Reportase Juli 2014: TANAH TUMPAH DARAHKU

Pusaka adalah benda yang memiliki kekuatan magis yang dimiliki seseorang, namun benda tersebut bukanlah senjata utama bagi orang tersebut. Seorang penulis yang handal tidak mungkin menjual mesin ketik yang pertama kali ia gunakan, karena itu adalah pusaka si penulis. Meskipun saat ini si penulis sudah mahir menggunakan komputer dengan sistem operasi terbaru, ia tidak boleh menjual mesin ketik yang dulu ia gunakan untuk menulis. Seperti halnya seorang kstaria Jawa yang memiliki keris. Keris bukanlah senjata utama untuk membunuh seorang musuh, namun ia adalah pusaka bagi ksatria itu sendiri. MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) dulunya adalah pusaka Rakyat Indonesia, namun kini posisinya sudah dikebiri oleh undang-undang sehingga perannya di parlemen sudah tidak memiliki pengaruh apa-apa.

Kita melihat sekarang bagaimana ketika Pusaka pemerintahan Indonesia tersebut sudah hilang, fenomena PILPRES yang sedang kita lihat adalah kedua kandidat sama-sama mendeklarasikan kemenangan dalam proses pemilihan umum 9 Juli yang lalu. Bagaimana mungkin sebuah pertandingan tinju yang belum berakhir, kemenangan salah satu kubu justru diumumkan oleh pelatih dan official dari petinju yang bertanding. Yang mengumumkan justru bukan wasit pertandingan. Maka yang terjadi adalah kedua petinju sama-sama mengklaim bahwa dirinya adalah pemenangnya. Disinilah kita terbuai dan lupa dengan pemerintahan sebelumnya. Kita saat ini sudah terbuai dengan imajinasi sosok pemimpin yang baru sehingga kita lupa dengan keberadaan SBY. Ketika kedua calon presiden yang ada terlibat pertengkaran klaim kemenangan, SBY mengambil peran untuk menengahi pertengkaran tersebut. Jelas dan nyata disini bagaiaman sebenarnya ini adalah permainan SBY sendiri. Ketika sudah terjadi perselisihan klaim pengakuan kemenangan dari kedua kandidat, pemerintahan yang masih berkuasa baru memutuskan sebuah aturan bahwa salah satu kandidat tidak diperbolehkan mengaku-ngaku kemenangan berdasarkan Quick Count. Penonton saat ini sudah melupakan bintang film sebelumnya karena sudah terfokus pada bintang film yang baru. Opini yang terbangun saat ini adalah kemenangan salah satu kubu, sehingga kemudian terbangun argumen apabila pada saat diumumkan oleh panitia penyelenggara ternyata kubu yang lain yang memenangkan pertandingan maka akan dituduh melakukan kecurangan. [Baca Selanjutnya]

REPORTASE KENDURICINTA

4 4020

0 3918

0 844

Kita belum pernah sanggup membuktikan satu saja kata kebenaran di mulut kita sendiri dengan perbuatan nyata, kita sudah merasa menjadi pejuang yang paling pejuang. Kemudian seiring dengan itu kita menumpuk ilmu, terus memfestivalkan kata kebenaran di bibir dan kepalan tangan kita, sehingga kita punya utang sangat banyak kepada nilai kebenaran yang kita ucap-ucapkan. (Emha Ainun Nadjib)

Gajah Mencari Daulat

Penjajahan paling efektif adalah bagaimana membuat si terjajah tak sadar bahwa dirinya dijajah. Penjajahan fisik itu kuno, berbiaya tinggi, dan beresiko tinggi. Kalau dulu Belanda menjajah nusantara, pasti dibutuhkan kekuatan militer yang besar. Kekuatan militer itu membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk me-maintain-nya. Semakin lama dijajah, si terjajah berubah menjadi bom waktu. Keresahan menimbulkan gerakan-gerakan yang pada waktunya akan meledak. Konflik akan terus terjadi dan lama kelamaan penjajahan jadi kegiatan yang sangat melelahkan. High cost high risk, tidak sesuai prinsip ekonomi katanya.

Maka kemudian dibutuhkan terobosan-terobosan baru, gagasan-gagasan baru, cara-cara baru. Bagaimana bisa mencecap darah si terjajah tanpa mereka tahu, dan bahkan gembira bahwa dirinya disedot habis. Tapi apa mungkin?

Sebuah grand scenario harus ditata. Manusia “hanyalah” mesin. Seperti komputer, dia akan memiliki output yang terprediksi ketika diberi input tertentu. Input manusia adalah indranya. Mata, telinga dan lain sebagainya. Bagaimana kalau kita bisa kontrol semua input yang masuk ke mereka? Tanpa harus kita atur repot-repot, mereka akan melalui jalan dan keputusan-keputusan yang kita mau tanpa kita suruh. Resikonya kecil untuk “si pengatur”, karena mereka tak pernah tahu bahwa sesungguhnya mereka diatur. Kalau mau berontak mereka juga gak bakal tahu berontak kepada siapa, apalagi caranya.

“Jangan memudahkan,” kata si penjajah. “Cecunguk-cecunguk itu pasti punya cara berfikir sendiri yang tidak bisa kontrol. Input yang kita beri bisa ber-output berbeda dengan yang kita inginkan”.

“Mungkin tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Tinggal kita beri tolak ukur di hidup mereka sebagai dasar pemikiran. Kita buat mereka percaya para ahli itu maha tahu, kita buat seolah-olah semua media tak punya kepentingan kecuali suara rakyat, kita buat harta itu lebih berharga daripada ilmu. Hidup enak itu lebih utama daripada hidup mulia. Nanti patron mereka adalah orang yang terkenal dan kaya raya, gak di usut caranya bagaimana bisa sampai kesana. Orang berilmu tak ada yang dipercaya, karena buat apa ilmu tinggi-tinggi tapi mobil aja ngga punya. Kita pasang pemimpin dari kalangan mereka tapi sudah dengan tolak ukur cara berfikir yang kita mau. Seterusnya nanti akan jadi mudah.” Anggaplah ini percakapan sebuah pertunjukan teater.

Tapi coba kita diam sejenak dan melihat. Apa yang mungkin sudah terjadi ? Seberapa banyak kesimpulan terhadap apapun di dalam otak kita yang tidak asli dari keputusan pemikiran kita. Seberapa percaya kita pada gembar-gembor tanpa bisa memutuskan sendiri bahwa itu hanya sekedar wacana. Itupun kalau datanya tidak dimanipulir. [Baca lengkapnya]

LITERASI MAIYAH

0 42
Bandung - Setelah sehari sebelumnya (14/7) Cak Nun dan KiaiKanjeng Maiyahan di Candi Borobudur, Magelang. Cak Nun dan KiaiKanjeng langsung melanjutkan perjalanan menuju Bandung untuk Maiyahan dalam rangka Peringatan Nuzulul Qur’an...