EVOLUSI 4 MINUS

Setelah bulan Ramadan lalu Kenduri Cinta mangayubagya ulang tahun ke-17, pada pertengahan bulan Syawal Kenduri Cinta kembali dilaksanakan.

Pembacaan wirid Tadzlil-Ta’ziiz dan wirid Tahlukah dilakukan. Menuju pukul sepuluh malam, Sigit Hariyanto, Luqman Baehaqi, Adi Pudjo dan Tri Mulyana membuka forum. Mewakili penggiat komunitas, mereka mengucapkan Selamat Idul Fitri.

Kenduri Cinta merupakan wahana mengeksplorasi ilmu. Forum untuk berbagi kebaikan, bersama menuju kemuliaan, hingga kelak kita semua dimasukkan dalam golongan orang-orang yang beruntung.

Tema malam itu, Evolusi Ke-4, diangkat dalam menadaburi penciptaan langit dan bumi yang diciptakan dalam enam hari, yang dalam Alquran disebut pada surah Al-A’raf. Cak Nun pernah menerjemahkannya sebagai evolusi peradaban nilai kehidupan dalam enam masa atau enam tahap.

Pada khazanah fisika, penciptaan alam semesta diawali momentum Big Bang, hingga terbentuk komponen-komponen galaksi, planet, bulan, matahari dan sebagainya.

Forum juga menyoroti tingginya penggunaan internet, utamanya di kalangan generasi millenial yang makin mengikis sense of humanity.  Kepedulian antar manusia dirasakan sudah tak lagi seperti dulu.

Tri Mulyana mengutip ramalan Jayabaya yang mengatakan pada saatnya nanti pasar (fisik) akan hilang. Hal itu telah terjadi, dengan internet kini transaksi jual beli, skala kecil hingga besar, dapat dilakukan tanpa harus bertemu antara penjual dan pembeli.

Luqman menyambung, menurutnya manusia mustinya lebih mampu mendayagunakan akal pikirannya agar lebih bermanfaat. Pada nyatanya tidak. Manusia justru didikte, diarahkan oleh teknologi. Manusia hari ini merasa paling tahu tentang segala hal, padahal hampir seluruh informasi yang ia ketahui didapat hanya melalui internet.


Puncak evolusi ialah khalifatullah; manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi.

Evolusi Tahap Pemikir

Kegelisahaan atas tingginya penggunaan internet yang makin mengikis sense of humanity, dirasakan Luqman saat melihat fenomena penggunaan bitcoin dan games-games online. Jika dulu anak-anak muda mengenal DOTA, kini marak game online Mobile Legend, dimana komponen-komponen permainannya diperjualbelikan dengan nyata.

Tak ada lagi anak-anak kecil bermain layang-layang, kelereng, petak umpet, gobak sodor. Generasi muda menjadi gadget addict, kecanduan berinteraksi di media sosial. Parahnya, statistik intensitas dalam mengakses konten-konten pornografi di internet juga makin meningkat.

Evolusi ke-4, yang mustinya membawa manusia ke tingkat makhluk pemikir, yang terjadi justru manusia makin malas mengeksplorasi dirinya. Mereka berada pada peradaban instan, yang dengan sekejap mendapat informasi. Bahwa informasi itu valid atau hoax, itu urusan kesekian.

Adi Pudjo menambahkan, manusia makin tidak sungguh-sungguh mendayagunakan akal pikirannya, nalarnya tidak berkembang, makin tidak rasional. Dalam surah At-Tiin, Allah menyampaikan, manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam kondisi ahsanu taqwim, dalam surah At-Tiin pula Allah memberi peringatan bahwa manusia bisa menjadi golongan yang asfala safilin.

Merespon tema, Fadel dari Cilincing, ikut urun pemikiran. Menurut mereka, bukannya maju dan mengembang, pemikiran manusia justru makin mundur dan bodoh. Dewasa ini manusia telah diatur internet, menampikkan moralitas serta ajaran orang-orang terdahulu. Kita telah berada pada era internet of think, berpikir secara internet. Berikutnya kita akan memasuki era internet for everything, dimana segala aspek kehidupan manusia akan terhubung internet. Sayangnya, kita tak memiliki cukup kemampuan untuk menyaring informasi, kita masih mudah terbawa arus.

Orang mukmin itu mengamankan tiga hal: harta, nyawa dan martabat orang di sekitarnya.

Agung, jamaah dari Setiabudi, ikut berpendapat. Ia katakan, “Dulu orang-orang yang unggul, orang-orang yang menguasai ilmu, tidak lantas menjadikannya sombong.” Menurutnya, saat ini tidak ada lagi manusia unggul. Manusia telah memiliki keunggulan yang sama, disebabkan mereka semua memiliki referensi sama, yaitu internet.

Agung lantas menceritakan pengalamannya saat ia memutuskan untuk tidak berinteraksi dengan internet, pergi ke pantai dan merenung. Dalam keadaan itu, ia justru mendapatkan pencerahan dan informasi-informasi baru dan mulai bisa berpikir secara mendalam (deep thinking).

Memberi jeda diskusi, Balte Irama, kelompok musik asal Tanah Abang, membawakan musik dangdut dengan sentuhan melayu. Setelahnya, Restu Prawiranegara, menyapa jamaah dengan pembacaan puisi.

Kenduri Cinta berupaya menyuguhkan tema-tema yang berkesinambungan setiap bulannya. Pada maiyahan di berbagai tempat, tema-tema serupa juga secara paralel dibahas, meski dengan judul yang tak sama. Fahmi Agustian, penggiat miyahan yang seringkali menghadiri forum-forum maiyahan di banyak tempat, mengungkapkannya.

Seperti halnya tema ‘evolusi enam tahap’ malam itu, sebuah ‘mata kuliah’ lama yang akhir-akhir ini diangkat kembali oleh Cak Nun. Benda-benda, tetumbuhan, binatang, manusia, abdullah dan puncaknya khalifatullah, itulah 6 tahap evolusi yang dimaksudkan.

Puncak evolusi ialah khalifatullah, di Alquran pun ditegaskan demikian, bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi; Innii jaa’ilun fi-l-ardhli kholifah. Manusia telah dianugerahi akal, hati dan nafsu, maka layaknya kita mampu menyeimbangkan ketiganya.

Khilafah adalah kehendak Allah; Innii jaa’ilun fi-l-‘ardhli kholifah.

Kesadaran Abdullah

“Islam memiliki metode puasa sebagai latihan untuk menahan diri,” lanjut Fahmi. Seharusnya, manusia sudah lulus saat mencapai tahap ini, ia mampu menahan diri, mampu mengendalikan diri, menyinergikan hati, akal dan nafsu dalam dirinya agar tidak ada yang dominan antara satu dan lainnya. Tahap berikutnya, ia sudah mampu mencapai evolusi tahap ke-5 yaitu abdullah.

Kesadaran abdullah adalah kesadaran seorang hamba Allah. Perilaku seorang abdullah bersandar pada tauhid, menyadari bahwa semua yang dimiliki adalah milik Allah, bukan miliknya. Dampaknya, Allah menjadi pertimbangan utama dalam setiap tindakan dan pengambilan keputusan. Puncaknya adalah evolusi tahap ke-6, yaitu khalifatullah.

Tindakan-tindakan khalifatullah atau khalifah tidak akan menentang aturan main yang ditetapkan Allah. Dalam bernegara misal, setiap keputusan politik akan menjadikan Allah sebagai pertimbangan utama. Pemimpin yang khalifatullah menyadari bahwa ia membutuhkan bimbingan Allah. Dalam khazanah Jawa kita mengenal manunggaling kawulo Gusti, menyatunya keinginan rakyat dengan kehendak Tuhan.

Menyambung Fahmi, Ali Hasbullah menyampaikan hal serupa. Dalam Alquran surah As-Sajadah 4, dijelaskan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi serta yang ada diantara keduanya dalam enam hari. Masa penciptaan enam hari juga disebut dalam Bibel. Maiyah menadaburi “penciptaan enam hari” itu dengan evolusi enam tahap. Pada ayat lain juga dijelaskan bahwa penciptaan menggunakan terminologi kun fayakuunJika dipahami dengan artikulasi bahasa Arab, maka proses penciptaan itu masih terus berlangsung; fayakuun (fi’lun mudhori’), bukan fakaana (fi’lun maadhin).

Ali Hasbullah meyakini, evolusi tahap ke-6, mencapainya manusia pada tahap khalifatullah, telah terjadi pada masa Nabi empat belas abad silam. Kita mengenalnya sebagai masyarakat Madani. Tema Kenduri Cinta “Evolusi ke-4 minus” cukup dapat menggambarkan bahwa manusia belum menjejaki evolusi sebagai manusia, sifat-sifat binatang masih dominan dalam dirinya.


“Penderitaan itu datang dari luar diri manusia, dengan kesabaran penderitaan-penderitaan itu dapat diolah menjadi kenikmatan.”

Emha Ainun Nadjib, Kenduri Cinta (Juli, 2017)

Diskusi makin memadat dengan pembahasan tentang isu terkini yaitu pembubaran organisasi oleh pemerintah, organisasi yang mengusung isu kekhalifahan dalam banyak kampanyenya.

Fahmi mengingatkan, bahwa diskusi serta pemahaman-pemahaman yang ada di Maiyah tidak diterima begitu saja. Perbedaan pandangan harus dihargai. Pemahaman tentang khilafah sangat mungkin berbeda.

Merujuk pada tulisan-tulisan Cak Nun, khilafah adalah kehendak Allah, dalam Alquran hal itu jelas disebutkan, Innii jaa’ilun fi-l-‘ardhli kholifah. Namun, ada yang memahami konsep khilafah dalam bentuk pemahaman-pemahaman yang padat. Penerapan khilafah itu ibarat kita akan bertani tetapi tanahnya belum siap, masyarakatnya belum siap. Khilafah merupakan puncak peradaban dari evolusi enam tahap yang dibahas sebelumnya. “Kita ditagih untuk As-Silmi, bukan Al-Islam, karena Islam begitu besar. Udkhuluu fi-s-silmi kaffah,” terang Fahmi, “Yang ditagih oleh Allah adalah semampu-mampu kita berbuat baik untuk menuju Islam, itulah silmi yang dipahami di Maiyah.”

Berlandas pada ayat udkhulu fi-s-silmi kaffah, Cak Nun banyak menyarankan untuk menggunakan metode As-Silmi, berbuat baik sebisa dan semampu kita. Sama dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, bahwa orang mukmin itu harus mampu mengamankan setidaknya tiga hal: harta, nyawa dan martabat orang-orang di sekitarnya. Dengan konsep itu, cukup untuk bekal mencapai khalifatullah.

Bahwa khilafah juga dipahami sebagai tata kelola negara, hal itu mungkin saja. Output-nya adalah berkah bagi seluruh umat manusia, kita mengenalnya dengan istilah baldatun thoyyibatun wa robbun ghoffur. Kita mungkin menuju itu, tetapi setidaknya, di Maiyah, kita sudah nyicil dengan konsep sederhana yang diajarkan Rasulullah SAW, yaitu memampukan untuk mengamankan harta, nyawa dan martabat orang-orang di sekitar kita.

“Maiyah berkumpul dengan ikatan tali-tali nilai. Tugas manusia hanya melakukan apa yang diperintahkan Allah.”

Emha Ainun Nadjib, Kenduri Cinta (Juli, 2017)

Perjuangan Menuju Kesejatian

Menjelang tengah malam, Cak Nun turut menjabarkan tema enam tahap evolusi, yang menurutnya adalah salah satu cara Maiyah dalam merespon zaman. Praktisnya, tahapan evolusi dijalankan dialektis dan simultan, 4 – 5 – 6; manusia – abdullahkhalifatullah.

Cak Nun menarik benang merah antara “evolusi enam tahap” dengan terminologi yang terdapat pada surah At-Tiin. Evolusi disini sebaiknya tidak dipahami secara linier historis, melainkan secara peradaban dan nilai. Pada surah At-Tiin, evolusi menggunakan empat istilah, yaitu: At-Tiin, Az-Zaitun, Siin (Sinai) dan Baladil Amiin.

At-Tiin perlambang dari Buddhisme. Cak Nun menadaburi era Buddhisme sebagai era dimana manusia telah mencapai kesadaran yang telah lepas dari tujuan-tujuan yang bersifat materi, berhenti mengejar dunia. Pencapaian yang sebenarnya telah dicapai manusia jauh sebelum era Musa, Isa dan Muhammad.

Buddha menolak materialisme. Buddha menemukan bahwa hidup hanya senda gurau, memilih untuk menempuh pencarian diri dan kesejatian. Senada, Cak Nun mengingatkan bahwa yang ditagih nantinya adalah proses perjuangan menuju kesejatian.

Penderitaan datang dari luar diri manusia. Namun dengan kesabaran, teknologi internal pada manusia, penderitaan-penderitaan itu dapat diolah menjadi kenikmatan. Maiyah adalah tarekat dalam mengelola teknologi internal itu.

“Yang nyaman itu yang mana, rasa di lidah atau fungsi makanannya?” tanya Cak Nun. “Kadang tidak punya duit lebih bermanfaat daripada punya duit. Kadang-kadang, tidak makan itu lebih sehat daripada makan. Kenikmatan bukan tergantung duitnya berapa, tetapi tergantung kemampuan anda untuk mengikhlasi duit yang anda miliki,” tambah Cak Nun.

“Di Maiyah orang tidak memperebutkan apa-apa, tidak untuk merasa unggul dari orang lain, tidak untuk menang dan kalah.”

Emha Ainun Nadjib, Kenduri Cinta (Juli, 2017)

Cak Nun mengandaikan tahapan evolusi seperti meminum jamu. Jika dominasi apresiasi adalah rasa pahitnya, maka kita belum beranjak dari evolusi ke-4. Untuk menapaki tahapan evolusi ke-5 (abdullah) atau bahkan tahap ke-6 (khalifatullah), kita musti mampu menyadari bahwa jamu itu baik bagi tubuh, sepahit apapun rasanya.

Terhadap peran dan posisi Maiyah, Cak Nun menyampaikan, sebelum hari ini Maiyah adalah tenaga pendorong dari mesin kebaikan atau kemaslahatan. Pada masa depan, Maiyah akan berfungsi sebagai tembok pemantul atas segala macam kerusakan dan kezaliman. Semua itu akan dipantulkan kembali kepada yang melemparnya. Maiyah tak terpengaruh pada situasi apapun yang terjadi di luar dirinya.

Maiyah telah memiliki falsafah-falsafah hidup yang membuat manusia-manusia Maiyah berlaku tangguh, kuat menjalani kehidupannya. Falsafah seperti nandur, puasa, sedekah dan sebagainya, yang mana semua itu telah dibiasakan dalam lelaku kehidupan sehari-hari.

Cak Nun menegaskan, apa yang dilakukannya telah sesuai dengan Lauhil Mahfudz. Kuda-kuda Cak Nun pun jelas: tauhid. Meski seringkali terlihat banyak jamaah yang ngalap berkah (meminta doa dengan media air) tetapi Cak Nun tetap kokoh dengan pondasi Laa haulaa wa laa quwwata wa laa shultoona illa billahi—l’aliyyi-l-adhziim. Tugas manusia hanya melakukan apa yang diperintahkan Allah.

“Maiyah berkumpul dengan ikatan tali-tali nilai,” tutur Cak Nun. Maiyah adalah gelembung yang terbangun atas niat suci orang-orang yang datang. Di Maiyah orang tidak memperebutkan apa-apa, tidak untuk merasa unggul dari orang lain, tidak untuk menang dan kalah.

Indonesia akan mengasyikkan, membahagiakan, menyejukkan, menyedihkan atau bahkan menjijikkan, tergantung pada tahapan evolusi setiap masing-masing diri. 


Allah adalah Maha segala-galanya. Aturan main telah dirancang-Nya namun dengan sekejap itu bisa dibatalkan-Nya.

Ijtihad tentang terminologi-terminologi di Maiyah bukanlah tafsir final, setiap jamaah Maiyah telah memahami bahwasanya mereka memiliki kebebasan dalam memilih. “Kalau di sini (Maiyah) kita mencari kesejatian, proporsi yang tepat, kuda-kuda yang kokoh dalam kehidupan, kita nyicil terus terminologi-terminologi Alquran,” jelas Cak Nun.

Begitu juga dengan istilah baldatun thoyyibatun wa robbun ghoffur, dimana pencapaian itu tidak bisa dilihat kasat mata. Seperti halnya evolusi nilai dan peradaban dalam surah At-Tiin yang telah dibahas sebelumnya.

Hanya saja manusia mandeg tidak mau berevolusi menuju yang lebih baik. Manusia berhenti pada Taurat tidak mau berevolusi menuju Injil. Orang berhenti pada Injil, tidak mau berevolusi menyempurna menuju Alquran. Sementara orang Islam yang telah sampai kepada Alquran tetapi sistem nilai yang berlaku dalam dirinya masih pra Buddha, masih mengejar materi yang seharusnya menjadi hal sekunder dalam hidupnya.

Malam itu, Cak Nun juga membahas tentang keadaan umat Islam yang kini dipecah-belah, diadudomba dan bahkan dituduh memberontak pada pemerintahan.

“Kita harus mulai belajar untuk merundingkan beberapa istilah dalam Islam yang menjadi milik kita bersama, (istilah itu) jangan dijadikan brand untuk kelompok,” kata Cak Nun sembari mengingatkan untuk tidak anti pada istilah khilafah, karena khilafah itu istilah yang Allah sendiri memerintahkannya. Maiyah memaknai khilafah sebagai tugas manusia di muka bumi; Innii jaa’ilun fi-l-ardhli kholifah. Jika kita anti pada khilafah, maka kita akan berhadapan dengan Allah.

Beranjak, Cak Nun menjelaskan tentang asmaul husna. Allah itu Maha segala-galanya. Bahwa dalam asmaul husna kita mengenal 99 sifat Allah, namun kita musti meyakini bahwa Allah adalah Maha segala-galanya. Allah pemilik semesta alam. Aturan main telah dirancang-Nya namun dengan sekejap itu bisa dibatalkan-Nya.

“Thoriqot adalah bagaimana caramu berjalan. Ihdina-s-shiroto-l-mustaqiim. Bekal kita adalah tawakkal.”

Emha Ainun Nadjib, Kenduri Cinta (Juli, 2017)

Dalam khasanah Jawa dikenal istilah tan kinoyo ngopo, tan keni tiniro, atau istilah Alquran adalah laisa kamitslihi syai’un. Asmaul husna merupakan sistem administrasi semata agar kita mengenal sifat-sifat-Nya, agar kita menadaburi bersama. Sesungguhnya sifat-sifat Allah lebih dari 99.

Seperti halnya salat yang menghadap kiblat, arah kiblat hanyalah persyaratan administrasi agar kita tak repot ketika melaksanakan salat. Sejatinya, kita tidak menyembah Kabah atau Hajar Aswad, yang kita sembah adalah Allah SWT.

“Hidup manusia itu berjalan atau tinggal?” tanya Cak Nun kepada jamaah. Pertanyaan itu menjadi awal pembahasan tentang istilah sabiil, syari’, thoriq, shirot yang diterjemahkan sama sebagai: jalan.

Jawaban atas pertanyaan Cak Nun diatas sangat bergantung pada bagaimana kita memaknai dan menempatkan kehidupan, apakah sebagai tempat tinggal ataukah sebagai terminal persinggahan menuju tujuan. Cak Nun mengibaratkan hidup semacam outbond saja. Sementara banyak manusia menganggap dunia adalah tujuan, itulah pencapaian evolusi ke-4.

“Anda ini makhluk bumi yang sedang menuju ke surga atau makhluk surga yang sedang mampir ke bumi dan akan kembali ke surga?” tanya Cak Nun lagi, “Anda ini makhluk jasad yang berusaha untuk bertauhid secara rohaniah atau anda ini makhluk spiritual ruhiyah yang disuruh merasakan casing kemanusiaan? Anda ini makhluk jasmani atau ruhani?”

Cak Nun mengibaratkan sebuah perjalanan, sabiil adalah arahnya. Allah mengingatkan untuk mengajak orang yang belum Islam dengan kalimat: ud’uu ilaa sabiili robbika bilhikmah. Kepada orang yang belum Islam, jangan bicara syariat.

Sementara syari’ (syariat) adalah ketentuan, jalan yang dibuat Allah, didalamnya kita menemukan fiqih, ushul fiqih dan lainnya, mengatur bagaimana melalui jalan itu.


“Hidup itu sejatinya gelap dan pekat, maka anda harus mencahayai diri anda.”

Emha Ainun Nadjib, Kenduri Cinta (Juli, 2017)

Perppu rububiyah, Perppu mulukiyah

Malam itu, Cak Nun menyentil kebijakan pemerintah yang mengeluarkan Perppu Ormas. Mengelaborasi istilah dalam surah An-Naas; rububiyah, mulukiyah, ilahiyah, Cak Nun mengingatkan agar kita selalu menjaga sifat dan perilaku rububiyah atau kasih sayang kepada sesama manusia dan kepada sesama makhluk Allah, sifat yang tertanam sebagai sebuah default-system pada diri setiap manusia.

Menurut Cak Nun, lahirnya Perppu Ormas tanpa didahului dengan sikap rububiyah, melainkan langsung menggunakan mulukiyah atau kekuasaan. Pemerintah tidak mengajak berdialog, tidak pernah membuka forum diskusi dengan organisasi (HTI), tidak ada rembug, tetapi langsung melahirkan Perppu. Cak Nun mengingatkan, akibat tindakan sepihak itu, pemerintah akan njungkel dengan sendirinya.

Forum dilanjutkan dengan memberi waktu kepada Rizal, aktivis yang sebelumnya ditangkap pemerintah dengan tuduhan makar. Tuduhan itu tidak bisa dibuktikan. Namun ia tetap menjalani hukuman penjara selama enam bulan lima belas hari, dengan pengenaan pasal UU ITE.

Rizal mengakui keterlibatannya dalam pengorganisasian massa pada Desember silam. “Perlawanan itu saya lakukan atas dasar keikhlasan saya melakukan perubahan, saya melakukan ini untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara,” pungkas Rizal.

Cak Nun sampaikan, letak Pancasila dalam evolusi enam tahap adalah evolusi ke-4 plus. Artinya, nilai-nilai luhur Pancasila dijalankan manusia yang melewati evolusi ke-4. Faktanya, Pancasila tidak sungguh-sungguh diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Yang ada adalah manipulasi kata atau idiom pancasila untuk maksud-maksud kekuasaan,” lanjut Cak Nun. Termasuk kata islam, yang ada pemahaman-pemahaman bias terhadap islam, ketergesaan penghayatan terhadap islam.

“Jika kita anti pada khilafah, maka kita akan berhadapan dengan Allah.”

Emha Ainun Nadjib, Kenduri Cinta (Juli, 2017)

“Saya ingin mengatakan kepada yang sedang gencar-gencarnya ingin menguasai Indonesia, asetnya, dengan cara memecah belah umat: anda masih punya kesempatan, mundur satu langkah, berpikir ulang. Karena anda tidak paham yang anda tindas. Anda tidak paham secara menyeluruh apa yang anda kuasai.

“Anda pikir anda sudah menang, sebenarnya belum. Anda pikir sudah menguasai semua, sebenarnya tidak. Apalagi sekarang sudah sampai tingkat penghinaan yang luar biasa,” Cak Nun mengungkapkan keprihatinan mendalamnya.

Jamaah Maiyah diajak untuk tidak berkecil-hati dan merasa kesepian. Ada banyak lapisan, luasan, segmen, detil-detil kekuatan yang tak kasat mata, yang bahkan tidak dipahami oleh negara serta pemerintahannya.

Banyak pihak merasa sudah menaklukan Islam, dengan cara membatasi ruang gerak Ormas-ormas Islam, dengan bentuk-bentuk bantuan mereka dibungkam dengan uang.

Namun, kekuatan rakyat kecil berbeda. Rakyat kecil berkali-kali dibodohi, dibohongi, justru hal itulah yang menjadi kekuatan mereka di hadapan Allah. Allah akan merasa tidak tega dan akan menurunkan pertolongan.

Cak Nun mengingatkan bahwa masih ada sekian barikade umat yang akan dihadapi apabila perlakuan terhadap Islam terus menerus seperti hari ini. “Kalau ada pencopet anda tangkap, saya bela penegakkan hukumnya. Tapi kalau si pencopet kamu ludahi, kamu tendang-tendang kepalanya, saya bela itu pencopet!” tegas Cak Nun.

“Anda pikir itu kekuasaan, padahal itu kebodohan. Saya ingin mengingatkan, sebagai orang tua, kamu tidak kenal siapa dan apa sebenarnya yang kamu hadapi. Kamu hanya kenal 2-3 batalyon, kamu tidak kenal batalyon yang tidak kelihatan, kamu tidak paham logika wa nuriidu an-namuuna ‘alalladziina-s-tudl’ifuu fi-l-ardhli wa naj’aluhum aimmatan wa naj’aluhumu-l-waaritsiin (Al-Qhosos 5),” Cak Nun kembali tegaskan.

“Kemuliaan yang tertinggi adalah jika Allah rida dan kelak berkenan menerima kita.”

Emha Ainun Nadjib, Kenduri Cinta (Juli, 2017)

Kembali Cak Nun menyampaikan, “Anda jangan benci khilafah. Anda jangan anti-khilafah. Itu nanti urusannya sama Allah. Bahwa pendapat HTI mengenai khilafah berbeda dengan saya, itu soal intelektual. Tapi soal hakikat perintah khilafah, itu perintah Allah.”

Cak Nun memiliki pandangan, khilafah itu seperti benih, mandat dari Allah kepada manusia untuk mengelola alam semesta. Ia harus disemai, harus ditanam, kemudian dirawat. Benih itu bisa saja ditanam di tempat atau tanah yang berbeda-beda, yang ramuannya tidak sama. Ada tanah yang menghasilkan khilafah dalam bentuk republik, ada khilafah yang berbentuk kesultanan, persemakmuran dan sebagainya.

Dalam pandangan Cak Nun, khilafah itu bisa cukup dalam lingkup komunitas saja seperti Kenduri Cinta dan Maiyah ini. Kerajaan Nabi Sulaiman dahulu juga salah satu bentuk khilafah, karena Nabi Sulaiman berhasil menaklukan makhluk-makhluk Allah untuk dijadikan pasukan.

Dalam sela-sela diskusi, Cak Nun ingat nasehat ibundanya, pada tahun 90-an, saat Cak Nun pada posisi dilema antara harus berpidato di depan massa partai politik dan sikap non-partisan yang ia jalani saat itu.

Di tengah kebingungan itu, ibunda mengatakan kepada Cak Nun, “Wong urip iku gampang. Pokok’e nggawe apik terus, ndik ndi ae karo sopo wae.” (Hidup itu gampang, berbuat baik terus, dimanapun dan kepada siapapun.)

“Begitu kamu berbuat baik, Allah kasih hidayah kepadamu. Harus melakukan apa, melangkah kemana, seberapa dan seterusnya. Allah akan kasih panduan kepadamu,” ucap Cak Nun mengingat nasehat ibundanya.

Seperti halnya Maiyah, jika tidak karena hidayah Allah, tidak akan bisa bertahan puluhan tahun hingga kini. Cak Nun sendiri telah mengalami tekanan-tekanan politik sejak tahun 80-an.


“Kalau pencopet anda tangkap, saya bela penegakkan hukumnya. Tapi kalau si pencopet kamu ludahi, kamu tendang-tendang kepalanya, saya bela itu pencopet.”

Emha Ainun Nadjib, Kenduri Cinta (Juli, 2017)

Kesadaran Akan Keberadaan

Forum lantas diserahkan ke Sabrang, yang pembahasannya malam itu juga berkaitan dengan tema evolusi.

Ia jelaskan, kesadaran awal manusia adalah kesadaran tentang keberadaan. Ketika pada tahap tumbuhan, ia tidak hanya ada tetapi berkewajiban untuk tumbuh. Namun, biji tumbuhan tidak bisa memilih dimana ia akan jatuh. Jika jatuh di tempat tepat, ia akan tumbuh. Sebaliknya, jika ia jatuh di bebatuan, ia akan mati. Ketika ia punya kesempatan untuk hidup, ia (daun-daun) tumbuh mencari cahaya. “Kita pada tahap ini diajarkan untuk tidak hanya berada, tetapi juga tumbuh. Tumbuhnya pun tidak hanya random tapi mencari cahaya,” kata Sabrang.

Pada tahap hewan, ia tak hanya tumbuh, tapi juga bertanggungjawab. Ketika hewan lapar, ia mencari makan. Ia bisa berpindah, bisa berburu, berbagi dan seterusnya. Tanggungjawabnya bertambah.

Manusia; ia mulai menyadari bayangan dirinya. Mulai menyadari keberadaan dirinya. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya hidup. Ia memiliki akal untuk berproses menjalani hidup. Tidak hanya tumbuh, tidak hanya bertanggungjawab untuk hidup tetapi juga mencari pemahaman yang lebih. Kalau hanya sekadar hidup, manusia tidak perlu mengenal marah, cemburu, jatuh cinta, patah hati, penderitaan dan sebagainya. Itulah dinamika manusia.

Tingkat berikutnya, yaitu abdullah. Mengabdi kepada Tuhan. Ketika kita mengatakan “takut kepada Tuhan” kita musti menanyakan “takut yang mana”. Sabrang membongkarnya, “Ada banyak jenis ketakutan: takut yang dipura-purakan takut atau ditakut-takuti sama orang atau memang karena dia tahu sehingga dia takut.”

Makin kenal manusia akan alam, makin bertambah ilmu pengetahuannya. Semakin banyak ia mengetahui, semakin ia tahu bahwa ia bukan siapa-siapa. Pengetahuan (bahwa dia tidak tahu) itu menumbuhkan “ketakutan” yang orisinil, yang datang dari pengetahuan dalam dirinya, bukan dari orang lain. Ketakutan itu mengakibatkan ia sadar bahwa pengabdiannya bukan lah pilihan, melainkan keniscayaan.

“Makin kenal manusia akan alam, makin bertambah ilmu pengetahuannya. Semakin banyak ia mengetahui, semakin ia tahu bahwa ia bukan siapa-siapa.”

Sabrang MDP, Kenduri Cinta (Juli, 2017)

Setelah manusia mengetahui limitasi pengetahuan, mulailah ia mengetahui bahwa pengabdian itu manifestasinya adalah menjadi khalifah. Bagaimana bisa mengatur, bisa menata, jika ia tidak bisa menata dirinya.

Apabila melihat biji tumbuhan jatuh di atas batu, ia akan memindahkannya ke tanah agar dapat tumbuh, karena ia sadar pohon tidak bisa melakukannya sendiri. Mulai banyak terjadi manifestasi-manifestasi, terjadi banyak tajalli dari Tuhan sehingga ia lebih mengenal Tuhan, menjadi khalifah yang sebenarnya.

Cak Nun menambahkan, mengenai ayat dalam Alquran; Innama yakhsyallah min ‘ibadihi-l-ulamaa’. Ulama dalam pemahaman umum adalah orang menguasai ilmu agama, seperti fiqih, aqidah, usul fiqh dan sebagainya. Namun, jika diterjemahkan, ayat tersebut mengatakan bahwa yang takut kepada Allah hanyalah ulama. Jadi, apakah selain ulama tidak ada yang takut kepada Allah? Atau semua yang takut kepada Allah adalah ulama?

Berdasar ayat itu, Cak Nun miliki rumusan bahwa yang takut kepada Allah itulah yang disebut ulama. Ulama itu boleh penjual angkringan, boleh tukang ojek, boleh guru, boleh pedagang, boleh kiai, boleh presiden boleh siapa saja. Asal ia takut pada Allah, maka ia adalah ulama.

Hal ini senada dengan paparan Sabrang sebelumnya bahwa ia yang makin banyak mengetahui dirinya adalah khalifatullah. Kesadaran khalifatullah inilah yang menyempurnakan penciptaan manusia. Hanya manusia pada evolusi ke-4 yang mampu menata, menyelamatkan atau mencelakakan.

Setelah permainan musik dari kelompok musik Balte Irama, forum lantas dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab. Jamaah tak hanya bertanya, juga seringkali berpendapat. Hal inilah yang menjadikan forum makin hangat meski waktu menginjak dini hari.


“Wong urip iku gampang. Pokok’e nggawe apik terus, ndik ndi ae karo sopo wae. Begitu kamu berbuat baik, Allah kasih hidayah kepadamu. Harus melakukan apa, melangkah kemana. Allah akan kasih panduan.”

Emha Ainun Nadjib, Kenduri Cinta (Juli, 2017)

Merespon berbagai pertanyaan, Sabrang menawarkan dua metode, think deeply (berpikir mendalam) dan think clearly (berpikir jernih). Ia anjurkan, saat menyikapi persoalan, jangan langsung menggunakan cara berpikir yang mendalam, utamakan kejernihan berpikir.

Berpikir jernih hanya bisa dilakukan saat kita rileks. Ketika kita berada dalam situasi serius, akan banyak informasi yang tidak bisa kita ingat. Begitu kita mengambil jarak (rileks), kita akan banyak mengingat. “Kadang-kadang kita bisa menemukan jawaban saat berpikir mendalam, kadang kita harus mundur, rileks agar jernih berpikir, menampung semua pemahaman sehingga menemukan jawaban dari sudut pandang yang berbeda,” pungkas Sabrang.

Mengakhiri forum, Cak Nun menekankan jamaah untuk  terus menjaga keutuhan serta keharmonisan keluarga. Pernikahan lebih penting dibanding negara. Pernikahan adalah perintah Allah, sementara negara adalah ijtihad manusia.

Cak Nun sampaikan, keadaan Indonesia yang sedemikian rusak ini tidak akan mengakibatkan rakyat Indonesia akan hancur. Cak Nun memberi kunci, rakyat Indonesia akan terhindar dari kehancuran karena rakyat Indonesia serius dalam membina keluarga, serius dalam menjaga keutuhan rumah tangganya.

Pada penghujung acara, Cak Nun berpesan kepada jamaah Kenduri Cinta agar menjaga stamina, menjaga daya berpikir yang seimbang, menjaga pijakan-pijakan.

Tak terasa waktu telah menunjuk pukul empat dini hari. Forum Maiyah Kenduri Cinta ditutup dengan doa bersama.