Reportase KEMERDEKAAN MAIYAH

Kalau kemerdekaan Indonesia itu maksudnya adalah pengusaan teritorial, pemilikan tanah dan isinya, apakah kemerdekaan Maiyah itu seperti itu? Apakah itu yang dimaksud? Kriteria menang dan merdeka tergantung pada: dunia-akhirat, akhirat-dunia, dunia saja atau akhirat saja?.

“Merdeka itu adalah apabila anda sudah aman dihadapan Allah, itulah merdeka yang sebenarnya. Meskipun anda kaya raya, kalau anda belum aman dihadapan Allah maka anda belum merdeka. Itulah yang dimaksud dengan Kemerdekaan Maiyah,” tutur Cak Nun.

Maiyah bukanlah sebuah institusi yang terdapat pimpinan dan penganutnya. Maiyah adalah gelombang, Maiyah adalah energi dan dia tidak mengikat siapapun. Karena yang paling berbahaya dari sebuah pergerakan adalah apabila ia menjadi institusi. Cak Nun juga menegaskan bahwa ideologi Maiyah adalah ambeng bukan tumpeng.

“Maiyah harus bisa membebaskan dirinya dari Maiyah itu sendiri, anda harus bisa membebaskan diri anda dari saya, anda harus merdeka. Dan kemerdekaan yang sejati adalah kalau anda aman kepada Allah,” lanjut Cak Nun.

Cak Nun menegaskan bahwa sampai hari ini Maiyah mempertahankan untuk tetap cair, tidak mengikat dan tidak mengajari siapapun yang hadir melainkan saling mendengar satu sama lain. Cak Nun mengingatkan agar jama’ah yang hadir tidak mengambil keputusan apa-apa atas nama Maiyah. Maiyah boleh menjadi wacana, tetapi dalam mengolah dan mengambil keputusan maka kita sebaiknya mengambil keputusan tersebut atas nama diri kita sendiri, bukan orang lain.

“Di Maiyah anda harus belajar bahwa tidak ada apa-apa dihadapanmu selain Allah, kalaupun ada yang lain selain Allah itu adalah Muhammad SAW,” tegas Cak Nun.

“Wahai negara Indonesia, kemerdekaan Maiyah itu bukan berarti kami akan membikin negara kami sendiri. Karena bagi kami negara ini ‘tidak ada masalah’, tetapi kami akan menumbuhkan manusia-manusia merdeka yang sungguh-sungguh membela manusia-manusia, sungguh-sungguh membela rakyat, sungguh-sungguh mencintai mereka dengan kematangan ilmu yang kami latih dalam forum-forum rutin Maiyah yang kami lakukan setiap bulan di Kenduri Cinta ini. [Baca selengkapnya Reportase Kemerdekaan Maiyah]

REPORTASE KENDURICINTA

2 5188

4 5018

0 4231

Kita belum pernah sanggup membuktikan satu saja kata kebenaran di mulut kita sendiri dengan perbuatan nyata, kita sudah merasa menjadi pejuang yang paling pejuang. Kemudian seiring dengan itu kita menumpuk ilmu, terus memfestivalkan kata kebenaran di bibir dan kepalan tangan kita, sehingga kita punya utang sangat banyak kepada nilai kebenaran yang kita ucap-ucapkan. (Emha Ainun Nadjib)

Pusaka Satria

Bangsa ini, terutama kaum elite dan kelas menengahnya dari bidang apapun, terutama bidang keagamaan, semakin tidak mengerti kebudayaan. Tidak mau memahami apa itu kebudayaan, asal usulnya, sangkan-paran-nya, letaknya, konteksnya, nuansanya, serta segala dinamika kepastian dan kemungkinannya.

Apalagi Pusaka. Dan sia-sia kalau engkau mencoba menjelaskan Kebudayaan dan Pusaka kepada siapapun yang tidak mengerti, apalagi tidak mau mengerti Kebudayaan dan Pusaka. Tidak rasional untuk menjelaskan merah hijau biru kepada orang yang bukan hanya buta warna, tapi juga meyakini bahwa dalam hidup ini hanya ada hitam dan putih.

Akan tetapi pada saat yang sama kalau orang yang tidak paham Kebudayaan dan Pusaka engkau tuntut untuk memperdulikan apalagi menghormati Kebudayaan dan Pusaka, itu tindakan yang tidak relevan juga. Mudah-mudahan di antara bangsa ini masih cukup banyak orang-orang melek yang belajar kepada orang buta, serta orang-orang buta yang belajar kepada orang melek.

Bangsa ini hidup dan menjadi bagian dari Negara tanpa Pusaka. Pemerintahan tanpa Negarawan. Perundingan hanya oleh Perwakilan, sedangkan ‘Permusyawaratan Rakyat’ dimandulkan. Bangsa Nusantara gugup dan tergesa-gesa membikin Negara. Sehingga Negara bukan merupakan akselerasi historis Kebudayaan dan Peradabannya. Seperti orang bikin buah-buah dari plastik: Negara ini dibikin dengan landasan berpikir, akar filosofi dan sistem, bahkan tata-hukumnya, yang diimport dari bangsa lain yang Peradabannya jauh lebih muda dibanding ‘kasepuhan’ Bangsa Nusantara, tidak empan-papan akar nilai-nilainya, bahkan serta merta Negara ini berdiri dengan membuang kekayaan nilai masa silamnya secara bertahap.

Bangsa ini merasa baru lahir pada tahun 1945. Berposisi di muka Bumi seperti anak hilang yang terbuang di jalan, kemudian disantuni oleh dunia, dan sekarang berkembang menjadi remaja yang inferior mentalnya, tidak percaya kepada dirinya sendiri, tidak mengenal asal usulnya, meyakini segala yang dari Luar Negeri adalah kemajuan dan segala yang dari masa silamnya sebagai ‘masa silam’, sebagai ‘tradisi’ yang harus ditinggalkan karena rendah, primitif dan serba penuh keterbelakangan. [Baca lengkapnya]

LITERASI MAIYAH

1 1905
Panembahan Pengeran Mangkubumi buat Keraton Yogya dan di abad ke-8 dibuat Borobudur, itu dihitung bukan hanya wilayah pulau Jawa dan Nusantara tetapi dihitung berdasarkan koordinat galaksi-galaksi. Maka Borobudur di bangun disitu, tempatnya merupakan golden point.