Pesan Dari Tikungan Iblis

IBLIS kerap dituduh manusia sebagai biang kerok degradasi akhlak.Kebiasaan mencari kambing hitam itu disentil Teater Dinasti lewat lakon Tikungan Iblis. Teater yang digawangi Kiai Kanjeng itu menyoroti degradasi bangsa.

Di tengah tarikan berbagai kepentingan, apalagi menjelang pemilu dan kondisi krisis global, manusia kini semakin sulit menemukan kebahagiaan karena manusia telah tereduksi menjadi fungsi-fungsi yang kadang kurang manusiawi. Teater bisa menjadi media untuk merebut kebahagiaan itu, selain untuk pengembangan potensi.

“Konsep teater Tikungan Iblis lebih dimaksudkan sebagai pentas kebahagiaan keluarga besar Dinasti dan Kiai Kanjeng. Selain itu untuk mencoba menyodorkan berbagai paradigma yang berbeda tentang sosok iblis dan ideide pemanggungan,”ungkap Emha Ainun Najib yang akrab disapa dengan panggilan Kiai Kanjeng menjelang pementasannya di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM),Jakarta (29- 30/12).

Seperti pementasan sebelumnya, teater ini menyertakan Novia Kolopaking sebagai tokoh utama yang berperan sebagai Siti Majenuna.Tokoh ini merupakan “tokoh kiriman” iblis yang menyuarakan nilai-nilai filosofis dan makna nilai sosial yang kian luntur di mata masyarakat. Walau judulnya tentang iblis, ceritanya tidak seseram sinetron atau film-film bergenre “gentayangan” di bioskop kita.

Ceritanya justru tentang Burung Garuda, lambang negara Indonesia yang dulu digambarkan gagah perkasa. Namun, selang beberapa waktu, Garuda ini malah tampak loyo, lapuk,berkerut,dan makin kerdil.Di teater ini sang garuda disebut Emprit,seekor burung kecil yang kurang kuat menyangga beban tetapi gila terhadap kebesaran, kurang percaya diri, pandai berkelit, ahli melarikan diri,dan pakar eskapisme (setiap ada masalah langsung pakai jurus shortcut cari kambing hitam).

Pentas yang disutradarai Jujuk Prabowo dan Fadjar Suharno (pimpinan teater Dinasti) ini didukung senimanseniman Yogya seperti Joko Kamto (Smarabhumi/Iblis), Novi Budianto (Prawiro),Fadjar Suharno (Maula Hasarapala), Untung Basuki (Maula Makahala), Jemek Supardi (Tapel), dan belasan pemain muda lain.
Fadjar Suharno selalu pemimpin Teater Dinasti mengungkapkan, pertunjukan Tikungan Iblis ini setidaknya menjadi jembatan mencairnya suasana panggung pertunjukan yang sarat warna kontemplatif atas eksistensi manusia dan iblis dengan apresiasinya,yaitu penonton. Apalagi didukung oleh gubahan rasa musikal Kiai Kanjeng bernuansa religi yang sudah amat akrab di telinga sebagian masyarakat.

“Setiap ada masalah, kita selalu mencari kambing hitam sehingga bangsa ini tidak pernah mampu menguak masa depan. Itulah yang mengakibatkan kepribadian bangsa menjadi sangat mudah tergoda oleh berbagai penyimpangan moral dan akhirnya menimpakan segala kesalahan itu kepada iblis. Lagi-lagi, sosok tak berwujud itu yang dijadikan kambing hitam. Kadang saking kesalnya, orang yang dijadikan kambing hitam dianggap iblis,” ujar Fadjar Suharno.
Sudah berabad-abad lalu iblis selalu jadi kambing hitam manusia dalam kesalahan. Padahal,manusia berbuat jahat didorong oleh nafsu sendiri yang mewujud dalam godaan yang diistilahkan bisikan setan. Di teater ini, maunya Emprit– sosok yang kurang percaya diri itu–menyalahkan Tuhan.Tapi karena tidak berani, iblis yang dikambinghitamkan.

Di teater ini pula,kita dapat mengetahui “isi kata hati”iblis yang sejak berabadabad lalu telah dijadikan kambing hitam. Fadjar mengistilahkan iblis telah di-casting sebagai musuh Tuhan,didakwa bertanggung jawab atas setiap dan semua kebobrokan kelakuan manusia. Manusia yang di teater ini diceritakan selalu gede rasa (GR) selalu berpikir bahwa untuk mencuri, korupsi, membunuh, menipu, dan menzalimi diperlukan iblis terlebih dahulu untuk menggoda mereka.

“Kalian manusia tidak memerlukan iblis untuk rusak dan hancur. Itu cukup kalian dapatkan dengan bekal nafsu dan keserakahan orisinal kalian sendiri. Saya bukan tandingan kalian dan saya sejak awal penciptaan sudah berjanji tidak akan menyentuh manusia ciptaan Tuhan yang memiliki hati ikhlas,” pekik iblis dalam narasi cerita Tikungan Iblis. Lantas,apakah iblis itu ada?

Kata Kiai Kanjeng, iblis itu tidak butuh eksistensi.Dia hanya penasaran menunggu beberapa tahun lagi di depan Nusantara dan mampu mengubah Emprit itu bangkit menjadi Garuda yang gagah perkasa lagi. (Sumber: SINDO, 3 Januari 2009)