REPORTASE: MENEGAKKAN PAGAR MIRING

Kambing tidak memiliki akal untuk berfikir dalam memutuskan rumput mana yang boleh dimakan atau tidak, dengan adanya pagar maka ia mengetahui bahwa ada batas yang tidak boleh ia lewati. Berbeda dengan manusia yang membutuhkan sebuah pagar yang tidak hanya berwujud fisik dan bisa dilihat kasat mata, namun manusia juga membutuhkan sebuah pagar yang tidak kasat mata. Salah satu contohnya adalah hukum atau aturan. Hukum atau aturan yang sudah disusun berdasarkan kesepakatan bersama pun masih saja dilanggar oleh manusia.

Menurut Sabrang, konsep dasar dari sebuah pagar atau hukum dibuat adalah agar manusia terlindung dari ancaman manusia yang lain. Dalam arti lain, pagar dibuat untuk melindungi seseorang yang di dalam pagar terhadap ancaman atau serangan dari seseorang atau sesuatu dari luar pagarnya. Namun hal ini menjadi kontradiktif saat kita tahu bahwa musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Bagaimana pagar yang didesain untuk melindungi musuh dari luar dapat memberikan perlindungan terhadap musuh yang ternyata berada di dalam pagar? — Baca lengkapnya di Reportase Kenduri Cinta edisi Oktober 2014, Menegakkan Pagar Miring.

“Selama Rasulullah hidup tidak ada pemerintahan resmi. Kepemimpinan Rasulullah adalah kepemimpinan brahmana, kepemimpinan kewibawaan, kepemimpinan nilai.”  —Emha Ainun Nadjib

U19, Senja dan Fajar

Ketika seorang wartawan bertanya “apakah U19 ini merupakan harapan bagi kebangkitan sepakbola Indonesia?”, saya menjawab “Sudah bangkit! Anak-anak ini dengan para pemimpinnya sudah berlaku benar, baik dan khusyu, tidak hanya sebagai pemain sepakbola, tapi juga sebagai Manusia-Sepakbola dengan segala faktor kemanusiaan dan dimensi-dimensi psikologisnya, tidak hanya menghitung komposisi kepribadian per-individu, tapi juga latar belakang budayanya, level sosialnya, bahkan tradisi spiritualnya. Kita sudah bangkit. Kita sudah mulai berbuat benar dalam bersepakbola”

“Bukankah kebaikan ditentukan oleh kemenangan?”

“Ya. Saya juga ingin mereka menang dan lolos. Tapi itu bukan satu-satunya faktor. Sebagaimana Anda kawin terus istrimu hamil, atau Anda bertani terus panen: hamil dan panen itu bagian Tuhan. Bagian kita adalah berjuang menghamili, berjuang menanam, berjuang menjalankan budaya dan mental persepakbolaan yang benar. Andaikan mereka tidak lolos, saya tetap kagum dan bangga berdasarkan sejarah prestasi mereka selama ini. Saya tetap cinta mereka”.

Tentu saja omongan saya yang kayak gitu tidak akan keluar di media massa apapun. Dan memang sebaiknya tidak dimuat, karena saya bukan pelaku sepakbola, bukan pengurus sepakbola, dan tidak punya posisi apapun di U19 maupun di persepakbolaan nasional.

Saya sekedar seorang kakek yang memprihatini masakini Indonesia dan mencintai kebangunan masa depannya. Ada bagian dari Indonesia yang sedang melangkah pasti menuju jurang kematian, ada bagian lain dari Indonesia yang diam-diam sedang menyusun kelahiran dan bahkan sudah lahir, sebagaimana U19 dalam persepakbolaan maupun “U19” di bidang pertanian, innovasi tekonologi, kedewasaan beragama, kematangan pembelajaran politik dan lain sebagainya saya juga saya temani hampir tiap hari di beratus-ratus wilayah Negeri ini. [Baca selengkapnya]

LITERASI MAIYAH

0 1693
Aji Balasewu itu satu cara berpikir leluhur kita, sedemikian rupa sehingga mereka menemukan kata Aji Balasewu. Ini kalimat tauhid yang luar biasa.