Hari dan Angka Istimewa Untuk Sang Legenda

PANGGUNG HIBURAN tanah air kembali berduka. Jumat (5/1/2018), salah satu musisi besar lintas generasi yang sekaligus vokalis-gitaris grup band Legendaris Koes Plus Yon Koeswoyo menghembuskan nafas terakhir dirumah kediamannya Pamulang, Tangerang.

Yon tutup usia Jumat pagi, pada usia 77 tahun. Innalillahi waina ilaihi rajiun. Semua yang berasal dari Tuhan, akan menuju kembali kepada-Nya. Iringan doa-doa dan taburan bunga mengantar sang maestro sampai ke liang peristirahatan terakhir. Pintu surga jelas terbuka lebar-lebar menyambut kedatangan roh almarhum mas Yon menemui Tuhan-Nya. Semoga.

Kita, bangsa Indonesia memang kehilangan sosok Yon Koeswoyo. Namun yang hilang hanya jasad, fisik dan raganya. Lagu dan karya-karyanya tetap abadi. Berdenyut di urat nadi. Nancep-mendarah daging didalam tulang sumsum, jiwa-jiwa seluruh anak-cucu Nusantara. Koes Bersaudara dan Koes Plus telah mendendangkan lagu-lagu kehidupan sejak era 60an. Ratusan album (kaset) yang memuat ribuan lagu lebih telah berhasil mereka sajikan bagi perkembangan khasanah musik Indonesia.

Menarik memang, membicarakan kiprah Koes Bersaudara (Koes Plus) sepanjang karirnya bermusik selama ini. Bahkan tidak akan ada habisnya untuk memperbincangkan dan mengupasnya. Lagu-lagu mereka sangat natural. Aseli. Jujur. Apa adanya. Liriknya bersifat Universal. Mencakup segala lini. Melalui nada, musik, lirik lagu, Yon dkk menyuarakan tentang keTuhanan (Andaikan kau datang), sosial (Bunga ditepi Jalan), budaya bangsa (Nusantara), ekonomi (Kolam susu, pak Tani), politik (Tul jaenak), hingga perihal kisah cinta (Diana-Why Do You Love Me). Lagu-lagu Koes Plus adalah bentuk perwakilan, ungkapan rasa, perwujudan dari hati kita semua.

Hari Istimewa

Yang hendak saya bagikan pada tulisan ini, bukan mengenai biografi, karir, karya-lagu, torehan prestasi maupun sepak terjang seorang Yon Koeswoyo sepanjang hayatnya. Bukan itu. Sebab informasi mengenai itu dapat dengan mudah kita cari dan temukan lewat buku-buku, artikel, media cetak, online, program televisi dan sebagainya. Tak ada jemu-nya memang untuk membahas perjalanan musik Koes Bersaudara dan Koes Plus. Tuhan benar-benar telah menganugerahkan keistimewaan kepada Yon Koeswoyo dan kolega sepanjang hidup didunia.

Hebatnya, keistimewaan tersebut tidak hanya berlaku selama mas Yon hidup. Menjelang wafatnya pun termuat keistimewaan. Inilah keistimewaan yang saya maksud. Apa saja? Paling tidak ada dua keistimewaan yang tersirat pada momen kewafatan beliau.

Pertama, mas Yon ‘dipanggil’ Allah Swt pada hari Jumat pagi (5/1/2018). Jumat, adalah hari yang baik. Afdhol dan utama. Hari yang istimewa bagi umat Islam. Allah sangat memuliakan hari Jumat. Dimana Allah memerintahkan kepada kita untuk memperbanyak amalan baik dan memanjatkan doa-doa pada hari Jumat. Amalan dihari Jumat akan dilipatgandakan pahalanya . Doa-doa dikabulkan, dosa-dosa dihapuskan. Bahkan, barang siapa yang meninggal pada hari Jumat, maka ia pun diistimewakan. Amalnya diterima, dosa-kesalahannya diampuni, dan dihadiahi sorga baginya. Penjelasan ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam kitab sunahnya. Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda ;

“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at melainkan Allah melindunginya dari siksa kubur.” (HR. Al-Tirmidzi, no. 1043)

Para ulama ada yang berselisih tentang status hadits ini. Imam al-Tirmidzi menyifatinya sebagai hadits gharib dan terputus sanadnya. Al-Hafidz Ibnu Hajar menyifatinya sebagai hadits sanadnya dhaif. Sementara Syaikh al-Albani dalam Ahkam Janaiz-nya (hal. 49-50) menyatakan, hadits tersebut hasan atau shahih dengan dikumpulkan semua jalurnya.

Terlepas shahih atau tidaknya hadist yang diriwayatkan diatas, seolah tidak mampu mencederai tentang keistimewaan hari Jumat itu sendiri. Hal ini ditegaskan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada suatu Jum’at.

“Wahai segenap kaum muslimin, sesungguhnya ini adalah hari yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagai hari raya bagi kalian.” – (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jamash-Shaghir dan dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Hari Jumat ialah hari raya. Dan pada hari Jumat tanggal 5 Januari 2018 kemarin, seluruh bangsa Indonesia “merayakan” kepulangan sang Legenda (baca.Yon Koeswoyo) ke pelukan sang Khalik. Air mata keluarga jadi doa. Nyanyian sahabat menjadi hajat. Ungkapan bela sungkawa para handai taulan memuluskan jalan seorang hamba menemu Tuhan-Nya. Khusnul khotimah Mas Yon.

Angka Istimewa

Keistimewaan yang pertama telah kita ungkap. Mas Yon Koeswoyo wafat pada hari Jumat. Hari yang berbahagia. Spesial dan Istimewa. Sudah pasti mas Yon memancarkan raut gembira tatkala berjumpa Tuhan disana.

Dan keistimewaan berikutnya ialah soal angka. Mas Yon dijemput oleh Allah pada usia 77 tahun. Angka yang cantik bukan. Sebentar, kalau saya atau anda orang Jawa atau minimal keturunan Jawa, maka kita akan mengenal istilah ilmu othak-athik gathuk. Maksudnya, segala sesuatu yang terjadi pada manusia dan alam semesta ini selalu ada kaitan-nya. Hubungannya. Korelasinya. Sebab-akibatnya.

Orang Jawa seringkali mengaitkan suatu kejadian atau peristiwa dengan kejadian lain di suatu waktu dan tempat. Suatu peristiwa diolah, diothak-athik, diramu sedemikian rupa, kemudian disambungkan menjadi seakan berkaitan dengan satu kejadian dengan kejadian yang lain.

Ilmu othak-athik gathuk ini tidak hanya melahirkan sejarah baru yang mungkin saja keakuratannya masih perlu diuji terus-menerus, tetapi juga menghadirkan keunikan tersendiri. Kata-kata dalam bahasa Jawa misalnya, dapat menjadi sebuah tuladha, pathokan, piweling  dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ilmu othak-athik gathuk bagi orang Jawa tidak hanya sekedar ilmu kasat mata, akan tetapi merupakan sanepan (peribahasa) yang dapat menjadi pengingat/ pangeling-eling terhadap sesuatu yang dikaitkan dengan hubungan manusia dengan manusia serta hubungan manusia dengan Tuhan.

Satu contoh mengenai nama hari. Bagi manusia Jawa, yang dipelopori para Walisongo, setiap nama-nama hari memiliki makna sendiri-sendiri. Misal ;

SENEN artinya ojo boSEN marang uNEN-unen (jangan bosan terhadap nasehat  baik, yang dapat membimbing manusia dalam meniti kehidupan). Hari Senin biasanya menjadi hari pertama kebanyakan orang masuk sekolah, kuliah ataupun kerja. Itu semua dalam rangka belajar. Nggolek ilmu nggo sangu urip. Maka jangan bosan-bosan untuk terus belajar, mencari ilmu dan pengalaman. Ketika llmu dan pengalaman sudah didapatkan hendaknya diamalkan dan ditular-tularkan.

Lalu KEMIS, yang berarti luwih becik mingKEM tinimbang lamIS (Lebih baik diam daripada berucap kasar dan tidak benar). Menahan diri dari segala keburukan dan kesia-siaan. Maka hari Kamis kita disunahkan untuk berpuasa.

Kemudian Jumat, artinya JUMbuhno lelakon karo niAT (bila kita memiliki cita-cita harus selalu berupaya agar tercapai dan terlaksana). Artinya jika kita sudah berusaha, berjuang, jangan lupa dibarengi dengan doa. Usaha dan doa adalah satu paket kekuatan untuk meraih sebuah cita-cita/ impian.

Dengan berdasarkan sepenggal contoh diatas, maka ilmu othak-athik gathuk telah mendapatkan tempat tinggi di kalangan masyarakat, terlepas benar atau tidaknya sesuatu yang diothak-athik tersebut.

Mas Yon ditakdirkan menghadap Allah pada usia 77 tahun. 7 (tujuh), dalam bahasa Jawa disebut “Pitu”. Dan Pitu itu memiliki beberapa arti dan filosofi. Bersebab Mas Yon “dipundhut” pada usia 77 (tujuh-tujuh) alias pitu-pitu, maka pitu yang pertama dapat diartikan sebagai Pitutur. Pitutur adalah nasihat, petuah, wejangan, ular-ular, suatu ajaran kebaikan. Dan ini sangat relevan dengan seluruh kehidupan mas Yon Koeswoyo. Bagaimana tidak, hampir seluruh hidupnya ia dedikasikan untuk memberikan nasehat, pesan moral, pijakan, norma hidup, kepada seluruh anak-cucu bangsa Indonesia melalui lagu-lagunya. Apa yang tidak bernyawa dan bermakna dari lagu Koes Plus. Semua yang dikaryakan mas Yon dan saudaranya memuat petuah bijak yang migunani, bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan kita semua. Ya sebagai hiburan, pembelajaran, ajakan, pengingat, alat mencari nafkah, bahan skripsi, perekat silaturahmi, kritik, perjuangan, doa-doa dan lain-lain.

Sedangkan Pitu yang kedua dapat diartikan sebagai Pitulungan. Pitulungan adalah pertolongan. Harapan-nya semoga Alm. Mas Yon memperoleh hidayah pertolongan dari Allah Swt. Dan kita, seluruh anak-cucunya, yang mengaku cinta musik Indonesia, mengaku cinta tanah tumpah darah Indonesia, mengaku generasi penerus bangsa, seyogianya dengan hati ikhlas, lapang, tulus, khusyuk, bersama-sama memohon kepada Allah, agar orangtua kita, bapak kita, simbah kita, guru kita, senior kita, idola kita, teladan kita, pahlawan kita yang bernama Koesyono bin Koeswoyo (tak lupa mas Tony) mendapatkan pertolongan (pitulungan) berikut pengampunan dari Allah Swt.

“Meskipun pemerintah tidak mungkin meresmikan Mas Yon Mas Tony dan semua keluarga Koeswoyo sebagai pahlawan, tapi kita semua yang hadir di sini tak bisa mengelak mereka adalah pahlawan kita sampai ke surga.” –

Apa yang disampaikan oleh Mbah Nun pada hari pemakaman Almarhum Mas Yon kala itu, tentu saja kita setuju dan turut mengaminkan-nya.

Mas Yon, hari dan angka istimewa menandai kepulanganmu ke haribaan-Nya. Surga dan surga untukmu sang legenda. Al fatihah.

Gemolong , 7 Januari 2018