From Reportase Kenduri Cinta

PERJALANAN KEBAHAGIAAN

Segala urusan di dunia bermuara pada dua hal, bahagia atau tidak bahagia, hal itu tergantung pada manajemen peletakan hati dan tatanan pikiran terhadap apapun yang kita alami. Penderitaan pun tak selalu berposisi sebagai antitesis dari kebahagiaan. Rasa tidak bahagia bisa merupakan salah satu bahan dari kebahagiaan, karena hidup adalah lipatan-lipatan yang tidak linier.

EVOLUSI 4 MINUS

Khilafah itu seperti benih. Ia harus disemai, ditanam, kemudian dirawat. Benih itu bisa saja ditanam di tempat atau tanah yang berbeda yang ramuannya tidak sama. Ada tanah yang menghasilkan khilafah dalam bentuk republik, ada khilafah yang berbentuk kesultanan, persemakmuran dan sebagainya. Puncak evolusi ialah khalifatullah; manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi.

RUWAIBIDHOH

Cak Nun kemudian menerangkan bahwa jamaah Maiyah ini ialah orang-orang yang merdeka terhadap ilmu, terbuka hijabnya, lebih terang pandangannya. Fenomena masyarakat hari ini, ketika mempelajari Ilmu Allah yang tercakup dalam Islam, di hadapan mereka terdapat banyak hijab sehingga mereka akan sangat eksklusif, mencibir orang yang menyampaikan ilmu kepada mereka, karena tidak sesuai dengan informasi yang sudah mereka terima terlebih dahulu. Ibaratnya, apabila seseorang ingin didengar suaranya, ingin disimak paparannya, maka ia harus menjadi orang besar terlebih dahulu, memiliki karya tulis yang banyak dan dilegitimasi sebagai karya ilmiah, terkenal di media massa dan media sosial, baru kemudian suaranya akan didengarkan oleh banyak orang, terutama yang memiliki pandangan yang sama.

TAKFIRI VERSUS TAMKIRY

Maka, kebenaran adalah bekal setiap orang untuk menghasilkan output berbuat baik kepada orang lain. Seperti halnya bumbu-bumbu masakan, baik kemiri, ketumbar, bawang putih, garam dan lain-lainnya outputnya bukan masing-masing bahan itu sendiri, tetapi outputnya bisa menjadi gado-gado, sayur lodeh, sayur asem dan lain sebagainya. Inilah yang disebut teknologi sosial untuk menciptakan harmoni dan keindahan dalam kebersamaan.

NEGARA DALAM GELEMBUNG

“Maka Allah menggoda anda ketika menyebut surga. Anda tertarik dengan surga dan tidak tertarik dengan yang menawarkan Surga”, demikian Cak Nun melontarkan logika yang lebih mendalam. Bahwa fokus utama manusia seharusnya adalah Allah. Sebab, secara otomatis, ketika kita terfokus kepada Allah, maka surga juga akan kita dapatkan. Sementara jika fokus hanya kepada surga, mungkin kita akan mendapat surga, tetapi belum tentu kita akan bertemu dengan Allah.

KECELA KECÈLÈ

Islam sendiri dibangun di atas Iman, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Tetapi, apakah kesaksian itu saja cukup? Sedangkan itu hanya bersaksi, tidak menyaksikan. Apakah kesaksianmu itu berlaku dalam tindak tandukmu? Anda harus menyaksikannya, dengan ketawadhlu’an. Selalu memahami bahwa segala sesuatu milik Allah dan berjalan atas kehendak Allah. Menyerahkan dengan penuh pada Allah, tidak hanya bersaksi saja. Syahadat bukanlah semacam sertifikat atau legalitas bahwa kita memeluk Islam, melainkan lebih esensial dari itu. Bahwa, Syahadat adalah ikrar yang kita ucapkan dilandasi dengan kesadaran penuh bahwa memang tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul utusan Allah.

FUNDAMENTALISME KHANDAQ

Cak Nun pun membuka optimismenya terhadap masa depan Maiyah dan Indonesia. “Maiyah sudah melahirkan generasi yang baru di Indonesia. Anak-anak muda yang berfikirnya sudah menjangkau kedepan, yang punya keseimbangan mental dan berfikir, memiliki keadilan sikap satu sama lain, sudah belajar dan berlatih untuk tetap seimbang di tengah Indonesia yang goyang ke kanan dan ke kiri, dan anda semua adalah generasi muda yang saya tidak bisa mikir kecuali bahwa anda pasti akan melahirkan zaman yang baru. Anda pasti akan melahirkan era baru dari Indonesia yang jauh lebih bagus daripada yang sekarang”, lanjut Cak Nun.

KELEDAI LESTARI

“Saya tidak mau Maiyahan kalau ndak ada Allah”, Cak Nun menegaskan. Bahwa setiap manusia berbuat baik, apapun saja, sudah seharusnya motivasi utamanya adalah Allah. Kesadaran bahwa hidup kita tidak hanya berhenti di dunia inilah yang dijadikan dasar oleh Cak Nun untuk terus berjuang bersama di Maiyahan, hampir setiap malam. PadhangmBulan 24 tahun, Mocopat Syafaat lebih dari 15 tahun, lalu Gambang Syafaat dan Kenduri Cinta, semua itu dilakukan oleh Cak Nun atas kesadaran bahwa hidup manusia itu abadi; Kholidiina Fiiha Abadaa. Jika saja hidup memang selesai hanya di dunia, untuk apa berbuat baik? Kalau ndak ada Allah, sekalian saja hidup ini penuh dengan perbuatan jahat, pencurian, tidak ada pernikahan, semua wanita yang kita maui kita tiduri. Tetapi, karena ada Allah, kita semua tidak mau melakukan itu semua.

KOORDINAT MAIYAH

“Jangan bernafsu membikin petasan kembang api yang menyala sangat terang namun hanya bertahan dalam waktu singkat kemudian hilang, tetapi bikinlah lampu-lampu yang cahayanya bertahan lama, meskipun kecil. Karena, jika dikumpulkan sedikit demi sedikit, maka lampu tersebut akan menjadi sekumpulan cahaya yang jumlahnya sangat banyak”, lanjut Sabrang.

RAKAAT PANJANG

“Pada mulanya dan pada akhirnya adalah cinta. Kalau proses individu, proses rumah tangga, proses bermasyarakat, proses bernegara dan berbangsa, tidak berpangkal pada cinta dan tidak berujung pada cinta, dia pasti gagal”, lanjut Cak Nun. Dan, itu pula yang dilakukan oleh Allah ketika menciptakan alam semesta ini yang diawali dengan terciptanya Nur Muhammad. Karena proses bercinta tidak bisa dilakukan secara mandiri, harus ada objek yang dicintai, sehingga kemudian ia juga akan dicintai.