Banner
  Kirimkan Berita, Artikel, Puisi, Cerpen, Atau Informasi Apapun Saja Ke Redaksi@kenduricinta.com
Berita & Opini
03 February 2010, 14:16:34
Daur Tafsir Kontekstual
Ditulis Oleh: Toto Rahadjo

Pengantar Redaksi: Tulisan ini disusun mengiringi kesepakatan JM pada pertemuan Pematangan Hasil Kesepakatan Haflfah Maiyah 2009 dan Pematangan Panduan Acara Rutin Majlis Ilmu Maiyah di Kadipiro 28 Januari 2010. Di antara kesepatakan itu adalah para JM akan secara rutin mengadakan kajian pendalaman atas tafsir Cak Fuad atas Maiyah yang tertuang dalam buku yang ditulisnya berjudul “Maiyah di dalam Al-Quran”.



Semua orang-jamaah sangat diperbolehkan menafsir, bahkan semestinya wajib. Karena proses tafsir merupakan bagian untuk menghidupkan akal budi. Tafsir juga merupakan kaca benggala sensitivitas dan cerminan setiap orang pada pemahaman, pengalaman, dan sekaligus cermin dari pandangan hidupnya.

Tentu yang menarik adalah sebuah proses menafsir bersama dengan cara, sudut, dan jarak pandang yang beda merupakan pertarungan pemaknaan pada realitas dan pada akhirnya menjadi kesepakatan dan kesepahaman bersama.



Metode Daur Tafsir

Langkah pertama adalah tentukan bab mana dari ayat-ayat yang berkaitan dengan maiyah yang akan ditafsir dengan dimulai dari contoh apa yang dirasakan, yang dilihat, yang didengar, apa yang dialami. Langkah kedua adalah coba ungkapkan dari realitas yang diangkat di atas (apa, siapa, kapan, berapa). Langkah ketiga adalah mulailah menganalisis (menafsir)–mengapa terjadi seperti itu, mengapa ada fakta, data, fenomena seperti itu. Pada langkah ini dimensi warna, keluasan, aliran pikiran akan muncul–juga pada kedalaman. Langkah keempat adalah memasuki tahap kesimpulan. Kesimpulan akan meluas dan mendalam ditentukan seberapa kelengkapan data, tingkat kekritisan analisis serta bagaimana pendalaman ayat-ayat tersebut pada realitasnya. Langkah kelima adalah sebuah langkah persepakatan–lalu mau apa, bagaimana sebaiknya.



Kerja Tafsir Kontekstual merupakan Proses Pendidikan

Sebagai contoh, tradisi Katholik membagi 2 untuk urusan tafsir yakni Imam dan kaum awam. Awam tidak diperkenankan menafsir–namun pada kenyataannya apa mungkin manusia tidak menafsir? Manusia yang tidak diperkenankan menafsir sama artinya dengan menafikan harkatnya sebagai manusia (dehumanisasi). Namun dari pengalaman itu banyak orang Katholik yang justru menjadi pionir metode-metode partisipatif termasuk mengembangkan teologi pembebasan. Jadi pada dasarnya proses-proses dehumanisasi semacam itu mendua, yakni terjadi di mayoritas umat dan juga atas diri kaum imam.

Dengan menyimak pengalaman tersebut kita menyadari bahwa menafsirkan bersama di kalangan jamaah adalah upaya proses pendidikan yang tertuju pada fitrah manusia sejati yakni menjadi pelaku (subyek) bukan penderita (obyek), sejalan dengan nilai-nilai yg terkandung dalam maiyah. Jamaah maiyah harus menggeluti dunia dan realitasnya dengan penuh daya cipta dengan menggunakan energi maiyah sehingga lahir sikap orientatif yang merupakan pengembangan bahasa pikiran (language of thought), yakni pada hakekatnya jamaah mampu memahami keberadaan dirinya dan lingkungan dunianya (yang didalamnya terkandung relasi Allah dan Nabi) dengan bekal akal pikiran, budi, dan tindakannya. Dengan menafsir dengan cara praxis sesungguhnya jamaah tengah memaknai dunia dan realitasnya.

Bertolak tentang manusia dan maiyah, kemudian merumuskan gagasan-gagasan tentang hakikat maiyah dalam suatu dimensi yang sifatnya sama sekali baru dengan situasi di sekelilingnya (pembaharuan), maka proses tafsir haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas jamaah dan dirinya sendiri. Pengenalan itu tidak cukup hanya bersifat obyektif atau subyektif, tetapi harus dua-duanya. Kebutuhan obyektif untuk mengubah keadaan yang tidak manusiawi selalu diperlukan kemampuan subyektif (kesadaran subyektif) untuk mengenali terlebih dahulu keadaan yg tidak manusiawi, yang terjadi senyatanya yang obyektif. Maka obyektifitas dan subyektifitas bukan dua hal yang bertentangan, bukan dikotomi. Kesadaran subyektif dan kemampuan obyektif yakni fungsi dialektis dalam diri seseorang dalam hubungannya dengan kenyataan yang saling bertentangan yang harus dipahaminya. Maka hubungan dialektis tidak berarti persoalan mana yang lebih benar atau yang lebih salah. Maka proses tafsir ayat-ayat maiyah harus melibatkan tiga unsur dalam hubungan dialektis yang lumintu:

    * pemandu

    * jamaah

    * realitas dunia



Langkah awal yang paling menentukan dalam proses menafsir ayat-ayat maiyah secara kontekstual yakni harus dilakukan secara terus menerus–selalu “mulai dan mulai lagi”, maka akan ditemukan proses SEHATI (inherent). Maka hakikat dari proses menafsir merupakan dunia kesadaran yg tidak boleh berhenti, harus terus berproses, berkembang dan meluas dari satu tahap ke tahap berikutnya sampai akhirnya mencapai tingkat kesadaran tertinggi dan terdalam yakni “kesadarannya kesadaran” (the consice of the consciousness)–inti dari kesadaran manusia yakni intensionalitas pengalaman akan realitas. Jika seseorang/jamaah sudah mencapai tingkat kesadaran tertinggi maka sudah masuk ke dalam proses pengertian bukan proses menghafal semata-mata.

Orang-orang/jamaah yang mengerti bukanlah orang yang menghafal, karena ia menyatakan diri atau sesuatu berdasarkan sesuatu “sistem kesadaran”. Sedangkan orang/jamaah yang menghafal hanya menyatakan diri atau sesuatu secara mekanis tanpa (perlu) sadar apa yang dikatakannya, dari mana ia telah menerima hafalan yang dinyatakannya itu, dan untuk apa ia menyatakan kembali pada saat itu.

Arti penting kata-kata yang dinyatakan seseorang/jamaah sekaligus mewakili kesadarannya, fungsi interaksi antara tindakan dan pikirannya. Menyatakan kata-kata yang benar dengan cara yang benar adalah menyatakan kata-kata yang memang disadari atau disadari maknanya, disitulah arti memahami realitas. Kata-kata yang dinyatakan sebagai bentuk pengucapan dari bentuk kesadaran, bukanlah kata-kata yang diinternalisasikan dari luar tanpa melalui proses refleksi, bukan slogan, namun berasal dari perbendaharaan kata-kata orang/jamaah itu sendiri untuk menamakan dunia yg dihayatinya sehari-hari, betapapun sederhana. []

Arsip Berita & Opini
Sumur KC





kalau ada pemimpin tidak tahu batas kemampuan anda sendiri, maka anda akan mengatakan bahwa orang yang tertawa ketir (karena banjir) itu adalah gembira (M. sobary/kc-0207)









Itulah cara kita berkuasa, kita tidak membenci mereka, kita tidak mengutuk mereka, karena mereka juga tidak mengerti kalau mereka kurungan, emang ada kurungan yang ngerti…?









Partai-partai adalah batang-batang yang menciptakan kurungan bagi Garuda….. Tapi kita jangan benci pada kurungan, karena kita bisa copoti dan dipakai untuk fungsi yang lain









Mengabdi dan berkorban, Qurban itu satu metode untuk mendapatkan kedekatan. Adjective-nya taqqorub, pelakunya qorib, kalau lebih dekat namanya akrab atau aqrob. Qurban adalah metodologi sosial untuk memperoleh sesuatu yang semula belum dekat menjadi lebih dekat.









Ketidakterbatasan adalah puncak segala pengetahuan. Jika kita bergerak ke arahnya, ia menampak. Jika kita diam, ia pun bisu. Jika ilmu di tangan kita bergetar, ia pun menggeliat dan menampakkan pertanda. Dan jika ilmu kita tertidur, maka pengetahuan tidak kita jumpai sebagai pengetahuan, melainkan sebagai gudang, sebagai rak-rak buku yang diam.(ean)









Islam itu tinggi dan tidak ditinggikan oleh yang lain. Itu terlalu tinggi ilmunya dan nggak usah ngomong kayak gitu...biasa-biasa aja....Aku rendah dan aku lebih rendah dari-MU, maka berilah aku kesempatan untuk bisa menaikkan derajatku, gitu aja...Maka kesadaran yang utama yang kita bangun disini (KC) adalah kesadaran kejelataan bukan kesadaran kebesaran, kesadaran sebagai manusia biasa. Mari kita bersyahadat bahwa kita manusia, supaya kita lulus jadi manusia. Kalau anda lulus jadi manusia, anda akan lulus jadi rakyat. Kalau anda lulus jadi rakyat, anda akan jadi pemimpinnya rakyat(CN).(KC-0107)









Televisi itu tidak punya agama.............. Hanya memanfaatkan momentum untuk jualan..Musim salak jual salah…...Musim romadhon jual agama... Di televisi itu tidak ada urusan nilai ...Jadi kalau ada kyai/ustad di situ Cuma distempel saja. (KC-1007)









Kita bisa kapan saja diambil oleh Allah, karena kita tidak punya hak apapun atas diri kita.Anda tidak punya hak atas rambut anda, anda tidak punya hak atas hidung anda.Semua adalah pinjaman Allah.Dan yang meminjami itu berhak mengambilnya kembali kapan saja dia mau. Mari kita sadari posisi hak pakai kemanusiaan kita ini dan sewaktu-waktu pemiliknya boleh mengambilnya









Yang terjadi bukan kemiskinan… yang sedang kita saksikan adalah pemiskinan……….kelompok-kelompok yang berkuasa ….mereka menggantikan penjajah menghisap rakyatnya sendiri…… Jangan anggap orang yang tidak berpendidikan formal itu tidak bisa kritis…mereka tahu yang mana salah yang mana benar… Kalau rakyat diam jangan anggap mereka bodoh…kita biarkan mereka memimpin ….kita dulu memilih …supaya mereka amanah… Sebagian besar dr kita ini munafik….kita nyatakan Bertuhan tetapi kita tidak mengerti bahwa dunia ini bukan rumah tujuan. (HS DILLON).(KC-0507)









Barang siapa di antara hamba-hamba yang membunuh saudara-saudaranya dengan prasangka, dengan fitnah, dengan ketidakadilan, dengan kecurangan, dengan kebencian, dengan fikiran yang buta dan hati yang bebal - hendaklah menyiagakan dirinya untuk memasuki ranjau-ranjau yang disediakan oleh Allah atas dasar kebusukan jiwa mereka sendiri





Catatan Kecil Dari Redaksi
14 April 2009, 10:57:27
Warna-warni Cinta
Ditulis Oleh: Adi

Misalnya kalau tarikan cinta kita kepada Allah digambarkan sebagai vektor vertikal dan tarikan ... [detail] ...
04 March 2009, 10:19:51
Pilihan Atau Pilihan
Ditulis Oleh: Adi

Sepintas judul diatas mungkin bisa dianggap bahwa catatan kali ini tentang pemilu yang ... [detail] ...

Man Of The Match
Mohammad Natsir Yang Konsisten

Mohammad Natsir lahir di Jembatan Berukir, Alahan Panjang Kebupaten Solok, pada hari Jumat tanggal 17 Juli 1908 bertepatan dengan tanggal 17 Jumadil Akhir 1326 Hijriah. Kedua orang tuanya berasal dari Maninjau. Ayahnya Idris Sutan Saripado seorang pegawai pemerintah dan pernah menjadi asisten demang di Bonjol. Ibunya bernama Kadijah.

Sampai kelas dua Sekolah Rakyat,


Serambi
23 March 2009, 12:56:59
Hidup Itu Di Hati
Emha Ainun Nadjib

Manusia hidup dari hatinya. Manusia bertempat tinggal dihatinya. Hati adalah sebuah perjalanan panjang. ... [detail] ...
23 February 2009, 14:38:41
1 Tamparan 3 Pertanyaan

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri. ... [detail] ...

Podjok Media
24 July 2009, 10:28:34
Gontor Itu Indah
Ditulis Oleh: Red/Tempo

Di pesantren gontor setiap anak berlatih membangun privacy, mendengarkan kesunyian diri. keistimewa- annya: ... [detail] ...
30 June 2009, 10:32:55
Lakon Politik Pak Kanjeng
Ditulis Oleh: Nirwan Dewanto

Pak kanjeng, monolog karya Emha Ainun Nadjib, ... [detail] ...

Polling KC
Apakah anda setuju dengan akan diadakannya Maiyah Se-Nusantara?
Setuju
Antara Setuju & Tidak Setuju
Tidak Setuju
Lain-lain


View results
Version 2.07

Agenda
Calendar Script
July 2010
S M T W T F S
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

Link
Bangbang Wetan
Kiai Kanjeng
maiyahKC
PadhangMbulan
Taman Ismail Marzuki
Copyright © 2008 By www.kenduricinta.com All rights reserved