Berita & Opini |
|
|
11 May 2010, 08:56:09
Pengantar KC Mei 2010: "Lorong Per-ADAB-an"
Ditulis Oleh: Red/KC
Pembahasan peradaban selalu dikaitkan dengan pembahasan masyarakat. Biasanya kita akan mengaitkan keduanya sebagai subjek-objek atau sebaliknya objek-subjek. Peradaban sebagai objek merupakan pencapaian-pencapaian dari masyarakat pada suatu wilayah(luas) dan pada zaman tertentu. Pencapaian-pencapaian tersebut dapat berupa bangunan, teknologi, tata ruang wilayah, sistem ekonomi, pertanian, tatanan pemerintahan, norma aturan sosial dan sebagainya. Peradaban sebagai subjek merupakan sistem kehidupan masyarakat yang aktif memelihara nilai-nilai hasil pencapaian kegiatan masyarakat serta berusaha menyiapkan generasi penerus yang ditujukan untuk meningkatkan nilai-nilai hasil pencapaian tersebut.
Pola terbentuknya masyarakat dapat dikategorikan sebagai Kesatuan(United) dan Kebersamaan(Togetherness). Kesatuan terbentuk akibat inisiatif dan usaha dari individu atau kelompok yang mempersatukan individu-individu atau kelompok-kelompok lainnya dalam sebuah masyarakat. Superioritas dari individu/kelompok pemersatu diperlukan dan sangat berperan dalam kesatuan masyarakatnya. Maju-mundurnya kesatuan masyarakat sangat tergantung pada kemampuan individu/kelompok yang dominan dalam mengayomi kesatuan masyarakat. Sedangkan pola Kebersamaan muncul dari inisiatif dan usaha individu-individu yang terjalin dan terbentuk atas dasar kesadaran atas perlunya kehidupan bersama dalam masyarakat. Maju mundurnya kebersamaan masyarakat terkait dengan jalinan fungsi-fungsi yang terjalin di dalamnya.

Bagaimana dengan kehidupan bermasyarakat di zaman kita ini? Kita saat ini hidup pada Kesatuan masyarakat dengan Pemerintah sebagai pemersatu dan kita sebagai rakyat yang dipersatukan. Pemerintah adalah pengayom rakyat, yang melayani kita. Kita dapat dengan nyaman hidup bermasyarakat didalam negara yang sedang diselenggarakan oleh pemerintah. Terjaminlah syarat-syarat hidup untuk dapat kita bermasyarakat, terjaminlah kebutuhan pokok kita, pendidikan anak-anak kita, keamanan kita, budaya, tradisi kita, keberagaman dan keber-agama-an kita. Bahkan jikalau terpaksa negara membutuhkan pajak dari kita, pemerintah dapat dengan santun memintanya, luwes, terampil dan bertanggung jawab untuk menjaga setiap sen dari uang yang sudah kita titipkan untuk benar-benar dan sebaik-baiknya dimanfaatkan oleh negara.
Jika pemerintah kurang mampu memenuhi syarat-syarat tersebut, keraguan kita sebagai rakyat terhadap kesatuan masyarakat akan muncul. Bisa saja kita melakukan aksi-aksi demonstrasi guna mengingatkan kesatuan masyarakat yang semestinya dipelihara. Tidaklah jarang dari kita yang telah melakukan aksi semacam itu, dan sampai dengan saat ini kita masih layak untuk mempertanyakan keberadaan Kesatuan masyarakat tersebut.
Membentuk kesatuan masyarakat baru ditengah masyarakat hanya akan memunculkan konflik vertikal antara rakyat dan pemerintah. Selain itu kita tidak memiliki kemampuan untuk membentuk kesatuan masyarakat baru. Namun, kehidupan sosial bermasyarakat mustinya tetap berlangsung, tetap berjalan dan terus berjalan di Lorong Peradaban dengan tujuan untuk kebenaran, kebaikan dan keindahan.
Salah satu cara terbaik untuk mengatasi kebuntuan keadaan ini yaitu dengan tidak tergantung pada pemerintah dalam kita menjalani kehidupan pribadi dan bermasyarakat. Kemandirian kita dalam menjalani kehidupan pribadi dan sosial benar-benar dituntut, tidak hanya kepada pemerintah namun juga kepada pihak manapun, tidak tergantung kepada majikan, manajer, Boss, karyawan, pembantu, orang-tua, suami-istri, kaka-adik, teman dan sahabat kita. Cukuplah kita tergantung hanya pada Tuhan.
Dalam kehidupan sosial, ketergantungan antar individu hanya akan menjadi beban individu lainnya. Semestinya, kehidupan sosial terjalin atas kesadaran bersama dalam menjalani peranan masing-masing dalam kehidupan sosial. Senantiasa beraktifitas menurut adab-adab dalam masyarakat, sehingga bukan ketergantungan antar individu, namun keterkaitan antar pribadi dalam Per-ADAB-an bermasyarakat.
Demikian pengantar acara hasil dari pensarian dari berbagai sumber dan aktifitas diskusi yang dapat disampaikan, harapan kita pada acara nanti akan lebih terurai dan tercerahkan.
Selamat menghadiri Kenduri Cinta Mei 2010, “Lorong Per-ADAB-an”. (Red/Amien)
Bogor, 2:51 11-050 2010. 2+5+1+1+1+5+2+1 = 1+8 = 9
|
|
|
|
|
|
|
| Catatan Kecil Dari Redaksi |
14 April 2009, 10:57:27 
Warna-warni Cinta
Ditulis Oleh: Adi
Misalnya kalau tarikan cinta kita kepada Allah digambarkan sebagai vektor vertikal dan tarikan ... [detail] ...
|
04 March 2009, 10:19:51
Pilihan Atau Pilihan
Ditulis Oleh: Adi
Sepintas judul diatas mungkin bisa dianggap bahwa catatan kali ini tentang pemilu yang ... [detail] ...
|
| Man Of The Match |
 Mohammad Natsir Yang Konsisten
Mohammad Natsir lahir di Jembatan Berukir, Alahan Panjang Kebupaten Solok, pada hari Jumat tanggal 17 Juli 1908 bertepatan dengan tanggal 17 Jumadil Akhir 1326 Hijriah. Kedua orang tuanya berasal dari Maninjau. Ayahnya Idris Sutan Saripado seorang pegawai pemerintah dan pernah menjadi asisten demang di Bonjol. Ibunya bernama Kadijah.
Sampai kelas dua Sekolah Rakyat, |
| Serambi |
23 March 2009, 12:56:59 
Hidup Itu Di Hati
Emha Ainun Nadjib
Manusia hidup dari hatinya. Manusia bertempat tinggal dihatinya. Hati adalah sebuah perjalanan panjang. ... [detail] ...
|
23 February 2009, 14:38:41
1 Tamparan 3 Pertanyaan
Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri. ... [detail] ...
|
| Podjok Media |
24 July 2009, 10:28:34 
Gontor Itu Indah
Ditulis Oleh: Red/Tempo
Di pesantren gontor setiap anak berlatih membangun privacy, mendengarkan kesunyian diri. keistimewa- annya: ... [detail] ...
|
30 June 2009, 10:32:55
Lakon Politik Pak Kanjeng
Ditulis Oleh: Nirwan Dewanto
Pak kanjeng, monolog karya Emha Ainun Nadjib, ... [detail] ...
|
|
Polling KC |
| Apakah anda setuju dengan akan diadakannya Maiyah Se-Nusantara? |
|
Version 2.07
|
|
| Agenda |
Calendar Script
|
September 2010 |
| S |
M |
T |
W |
T |
F |
S |
| |
|
|
1 |
2 |
3 |
4 | |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 | |
12 |
13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
18 | |
19 |
20 |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 | |
26 |
27 |
28 |
29 |
30 |
|
|