UNITED NATIONS OF NUSANTARA

“TUHAN itu menciptakan jodoh, jadi kalau anda berbuat baik jodohnya adalah berkah, kalau anda berbuat dhzolim jodohnya adalah adzab. Jangan gampang melakukan keburukan karena nanti akan ketemu jodohnya. Anda juga jangan pernah merasa sombong, merasa menang, jangan merasa sudah beres, karena setiap yang anda alami setiap hari akan ketemu jodohnya. Jadi mari kita detil dalam setiap yang kita lakukan karena dia akan berjodoh. Karena jodoh adalah perimbangan atau penyeimbang,” kata Cak Nun menyambung diskusi malam itu.

Dalam Al Qur’an terdapat ayat waman ya’mal mitsqolla dzarrotin khoiron yaroohu, waman ya’mal mitsqolla dzarrotin sarron yaroohu. Dalam istilah Jawa terdapat analogi ngunduh wohing pakarti atau jer basuki mawa bea. Dan ada banyak lagi istilah-istilah serupa dalam bahasa lain. Apabila menggunakan istilah Jawa: jer basuki mawa bea, Cak Nun menjelaskan bahwa yang terjadi di Kenduri Cinta ini adalah mawa bea jer basuki. Karena jamaah yang datang di forum Kenduri Cinta sudah membayar kepada Allah dengan keikhlasan, datang ke Kenduri Cinta untuk kerinduan yang sama.

“Maka apabila menggunakan prinsip jodoh tadi maka yang harus kita pupuk sekarang adalah keyakinan bahwa semua pengorbanan ini akan dipertemukan jodohnya. Bisa saja jodohnya adalah kemudahan dalam hidup, menemukan solusi ketika dipertemukan dengan sebuah masalah. Namun jangan mencari kemudahan di Kenduri Cinta, karena kemudahan itu merupakan imbalan yang merupakan hak prerogatif Allah kepada kita. Jadi, janjinya Tuhan jangan dijanjikan janjinya manusia,” lanjut Cak Nun. — [baca selengkapnya di Reportase UNITED NATIONS of NUSANTARA]

Kita belum pernah sanggup membuktikan satu saja kata kebenaran di mulut kita sendiri dengan perbuatan nyata, kita sudah merasa menjadi pejuang yang paling pejuang. Kemudian seiring dengan itu kita menumpuk ilmu, terus memfestivalkan kata kebenaran di bibir dan kepalan tangan kita, sehingga kita punya utang sangat banyak kepada nilai kebenaran yang kita ucap-ucapkan. (Emha Ainun Nadjib)

Kegembiraan Untuk Timnas U-19

YOGYAKARTA – Sedari siang, para awak pendopo Rumah Maiyah Kadipiro sibuk menyiapkan tempat. Menggelar tikar, mengeset peralatan musik KiaiKanjeng dan Letto, menata area parkir, menyirami rerumputan, dan aneka persiapan lainnya.

Pelatih tim nasional U-19 Indra Sjafrie yang telah bertaut hati dengan Maiyah, sore itu mengajak timnya bersilaturahmi dengan Cak Nun, Letto, KiaiKanjeng dan lingkar jamaah Maiyah. Ini adalah persambungan yang telah terbangun sejak Indra mengundang Cak Nun untuk memberikan pembekalan menjelang keberangkatan timnas U-19 ke tur Timur Tengah dan melaksanakan umroh beberapa bulan silam, kemudian berlanjut pada silaturahmi pribadi Indra Sjafri dengan Cak Nun di Kadipiro serta kehadirannya di Mocopat Syafaat 17 Juli lalu. Persambungan itu makin mendalam, makin menguat.

Pukul 17.25 WIB dua bis kecil yang membawa skuad Timnas U-19 dari basecamp di UNY Karangmalang Yogyakarta tiba di depan Rumah Maiyah Kadipiro. Pelatih Indra Sjafrie, para official, dan pasukan Garuda Muda satu persatu turun dari bis dengan mengenakan seragam kaos biru muda.

Cak Nun beserta istri beliau Novia Kolopaking dan Sabrang menyambut kedatangan mereka dengan keramahtamahan dan kegembiraan. Dipersilakan Evan Dimas, Ravi Murdianto, dan kawan untuk mengambil tempat duduk lesehan dan melingkar. Begitu pun dengan Indra Sjafrie yang langsung berbincang-bincang akrab dengan Cak Nun.

Tak lama kemudian, waktu maghrib tiba. Ramli, seorang jamaah maiyah dari Macopat Syafaat pun segera mengumandangkan adzan. Anak-anak timnas U-19 bergegas mengambil wudlu. Setelah siap semua, Cak Nun sendiri yang ternyata berdiri dan langsung mengumandangkan iqamah, dan kemudian beliau meminta Kiai Marzuki Kurdi dari Nahdlatul Muhammadiyyin untuk mengimami shalat berjamaah ini.

Usai shalat berjamaah, Cak Nun membuka acara malam itu dengan menyapa anak-anak timnas U-19 dengan satu nomor dari Letto yang dimintanya untuk menyambut patriot-patriot muda ini. Hati Garuda. Sebuah nomor yang secara khusus diciptakan Letto untuk timnas U-19, dimana hasil royalti dari penjualan lagu tersebut 100% dipersembahkan oleh Letto untuk timnas U-19. Habis mengikuti lagu ini, mereka request lagu Ruang Rindu. [Baca selengkapnya]

LITERASI MAIYAH

1 1581
Disini, di Bangbang Wetan, anda menjadi manusia biasa. Apa adanya, itu yg menyebabkan kita kerasan disini, karena engkau boleh menjadi dirimu, engkau merdeka menjadi dirimu dan pasti dirimu adalah bukan diri yang bukan merusak dirimu, dirimu adalah orang yg selalu ingin mempertahankan kebaikan dan kematangan dirimu.