Eksistensi Dasar

KEDALAMAN sungai atau laut sudah pasti diukur dari dasarnya, maka bisa disimpulkan sungai atau laut tersebut dalam atau dangkal. Ketinggian pohon, gedung atau gunung juga diukur mulai dari dasarnya. Dalam setiap Maiyahan Kenduri Cinta, selalu diajarkan mengenai nilai-nilai dasar dalam hal apapun, “in every single point”. Kita tidak akan bisa mengukur kedalaman sungai kalau tidak slulup sampai ke dasar sungai, dasarnya lautan tak akan bisa kita temukan kalau tidak menyelam sampai ke dasarnya. Pemahaman atas dasar – dasar. Inilah yang selalu diajarkan dalam setiap Maiyahan. Mbah Nun sering dhawuh: “Apakah harus ada Al Qur’an atau Kitab Suci lainya dahulu untuk menjadi dasar agar manusia tidak melukai atau membunuh manusia lain?”

Di zaman now yang serba digital dan bikin lumuh ini, ilmu akan dasar–dasar sebagai manusia seakan sudah muspro. Orang akan melakukan apapun untuk mendapatkan dan mencapai tujuanya, tidak peduli cara itu dengan mencubit, menyikut, memukul bahkan menghilangkan nyawa orang lain. Yang penting keinginanya terpenuhi!

Di setiap kegiatan rutin bulanan Maiyahan Kenduri Cinta saya selalu mendapat ilmu dan wawasan mengenai dasar, seakan tak pernah berhenti nilai-nilai Maiyah bak air hujan di Hutan Hujan Tropis. Saat banyak orang yang berbicara mengenai tinggi dan dalam, diskusi ndakik-ndakik di beberapa forum bahkan sampai diliput secara live beberapa stasiun televisi, tapi ilmu dasar sebagai manusia yang hakiki saja meraka jauh dari kata paham, peka pun tidak kalau menurut saya.

Di Maiyah selalu di tekankan dasar kita sebagai manusia itu dari mana, oleh siapa, kenapa, harus apa atau bagaimana, hak dan kewajibanya apa hingga kembali kepada siapa. Karena menungso ya begitu, menus menus panggonane duso.

Manusia memang terkadang lucu, hal mendasar yang sederhana justru dibuat ruwet, njlimet tur mbulet. Kesederhanaan akan ilmu–ilmu dasar kita sebagai manusia disampaikan dengan sangat ringan, luwes bahkan dengan packaging kelakar–kelakar di setiap Maiyahan. Dimana nuansa sinau bareng sangat terasa, tidak ada yang merasa lebih unggul daripada yang lain, tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah daripada yang lain.

Mesra dan istiqomah dalam duduk, bersila, selonjor, berdiri untuk setia menyimak dan sinau bareng dengan tema–tema yang selalu segar dalam acara bulanan Maiyahan Kenduri Cinta. Level atau panggungnya pun hanya berjarak sejengkal dari tanah, tenda juga seadanya, suara yang dikeluarkan dari sound system yang mendukung pun kadang masih bentrok dengan gerobak dangdut keliling. Tapi ya begitulah Kenduri Cinta, tidak pernah menganggap lebih daripada apapun. Ke-istiqomahan atas dasar dan kesepakatan nilai akan Maiyah.

Ngelmu iku kalakone kanti laku

SEGALA hal, baik itu benda, wujud, hawa, cuaca, atmosfer di dunia ini hakikatnya semua adalah Allah. Kita melihat pohon, ada Allah. Merasakan semilir angin, ada Allah. Mendengar merdunya burung berkicau, ada Allah. Melihat dan merasakan hangatnya sinar matahari, pasti ada Allah.

Jadi apapun ilmu yang kita dapatkan selama ini, sejatinya didapat dari setiap elemen perjalanan kita sebagai manusia. Bagaimana kita mau dicintai oleh Allah kalau dengan tanah, air, angin saja kita tidak bisa menyayanginya?!

Kemandirian atas dasar sebagai manusia tentunya juga pasti ada prosesnya, tidak serta merta mak bedunduk bisa kita pahami secara keseluruhan. Maiyah Kenduri Cinta dan Mbah Nun sebagai Mbah kita Bersama berada pada posisi tersebut, untuk nyengkuyung dan meng-gulo wentah cucu-cucu nya. Sebagai tempat untuk sekedar menyandarkan pundak akan letihnya melihat drama kehidupan yang continuity, juga sebagai laboratorium ilmu yang tanpa henti. Maiyah tidak hanya mengajarkan kita untuk bisa memahami akan dasar, tapi juga “Menjadi Manusia Seutuhnya”.