempunyai terminologi baru, yaitu hidup ini cuma soal melayani orang lain atau melayani diri sendiri. Keduanya pilihan yang terbuka buat kita. Ngasih pengemis itu apakah karena kita ingin melayani dia atau karena kita menginginkan dapat yang lebih besar? Rasulullah tidak pernah melayani diri sendiri. Seluruh hidup beliau untuk melayani orang lain. Lantas kita mau niru siapa?

“Saya ingat Cak Nun pernah berkata bahwa Nuh dikasih umur panjang, umat yang nggak se-ngeyel umat saat ini, dan nggak dikasih tutorial atau kitab. Di akhir zaman ini kita dikasih umur pendek dan tutorial, plus senjata terakhir berupa syafaat. Dengan syafaat kita tinggal nyanthol. Secara simbolik kita disuruh belajar pada Rasul – dan jalannya bisa lewat Muhammadiyah, NU, atau apapun. Itu pilihan Anda, supaya kita sampai pada kemampuan untuk menghitung kehendak Tuhan agar kita bisa napak tilas.

“Uraian-uraian ini semoga bisa menjadi pemantik bagi kita semua. Sesibuk apapun kita, setidak berdaya apapun kita terhadap waktu, kita masih punya kesempatan untuk menyiapkan pertanyaan-pertanyaan atas semua hal.”

Setelah uraian dari Ery, Alex Mustofa membawakan sebuah mantra berjudul Anak Zaman sekaligus sebagai kado ulang tahun untuk Cak Nun. Juga sebuah puisi dengan tingkat religiusitas tinggi karya Chairil Anwar yang berjudul Nisan.

Menjelang pukul setengah dua dini hari, Kenduri Cinta ditutup dengan menyanyikan lagu Padamu Negeri bersama-sama, lalu dilanjutkan dengan doa.