Berita & Opini |
|
|
13 April 2010, 10:02:37
Kenduri Cinta April 2010: "Lintasan Kebaikan"
Ditulis Oleh: Sang Nananging Jagad
Etika mengajarkan tentang nilai baik dan buruk. Sesuatu yang bermanfaat dalam kehidupan digolongkan sebagai kebaikan. Menolong orang lain, bersedekah, menyantuni kaum fakir, bekerja keras, belajar, mengaji adalah sederetan contoh kebaikan. Kebaikan biasa disepadankan dengan istilah kebajikan atau kesholehan.
Adapun sesuatu yang merugikan dalam kehidupan sering disebut sebagai suatu keburukan. Malas, serakah, kebohongan, mencuri, merampok, korupsi, manipulasi, kolusi adalah beberapa contoh keburukan. Etika merupakan landasan dasar nilai moralitas yang akan sangat menentukan peradaban manusia.
Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan seperangkat aturan dan ajaran untuk keselamatan hidup manusia. Bagaikan sebuah perusahaan peralatan elektronik yang menyertakan user manual untuk setiap produknya, Tuhanpun mewahyukan kitab suci sebagai pedoman menjalani kehidupan. Dengan demikian sebenarnya Tuhan telah menggariskan satu tuntunan, satu alur, satu jalur, atau satu lintasan yang harus dilalui oleh makhuk-Nya. Lintasan inilah yang dimaksud sebagai lintasan kebaikan, demikian uraian pembuka dari Adi KC.
 Merujuk kepada uraian di atas, sejatinya manusia hidup untuk menjalankan misi Tuhan dalam memakmurkan bumi. Diandaikan melakukan satu perjalanan, manusia bagaikan pereli yang melalui satu lintasan yang telah ditentukan. Manusia tidak begitu saja blasakan, nerjang hutan, gunung dan jurang tanpa arah serta navigasi yang jelas. Segala hal mengenai lintasan kebaikan yang harus ditempuh manusia telah lengkap tertulis di dalam ayat-ayat-Nya.
Dr. Nursomad Khamba lebih jauh menguraikan bahwa kebaikan dalam bahasa Arab memiliki beberapa istilah. Ada khoir, hasan, ma’ruf, dan biir. Masing-masing istilah sebenarnya menunjukkan kepada hirarki, tingkatan atau derajad kadar setiap kebaikan. Hasan merupakan perasaan dan tindakan yang dilandasi dengan prasangka baik kepada Allah, tanpa pernah sekalipun menyangsikan kehendak-Nya. Ma’ruf memiliki pengertian sebagai kebaikan dalam berperilaku sosial. Adapun khoir adalah kebaikan yang bersifat pribadi atau personal yang melandasi suatu pergaulan dan menentukan status sosial. Sebagai puncak kebaikan adalah kebaikan yang telah teruji kebaikannya, inilah biir seperti halnya haji yang telah mencapai kemabruran.
Beberapa pelaku kebaikan dalam mengangkat harkat dan martabat, serta nilai kemanusiaan sengaja hadir untuk berbagi kisah dan pengalaman dalam edisi KC bulan ini. Diantaranya Dr. Idris, Prof Aryono, dr. Ahmad Mediana, SpOG, dan Cak Heri Syaifudin.
Dr. Idris merupakan praktisi di dunia pendidikan yang fokus kepada manajemen sumber daya. Beliau menekankan bahwa kebaikan berbanding lurus dengan kemanfaatan. Rasulullah bersabda, khoirunnas anfauhum linnas. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Tentu saja pengertian ini dapat diperluas dan diperdalam maknanya menjadi bermanfaat bagi diri sendiri maupun manusia lainnya, bagi alam dan lingkungan sekitar. Pendidikan merupakan salah satu cara internalisasi nilai untuk memperkenalkan nilai kebaikan dan keburukan. Dengan mengetahui batasan dan rambu antara kedua hal tersebut, manusia semestinya dapat menjaga perilakunya untuk tetap berada dalam koridor lintasan kebaikan yang dikehendaki Tuhan.
Prof Aryono mengelola Yayasan Ambulan Gawat Darurat 118. Ia sangat prihatin dengan tingkat kematian yang tinggi di Jakarta sebagai akibat lambatnya pertolongan medis karena kendala angkutan ambulan. Meminta bantuan ambulan di ibu kota ini dibutuhkan waktu yang sangat lama, jika dibandingkan memesan KFC atau McDonalds yang bisa datang dalam sepuluh menit. Masalahnya apakah nilai sepotong daging ayam lebih mahal dibandingkan nyawa manusia?
Akibatnya, angka kematian sebagai akibat lambannya penanganan pasien di ibu kota menjadi sangat tinggi. Dalam setiap tahunnya 1000 nyawa melayang akibat kecelakaan, 2000 karena penyakit jantung, dan 1000 akibat stroke.
Adapun dr. Ahmad Mediana ahli dalam bidang kebidanan. Dalam praktik kesehariannya, ia sering menjumpai si miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan yang semakin tinggi di negeri ini. Atas dorongan hati dan nurani ia ingin berbuat sesuatu yang mudah-mudahan dapat bermanfaat kepada orang lain dengan membentuk Yayasan Rumah Hati. Yayasan ini bergerak dalam pengumpulan dana untuk kegiatan sosial kemasyarakatan bidang kesehatan, kemiskinan, dan pendidikan. Ia sangat yakin bila manusia bekerja untuk kebaikan, maka Tuhanpun juga akan “bekerja” untuk menolong manusia.
Yayasan AGD118 dan Rumah Hati kemudian berkolaborasi untuk pengadaan ambulan yang saat ini hanya dua buah untuk pelayanan seluruh Jakarta. dr. Ahmad menambahkan bahwa di Israel, negeri zionis yang selalu kita lihat dari sisi negatifnya saja, memiliki tradisi untuk mengajarkan memberi sesuatu yang bermanfaatan kepada orang lain kepada anak-anak, bahkan sejak usia tiga tahun.
Di negeri ini kebaikan seseorang seringkali disalahgunakan untuk kepentingan pribadi semata. Oleh karena itu dalam memberi sesuatu, agar kemanfaatannya lebih optimal, harus diketahui dengan pasti siapa yang akan menerima, buat apa dan bagaimana hasilnya. Dengan demikian pemberian kebaikan itu bisa lebih tepat sasaran.
Lain halnya dengan Cak Heri. Ia mengaku lulusan dari “universitas” alam jagad raya, meski pernah menyelesaikan diploma pertamanan/lanscape. Bersama dengan komunitasnya ia ingin menanamkan rasa cinta kepada alam, bagaimana menghargai tanah sebagai tidak sekedar bernilai ekonomi, namun juga sisi ecovalue-nya. Ia kemudian mengembangkan pertanian kota di seputar Depok dan Sawangan dengan sekaligus melakukan konservasi situ berbasis masyarakat. Ia menanam dan mempertahankan pohon blimbing sebagai identitas flora Depok. Iapun mengembangkan tanaman hias, sehingga komunitasnya benar-benar mengangkat kehidupan sosial dan ecoenterpreunership sekaligus.
Selanjutnya Cak Puji memulai uraiannya dengan menampilkan tayangan tentang manusia dalam memenuhi kebutuhannya melalui eksploitasi sumber daya yang ada. Manusia dalam kondisi lemah dan kurang, maka ia mengalami kemiskinan. Manusia dalam kondisi lemah dan berkelebihan,maka ia akan bersikap pelit. Manusia yang kuat namun selalu merasa kekurangan, dialah manusia kaya. Adapun manusia yang memiliki kekuatan sekaligus kelebihan, maka ia akan selalu serakah untuk mendapatkan yang lebih dan lebih lagi. Bila ia kemudian menurutkan keserakahannya, maka iapun kemudian akan mengalami kebangkrutan dan jatuh miskin kembali. Inilah kira-kira siklus kehidupan yang ingin dipaparkan Cak Puji, sang penulis buku Indonesian Ideot yang best teller itu!
Ketika menanggapi pertanyaan tentang persaingan bisnis dan usaha dari salah satu jamaah, Cak Puji menyampaikan bahwa baginya hidup bukanlah pertandingan. Dalam pertandingan satu pihak menganggap pihak lain sebagai rival, bahkan musuh yang harus dikalahkan. Di sinilah kemudian hukum rimba akan berlaku, dimana yang kuat akan memakan yang lemah. Dalam pertandingan satu pihak menghadapkan mukanya kepada pihak lain sebagai musuh, hingga akhirnya akan muncul kemenangan versus kekalahan.
Usaha apapun dalam hidup semestinya dipandang sebagai sebuah perlombaan. Dalam perlombaan satu pihak dengan pihak yang lain tidak saling berhadapan muka. Masing-masing pihak telah memiliki lintasan kebaikannya. Dalam perlombaan setiap pihak akan lebih berkonsentrasi untuk memaksimalkan potensi dalam diri dan peluang untuk selalu mengembangkannya. Perlombaan dapat diibaratkan sebagai sebuah festival yang menggembirakan dan menguntungkan semua pihak yang terlibat. Di sini nampak bahwa masing-masing pihak akan duduk sebagai partisipan yang satu sama lain akan bekerja sama, saling mendukung dan melengkapi.
Sebagaimana sering disinggung Cak Nun, tujuan hidup adalah untuk beramal. Predikat dari manusia adalah bekerja! Maka bekerjalah karena Anda sehat, dan jadikan itu sebagai perwujudan pelaksanaan amanat Tuhan serta rasa syukur atas segala nikmat dan potensi kebaikan yang Anda miliki. Rejeki jangan dicari! Memangnya Tuhan menyembunyikan rejeki?
Kekayaan bukanlah ukuran keberhasilan dalam bekerja. Daripada menjadi richman, orang kaya, lebih baik bila kita memilih menjadi orang yang wealthy alias sejahtera. Kesejahteraan diukur secara ruhaniah, hingga lebih berdimensi vertikal dan kekal. Inilah pentingnya dalam setiap kerja dan karya bakti kita untuk senantiasa melibatkan Tuhan sebagai sumber utama inspirasi.
Sebagai puncak daripada puncak hikmah dini hari itu, Kiai Budi tampil dengan mutiara kata bak sang Jalaluddin Rummi. Ditegaskan bahwasanya kelahiran merupakan matinya keinginan. Lihat lah sosok bayi yang datang ke muka bumi dengan tangisnya, sementara orang-orang di sekitarnya tersenyum simpul bahagia. Seorang bayi menginginkan bicara, menginginkan minum susu, ingin bicara, ingin segera berjalan dan bermain. Semua keinginan itu tentu saja belum dapat diwujudkan, karena memang keinginan itu masih mati. Meskipun demikian, Tuhan menggerakkan orang-orang di sekitar si bayi untuk memenuhi setiap keinginan dan kebutuhannya.
Adapaun dalam kematian terdapat kepasrahan dan ketidakberdayaan. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Ibrahim kedatangan Israil untuk menjemputnya. Dengan penuh percaya diri Ibrahim menjawab, “Wahai Israil, Tuhan adalah kekasihku! Adakah seorang kekasih akan tega mematikanku?” Israilpun kalah akal dan kembali kepada Tuhan seraya melaporkan ulah Ibrahim. Tuhanpun kemudian memberikan titah baru, “Katakanlah kepada Ibrahim, apakah seorang kekasih sejati menolak untuk berjumpa dengan kekasihnya?” Dan tatkala hal itu disampaikan kepada Ibrahim, iapun pasrah bongkokan memenuhi panggilan cinta dari sang kekasih.
Maka dari itu para sufi mengajarkan, mutu qabla anta mutu, matilah kamu sebelum kamu mati. Kosongkanlah diri dari ego dan nafsu! Tiadakanlah diri sehingga kita menjadi ada.
Seorang hamba pernah mengetuk pintu Allah, “Kulo nuwun ya Allah”.
“Siapakah itu”, jawab Allah.
Sang hamba kembali menyahut, “Aku ya Allah”.
Maka jawab Allah, “Aku? Pulanglah kamu dan jangan pernah menghadap-Ku”.
Hamba itupun kemudian kembali ke bumi dan beriadzoh selama dua puluh tahun untuk kemudian mencoba mengahadap kepada-Nya kembali. Dan tatkala ia mengetuk pintu kemudian ditanya, “Siapakah dirimu?”, maka dengan sigap menjawab “Allah!” Tatkala itulah kemudian Allah membukakan pintu dan mempersilakan kekasih sejatinya untuk bertemu manunggal dengan-Nya. Inilah makna pengosongan diri, peniadaan diri, karena yang sejatinya ada hanyalah Allah. Hamba bagaikan cermin yang di setiap kesempatan perjumpaan dengan Allah, maka yang terlihat di hadapan Allah hanyalah Allah.
Bila manusia hanya mengedepankan akal dan rasionalnya tanpa menggunakan hati, jadilah kesombongan dan kebodohan yang hadir bersamaan. Manusia membawa seguci air kepada Allah, padahal Allah adalah luasan samudra tiada batas. Manusia membawa segenggam pasir, padahal Tuhan adalah gurun pasir nan luas terbentang. Manusia membawa seberkas obor, padahal Tuhan adalah cahaya maha cahaya. Manusia penuh diliputi ketidaktahuan dan kebodohan di muka Tuhannya. Maka bila hanya otak yang menjadi parameter dalam bertindak, hidup hanyalah sebuah transaksi ekonomi yang berbicara tentang untung rugi. Hidup akan semakin hampa karena tiada cinta sejati antara hamba dan Tuhannya.
Setelah kesadaran jiwa menyelimuti dirimu, segeralah kepakkan sayapmu dan tinggalkanlah sarangmu yang penuh tai dan kotoran itu! Terbanglah tinggi dan jauh melanglang buana! Jadilah burung elang yang terbang tinggi dan dapat menerawang luas ke batas cakrawala. Temukanlah dalam ketinggian itu kesunyian sejati, jagad awang-uwung dimana makna kesejatian terbabar dalam hidup kita.
Janganlah diri kita terbang hanya laksana si hitam burung gagak. Burung gagak hanya mampu terbang rendah, dan dalam kerendahan itu ia hanya mampu makan dari sisa-sisa makanan makhluk lain. Gagak hanyalah pemakan bangkai!
Jika memang dalam kehidupan sehari-hari kita senantiasa diselimuti penderitaan duniawi, sesungguhnya itu hanyalah bagian dari muaqobah. Tebuslah dosa dan kesalahanmu dengan deritamu! Maka sejatinya dengan penderitaan itu Allah bermahkota di dalam diri kita, bila kita senantiasa memanggil dan dhedhepe penuh kepasrahan bahwasanya semuanya itu berasal dari-Nya dan sudah semestinya kita kembalikan kepada-Nya pula.
Kalaulah penderitaan itu masih dapat kita rasakan sebagai rasa sakit, itu hanyalah wujud jasadiyah. Maka bila kita telah mencapai kematangan jiwa dalam peniadaan diri seorang hamba di hadapan-Nya, dan mampu meruhaniahkan setiap fenomena jasadiyah, yakinlah bahwa penderitaan itu tiada akan terasa oleh jasad kita.
Dunia bagaikan pohon yang membuahkan buah kehidupan. Buah yang telah matang harus berpisah dari induk pohonnya untuk memberikan kemanfaatan kepada makhluk lainnya secara lebuh universe. Ia harus mandiri dan disapeh dari segala ketergantungan hidup.
Sejatinya kematian adalah pembebasan derita duniawi yang penuh dengan kotoran ruhaniah. Dengan demikian setiap inti dari pelaksanaan ibadah yang telah dituntunkan-Nya kepada hamba-Nya adalah upaya pembersihan diri untuk kembali lagi suci seperti bayi, dan siap untuk menghadap dan berjumpa dengan sang kekasih sejati, Allah SWT. (Kampung Kosong, 10 April 2010)
|
|
|
|
|
|
|
| Catatan Kecil Dari Redaksi |
14 April 2009, 10:57:27 
Warna-warni Cinta
Ditulis Oleh: Adi
Misalnya kalau tarikan cinta kita kepada Allah digambarkan sebagai vektor vertikal dan tarikan ... [detail] ...
|
04 March 2009, 10:19:51
Pilihan Atau Pilihan
Ditulis Oleh: Adi
Sepintas judul diatas mungkin bisa dianggap bahwa catatan kali ini tentang pemilu yang ... [detail] ...
|
| Man Of The Match |
 Mohammad Natsir Yang Konsisten
Mohammad Natsir lahir di Jembatan Berukir, Alahan Panjang Kebupaten Solok, pada hari Jumat tanggal 17 Juli 1908 bertepatan dengan tanggal 17 Jumadil Akhir 1326 Hijriah. Kedua orang tuanya berasal dari Maninjau. Ayahnya Idris Sutan Saripado seorang pegawai pemerintah dan pernah menjadi asisten demang di Bonjol. Ibunya bernama Kadijah.
Sampai kelas dua Sekolah Rakyat, |
| Serambi |
23 March 2009, 12:56:59 
Hidup Itu Di Hati
Emha Ainun Nadjib
Manusia hidup dari hatinya. Manusia bertempat tinggal dihatinya. Hati adalah sebuah perjalanan panjang. ... [detail] ...
|
23 February 2009, 14:38:41
1 Tamparan 3 Pertanyaan
Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri. ... [detail] ...
|
| Podjok Media |
24 July 2009, 10:28:34 
Gontor Itu Indah
Ditulis Oleh: Red/Tempo
Di pesantren gontor setiap anak berlatih membangun privacy, mendengarkan kesunyian diri. keistimewa- annya: ... [detail] ...
|
30 June 2009, 10:32:55
Lakon Politik Pak Kanjeng
Ditulis Oleh: Nirwan Dewanto
Pak kanjeng, monolog karya Emha Ainun Nadjib, ... [detail] ...
|
|
Polling KC |
| Apakah anda setuju dengan akan diadakannya Maiyah Se-Nusantara? |
|
Version 2.07
|
|
| Agenda |
Calendar Script
|
September 2010 |
| S |
M |
T |
W |
T |
F |
S |
| |
|
|
1 |
2 |
3 |
4 | |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 | |
12 |
13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
18 | |
19 |
20 |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 | |
26 |
27 |
28 |
29 |
30 |
|
|