Reportase Kenduri Cinta Agustus 2013: JOKOWINGIT

Ditulis Oleh: Red/KC

 

103NCD901

Setelah dibuka dengan pembacaan Surah As-Sajdah, Kenduri Cinta bulan Agustus yang jatuh pada tanggal 16 dilanjutkan dengan shalawatan bersama kelompok hadrah dari Cilincing. Kemudian khusus untuk Almarhum Bapak Budi Santosa yang meninggal beberapa hari menjelang Idul Fitri kemarin, jamaah mengirimkan Al-Fatihah, semoga Beliau diterima Allah dengan baik dan keluarganya diberi kesabaran.

Sebagai pengantar atas tema Jokowingit, perlu diingat bahwa titik berat dari tema tersebut bukanlah menyorot satu sosok – yang memang masih hangat diliput di media-media massa, melainkan lebih pada perenungan terhadap arus kerusakan yang sedang terjadi hari-hari ini dan upaya-upaya kecil yang mampu kita jalankan untuk mengetuk perkenan perubahan dari Allah, entah itu dalam bentuk figur pemimpin maupun dalam bentuk yang lebih halus, yakni sistem kepemimpinan.

Untuk menyambung ke sesi berikutnya, Bang Yopie Doank membawakan dua lagunya yang berjudul Palu Hakim dan Kecap Nomor Satu. Tampil pula seorang musisi jalanan dari Sudirman yang biasa dipanggil Bondan karena kepiawaiannya nge-rap. Nurhadi nama aslinya.

Dalam sesi diskusi yang pertama, enam orang diberi kesempatan untuk menyampaikan apa saja yang berkaitan dengan tema. Muhammad Taufik, Ketua Umum Gerindra DPD DKI Jakarta, bersaksi bahwa Jokowi merupakan tokoh yang turun dari Langit. Kalau bukan karena ijin Tuhan, Jokowi yang tidak unggul dalam pengetahuan mengenai Jakarta maupun dalam dana kampanye tidak mungkin terpilih. Setelah menjabatpun, menurut Taufik, Jokowi telah mencetak prestasi membereskan Tanah Abang. Sebagai perantara naiknya Jokowi, Taufik tidak setuju dengan wacana kemungkinan Jokowi mencalonkan diri sebagai presiden di 2014 nanti, karena menurutnya presiden ideal saat ini adalah Prabowo.

Max Siso, mantan anggota DPRD Sangir Talaud, menyampaikan bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik, yang terutama diperlukan bukanlah kepandaian dan jenjang pendidikan yang tinggi, melainkan kerendahan hati. Kekuatan inilah yang dimiliki oleh Jokowi sehingga bisa memimpin Jakarta dengan baik. “Kalau tidak milih Jokowi, mati kita,” ujarnya.

Eki Pitung, ketua Brigade Anak Jakarta (Braja) menyebutkan satu kegagalan pemerintahan Jokowi yang  sudah hampir satu tahun lamanya tapi penyerapan APBD baru 23%. Menurutnya, ini bisa menghambat pembangunan – dan oleh karena itu, Jokowi harus mempertanggungjawabkan ini kepada DPRD, bukan kepada masyarakat. Selain itu, Jokowi juga semestinya menjadikan aturan-aturan yang ditetapkannya dalam bentuk Perda.

Mujahidin, S.E, ketua umum PBB DKI Jakarta, berpendapat bahwa dengan cinta, masyarakat bisa menerima pemimpin siapapun orangnya. Inilah yang terjadi pada diri Jokowi yang dengan segala kelemahannya tetap mendapat banyak dukungan. Sebagai poin tambahan, menurutnya ada lima hal dasar yang harus dimiliki siapapun yang ingin terjun ke dunia politik : keturunan, pengetahuan akan agama, punya harta yang cukup sehingga ketika menjabat tidak dalam rangka mencari kekayaan, mempunyai jiwa sosial yang tinggi, dan baik kepada tetangga-tetangganya.

Faisal Assegaf, seorang wartawan dari merdeka.com menceritakan pengalamannya ketika meliput Gaza, Libya, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya. Di sana, pertanyaan yang selalu dilontarkan adalah : Anda Sunni atau Syi’ah? Agama Islam sekarang ini justru menimbulkan rasa tidak aman kepada minoritas. Kelemahan Muslin saat ini adalah terlalu taqlid.

Amsar Dulmanan, seperti biasa, mengatakan bahwa realitas keindonesiaan sekarang ini penuh akan manipulasi melalui logika konstitusional. Yang bisa kita lakukan dalam kondisi seperti ini adalah kesadaran bahwa postulasi kebenaran bukan terletak pada hasil akhir, melainkan pada konsep yang konsisten, madhep yang jelas, dan istiqomah dalam perjalanan.

Setelah hiburan dari Udin Way dan Mas Wahyu, lalu dari Balte Irama, tiga dari jamaah melontarkan pertanyaan. Penanya pertama, Novan,  mempertanyakan kenapa pembicara-pembicara justru membicarakan Jokowi, bukannya membicarakan tema, serta bertanya bagaimana kalau ciri pemimpin yang baik justru ada pada diri minoritas.

 Muhammad Sanusi dari Tanahabang menyatakan salutnya kepada Ahok yang namanya saja sudah membuat pejabat-pejabat lain ciut nyalinya. Pertanyaan ketiga datang dari Pak Azis, yang juga mengkritisi bahasan para pembicara. Yang menjadi bahan elaborasi seharusnya bukan Jokowi-nya, melainkan pada rijalun mahjub, Satrio Piningit, the hidden master. Kalau memang sekarang ini Jokowi bisa sedemikian fenomenal, bisa saja itu karena media massa yang mengarahkan masyarakat pada isu tersebut. Pak Azis bersama komunitas sopir taksi, yang awalnya turut menjadi relawan Jokowi, merasa bahwa yang dilakukan Jokowi adalah pekerjaan-pekerjaan parsial dan sekunder. Yang dibangun bukanlah sistem transportasi yang terintegrasi. Mestinya bukan hanya armada yang dibenahi, tapi sopir juga jangan lagi dimarjinalisasi sehingga tidak mampu memberikan pelayanan yang memadai. Akibatnya, sopir-sopir kemiskinan yang sifatnya struktural. Kegagalan pemerintah berikutnya adalah ketidakmampuan memfasilitasi tradisi mudik yang setiap tahun ada. Sampai saat ini sudah 626 korban meninggal.

“Jokowi itu memang turun dari langit, oleh karena itu dalam memperbaiki Jakarta langkahnya mesti teratur dan pelan-pelan. Jakarta ini kronis kondisinya. Dan soal pemimpin ini memang masalah garis tangan. Media sifatnya hanya menopang. Kami tidak menggunakan strategi aneh-aneh. Ahok itu bukan kapitalis, meskipun memang kaya. Tangan Tuhanlah yang njawil Ahok,” jawab Taufik menanggapi pertanyaan.

Sementara itu, Max Siso berpendapat bahwa media mempunyai proporsi pemberitaan fakta, maka tidak bisa dikatakan bahwa medialah yang membesarkan Jokowi. Kalau tentang minoritas sebagai pemimpin, di dalam demokrasi tidak ada istilah minoritas. Persoalan terpilih atau tidak sebagai pemimpin merupakan domain sosiologis.

“Allah kadang menentukan sesuatu yang bukan kita rencanakan. Kadang-kadang di luar nalar. Kita sebagai manusia sudah ditegur bahwa takabbur merupakan hal negatif yang bisa mengalahkan hal-hal positif,” ujar Mujahidin.

“Kedekatan Jokowi dengan masyarakat memang terlalu diekspose oleh media sehingga pemberitaan tidak selalu sama dengan yang kita lihat dan kita rasakan,” Eki Pitung menambahkan.

Sesuatu yang pada mulanya berangkat dari keikhlasan, begitu berada dalam sistem dan mekanisme, darinya muncul potensi untuk dikuasai. Begitu Amsar Dulmanan merespon pertanyaan-pertanyaan tadi. Yang diaku-aku sebagai keikhlasan seringkali hanya ikonnya saja, yang memang dibuat secara artifisial. Akarnya, lagi-lagi soal proyek. Dalam ilmu politik, ada upaya-upaya bagaimana ketika satu pihak mengatakan A, masyarakat luas akan terpengaruh sehingga ikut mengatakan A. Dalam dunia politik semua bisa direkayasa. Dan masalah siapa yang jadi pemimpin, itu tidak ada hubungannya dengan keturunan, tapi semata-mata tentang kesempatan. Siapa diberi, jadilah dia. Maka satu-satunya yang bisa dijadikan pegangan dalam dunia politik adalah hati nurani.

“Saya pribadi mengakui, media memang terlalu mengekspose Jokowi. Rakyat sudah kebablasan dalam mencintai Jokowi, sehingga ketika suatu saat media memberitakan yang negatif – misalnya tentang Ahok tempo hari, media justru dihujat oleh pembaca. Masyarakat belum siap menelan kenyataan pahit sepertinya,” jawab Faisal Assegaf.

Setelah dua lagu dari Es Coret, sesi diskusi yang kedua dimulai. Sayangnya, para pembicara sesi sebelumnya memilih untuk langsung pulang.

“Audiens utama sesi ini seharusnya adalah yang tadi ngomong. Kalau sekarang sudah nggak ada, kami mau ngomong untuk siapa? Kalau untuk Anda semua saya rasa nggak perlu karena Anda punya mekanisme sendiri untuk memahami sesuatu secara proporsional. Anda tidak tertutupi oleh kepentingan dan kebutuhan. Anda mampu melihat dengan kejujuran karena Anda berada pada posisi jarak yang memang jujur terhadap itu semua,” Cak Nun mengawali sesi kedua.

Kembali ke ilmu dasar, tema Jokowingit ini tidak ada kaitannya dengan siapapun. Kita harus memahaminya sebagai fenomena sejarah sepanjang masa di segala bangsa. Setiap bangsa, dari zaman Namrud, pemerintahan di masa Nabi Hud, pemerintahan Fir’aun, sampai sekarang, pernah mengalami kesedihan-kesedihan, ketidakadilan, dan kecurangan-kecurangan. Jika hal itu terjadi dalam jangka waktu yang cukup panjang, mereka tidak menemukan cara untuk mengatasi dan melawan kecurangan-kecurangan itu sehingga mereka melarikan diri kepada harapan-harapan akan datangnya pertolongan dari Langit. Ini disupport juga oleh wacana-wacana agama tertentu. Maka jawaban rakyat menghadapi krisis-krisis itu sederhana saja : memohon kepada Allah agar Dia menurunkan ksatria dari Langit untuk mengatasi keadaan karena rakyat sudah tidak mampu mengatasinya.

Maka muncullah wacana messianism, Ratu Adil, Imam Mahdi, dan ini ada di seluruh dunia. Setiap masyarakat memiliki sebutan-sebutan sendiri untuk itu, tapi ide dasarnya sama. Kalau di Jawa, ksatria dari Langit itu bernama Satrio Piningit. Kata ‘piningit’ ini berasal dari kata ‘pingit’ yang mendapat sisipan ‘-in’, sehingga artinya menjadi ‘dipingit’. Pola bahasa seperti ini serupa dengan yang terdapat dalam Bahasa Tagalog.

Jokowingit menyimpan satu fenomena lain karena kata ‘wingit’ adalah sesuatu yang substansinya tidak terletak pada yang tampak atau lahiriahnya, melainkan pada sir-nya. Dimensi di balik yang tampak inilah yang dinamakan wingit.

Wingit adalah suasana senja hari ketika awan mulai gelap dan angin berdesir aneh. Wingit juga ketika kita tertekan oleh rasa kangen kepada ibu di kampung sehingga seolah-olah udara kamar juga ikut mengekspresikan kerinduan itu. wingit bisa berlaku pada benda, orang, keadaan, dan pada apa saja. Kalau ada Joko Wingit, berarti ada seseorang atau gejala dalam masyarakat yang harus kita pahami agak panjang karena ada fenomena-fenomena yang tidak bisa didekati dengan teori-teori yang biasanya berlaku.

Bicara Joko Wingit, Satrio Piningit, Imam Mahdi, Mesiah, itu skalanya bukan lagi provinsi atau nasional, tapi dunia. Dajjal datang dari bukit di antara Mekkah dan Madinah, menerjang seluruh negeri. Barangsiapa tidak mematuhinya, akan kering kerontang pepohonan dan tanah yang ditinggalinya sehingga mereka akan mati. Barangsiapa mematuhi Dajjal, untuk mereka kesuburan.

Hanya kota Mekkah dan Madinah yang Dajjal tidak berani memasukinya. Semua orang panik mendengar informasi ini, khususnya mereka yang hidup di luar tanah Mekkah-Madinah. Tapi jamaah Maiyah ini tidak jadi masalah, karena Mekkah dan Madinah ada di dalam diri kita.

Aura peracunan (toksifikasi) dari Dajjal ini sudah berlangsung sedemikian rupa sehingga jadilah negara Republik Indonesia. Negara ini mengatur satu cara berpikir seperti yang Dajjal kehendaki, yakni menganggap surga sebagai neraka dan sebagainya.

“Saya ingin memberikan Tsalatsa wa Tsalatsa. Ini judul pidato penyesalan Abu Bakar Ash-Shidiq terhadap perlakuannya kepada Sayyidina Ali. Saya tidak akan membahas secara detail, tapi ini sudah saya cicil di Pati, Jombang, Jogja, dan Surabaya. Tiga gelombang dan tiga gelombang. Kalau sekarang Anda merasakan ada kerusakan, pertanyaannya adalah : seberapa rusaknya, sejak kapan dia rusak.”

“Apakah berdirinya NKRI ini merupakan bagian dari yang dirusak, atau bagian dari perusakan? Ini harus kita cari karena NKRI lahir tidak dari dirinya sendiri. Idenya saja bukan ide Indonesia. Ide negara datang dari Yunani Kuno, trias politica. Dan parameter yang kita gunakan untuk menilai Jokowi dan juga untuk menilai apa saja di bidang politik, ekonomi, kebudayaan, bahkan cara beragama, adalah filosofi Yunani. Maka sehebat-hebat lenong atau ketoprak, tetap tidak akan dianggap sebagai teater karena ukuran teater adalah teater versi Yunani.”

“Padahal di dunia ini ada tiga sesepuh, yakni Nusantara Tua, Mesir Tua, dan Yunani Tua. Saya pribadi sejak kecil menggabungkan ketiganya. Saya punya kesadaran Yunani, maka saya belajar intelektualitas yang sedang dipelajari doktor-doktor – dan saya berani bertanding dengan mereka semua. Tapi saya juga sekaligus mendialektikakannya dengan kesadaran-kesadaran Mesir Tua yang kemudian memusat di Timur Tengah, yang berinti di Arab. Dan saya juga mengakomodasi seluruh yang kita miliki, yakni Nusantara Tua – yang meliputi Sunda, Jawa, Melayu, Tagalog, dan area lain yang di dalamnya terdapat peradaban paling tua yang berbeda dari peradaban Yunani dan Mesir.”

Jadi kalau ngomong jati diri, kita tidak lantas anti-Yunani dan anti-Mesir. Kalau kata orang Merapi, ‘Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat’. Sekarang ini yang terjadi adalah : orang Betawi, Jawa, atau Bugis tidak punya kemungkinan untuk maju ke manapun. Untuk bisa maju, orang Betawi harus menjadi orang Indonesia. Sampai  kapanpun lenong itu kemarin dan tidak mungkin menjadi masa depan karena sudah kita bunuh sendiri kearifan lokal kita.

Kita harus menjadi orang Indonesia, sementara Indonesia itu siapa? Indonesia sekarang ini Yunani, baik sistem politik maupun pendidikannya. Begitu sekolah, kita menjadi orang Yunani. Begitu umroh, kita menjadi orang Arab. Kita tidak pernah menjadi orang Jawa, orang Bugis, orang Betawi.

Terserah kerusakan-kerusakan itu datang dari Yunani, Mesir, atau Jawa. Tapi begitu kerusakan itu tidak mampu diatasi oleh masyarakat, secara sadar maupun tidak sadar mereka memunculkan wacana Imam Mahdi, Joko Wingit, dan seterusnya. Kalau dalam wacana Islam, Dajjal ditandingi oleh Imam Mahdi. Mereka seimbang kekuatannya. Sampai kemudian datanglah Isa Al-Masih untuk membereskan Dajjal. Tapi setelah itu terjadi bencana dalam skala yang lebih besar, skala jagad raya.

“Tolong setiap kali Anda melihat apa-apa, Anda lihat dong perspektif sejarahnya. Anda jangan hidup sehari dua hari, sepenggal dua penggal. Anda pikir Islam itu apa?”

Dari Nabi Adam sampai sekarang ini baru 7000 tahun lamanya, sementara fosil manusia purba di Mojokerto atau Sragen umurnya sudah jutaan tahun. Air zamzam masih akan memancar 2,5 miliar tahun lagi. jarak antara Big Bang dengan terbentuknya planet-planet itu juga miliaran tahun. Ketika Bumi mulai teduh, dikasih air, tumbuhan, binatang, evolusi bermacam-macam, itu jaraknya sangat jauh. Dan idola kita yang namanya Muhammad itu bukan hanya yang hidup selama 63 tahun di Mekkah dan Madinah. Muhammad bin Abdullah adalah casting Nur Muhammad pada ruang waktu itu. Nur Muhammad sudah hidup sejak sebelum ada Big Bang. Karena Allah sangat mencintai ciptaan-Nya ini, maka Dia ciptakan alam semesta.

Bencana jagad raya, yang terkenal disebut sebagai ya’juj dan ma’juj itu, tidak disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits siapakah yang diutus membereskannya. Pada puncak kehidupan alam semesta nanti akan ada solusi besar yang dilakukan oleh saudara tertua kita, yaitu Muhammad, Satrio Piningit yang sebenarnya.

“Maka jangan sedih dan jangan takut, ini semua hanya drama, skenarionya Allah. Yang penting Anda manja dan cinta bener sama Allah. Kecuali yang dicontohkan Al-Qur’an dan hadits, Anda tidak perlu menghafalkan doa. Berdoalah secara orisinal.”

Ada cerita mengenai waliyullah di Pambusuang, Sulawesi Selatan. Beliau ini orang alim, pendiam, tidak punya pamrih keduniaan, dan mentidakkan materialisme. Karena itu, diangkatlah ia menjadi ulama sesepuh oleh Raja Mandar. Tapi agar Raja tidak diktator memilih secara langsung, diselenggarakanlah sayembara. Warga dikumpulkan untuk menyaksikan tiga calon sesepuh menebak isi dari sebuah kotak yang ditutupi kain Mandar yang telah dipersiapkan Raja.

Calon pertama menebak isinya kain Mandar. Raja tersenyum karena bukan benda itu yang tadi ditaruhnya di kotak. Calon kedua menebak badik. Raja agak kaget karena memang badik isinya. Calon ketiga, waliyullah tadi, tahu bahwa isinya badik, tapi karena sudah terlanjur ditebak calon kedua maka dia berdoa dalam hati, “Ya Allah, jangan permalukan aku. Kalau memang Kau mencintaiku, kalau memang Kau ijinkan untuk memenuhi apa yang diidamkan rakyat Mandar, jangan permalukan aku dong. Dia sudah terlanjur menebak badik, jadi tolong dong turutin apa yang saya omongkan nanti”. Waliyullah itu menebak, “Kosong!” dan benar saja, ketika kain disingkap, tak ada apa-apa di dalam kotak.

“Bukan berarti lalu Allah seperti yang kita omongkan, tapi bagaimana kita bisa membicarakan-Nya kalau tidak dalam bahasa budaya kita? Sementara Allah sendiri berfirman menggunakan bahasa kita.”

Allah menyesuaikan diri dengan kita. Qul audzu birabbinnaas. Allah sangat sayang kepada manusia, maka dia Rabbun, maka dia memangku dan memeluk manusia.

Malikinnaas. Aku bisa mengasuhmu karena Aku ini Raja Diraja kamu. Illahinnaas. Tapi kamu jangan lupa, Aku bukan hanya Raja. Aku ini nggak ada kamu nggak masalah. Tidak masalah kalau Aku bunuh kalian semua lalu Kuganti dengan yang baru.

Illah merupakan lambang gagah perkasanya Allah sebagai individu. Maka yang disebut ngaji itu bukan menghafalkan lagu, melainkan mengekspresikan pemahaman kita terhadap kalimat-kalimat Allah. harus kita pahami urutannya.

Messianism dalam wacana Jawa – yang pasti juga dimiliki oleh Sunda dan sebagainya – bisa kita ambil dari Jayabaya dan Ranggawarsita. Jayabaya adalah seorang Muslim Syi’ah yang memiliki tiga guru dari Persi, Turki, dan Roma. Ketiganya syekh. Guru yang berasal dari Persi banyak mengajarkan spiritualitas sehingga mereka banyak berdiskusi. Jayabaya lalu menuliskan hasil diskusi itu dalam Ramalan Jayabaya.

Sekian abad kemudian ada Ranggawarsita yang mengungkapkan hal serupa dalam bahasa yang lebih dekat dengan kita. Yang disebut sebagai Satrio Piningit itu rumusnya satrio pinandhita sinisihan wahyu.

Satrio. Satrio Piningit harus seorang ksatria : pandai, berani bertanding, jujur, sportif, berempati kepada siapapun yang dilawannya – seperti Sultan Salahuddin yang menyembuhkan jenderal pimpinan Perang Salib.

Pinandhita. Dia dipendetakan oleh kehidupan, bukan memendetakan dirinya, bukan meng-ustadz-kan dirinya.

“Kalau ada acara, kemudian saya datang dengan berpakaian gamis dan sorban, memang tidak ada salahnya. Tapi mungkin ada yang berbahaya, yaitu semua orang akan berkesimpulan bahwa yang berpenampilan seperti saya pasti lebih pandai daripada yang lain. Lebih parah lagi, kalau mereka berkesimpulan bahwa pasti saya lebih alim. Kalau itu tidak benar, kan penipuan namanya. Kalaupun memang benar, misalnya, apakah akhlak itu untuk dipamerkan kepada orang lain melalui pakaian? Tidak boleh kan? Maka saya semampu-mampu saya berpakaian seperti ini untuk mengurangi potensi penipuan saya kepada Anda. Anda tidak boleh mendewakan saya, me-Muhammad-kan saya, meng-SBY-kan saya, menghabibkan saya, karena saya adalah saya karena Allah menjadikan saya sebagai saya dan tidak karena yang lain. Maka Anda obyektif saja sama saya.”

Pandhita adalah orang yang sudah tidak kesengsem sama uang, tidak ada transaksi tidak eman, tidak dapat gaji tidak eman. Dunia sudah kecil baginya. Ada makanan atau tidak, senang atau sedih, miskin atau kaya, tidak ada bedanya karena semuanya membuat pandhita semakin kuat dari sebelumnya.

Kemiskinan harus kita gunakan untuk memperkuat diri kita, kekayaan juga harus memperkuat. Ada masalah atau tidak ada masalah, puasa atau berbuka, semuanya memperkuat kita. Firasat-firasat buruk memang ada, tapi kita harus mampu mengubahnya menjadi kebaikan.

Pandhita tidak mungkin korupsi. Dia yang mengikat uang, bukan sebaliknya. Di tangannya uang menjadi berkah untuk sesama. Di dalam diri pandhita tidak ada dirinya; yang ada hanya Allah dan rakyatnya. Tidak ada dunia, uang, materialisme. Dia tidak akan menyakiti Tuhan karena rakyatnya akan sengsara, dan dia tidak akan menyakiti rakyat karena Tuhannya akan marah. Pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang punya mekanisme kejiwaan manunggaling kawula-Gusti.

Sinisihan wahyu. Wahyu di sini merupakan idiom Jawa, bukan idiom Islam. Pemimpn harus terus-menerus berada dalam bimbingan Allah dalam setiap langkah-langkahnya.

“Saya sangat senang kalau Jokowi benar-benar Satrio Piningit. Kita bikin KC ini kan untuk mancing supaya Allah menurunkan ksatria dari Langit, dan tadi sudah ada pernyataan bahwa Jokowi turun dari Langit. Dan di internet, di mana-mana, semakin banyak orang mempercayai hal itu. Kalau benar, siapa yang nggak senang? Kalau Satrio Piningit datang, yang beres bukan hanya Jakarta, tapi juga Indonesia, Asia Tenggara, dan dunia. Oleh karena itu KC tidak perlu dilanjutkan. Sudah tidak perlu ada saya lagi. Mau rusak konstitusinya, terbalik-balik cara berpikirnya, sangat pendek jangkauan pandangnya, tidak masalah karena sudah ada Jokowi. Saya tinggal tidur saja. Kalau ada petambak bertarung, terusir, saya tinggal telpon Jokowi dan beres. Anda nggak perlu mikir lagi, nggak perlu datang Maiyahan lagi. Kita lihat, kalau bulan depan KC tidak ada, berarti Satrio Piningit sudah benar-benar datang.”

Cak Pudji memberikan tambahan dari perspektif yang berbeda. Dipercaya, orang pintar kalahnya sama orang bejo. Nah, orang Indonesia adalah orang bejo karena kita hidup di bumi yang sangat subur. Bejo ini letaknya di dalam rasa syukur kita. Yang mengalahkan orang bejo adalah orang licik. Orang licik melakukan penipuan dan pengelabuan dengan sangat halus melalui food, fashion, fear, dan fair. Makanan dan pakaian kita diatur untuk terlihat modern atau terlihat alim. Kita juga ditakut-takuti dengan menggunakan kata bid’ah, misalnya. Kita juga dipamer-pameri gemerlap demokrasi. Kalau hal ini berlangsung terus dalam waktu yang lama, ini menjadi faith, menjadi persepsi, kemudian memproduk perilaku. Seperti apa yang telah dikatakan Cak Nun tadi, kita dituntun untuk mempunyai persepsi diri sebagai bangsa inferior yang harus menjiplak Yunani. Ini membutuhkan perenungan lebih dalam, dan menjadi tugas kita untuk saling mengingatkan.

“Ada teori Dajjal menipu kita lewat food, fashion, dan sebagainya. saya ambil idiom roti dan tai. Orang Indonesia mestinya dapat roti, tapi kenyataannya dapat tai terus. Tapi karena memiliki teknologi internal, mereka bisa menelan tai sepahit apapun dengan tetap tertawa sebagaimana makan roti. Pada tahap pertama ini merupakan kehebatan. Pada tahap kedua, mereka mulai bingung bagaimana cara membedakan roti dengan tai karena toh rasanya sama-sama enak. Pada tahap ketiga lebih parah lagi, yaitu generasi sekarang, yang sudah tak punya wacana tentang tai karena koran dan politisi ngomongnya tentang roti melulu, jadi kalau suatu hari dikasih tahu bahwa itu tai, mereka marah-marah. Ini seperti yang tadi dibilang dari media massa.”

“Semoga kita punya kejernihan untuk melihat dan membedakan mana tai dan mana roti di bidang apapun. Kalau ada pemimpin baru, kita harus mampu mengidentifikasikannya sebagai roti atau tai. Harus ada kejernihan untuk menilai dengan sungguh-sungguh. Kita tidak akan mengklaim apapun, ini hanya forum untuk Anda benar-benar menelusuri pengetahuan dan menggunakan teknologi ilmu supaya akal dan nurani kita mengerti benar mana roti dan mana tai.”

“Pak Tjuk saya kira akan memaparkan secara lebih dalam bahwa Joko Wingit merupakan sesuatu yang sebenarnya sudah kita tahu tapi belum kita lakukan sehingga dia tetap wingit, tetap piningit.”

Seperti yang telah disampaikan di Relegi Malang (forum Maiyah Rebo Legian), Pak Tjuk berbagi pengetahuan mengenai yang sekarang menjadi trend di dunia kedokteran Barat yaitu metode menyerupai puasa. Tubuh kita terbangun dari 300 triliun sel yang bekerja bersama secara harmonis tanpa ada sel pemimpin. Yang memimpin adalah manusianya sendiri.

Ada perbedaan antara fasting dengan starvation. Dalam puasa, kita menyengajakan diri untuk tidak makan dan minum. Sementara starvation adalah ketidakberdayaan mengupayakan asupan makanan bagi tubuh.

Selama ini banyak orang yang tidak yakin terhadap puasa karena logika kita dibentuk untuk meyakini bahwa tubuh membutuhkan makanan. Kalau kita tidak makan, sel-sel tubuh akan rusak.

Kenyataannya tidak begitu. Seorang bekas petinggi Jakarta sempat berobat ke salah satu rumah sakit di Amerika Serikat karena menderita darah tinggi terus-menerus. Rumah sakit itu telah mengembangkan metode pengobatan dengan puasa, di mana pasien diharuskan menandatangani kontrak mati. Pasien sengaja dimatikan aktivitas sel-selnya selama 6 menit, kemudian dihidupkan kembali. Petinggi ini kemudian sehat kembali sampai sekarang.

Dalam puasa, sel-sel yang mati lebih dulu adalah sel-sel buruk atau yang mengandung penyakit. Kalau selama puasa kita masih marah-marah, berarti kebanyakan sahurnya. Semestinya cukup air putih saja. Nabi Daud menggunakan metode mematikan diri ini dengan cara sehari mati sehari hidup. Puasa ini serupa dengan metode reset pada komputer untuk memisahkan yang default dengan yang aksesoris.

“Saya mengartikan Satrio Piningit dengan puasa; ketika kita puasa, yang jelek-jelek mati, menyisakan yang baik-baik. Yang baik inilah yang dinamakan satrio pinandhita sinisihan wahyu. Karena prinsipnya setiap orang lahir memiliki perjanjian dengan Allah.”

Menanggapi uraian dari Pak Tjuk, Cak Nun mengajak jamaah mengingat kembali sejarah Muhammad sebagai direktur utama Khadijah Group Company yang kaya raya sampai Beliau berani melamar Khadijah. Tapi Muhammad justru memilih untuk miskin.

“Sabrang pernah mengatakan bahwa kalau Anda lapar, sel-sel Anda memperkuat dirinya. Tapi jangan sampai melewati batas sampai kelaparan. Secara sosial, ada perbedaan antara miskin dan fakir. Rasulullah memiilh miskin, tapi melarang kefakiran. Kemiskinan itu relatif baik, karena di situ orang berpuasa. Kekayaan cepat membuat kita lemah. Kalau dalam peristiwa sehari-hari, lapar itu baik; tapi kelaparan itu tidak boleh. Maka kalau sudah terasa kelaparan, segera ganjel sedikit saja, tidak usah makan sampai kenyang, yang penting terhindar dari kelaparan. Inilah kunci kesehatan.”

“Sama seperti metode olahraga. Hidup adalah jatah detak jantung. Kalau kamu lari, maka jantungmu dipercepat. Olahraga itu harus lengkap. Anda boleh lari pagi sehari, tapi besoknya Anda diam, jangan bergerak, dan tahan napas sepanjang-panjangnya. Besok lari pagi, lusa kembali diam tidak bernapas selama mungkin. Lama-lama akan semakin panjang napas Anda.”

“Kalau sudah punya ilmu mbathang (mematikan diri), kamu tidak akan terpesona lagi sama dunia. Apa yang semua orang kejar-kejar tidak akan membuatmu terpesona. Sel-selmu akan kuat, hatimu kuat, kamu nggak akan nelangsa oleh apa saja. Maka pintar-pintarlah mematikan diri.”

“Mereka pikir saya tidak olahraga. Memangnya Maiyahan tiap hari begini bukan olahraga? Dan yang bergerak bukan hanya badan saya. Yang bergerak adalah seluruh unsur di dalam diri saya. Itu olahraga luar biasa. Dan di dalam olahraga itu saya diam, karena gerak ada di dalam diam dan diam ada di dalam gerak. Tapa ngrame, namanya. Anda ingat ini, dan praktekkan masing-masing. Jangan peduli-peduli amat sama makan. Saya kalau pengen makan nasi sepiring, yang saya ambil seperempat piring. Saya harus mengambil seperempat dari keinginan saya. Seperempat piring itu lebih efektif daripada sepiring karena yang tiga perempat akan menjadi beban hidupmu. Yang seperempatlah yang akan menjadi kesehatanmu.”

Syekh Nursamad Kamba memberikan kunci berupa kutipan, la ta’riful haqqa birrijali wa ta’riful haqqa ta’rif ahlahu. Jangan mengenal kebenaran melalui figur idola, tapi kenalilah kebenaran supaya kamu tahu siapa yang layak kamu idolakan.

Yang dimaksud ‘mengenal’ di sini adalah mengetahui detil dari berbagai segi seperti seorang ibu mengenali anaknya sendiri. Mengenal kebenaran itu harus dari A sampai Z.

Filosofi Maiyatullah berangkat dari dua fenomena krusial dalam sejarah Islam. Pertama, kisah Nabi Muhammad di Gua Tsur ketika dikejar-kejar dalam perjalanan hijrah. Beliau tiba-tiba mengatakan kepada sahabatnya, Abu Bakar, la tahzan innallaha ma’ana. Abu Bakar merasa heran karena tidak dirasakannya ketakutan. Kalaupun meninggal saat itu, justru itu lebih baik. Kesedihan di dalam relung hatinya muncul justru karena merasa kasihan kepada penduduk Mekkah yang mengejar  Nabi Muhammad. Kalau sampai mereka mencederai Nabi, mereka akan disiksa Allah. Maka, intisari dari maiyah adalah sebuah gerakan di mana orang-orang bisa berteduh di bawahnya untuk berlindung dan mendapat ketenangan jiwa.

Secara simbolis, gagasan Maiyah yang muncul pada saat hijrah merupakan satu gagasan tentang intilaqoh (tinggal landas). Di gua itu Allah menyapa Abu Bakar melalui Nabi Muhammad dengan mesra.

Di samping itu, maiyah juga merupakan tema sentral dalam tradisi literatur sufisme. Segala teori dan gagasan sejak awal sampai akhir intinya maiyatullah, kebersamaan dengan Allah – yang bisa diekspresikan dengan fana, tauhid, atau manunggaling kawula-Gusti. Tauhid itu wahada yuwahidu. Wahada adalah mempersatukan sesuatu yang bercerai-berai, bukan menyatukan dua entitas yang berbeda.

Manusia itu sangat dihargai oleh Allah sampai-sampai Dia tiupkan ruh-Nya sendiri ke dalam diri manusia. Manusia diamanahi untuk membawa ruh Allah, maka kalau melihat wacana ksatria atau pemimpin, semua manusia memiliki kesaktian atau sifat-sifat yang sesungguhnya berasal dari Tuhan. Dan kalau kita melihat sejarah agama-agama, tidak ada satu agama pun yang tidak memiliki wacana mengenai pemimpin yang ditunggu atau Imam Mahdi yang akan datang membawa kesaktian untuk menegakkan keadilan.

Persepsi manusia terbentuk oleh narasi, maka persepsi manusia akan Allah pun juga tergantung pada narasi – apakah Allah itu personal atau impersonal. Persepsi kita akan kepemimpinan juga begitu. Kepemimpinan personal kita kaitkan dengan figur, sementara kepemimpinan impersonal kita kaitkan dengan sistem kepemimpinan dalam kebersamaan.

“Saya baru baca buku mengenai neuroscience. Intinya pikiran membentuk badan. Kalau mindsetmu sehat, badanmu juga sehat. Setiap ada informasi dan ilmu baru, jaringan sel-sel otak akan bertambah.”

Kalau kita memahami bahwa Tuhan itu personal, kita cenderung membayangkan Tuhannya orang Islam saja. Kalau seandainya semut bisa berkata, dia juga akan menggambarkan Tuhan sebagai semut raksasa. Tapi kalau kita pahami Tuhan sebagai impersonal, kita temukan Dia yang Maha Kuasa dan menguasai segala sesuatu.

Maka pemimpin juga belum tentu orang tertentu, bisa jadi dia dalam wujud sistem yang adil. Bahkan Nabi Ibrahim pun belum tentu personal. Bisa jadi dia adalah kualitas konsistensi perjalanan menuju Allah.

“Memang Al-Qur’an tidak bisa diperlakukan sebagai sesuatu yang murni tekstual dan skriptual karena dia adalah firman Allah, dan Allah sendiri tidak bisa dipersepsikan. Potong tangan untuk pencuri, misalnya, bisa dipahami sebagai pemotongan seluruh jaringan pencuri atau koruptor supaya benar-benar tuntas kasusnya.

Setengah jam terakhir, Cak Nun menyampaikan beberapa poin tambahan sekaligus penegasan, yaitu :

1. Karena tadi sudah diarahkan pada sosok Jokowi, yang perlu diingat adalah bahwa dia merupakan makhluk Allah dan kita semua punya kewajiban untuk mencintainya. Cara mencintai adalah dengan tidak membesar-besarkan melebihi kebesarannya, tidak membaik-baikkan melebihi kebaikannya, tidak membenar-benarkan melebihi kebenarannya, tidak mengkerdil-kerdilkan melebihi kekerdilannya. Kita harus memperlakukan Jokowi dengan husnudzan, dengan kejernihan dan kejujuran pikiran. Semua tetap menjadi misteri Allah dan kita berharap saja agat apa yang ditakdirkan Allah menjadi kebaikan untuk kita semua. Di Maiyah tidak ada kebencian kepada siapapun.

2. Apa yang kita sukai belum tentu benar, yang kita dukung belum tentu baik, yang kita junjung-junjung bisa jadi mencelakakan kita, yang kita butuhkan belum tentu benar-benar kita butuhkan, yang kita tidak sukai bisa saja mendatangkan manfaat. Ini harus  dicari sungguh-sungguh karena kalau tidak, kita akan tersesat dalam diri kita sendiri. Ini merupakan peringatan frontal dari Allah. Cara untuk menemukannya adalah dengan rumus yang telah disampaikan Syekh Nursamad Kamba tadi, jangan mengenali kebenaran melalui figur, tapi carilah kebenaran untuk bisa menemukan siapa yang layak dijadikan tokoh. Oleh karena itu sistem penanggalan Islam meletakkan dasar bukan pada kelahiran Muhammad melainkan pada peristiwa hijrah Beliau. Yang diutamakan adalah kualitas, bukan figur. Maka bisa saja memang, Nabi Ibrahim adalah kualitas

3. Kunci kesehatan adalah jangan pernah berpikir untuk tidak jujur. Begitu kita berpikir untuk tidak jujur, akan tercipta konslet-konslet dan disharmoni pada sel-sel tubuh kita dan ini akan menimbulkan penyakit.

4. Tidak apa-apa kalau kita hanya mampu makan tai, tapi kita harus tetap tahu bahwa itu tai. Tidak apa-apa tidak mampu melawan kedzaliman, tapi jangan lantas mengatakan bahwa itu bukan kedzaliman. Ilmu dan pengetahuan bahwa peristiwa itu merupakan pengetahuan harus tetap dipegang.

“Maka saya sering disebut sebagai pendendam karena saya tidak pernah tidak ingat apa yang dilakukan orang kepada saya. Tapi jangan harap saya akan membalas atau melakukan keburukan kepada orang itu. Yang saya lakukan adalah saya tidak boleh sedikitpun mengkhianati presisi pengetahuan saya bahwa saya didzalimi. Tapi tidak ada output bahwa saya akan balas mendzalimi dia. Kalau saya tidak jujur terhadap fakta sejarah ini, akan terjadi disorganisasi sel-sel syaraf saya.”

“Sekitar tahun 2002 saya pernah CT Scan seluruh badan, dan hasilnya dari leher sampai dada hitam pekat. Sudah mati seluruh teroid dan onderdil saya di organ itu. Usia saya diperhitungkan secara medis tinggal 3,5 bulan. Berat badan saya turun lebih dari 20 kilogram, dan saya tremor. Istri saya bilang sepertinya ada yang nggak wajar. Dan itu saya tidak tergeletak. Saya tetap jalan ke mana-mana. Saya tidak pernah menganggap diri saya sakit.”

“Sampel feses saya diambil oleh Pakdhe, sahabat saya, dan di-pack di dalam tabung film yang tebal dan rapat. Di tengah perjalanan, tabung itu meledak. Besok paginya dibawa ke Laboratorium Kimia UGM, dan baru terurai ketika dipanasi di suhu 1300 derajat Celcius. Kandungannya besi, uranium, dan zat-zat peledak lain. Ini yang menghancurkan teroid saya, menyebabkan makanan yang masuk ke kerongkongan tak bisa diolah dan tubuh saya memakan dirinya sendiri.”

“Saya tahu siapa yang bikin, berapa biayanya, apa kepentingannya, tapi saya tidak dendam sedikitpun. Bahkan saya sayang kepada mereka lebih daripada sebelumnya. Kalau ada orang yang menyakitimu, jangan sampai orang itu tahu bahwa kamu tahu dia sedang menyakitimu. Kasihan dia.”

“Lalu ketika periksa darah di Doktor Asdi, Beliau tak percaya bahwa itu darah saya karena darah itu darah yang ada pada orang lumpuh. Akhirnya saya berhenti berobat karena dokter tidak bisa mengobatinya. Tinggal Allah yang menghidupkan. Saya akhirnya menghidupkan sel-sel saya dengan cara diam. Saya masuk air, bersila, diam, dan supaya tidak bernafas saya masuk ke dalam air. Seminggu kemudian saya gemuk banget, sembuh total. Ini juga bisa terjadi pada Anda pada tingkat yang mungkin berbeda.”

“Sehatkan dirimu dengan dirimu sendiri, jangan sedikit-sedikit ngebon (minum obat). Sehatlah dengan mekanismemu sendiri, dari iradhahmu sendiri, karena Anda punya hak takdir sebab Allah meniupkan ruh ke dalam dirimu.”

5. Syekh Siti Jenar itu tidak ada. Dia merupakan simbol eksperimentasi simulasi bahwa ada yang harus jadi wingit dalam masyarakat, jangan diumum-umumkan kepada yang belum siap. Ini merupakan bagian dari kesadaran Sunan Kalijaga, satu-satunya wali yang mengerti bahwa dakwah Islam harus dielaborasi secara kultural dan strategi kejawaan karena Beliau mengurusi orang Jawa.

6. Jangan bersikap seperti penumpang kapal karam. Saking takutnya mati, apa saja diambil supaya tidak tenggelam, lantas memonumenkan dan mempahlawankan benda yang pada saat itu menyelamatkan kita. Terhadap Jokowi harus tetap obyektif dan memberi kesempatan. Bagaimanapun dia bermaksud baik. Bahwa di sekitarnya banyak setan-setan, itu sudah pasti karena setiap densitas positif harus diseimbangkan dengan densitas negatif.

7. Manusia dipelihara oleh Allah dengan kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan dan tantangan-tantangan supaya dia tetap waspada dan memperkuat sel-selnya.

8. Ciri agama adalah punya ibadah mahdloh yang penentuan waktu dan tata caranya langsung oleh Allah.

9. Nabi-nabi dan orang-orang besar tidak pernah menangis. Muhammad tidak pernah menangis di sholat tahajjudnya. Beliau menangisi. Menangis itu untuk diri sendiri, menangisi itu untuk orang banyak. Menangisi merupakan peristiwa sosial, sementara menangis merupakan peristiwa individu.

10. Cita-cita Maiyah sederhana saja : kita semua (tanpa ada hierarki) berproses untuk menjadi manusia yang seharusnya. Selama ini kita disuruh oleh sistem untuk tidak menjadi diri kita sendiri. Siapa saja disuruh menjadi orang yang sama, padahal Allah tidak pernah menciptakan satu sidik jaripun yang sama.

11. Puncak pengetahuan adalah ketidaktahuan, dan kita harus menghormati, menghargai, dan merasakan manfaat dari tidak tahu. Banyak hal yang kita sebaiknya tidak tahu. Mampu menjangkau dimensi di luar jangkauan kita saat ini akan sangat merepotkan. Maka, bukan hanya pengetahuan yang perlu disyukuri; ketidaktahuan juga merupakan rahmat sangat besar. Etos pendidikan Yunani yang mengatakan bahwa kita harus memperbanyak informasi terus-menerus, itu salah. Satu ayat dulu selesaikan, baru ke ayat berikutnya. Kita menguasai informasi bukan dengan cara menelan semua informasi, melainkan dengan cara menjadi sumber informasi. Kalau hanya bisa menampung dan mempercayai semua informasi yang disuguhkan, itu namanya menjadi narapidana informasi.

“Maka sekolahlah sampai kamu tahu bahwa kamu dibodohi, dan mereka gagal membodohkanmu.”

12. Yang kita lakukan selama ini adalah sekadar pasang sajen sama Allah. Siapa tahu dengan merombak diri sendiri menjadi yang seharusnya, Allah menyelamatkan Indonesia. Atau, bisa juga Allah memberikan porsi amanat kepada kita untuk terjun mengurusi Indonesia. Itu terserah Allah.

Tidak mungkin Allah tidak memberikan kenikmatan kepada kita. Hasbunallah wa nikmal wakil, nikmal maula wa nikmannasir; aksennya pada kenikmatan. Kita bukan hanya harus mampu melayani, tapi juga harus mampu menikmati pekerjaan melayani itu. kita harus mampu menikmati baik kekayaan maupun kemelaratan.

“Saya memohon kepada Allah agar seluruh thariqat Anda, khalwat Anda malam hari ini, benar-benar memperkuat sel-sel Anda, kehidupan Anda, seluruh kuda-kuda dari pekerjaan dan perjuangan Anda, serta menjadikan seluruh anak-istri dan keluarga Anda diberi kesehatan jasmani-rohani,” tambah Cak Nun.

Kemudian Syekh Nursamad Kamba memimpin doa untuk kebersamaan. [Red KC/Ratri Dian Ariani]