By Munzir Madjid

Rawon Kangkung

Pasar Legi hanya seratusan meter ke arah timur dari rumah Patangpuluhan. Sebuah pasar tradisional yang sangat ramai dan sibuk sejak subuh sampai siang menjelang sore. Pagi hari sangat pas untuk cari sarapan; nasi gudeg, kue lopis, gethuk, cenil atau nasi ketan.

Nasi ketan dengan campuran biji kedelai dan parutan kelapa merupakan salah satu makanan yang disuka Emha. Maka tidak akan lupa jika adik-adik Emha ke pasar pasti akan menyempatkan membeli beberapa pincuk.

Makan, Rek!

Nabi menganjurkan “berhenti makan sebelum kenyang” tepatnya untuk orang-orang yang makannya suka berlimpah. Emha sendiri lebih banyak “berhenti makan” dan akrab dengan rasa lapar. Bahkan ibunya Emha (alm. Halimah, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya) “membiarkan” Emha tidak berpuasa di bulan ramadan karena tiap hari adalah “puasa.” Puasa yang dimaksud ibunya bukan sekedar makan minum, namun puasa-puasa yang lain.

Satu Tahun Lalu, Zainul

Kekuatan suara Zainul, selain merdu, ia mampu mengeksplorasi berbagai genre dan gaya atau cengkok lisanul arabi yang bertingkat-tingkat sampai 7 maqam tilawah. Zainul adalah ustadznya para qori’ yang akan bertanding dalam Musabaqah Tilawatil Quran untuk jenjang nasional dan internasional.

Seiring dengan gegap gempita reformasi, Cak Nun bersama gerakan shalawat yang diinisiasi oleh Cak Dil, (adik Cak Nun, Adil Amrullah), Himpunan Masyarakat Shalawat –HAMAS, berkeliling ke pelosok-pelosok Jakarta, dengan atau tanpa Mini Kiai Kanjeng. (Disebut Mini KiaiKanjeng, dengan alasan menghemat biaya perjalanan dan akomodasi Yogya-Jakarta PP, dengan beberapa personil player Kiai Kanjeng, bergantian).

Ditagih Tulisan

Emha dan saya masuk ke dalam. Dua atau tiga wartawan Jawa Pos bergantian menulis di depan komputer. Fasilitas komputer hanya ada dua. Satu komputer dipakai Anto untuk mengirim berita atau artikel via modem ke kantor pusat di Surabaya. Fasilitas email untuk menerima atau mengirim berita belum lazim dipakai. Tak lama kemudian Emha ke meja komputer sambil membawa cangkir kopi dan rokok. Hanya hitungan dua batang rokok dan setengah cangkir kopi, naskah kolom untuk dimuat Jawa Pos esoknya, Senin, sudah kelar.

Bukan Pembaca Yang Baik

Emha bukanlah pembaca yang baik. Maksudnya adalah, bahwa Emha tidak akan membaca buku terlebih dahulu jika akan menghadiri suatu undangan sebagai pembicara, misalnya. Bahkan kadang acara bedah buku-pun hanya dibaca sekilas. Buku bagi Emha adalah ilmu masa lalu. Emha memetik ilmu-ilmu baru yang diberikan gratis oleh Tuhannya.

Kliping

Hampir semua media massa cetak; koran nasional dan majalah, bahkan terbitan berbagai daerah, memuat tulisan-tulisan Emha. Surabaya Post tiap hari Minggu, Jawa Pos tiap Senin. Kompas tentatif. Yogya Post tiap hari. Sinar Harapan (Suara Pembaruan), Republika, Tempo, Teras, Gatra, DETiK dst.

Kolom-kolom Tempo dikumpulkan lalu diedit Toto Rahardjo dan Doddy Ambardy menjadi buku “Slilit Sang Kiai.” Kolom “Jon Pakir” di Yogya Post dibukukan Mizan dengan judul yang sama. Kolom “Markesot Bertutur” di Surabaya Post menjadi buku “Markesot Bertutur” dan “Markesot Bertutur Lagi” juga diterbitkan Mizan. Majalah HumOr memuat kolom “Humor Ala Madura” menjadi buku “Foklor Madura.” Dan masih ada daftar panjang buku-buku lain dari tulisan-tulisan Emha yang diliping.

Lagi, Orang Gila

Dalam suatu acara di Jawa Timur, orang gila ini hadir dan tertawa terbahak-bahak merespons humor-humor yang disampaikan Emha. Saking kerasnya semua hadirin menengok ke arahnya. Semua melengos melihat penampilannya. Tanpa dinyana Emha memanggil untuk naik ke panggung. Sebagaimana biasa Emha mengajaknya untuk berbicara. Tentang apa saja. Dan Emha mengundangnya untuk datang ke Jogja.

Anehnya hampir tiap Emha beracara di Jawa Timur atau Jawa Tengah orang ini ada di antara jamaah. Dan Emha selalu menyapa setelah mendengar ketawanya yang keras dan khas itu. Beberapa kali bahkan sempat datang ke acara Kenduri Cinta di Jakarta saat-saat awal tahun pertama penyelenggaraan.

Orang Gila

Emha mengatakan bahwa memperhatikan dan memberi empati terhadap orang yang butuh perhatian saja enggan dan merasa jijik; maka jangan diharap mampu melayani masyarakat secara luas. Tugas pemimpin, ustadz atau kiai adalah melayani rakyatnya atau umatnya.

Tidak Kaya

Periode Patangpuluhan adalah saat-saat dimana Emha sangat produktif. Baik kolom, artikel lepas, wawancara atau cuplikan berita; hampir tiap hari muncul di media massa. Oleh karenanya, banyak buku-buku yang kemudian diterbitkan.

Buku-buku tersebut sebagian besar adalah kumpulan tulisan yang dimuat di media massa. Tidak banyak buku yang sengaja ditulis secara khusus –kecuali puisi atau prosa– misalnya Dari Pojok Sejarah atau Seribu Masjid Satu Jumlahnya.

Oseng-Oseng Vandel

Kebanyakan yang datang ke Patangpuluhan adalah anak-anak muda, lebih khusus lagi, bergender laki-laki. Anak-anak muda? Ya, anak-anak muda atau minimal semangat anak muda. Sebab disamping mahasiswa-mahasiswa, aktifis LSM yang kagum terhadap pemikiran-pemikiran Emha; juga kawan-kawan lama Emha. Untuk yang terakhir ini usianya terpaut tidak jauh dengan Emha atau malah lebih tua. Emha sendiri kala itu sekitar 37-40 tahun.