By Munzir Madjid

Pacar Markesot

Rupanya, Markesot sedang menerima tamu seorang wanita, putih bersih, berpakaian rapi. Sangat kontras dengan tongkrongan Markesot. Badan gempal, kulit gelap, rambut agak gondrong awut-awutan. Di atas bibir dihiasi kumis yang tumbuhnya tidak rata, tak beraturan.

Usia Markesot sudah tak muda lagi, empat puluhan, jelang lima puluhan tahun. Perempuan yang duduk di samping Markesot, saya perkirakan tidak terlalu jauh usianya, mungkin lebih muda satu atau dua tahun.

Bengkel Markesot

Dalam kehidupan keseharian Markesot memang sering menjengkelkan. Perbedaan kultur dan budaya preman ikut mewarnai. Saya seringkali berantem omong. Masalahnya juga hal remeh, bukan prinsip. Saking ngeyel-nya saya, entah masalah apa, tiba-tiba Markesot mengeluarkan simpanannya, yang sangat dirahasikan. Semua terkesiap. Sebilah celurit diambil dari lemari pakaian. Lha kok ada celurit. Padahal lemari tersebut digunakan bersama untuk menyimpan pakaian. Pakaian saya juga ada di lemari itu.

Guk Nuki Atawa Markesot

Tersebutlah nama Guk Nuki sebagai kawan main Guk Nun sejak kecil. Bukan teman sekolah, karena Guk Nuki sendiri tidak tamat sekolah tingkat dasar. Bisa jadi semacam teman “nakal.” Teman mencuri mangga milik tetangga, memindahkan sandal ke tempat tersembunyi sesama kawan di langgar. Atau, mengikat sebutir garam dengan benang lalu dimasukkan ke mulut kawannya yang sedang tidur, jika garam dikecap secara perlahan benang diangkat. Kenakalan yang sungguh mengasyikkan. Sampai kini Guk Nuki dan Guk Nun masih berkawan sangat karib.

Markesot Mendebat

Di tengah perbincangan serius, tiba-tiba Markesot menyela dan menyanggah. Sanggahan dan debatnya sangat tidak konteks dengan apa yang menjadi perbincangan.Selalu saja berulang. Siapa saja yang berbicara selalu berhadapan dengan Markesot. Beberapa mahasiswa dibuat jengkel. Bagi mahasiswa, kalimat-kalimat Markesot tidak tersusun secara sistematis, vulgar dan sangat kampungan.

Cak Nun yang juga melingkar di antara “jamaah Yasinan” menyungging senyum, mripat-nya menyapu seluruh ruangan, memperhatikan para hadirin dan berhenti ke orang yang terlihat sangat emosional. Sesekali Cak Nun meninggalkan forum masuk ke bilik pribadinya. Siapapun tahu, Cak Nun meneruskan beberapa tulisan yang tertunda, dan semuanya dibatasi oleh deadline beberapa surat kabar dan majalah. Tulisan kolom untuk media-media cetak: Surabaya Post, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Yogya Post, Suara Merdeka, Wawasan, Tempo, Suara Pembaruan, dst.

Yasinan

Tema-tema obrolan muncul begitu saja. Pelontar umumnya berawal dari pertanyaan-pertanyaan mahasiswa yang diajukan kepada Cak Nun. Karena pesertanya berbeda latar belakang, maka diantara mereka sering saling ngotot mempertahankan argumen masing-masing. Kalangan mahasiswa dengan bahasa-bahasa planet yang bagi kalangan awam susah dipahami, nukilan-nukilan text-book dengan istilah-itilah asing.

Jika malam makin larut, secara perlahan satu persatu berpamitan. Pasti mereka tidak terbiasa “melek malam.” Yang lain tetap bertahan, bisa jadi dilanjut dengan permainan gaple. Main gaple seolah menebak nasib, meramal takdir. Kita tidak sanggup menghitung “balak” berapa yang akan muncul. Meski jumlah kartu bisa dihitung, probabilitasnya agak susah untuk memastikan. Bahkan Cak Nun sering agak ekstrim mengemukakan bahwa pasti “Tangan Tuhan” ikut berperan. Kartu dikocok sekian kali, kartu dibagi, masing-masing pemain tidak bisa memilih kartu terbaik. Seorang pemain gaple yang ahlipun bisa kalah jika tandem di sisi kiri atau kanannya ngawur ketika membuang kartu.

Ke Bandara

Saya bangun lebih cepat. Dari masjid sudah terdengar adzan awal. Saya mengenal adzan awal di Yogya. Adzan awal dikumandangkan menjelang waktu fajar; atau antara habisnya waktu isya menuju waktu shubuh. Ini tradisi Muhammadiyah. Nada iramanya khas, cengkok Jawa. Sebelum adzan, diawali dengan kalimat: “Adz-dzan aw-wal…” Lalu: “Allahu Akbar, Allahu Akbaaaar…”

Buru-buru saya ke dapur. Kedua adik perempuan Cak Nun dan Mbak Wiek, masih terlelap tidur. Mbak Wiek, perempuan setengah baya, bukan pembantu, mengabdi dengan tulus sejak kelahiran Sabrang.

Silakan Makan

Jalan Malioboro tidak pernah tidur. Sejak subuh sudah dipenuhi pedagang yang menata lapak. Berbagai macam pakaian etnik khas Jogja, barang kerajinan kulit, kalung-kalung dari batu atau kayu; dijajakan dengan harga miring. Agak siang sedikit, toko-toko mulai buka pintu. Jika malam tiba, toko-toko dan pedagang kaki lima tutup, pedagang makananlah yang menguasai jalanan ditemani oleh para pengamen-pengamen sampai subuh menjelang.

Madubronto

Jalan Madubronto, lebih dikenal “Madubronto” adalah alamat letak rumah kontrakan Emha Ainun Nadjib, sebuah rumah petak berdinding separo tembok dan sisanya “gedek” (anyaman bambu) yang warna catnya sudah tidak jelas lagi. Kusam. Di sana sini cat yang seharusnya melindungi tembok telah mengelupas.

“Puasa” Di Hari Raya

Lebaran pun tiba. Hari kemenangan yang ditunggu-tunggu telah datang. Subuh-subuh saya berangkat ke alun-alun Utara, tepat di depan sebelah utara Kraton Ngayogyakarta, atau sebelah timur Masjid Besar Kauman. Karpet-karpet plastik telah tertata, garis shaf dipasang tali rafia memanjang. Yang tak kebagian karpet, disediakan kertas-kertas koran yang masih menumpuk di pinggir shaf. Usai salat Idul Fitri, saya segera pulang ke Patangpuluhan. Cak Nun sudah terlihat rapi. Entahlah, tadi ikut salat id di mana.

Ngelmu

Eropa. Malam hari. Sekian puluh tahun lalu. Emha menyusuri jalanan, sebagaimana yang biasa dilakukan di Yogya. Jalan kaki. Para pengemis dan gelandangan sudah menata karpet usang sebagai tempat tidur di emperan toko atau gedung-gedung.

Sekelompok orang mendekati Emha, mungkin mau merampok. Emha terpojok di sudut gedung. Lalu dikeluarkan dompet, entah apa yang diambil lalu dimasukkan ke dalam mulut. Orang-orang memperhatikan. Emha menjulurkan lidah, lalu di ambil dan sengaja dipamerkan kepada orang-orang. Orang-orang terkesima.