Eling Sangkan Paraning Dumadi

Catatan Sinau bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng – Mungkid Magelang

Beberapa hari sebelum acara, terlihat para pemuda dan ibu-ibu gugur gunung membersihkan lingkungan. Bapak-bapak tak ketinggalan pula guyub rukun membuat senthir, umbul-umbul, gapura serta memasangnya di sepanjang akses masuk desa. Akhirnya malam yang dinanti oleh masyarakat Sirad, Desa Mungkid, Kabupaten Magelang pun tiba. 19 Desember 2015 di pelataran masjid Nurul Islam masyarakat Sirad juga jamaah Maiyah dari berbagai kota makempal ing tlatah pakuning Jawa.

Menggagas tema Eling Sangkan Paraning Dumadi, Cak Nun melihat masyarakat yang sumringah, bangunan-bangunan lama yang masih bertahan, tanah-tanah mayoritas masih hak milik pribumi begitulah seharusnya ibu kota negeri ini. Untuk menjadi ibu kota dibutuhkan kebudayaan yang mendalam, ketangguhan manusia, keyakinan yang kuat di sekitarnya. Beliau menganalogikan sebuah keris, keris itu kuat belum tentu karena bahan material kerisnya, namun kuat dikarenakan kesepuhannya. Terdapat hubungan antara besi dengen kekuatan dalam diri manusianya yang berasal dari Allah SWT.

KESADARAN SEJARAH

“Cah enom, mulai sinau ning mbah-mbah mu, mikul duwur. Kowe arep ning endi, mlaku neng ngarep neg ora ngerti masa lalune. Ojo gumunan karo dunia internasional, kae ming wong-wong cethek. Lek kowe kabeh wong-wong jero, ning ming ra do cukup percoyo karo awake dewe. Akhire kowe melu ning cethekan2 soale ning jeru- wes kelompoken,” urai Cak Nun.

Mengenai derasnya infomasi, Cak Nun mengingatkan bahwa janganlah memasukkan apapun kecuali yang ada hubungannya dengan sangkan paraning dumadi. “Facebook, koran, televisi, gawe iseng-iseng wae. Sebab lek kowe ndelok TV kowe dadi cah cilik,” papar Cak Nun.

Cak Nun mulai mengingatkan proses manusia dari cah cilik, remaja, muda, dewasa, tua, sepuh. Kaum muda harus mulai belajar tentang kasepuhan. Nyinaoni sek wes mesti mulo bukane, sek awet, abadi lan sek lestari. Eling sangkan paraning dumadi, Sinau ning godhong, gedhang wit-witan, sinau sak konco-koncone ben dadi sahabat sejati. Dari tema Eling Sangkan Paraning Dumadi, penyelenggara ingin masyarakat melihat ke belakang, belajar kembali pada sejarah.

Bersama dalang Pak Sih Agung Prasetyo, Cak Nun mengupas asal muasal kata eling sangkan paran dumadi. Eling berarti ingat, sangkan paran yakni asal muasal dan paran-e atau menuju, tujuan. Dalam Islam sama dengan innalillahi wa innailahi roji’un, dari Allah dan menuju ke Allah.

Tentang asal muasal sebelum adanya alam semesta, Cak Nun menggarisbawahi bahwa ada Dzat Yang Maha Dahsyat yang kita menyebutnya Allah. Kemudian karena cintanya pada makhluk yang pertama, Nur Muhammad (Cahaya yang terpuji), Allah berkenan menciptakan alam semesta beserta ubo rampe-nya. Lalu, dalam berita langit dari Alquran, Allah berfirman akan menciptakan khalifah di bumi. “Dan inti sangkan paraning dumadi adalah pentingnya kesadaran sejarah. Kesadaran sejarah adanya dan terjadinya manusia,“ papar Cak Nun.

Belajarlah pada kebesaran nenek moyang.
Emha Ainun Nadjib, Mungkid, Magelang (Des, 2015)

Khasanah Jawa mengenal bapak, simbah, buyut, canggah, wareng, udeg-udeg, gantung siwur, debok bosok dan bahkan hingga 18 tingkat. Hal itu merupakan bukti peradaban nenek moyang yang luar biasa. Itulah yang hilang dari anak muda sekarang, banyak yang tidak mengetahuinya. Cak Nun mencontohkan, anak muda sekarang tidak tahu Soekarno, Soeharto itu baek ndak, bedane Orde lama, orde baru, PKI, ora ngerti. Oleh karenanya kalau ada 10 atau 5 saja anak muda dari desa ini yang mau belajar, meluangkan waktu nyinaoni desane. Maka akan melahirkan generasi mendatang yang luar biasa.

Bergeser pada babagan pewayangan, Cak Nun mengurai bahwa wayang, gamelan adalah ujung tombak dakwah walisongo mengenalkan Islam di negeri ini. Folosofi yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga dan para leluhur merengkuh hati masyarakat sehingga Islam masuk dengan perdamaian, kasih sayang dan penuh ketentraman.

Semar adalah bapak angkatnya Bagong, Gareng, Petruk. Lalu bagaimana pebedaan Semar dengan Panembahan Ismoyo yang digadang-gadang merupakan satu kesatuan. Cak Nun dan Pak Sih menguraikan, secara wujud panembahan Ismoyo dari kalangan Brahmana dan Semar adalah kawula. Panggonan Panembahan Ismoyo berada di Kahyangan, Suroloyo, sedang Ki Semar Bodronoyo lurah Kaang Kadempel bertempat di dunia. Posisi Batara Ismoyo berada di atas Batara Guru. Dan Semar juga Batara Ismoyo merupakan satu titik, ya rakyat juga pemimpin. Analoginya bunder bukan bersifat tahta dan tingkatannya secara vertikal. Maka, wong cilik atau kawulo, itu juga satriyo, atau brahmono.

Lha nag ngono nopo kok saiki ngaku wong cilik, padahal njenengan kabeh sek mbayari bupati, gubernur, presiden? Posisi rakyat dalam demokrasi ataupun dalam dunia pewayangan sama yakni rakyat adalah dewa. Pemerintah adalah orang suruhan kita, yang dibayar untuk mengurus negara,” jelas Cak Nun.

Di Jombang, Mojokerto, terdapat tokoh perempuan yang bernama Gayatri yang memiliki peran sebagai pemimpin di belakang layar kerajaan Majapahit yang pernah bertata sampai sebegitu besarnya. Dan di sekitar tempat inilah raja paling tegas sepanjang Nusantara berada. Raja yang konsisten, paling punya kedalaman peradaban yaitu Ratu Sima. Ratu yang istimewa karena kebijaksanaannya. Beliau adalah lambang keadilan dan ketegasan hukum. Sampai pada suatu ketika adiknya sendiri dipenggal kepalanya karena menghina tamu-tamunya. Ratu Sima adalah tokoh hukum yang luar biasa. Sampai untuk membuktikan kemakmuran dan keamanan negaranya, di dekat Sungai Pabelan, Sang Ratu pernah menaruh sekeranjang emas di tengah jalan dan sampai tiga tahun emas itu tak pernah ada orang yang berani menyentuhnya. Kalau orang Barat baru-baru ini baru mengampanyekan feminisme, kesetaraan gender, padahal sejak zaman Ratu Sima telah memimpin hal tersebut sudah dijalankan oleh para leluhur bangsa ini.

“Inti sangkan paraning dumadi adalah pentingnya kesadaran sejarah. Kesadaran sejarah adanya dan terjadinya manusia.”
Emha Ainun Nadjib, Mungkid, Magelang (Des, 2015)

mungkid1

TAMBANG INSAN

Sejenak Cak Nun menyerahkan jalannya acara kepada Pak Tanto Mendut, Presiden Komunitas Lima Gunung untuk menjelaskan tentang sejarah daerah Blabak, Mungkid, Magelang. Budayanya, laku orangnya dan ubo rampenya. Menurut Pak Tanto yang penting dari Magelang bukan tambang pasir di Merapi atau tambang emas di Freeport, namun yang paling utama adalah tambang insannya dan itu adalah, “Njenengan semua, manusia didalamnya.” 9 tahun terakhir Pak Tanto bersama Gus Yusuf Chudlori, pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo, mengupas tema Alam, Insan dan Zaman setiap bulan Suro. Tambang Rahmatan lil ‘alamin yang sejati ialah alam, insan, zaman beserta ubo rampe-nya dan itu semua berasal dai Allah SWT.

Pak Tanto mengisahkan dulu Belanda membangun Stasiun Blabak, Pabrik kertas Blabak karena mengetahui potensinya, bahwa kertas adalah alat penyebaran ilmu, media pendidikan, maka Belanda mengenali daerahmu untuk orientasi ke depannya. Sejak tahun 60-an di Magelang sudah banyak rumah dengan halaman luas sebelum perumahan-perumahan elit di indonesia ada. Di Magelang terdapat banyak sungai, sampai ada desa bernama Tumpang di daerah Sawangan, yang desanya berdiri diatas air melimpah sampai bertumpang-tumpang. Ini semua merupakan hadiah dari Allah, disini beras dipepe, air melimpah, banyak dalang. Dan yang tertua itu adalah dalang Kedu, bahkan ada dalang yang telinganya tuli namun kalau ada gamelan kurang pas dia tahu seperti Beethoven dari Jerman itu.

Tambang Insan di Magelang seperti Kiai Hamam Dja’far dari Pondok Pabelan, Pak Komarudin Hidayat mantan Rektor UIN Jakarta, Habib Chirzin Ambasador perdamaian dunia. Borobudur pun dibikin oleh orang Merapi, Sumbing, Andong, Merbabu, bahkan mereka dari gunung pun sudah tahu adanya perahu atau kapal dan mengukirnya di relief candi. Pak Tanto berpesan yang penting daya juang kita ndak pernah menurun, jangan pernah menyerah dengan kehidupan. Kalau orang di Mahkamah itu bukan tidak punya malu tapi mereka tidak mengerti artinya malu. Dia ra ngerti lek bodo.

Tambang insanlah yang paling utama. Contoh real-nya kita bisa belajar dari Singapura, negara kecil itu pesawat Air Asia-ne parkir dimana-mana, mereka ra duwe tambang alam neng maju kabeh. Cak Nun menambahkan sampai sekarang tidak ada arsitek yang bisa bikin seperti Borobudur, bahkan memahami teknologinya. “Belajarlah pada kebesaran nenek moyang. Bahkan kalau kemudian jika terbukti Borobudur punya Nabi Sulaiman. Dan sepertinya perang Bharatayuda itu ya di daerah Muntilan-Kedu kene iki medan laganya, Padang Kurusetra. Dan itu luar biasa jika para pemuda sini ra ketang seminggu pisan kumpul nglumpukke data,“ pesan Cak Nun.

“Sak elek-elek e wong ayo digolek apik e. Terserah kalau mereka mencari gelap setelah adanya terang. Tapi kita harus konsisten mencari terang setelah kegelapan.”
Emha Ainun Nadjib, Mungkid, Magelang (Des, 2015)

ANAK TABUNGAN MASA DEPAN

Sejak pukul 21.15 hujan turun cukup deras, namun para jamaah tetap bergeming mendengarkan dengan seksama pemaparan-pemaparan dari Cak Nun. Cak Nun mengingatkan, “Sek pengen entuk berkah tikel tekuk, tetep lungguh, Nek ikhlas hujane ga terlalu lama. Lewat hujan sampeyan diuji, di wuruki, disinauni Gusti Allah sepiro sehate, sepiro tangguhe. Karena apapun yang Allah kasih kepada kita semuanya adalah kebaikan.“

Cak Nun pun mengambil langkah strategis dengan mengajak 14 bocah naik ke panggung untuk menghidupkan suasana di tengah-tengah hujan. Cak Nun mensimulasi anak-anak menjadi dua grup, dan keduanya diberi tantangan mengurutkan berdiri dari yang tanggal lahirnya paling kecil dan yang kedua tantangannya lebih mudah, yakni berdiri berdasar tinggi badan. Dari sana Cak Nun melatih anak-anak tersebut untuk mengambil keputusan cepat dan tegas sejak dini, harus mengenal satu sama lain, untuk menyelesaikan masalah bersama. Maka, terlihatlah anak yang memiliki bakat pemimpin, bakat yang cuek dengan keadaan dan tingkat penyesuaian dii anak tersebut.

Cak Nun mengingatkan tak ada yang lebih unggul, yang ada: belum saatnya untuk bener. Semuanya saling mengingatkan, mendorong saling kreatif untuk masa depan. ditemukan antara silaturahmi dan kebersamaan. Neg congkrah atine gawe opo ae ora dadi, ojo egois, nafsi2. Tiji tibeh, Mukti siji mukti kabeh. Kumpul untuk merintis suk-suk ben mukti kabeh. Mukti itu artinya dewasa sampai ke tingkat yang ditakdirkan oleh Allah, bahwa kalau manusia itu harus seperti itu. Dan sampeyan kabeh kuwi urip gawe anak putumu,“ pungkas Cak Nun.

Sementara itu di sesi dua, Cak Nun juga mendaulat Dalang Sih Agung Prasetyo menggelar wayang kulit uwong yang diperankan oleh 4 anak. Ada yang menjadi Dewi Sinta, Dasamuko/Rahwono, Togog, mbelo adine togog. Berlatar Negoro Ngalengko, Dalang Sih berpesan untuk selalu eling sangkan paran, ojo ngrebut jatahe kancane. Sontak dari awal sampai akhir gelak tawa jamaah tak henti-hentinya melihat kelucuan 4 anak tesebut. Kedua simulasi tersebut tak lain dalam rangka meningkatkan kepercayaan diri anak-anak tersebut untuk percaya pada dirinya dan bangsanya.

mungkid2

OUTCOME IBADAH ADALAH AKHLAKUL KARIMAH

“Sekarang mulai ada pembidahan maulid nabi, jare ra ono hadis e, lha yo sak karep-karepku. Wong aku cinta kok, aku tresno, trus arep ngopo?” Begitulah tanggapan cerdas Cak Nun menjawab maraknya pembidahan maulid nabi. Cak Nun berpesan, kita harus pintar mencari kebenaran, tapi tidak pintar mencari kesalahan: Sak elek-elek e wong ayo digolek apik e. Terserah kalau mereka mencari gelap setelah adanya terang. Tapi kita harus konsisten mencari terang setelah kegelapan.

Penghujung acara, Gus Yusuf Chudlori memuncaki dengan sebuah pertanyaan: kenapa kebudayaan penting? Tradisi, kesenian, wayang penting karena lewat kebudayaan walisongo mengajarkan sejak awal untuk memaklumi orang sak isa-isane, ben ono tauhid-e, tapi di zaman sekarang orang sudah Islam malah diusir-usir, disalah-salahke, dikafir-kafirke.

Allah itu Maha Indah. Mencintai keindahan, dan malam ini pun wujud keindahan yang dicintai Allah masyarakat guyub rukun, bareng-bareng mencintai Nabi Muhammad. Wayang, musik, merupakan wasilah kanggo dakwah leluhur, yang menjadikan Indonesia indah, damai dan tentram. Majlis seperti ini, kumpule sholawat, dalang, kumpule sinten mawon yang menjadikan Indonesia indah. Dan, tujuan akhir pertemuan seperti ini adalah akhlakul karimah.

Rasulullah Muhammad SAW, tugas beliau yang paling utama di muka bumi hanyalah untuk menyempurnakan akhlak. Maka salat yang sempurna adalah salat yang menghasilkan perilaku kebagusan. Sesudah takbir menyaksikan bahwa Allah Maha Besar, bersujud mengakui kita mahluk hina dan lemah, setelah salam yang kita harapkan iso temungkul, tawadhu, andap ashor, itulah ahlak yang seharusnya dihasilkan kita semua.

“Tapi sekarang metu seko masjid malah takabur, ndelok liyane hina, akeh gerakan tasyriki, takfiri. Karena mereka semua masih kulitnya, durung bisa merasakan intinya ibadah. Kudune soyo sregep ibadahe, soyo apik karo sedulur. Neg wes poso romadhon kudune ambah sabar e, ora malah neng ndalan gowo senjata. Kalo ibadah, tolong dimaknai. Tidak cuma toto dhohir e thok, kudu karo batin e barang. Salat nyembah sek kuwoso, seluruh gerak laku hanya fokus kepada Allah. Dengan puasa pula menjadikan manusia berhati lembut, semakin berkasih sayang pada sesama, itulah ahlak yang dihasilkan syariat. Jadi syariat adalah jalan untuk menuju inti ajaran Rasululah yang bernama ahlak,“ urai Gus Yusuf. Gerimis pun datang kembali dan maiyahan malam itu usai pukul 01.30 WIB.

Teks: Nafisatul Wakhidah/Maneges Qudroh