Kedaulatan Muhajirin Maiyah

HIJRAH PADA HAKIKATNYA tidak hanya terbatas pada territorial atau letak geografis semata. Hijrah bukan hanya peristiwa berpindahnya seseorang atau sekelompok orang dari satu daerah ke daerah yang lain. Salah satu peristiwa Hijrah yang penuh hikmah adalah Hijrahnya Rasulullah saw bersama para pengikutnya dari Makkah menuju Madinah. Persitiwa Hijrah yang bukan hanya proses berpindahnya tempat tinggal dari Makkah berpindah ke Madinah. Tetapi juga didalamnya termasuk Hijrah nilai-nilai Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Dalam peristiwa Hijrah, orang-orang yang berhijrah disebut sebagai Muhajirin, dan jodohnya kaum Muhajirin adalah Anshor. Siapakah Anshor itu? Mereka adalah yang bukan hanya menerima kedatangan para Muhajirin, tetapi mereka memposisikan diri sebagai masyarakat yang menolong para Muhajirin. Lahirnya Piagam Madinah bukanlah dalam rangka untuk merebut wilayah Madinah, melainkan Piagam Madinah dilahirkan untuk mengakomodir kedua belah pihak; Muhajirin dan Anshor mendapat hak yang setara dan adil.

Ketika memasuki wilayah Madinah, kaum Muhajirin yang berasal dari Mekkah diterima oleh kaum Anshor yang sudah lama menetap di Madinah. Mereka bukan hanya menyambut kaum Muhajirin untuk tinggal di Madinah, tetapi juga mereka mengungkapkan sambutan yang hangat dengan cara berbagi harta, wilayah, tanah dan tempat tinggal.

Dalam kehidupan sehari-hari, sejatinya kita selalu mengalami peristiwa Hijrah. Seorang pedagang menghijrahkan barang dagangannya kepada orang yang membeli barangnya. Sementara orang yang membeli barang dagangannya menghijrahkan uang yang ia miliki kepada pedagang. Seorang Guru menghijrahkan informasi berupa ilmu pengetahuan kepada para peserta didiknya. Dan seterusnya.

Begitu juga dengan kita di Maiyah. Kita semua berhijrah menuju Maiyah. Alasan dari setiap orang untuk Hijrah ke Maiyah tentu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ada yang merasa nilai-nilai Maiyah adalah nilai-nilai kehidupan yang seharusnya memang berlaku dalam kehidupan ini. Ada juga yang berhijrah ke Maiyah karena menemukan sesuatu di Maiyah yang sebelumnya tidak ia temukan di luar Maiyah. Ada juga yang berputus asa dengan kondisi kehidupan yang ia alami, kemudian menemukan oase bernama Maiyah. Atau pada tataran yang paling dasar, berhijrah ke Maiyah karena mengikuti arus yang ada. Kemana arus mengalir, ia mengikuti. Ketika arus yang ia temui mengalir menuju Maiyah, ia bergabung bersama aliran arus tersebut ke Maiyah. Jika suatu saat arus tersebut menemukan haluan yang baru, menemukan jalur aliran yang baru, maka ia akan berpaling dari Maiyah. Bisa saja demikian yang terjadi.

Maiyah sendiri secara sejarah sama sekali tidak ada Anshor-nya. Kita sebagai Jamaah Maiyah adalah orang-orang yang berposisi sebagai Muhajirin Maiyah. Sementara Maiyah sendiri bukanlah karya manusia. Maiyah dilahirkan oleh Allah atas proses yang kita jalani secara alami selama 2 dekade terakhir. Kita semua, bahkan Cak Nun sendiri menyadari sama sekali tidak pernah merencakana untuk membikin atau melahirkan Maiyah. Maiyah ini ada karena atas kehendak Allah Swt. Maiyah ini tercipta dan lahir atas prakarsa Allah Swt.

Di Maiyah, kita tidak menemukan orang-orang yang berposisi sebagai Anshor Maiyah. Kita semua menikmati proses perjalanan Maiyah. Kita semua sadar bahwa Maiyah tidak menawarkan apa-apa kepada siapapun saja yang datang ke Maiyah. Maiyah juga tidak menjanjikan apapun kepada siapapun yang datang ke Maiyah. Dan dalam menjalani prosesnya, Maiyah sama sekali tidak pernah meminta bantuan kepada siapapun saja di dunia ini. Perjalanan menuju 3 dekade Maiyah hingga hari ini, seluruhnya penuh kedaulatan dan kemandirian. Tidak memiliki sponsor yang menjadi sumber dana pembiayaan tetap dalam melaksanakan forum-forumnya. Maiyah juga sama sekali tidak memiliki back up apa itu tokoh politik, pejabat negara, konglomerat, pengusaha, anggota parlemen, aparat keamanan dan lain sebagainya yang menjamin keberlangsungan Maiyah.

Kalaupun Maiyah harus bersandar, maka sandaran itu adalah Allah Swt dan Rasulullah saw. Karena Maiyah menyadari dialektika segitiga cinta antara Allah-Rasulullah-Hamba sebagai sebuah kesatuan yang berkesinambungan dan tidak mungkin dipisahkan perannya. Dengan landasan dialektika segitiga cinta inilah yang pada akhirnya Maiyah bukan hanya menerima siapapun saja untuk datang ke Maiyah, tetapi lebih dari itu bahwa sejatinya Maiyah diterima oleh banyak orang dengan segala latar belakangnya yang berbeda-beda.

Forum-forum Maiyah yang dilaksanakan di lebih dari 50 titik setiap bulannya, semuanya dilaksanakan dengan penuh kemandirian dan kedaulatan. Para penggiat Simpul Maiyah di seluruh titik itu berdaulat secara mandiri melaksanakan forum Maiyah. Bagaimana mereka mengelola Forum Maiyahan rutin setiap bulannya, bagaimana konten yang akan mereka sajikan, siapa yang akan mengisi acaranya, bagaimana teknis persiapan di lapangan; tenda, sound system, panggung dan lain sebagainya, sepenuhnya dipersiapkan dengan kegembiraan dan kebahagiaan yang berlandaskan pada kemandirian dan kedaulatan yang terukur.

Ketulusan hati, keikhlasan berjuang, kemurnian jiwa serta kejernihan fikiran dari setiap para salikin Maiyah saling bersinergi mewujudkan kegembiraan bersama di Maiyah untuk bersedekah kepada Indonesia. Meskipun pada akhirnya Maiyah sama sekali tidak diakui oleh Indonesia, Maiyah tidak laku untuk dipublikasikan di media massa di Indonesia, Maiyah sama sekali tidak menarik untuk dilirik sedikitpun oleh Indonesia, namun Maiyah tetap setia menjalani prosesnya.

Apa yang kita lakukan bersama di Maiyah hari ini, apa yang kita perjuangkan di Maiyah hari ini adalah seperti Petani yang menanam benih-benih padi di sawah. Tak seorang pun dari kita di Maiyah yang mampu memastikan kapan kita akan merasakan musim panen dari benih-benih yang kita tanam selama ini. Tentu saja dalam prosesnya kita mengalami dinamika, gesekan, menutup lubang di sana-sini, namun dengan semangat kebersamaan yang sama-sama kita miliki adalah modal yang cukup baik untuk bersama-sama menjaga kebun Maiyah ini.

Pada akhirnya, kita tidak bisa menolak nasib kita di dunia ini. Kita semua, setiap individu memiliki rencana hidup kita masing-masing, hingga akhirnya kita dipertemukan dengan Maiyah. Inilah nasib kita hari ini. Apakah kita sanggup menjalani nasib kita hari ini bertemu dan berlaku di Maiyah? Jawabannya hanya mampu kita temukan dalam diri kita masing-masing. Dengan kedaulatan Maiyah yang kita yakini, kita akan menakar apakah memang Maiyah ini adalah nasib kita atas kehendak Allah atau bukan?