Gila atau Cinta?

SEJAK Jumat sore (10/8) langit Jakarta tampak cerah, namun sebagian langit mulai terlihat beberapa awan mendung. Sementara di pelataran parkir Taman Ismail Marzuki berdiri sebuah tenda sederhana, beberapa penggiat serta kru sound system sedang melakukan persiapan segala keperluan dan kelengkapan untuk acara bulanan Kenduri Cinta.

Alhamdulillah, diantara banyaknya acara pada hari itu, pihak pengelola Taman Ismail Marzuki juga ikut mendukung mensterilkan lokasi dengan dipasangnya beberapa road barrier berbentuk kerucut dan tiang di pinggiran area. Hanya beberapa bus rombongan saja diperbolehkan parkir di situ, karena mereka memang hanya sementara. Menjelang maghrib, bus-bus itu sudah meninggalkan area, karpet telah selesai digelar dan sejuknya cuaca senja itu menemani mereka yang sudah hadir, ada yang duduk di pinggir taman, nongkrong di angkringan sambil menikmati panganan, juga sebagian berada di masjid Amir Hamzah menunggu Azan maghrib berkumandang.

Ba’da maghrib, karpet di panggung dibersihkan dan dirapikan oleh penggiat, juga yang diperuntukkan bagi jamaah, ketika baru hendak dipel dan dibersihkan, bantuan tak terduga dari langit hadir berupa hujan, diawali dengan rintik-rintik mesra dilanjut dengan curahan air hujan penuh cinta turun mengguyur, bukan hanya sekitaran Cikini saja, beberapa sahabat mengabarkan bahwa hujan turun hampir merata di seluruh wilayah Jakarta malam itu, Alhamdulillah.

Di bawah lebatnya hujan dimalam itu tampak beberapa jamaah yang sudah datang langsung bergabung di bawah tenda Kenduri Cinta dengan beberapa penggiat yang telah hadir sejak sore hingga selepas maghrib. Dalam keadaan basah kuyup, mereka terlihat sumringah.

Senyuman di wajah mereka, baik itu datang sendiri, berdua, bahkan ada seorang anak kisaran umur sekitar 3 tahunan yang dibawa ibunya sedang asik dicandai oleh beberapa jamaah, tawa riang si bocah begitu kontras sanggup mengalihkan perhatian disekitarnya. Kondisi hujan tak menyurutkan semangat mereka melepas kerinduan pada acara bulanan Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki, 10 Agustus 2018 Jumat lalu. Itulah salah satu potert indah, ceria, nan mesra namun hanya bisa dirasakan dan dinikmati mereka yang hadir di Maiyahan Kenduri Cinta malam itu.

Terpal yang telah digelar harus dilipat kembali agar tak basah kehujanan, semua orang langsung merapat ke bawah tenda, kebersamaan dibawah tenda itu terasa sangat indah canda dan riang tawa terdengar sangat akrab. Setelah hujan reda, para penggiat dan beberapa jamaah mulai memindahkan air yang tergenang di area acara dengan cara disapu dengan sapu lidi dan sweeper lantai. Setelah alas duduk dihamparkan kembali dan semua telah duduk, acarapun dimulai. Tak berselang lama, Allah kembali mencurahkan kembali cintanya dari langit, hujan yang kembali turun tak kalah derasnya dengan yang pertama, Alhamdulillah.

Dalam derasnya hujan itu, terlihat beberapa sosok tubuh menerobos dari pintu gerbang keluar dan masuk Taman Ismail Marzuki, menuju tenda di pelataran parkir dan langsung bergabung dengan jamaah yang sudah berteduh dibawah tenda darurat yang dibuat oleh mereka sendiri bersama penggiat, gelak canda dan tawa mereka mengiringi saat terjalin kerjasama dadakan itu, walau tetap basah kuyup kebahagiaan dihati mereka tak mungkin bisa dilukiskan dengan kata-kata. Bagi Anda yang datang di Kenduri Cinta bulan ini, dan kebetulan datang di sesi mukadimah, tentu Anda melihat sebuah terpal yang diikat darurat di salah satu tiang tenda. Sebuah gambaran nyata betapa mereka tak ingin segera pulang demi melepaskan kerinduan di majelis ilmu ini.

Sebenarnya banyak jamaah yang telah datang, namun mereka memilih berteduh teras planetarium, di tenda angkringan, di selasar Masjid Amir Hamzah, di selasar bahkan dalam kios ATM yang ada di dalam area Taman Ismail Marzuki. Mungkin, dari dalam dinding kaca ATM itu mereka sedang membayangkan bahwa mereka sedang berada di sea world, Ancol.

Ada satu penampakan istimewa saat itu, dibawah guyuran lebatnya hujan, terlihat sepasang sejoli berada di antara lapak penjual kopi, saling bergandengan tangan, keduanya duduk berdampingan di atas kursi yang kecil, biasanya kursi itu dipakai para pemancing di empang, sambil memegang payung sebagai alat berteduh dari curahan hujan. Dan kedua-duanya terlihat sangat menikmati dimulainya acara Kenduri Cinta. Duh romantisnya, sayangnya mereka hanya memegang payung, coba jika mereka juga memegang joran pancing, mungkin akan ada suara yang tersahut… Mancing Mania……….!!!!!

AKHIRNYA, hujan benar-benar reda. Dalam bayangan saya, jamaah yang hadir malam itu tidak akan banyak. Sederhana saja, cuaca sudah tidak memungkinkan mereka untuk keluar rumah, tentu pilihan terenak malam itu adalah ngrungkel di atas kasur dan berselimut. Sudah past hangat, kecuali yang jomblo.

Namun yang saya lihat justru sebaliknya, Plaza Taman Ismail Marzuki dipenuhi jamaah, dan mereka mulai duduk di atas karpet basah, mereka hendak menikmati Maiyahan malam itu, tak sampai 30 menit, seluruh area dipenuhi jamaah.

Ternyata, mereka sebelumnya berteduh di halte, tempat makan dan mini market di sekitaran Cikini, termasuk di stasiun bagi mereka yang menggunakan kereta, setelah reda kehadiran mereka bagaikan air bah, hingga tidak terlihat ada celah buat melangkah ditengah pelataran. Di depan gerbang TIM juga tak mau kalah, pinggir jalan yang memang biasanya dijadian area parkir darurat mulai dipenuhi motor diiringi teriakan petugas parkir “ayo mas parkir kenduri, parkir kenduri”, ada juga yang meneriakkan “parkir cak nun, parkir cak nun”.

Pemandangan seperti ini lazim terlihat ketika Kenduri Cinta dilaksanakan, begitu semangatnya mereka menghadiri acara Kenduri Cinta, tak peduli dengan curah hujan yang deras, karena bagi pejalan Maiyah, hujan merupakan rahmat dari Allah S.W.T dan perhelatan Kenduri Cinta yang hanya sebulan sekali terlaksana, terasa sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Jika dilihat dari cara pandang orang di luar Maiyah, apa yang mereka lakukan bisa dibilang gila. Bergerombol di tempat terbuka, tidak ada sekat antara laki-laki dan perempuan, asap rokok mengepul dimana-mana, apalagi banyak ibu-ibu yang membawa anak kecil, diajak untuk begadang sampai subuh, hujan deras tetap diterobos tanpa ada rasa takut akan sakit. Bagi mereka yang belum merasakan atmosfer Maiyah, tentu lebih memilih untuk tarik selimut atau menonton sinetron di televisi.

Tidak, mereka tidak gila, karena bagi orang Maiyah kehujanan di Maiyahan adalah kenikmatan akan kerinduan kebersamaan. Walau tak saling kenal, kemesraan dan atmosfer yang terjadi begitu alami terjadi, sangat menyegarkan, membuat mereka merasa fresh dari kesibukan dan tekanan pekerjaan setiap hari, dan mereka merasakan bahagia saat mengikuti Maiyahan di Kenduri Cinta.  Alasan apa yang lebih tepat dikatakan kalau bukan karena Cinta. Hanya di Maiyah dengan cinta kita bisa memanusiakan manusia. Walau tak diketahui dengan pasti apa tujuan mereka datang ke Maiyahan dan tidak dapat kita pastikan juga apa yang mereka dapatkan di Maiyahan. Semua kerinduan, keikhlasan dan keistiqomahan mereka bak gayung bersambut dengan kehadiran Cak Nun dan terwujudlah keindahan cinta diantara mereka. Alhamdulillah.