Banner
  Kirimkan Berita, Artikel, Puisi, Cerpen, Atau Informasi Apapun Saja Ke Redaksi@kenduricinta.com
Artikel
29 July 2009, 15:26:14
Tak Ada Cinta di Media: Tribute to Mbah Surip
Ditulis Oleh: Muhammad Taufiq

Saya mengenal Mbah Surip sekitar tahun 2004. Waktu itu SCTV yang beberapa kali menayangkannya. Tetapi “ledakan” kepopulerannya tidak terjadi. Terhitung hanya beberapa bulan saja orang mengenal dan membicarakannya. Mungkin karena kemasan entertaining-nya gak “kena” waktu itu.


 


Lama berselang, kakek yang kabarnya lahir di Mojokerto 60-an tahun yang lalu ini, tidak saya dengar sama sekali. Hingga sampai akhir tahun 2006 saya mendapati kembali pria paruh baya dengan penampilan dan gaya khasnya ini di acara Kenduri Cinta (KC). Dia selalu menjadi “artis tetap” di acara yang dimotori oleh Cak Nun (panggilan akrab Emha Ainun Nadjib) ini. Waktu itu KC selalu digelar sebulan sekali. Namun seiring dengan dialektika yang terjalani, acara yang digelar setiap Jumat kedua ini hanya tentatif saja belakangan. Ia akan hadir di Taman Ismail Marzuki (TIM) jika memang “sudah waktunya” untuk tampil.

Begitulah. Setiap ada KC maka di situ pula ada Mbah Surip. Jika Cak Nun dengan Kiai Kanjengnya ditanggap oleh komunitas tertentu pun, Mbah Surip tidak pernah ketinggalan nimbrung bersama mereka. Lagu yang dibawakannya juga tetap lagu yang banyak ditembangkan oleh banyak orang sekarang ini. Alhasil lagu “Tak Gendong” itu sudah amat akrab di telinga ini sejak akhir 2006. Apalagi buat orang-orang yang suka nongkrong bareng dengannya di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan atau komunitas awal KC. Dan sebenarnya tidak cuma lagu itu yang cukup populer dan banyak diminati oleh jamaah KC. Ada lagu namanya “Bangun Tidur”. Lagu ini malah sudah jadi semacam lagu wajib di acara yang kumpulan manusianya disebut dengan ma’iyah (kebersamaan) ini. Selain itu ada juga yang judulnya “Lagu Siluman”. Wah, yang ini malah lebih nyentrik lagi dari “Tak Gendong”. Pembawaannya juga jauh lebih nyentrik dari pada klip yang ada di TV.





Keberadaan Mbah Surip di acara yang sering disebut maiyahan ini sering menjadi penyegar disaat jumud menghinggapi para hadir. Jika penat karena diskusi sudah terasa maka tampillah si Mbah. Yang hadir pun sontak tertawa, padahal belum lagi dia bernyanyi. Seperti yang sering kita saksikan di TV akhir-akhir ini, segala tingkah polanya memang selalu mengundang tawa. Bahasanya yang rada-rada aneh, keterangannya yang lumayan ngawur namun mengandung unsur surprise, selalu membuat semua yang hadir tertawa. Apalagi jika tawa khasnya keluar, membuat yang hadir tambah terpingkal-pingkal. Jika sudah demikian, suasana segar namun hangat terasa kembali.

Saat itulah kami merasakan cinta – sebuah relasi yang tidak dihitung berdasar logika untung-rugi. Mbah Surip tampil menyanyikan lagunya karena cinta kepada kami; kami pun menerimanya dengan penuh kecintaan kepadanya. Tidak ada yang dibayar maupun membayar di acara ini. Tidak tampak rasa bosan meski setiap bulan selalu lagu itu-itu saja yang disajikan si Mbah. Semua karena kecintaan yang hadir kepada satu sama lainnya. Berbicara tentang apa saja asalkan selalu dialasi oleh cinta. Cinta kepada bangsa, negara, sesama, kepada Tuhan, alam, dan siapapun serta apapun asalkan pantas untuk didekati dengan cinta. Namanya saja Kenduri Cinta. Pesta dari, oleh, untuk, dan karena cinta.

Bukan hanya rambut gimbalnya yang membuat pria (yang kabarnya pula) beranak empat ini menarik. Pembawaan Mbah Surip yang “ultra” poloslah yang justru, menurut saya, membuatnya unik. Bahkan teramat unik. Mbak Bertha, guru vokal yang wajahnya juga sering nongol di acara Kontes Dangdut TPI (KDI), menilai si Mbah sebagai sosok yang amat merdeka. Ia bisa tidur dimana saja dia mau. Dia tidak tergantung pada tempat tidur untuk bisa tidur. Ia tergantung pada matanya, yang jika merasa ngantuk ia akan pejamkan saat itu pula. Entah itu di halte, di cafe, atau dimanapun dia berada. Cak Nun sendiri mengumpamakan Mbah Surip seperti tahi lalat. Keberadaannya mungkin remeh dan tidak penting. Tetapi ia bisa membuat manis wajah seseorang. Keberadaan Mbah Surip mungkin tidak penting. Tetapi ia membuat manis hidup ini. Ia membuat banyak orang terhibur setiap mereka mendapatinya.





Kepolosan itulah yang mungkin menular pada lagu-lagunya. Jika bukan Mbah Surip yang membawakan lagu “Tak Gendong”, hasilnya pasti tidak akan seperti Mbah Surip membawakan. Jadi perpaduan diri dan lagu yang poloslah yang, menurut saya, membuat lagu yang kabarnya sudah menjadi ring back tone (RBT) lebih dari sejuta pengguna ponsel ini meledak.

Tetapi rasanya bukan itu semata yang membuatnya jadi terkenal. Bahkan faktor kepolosan bukanlah faktor yang menjadikannya terkenal. Kepolosan hanyalah nilai uniknya. Kepolosan adalah “nilai jualnya”. Yang membuatnya jadi terkenal adalah media. Media massa telah membuat si Mbah menjadi lebih tenar dari sebelumnya. Sekarang hampir setiap orang mengenalnya. Orang-orang dari Merauke hingga Sabang. Mungkin juga di negeri tetangga. Lagunya dinyanyikan oleh banyak orang, dijadikan RBT, dan sebagainya.

Jadwal show pun berdatangan. Dari stasiun TV ke TV lainnya. Dari satu kota ke kota lainnya. Tidak hanya untuk bernyanyi, tetapi juga untuk acara komedi, reality show, infotainment, dan lain-lain. Managernya sampai kewalahan mengatur jadwal kabarnya.

Mbah Surip pun jadi OKB (orang kaya baru). Sebuah mobil sudah dimilikinya. Rumahnya tambah ciamik. TV-nya baru, lebih besar dari sebelumnya. Royalti dari RBT lagu “Tak Gendong” saja kabarnya sudah 4,5 milyar. Itu pun cuma dari satu provider, belum dari provider yang lain. Belum lagi honor dari show-show yang lain. Singkatnya Mbah Surip sudah jadi selebritis baru. Keberadaannya sudah terima lebih luas. Tidak hanya di komunitas-komunitas yang “kering” saja seperti selama ini.

Namun itulah yang saya wanti-wanti – sesuatu yang menjadi semacam kegelisahan saya. Saya teringat sebuah “teori” dari salah seorang teman. Dia bilang, “siapa yang dibesarkan oleh media, akan dikecilkan oleh media suatu saat kelak”. Sekelebat kemudian saya teringat pada Aa Gym, dai kondang yang pernah dimanja oleh media. Di siarkan kemana-mana. Setelah dia mempraktekkan poligami, media pun seolah “membunuhnya”.

Tentu saja saya berharap itu tidak terjadi pada diri unik si Mbah. Saya berharap pria nyentrik yang ngakunya sudah jalan-jalan ke banyak negara ini tidak “depend on” media. Tidak keblinger karena besar oleh media. Tidak lupa diri karena terkenal. Tidak berubah karena sudah masuk TV, dan tidak-tidak sejenis lainnya. Pendeknya tidak “kalah” oleh media. Saya tidak mau melihat si Mbah yang merdeka menjadi terjajah oleh dan karena media yang korporatis seperti sekarang ini. Lebih dari itu saya berharap Mbah “nyentrik” Surip ini bisa lebih besar dari kebesaran yang dibuat oleh media padanya.

Kadang-kadang dalam hati kecil saya berdoa agar si mbah tidak lama-lama “dipake” oleh media. Bukan karena tidak mau si mbah jadi terkenal, kaya, atau yang lainnya. Tetapi karena media tidak memiliki CINTA.


Arsip Artikel
Komentar
Komentar oleh Soerip, Pada 29-07-2009, 16:33:31
News Good...
Komentar oleh lareangon, Pada 30-07-2009, 13:48:09
bentul sekale...pribadi media massa yang penting laku dan tak ada i love you full ....

Nuwun sewu, jangan jangan cucunya, atau marganya mbah Soerip...
Komentar oleh Hendro, Pada 31-07-2009, 13:04:00
Buat Mbah Soerip::: Makasih yaa dah bikin senyum dan tertawa. thanks ya
Komentar oleh opik, Pada 03-08-2009, 11:09:43
bukan mas. cuma salah seorang jamaah yang cinta padanya saja. tq
Komentar oleh opik, Pada 04-08-2009, 12:00:32
innalillah wa inna ilaihi rajiuun. tawamu masih kulihat di televisi, tp umur siapa yang tau. Mbah, sungguh menyentak kepergianmu. sungguh, tidak kusangka akan secepat ini. aku masih berharap aku masih akan mendapatimu bernyanyi di KC nanti. tp umur memang kuasa-Nya. Usia adalah hak-Nya. Kita tidak pernah tahu dan tak kan pernah tahu. Mbah, seperti ada yang hilang dari ini mengetahui engkau telah berpulang. Tapi apalah kuasaku, apalah daya kita. Kita hanya hamba-hamba-Nya. Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fu'anhu. Ya Allah, sebagaimana telah dia bahagiakan berjuta umat dan hamba-Mu, maka bahagiakan ia di sisi-Mu. Ampuni dia sebagaimana selalu dia lupakan semua kesalahan orang. Sayangi dia sebagaimana sayangnya kepada kami semua. Duhai Yang Maha Kasih lagi Maha Penyayang...
Selamat jalan Mbah. Cinta kami bersamamu. Engkau sudah dirindukan oleh yang memiliki Cinta. Datanglah dengan cinta kepada-Nya.
Ya Allah.... sayangi dia, Ya Allah... sayangi dia
Komentar oleh yesy, Pada 04-08-2009, 12:12:34
baru baca artikel ini kemarin lalu saya dengar simbah wafat siang ini, innalillah wa inna ilaihi rajiuun. Gusti Allah berkehendak lain di tengah-tengah popularitas simbah yang sedang menanjak. simbah "diselamatkan" =)
Komentar oleh wildan, Pada 04-08-2009, 17:24:17
Mbah Surip I Love You Full. kgn mbah sm tawa mu mbah.

Semoga Allah menerimamu disisiNya.
Komentar oleh foolbaby, Pada 05-08-2009, 08:58:34
nunut copas , biar mbah surip semakin dicintai :)
Komentar oleh feri, Pada 05-08-2009, 11:06:19
semoga mbah di terima di sisi NYA.
Komentar oleh walter, Pada 05-08-2009, 13:55:25
Kemerdekaan yang terperangkap dilayar kaca, dan akhirnya terbebas pulas lepas tak bertepi....dalam kekekalan dipangkuan-Nya
Berharap Kenduri Cinta tetap Full dengan Love nya Mbah Surip,
sampai ketemu Mbah di TIM dalam acara KC bulan ini sekalipun tanpa jasadmu tapi semangat tawa-riamu akan bersama kami....
1-10 dari 13 Komentar. 1.2
Slilit KC





Pemimpin kita ini hanya melihat dosa struktural,maka yang dipentingkan adalah korban dan yang dikorbankan itu rakyatnya terus...kalau rakyatnya banjir dihibur "rakyat itu biasa menderita kok", karena rakyat itu selalu menjadi tumbal (Romo Benny Susetyo)(KC-0307)









Percayalah kepada demokrasi tapi waspadalah kepada orang yang bilang kepada anda mengenai demokrasi….. Percayalah kepada pluralisme dan toleransi antara perbedaan-perbedaan tapi hati-hati kalau ada orang yang ngomong toleransi perbedaan kepada anda









Barang siapa di antara hamba-hamba yang membunuh saudara-saudaranya dengan prasangka, dengan fitnah, dengan ketidakadilan, dengan kecurangan, dengan kebencian, dengan fikiran yang buta dan hati yang bebal - hendaklah menyiagakan dirinya untuk memasuki ranjau-ranjau yang disediakan oleh Allah atas dasar kebusukan jiwa mereka sendiri









Percayalah kepada demokrasi tapi waspadalah kepada orang yang bilang kepada anda mengenai demokrasi….. Percayalah kepada pluralisme dan toleransi antara perbedaan-perbedaan tapi hati-hati kalau ada orang yang ngomong toleransi perbedaan kepada anda









Demokrasi itu harus dipikir, dimana demokrasi berlaku, dimana demokrasi jangan berlaku, atau dimana demokrasi berapa persen yang berlaku.









Yang terjadi bukan kemiskinan… yang sedang kita saksikan adalah pemiskinan……….kelompok-kelompok yang berkuasa ….mereka menggantikan penjajah menghisap rakyatnya sendiri…… Jangan anggap orang yang tidak berpendidikan formal itu tidak bisa kritis…mereka tahu yang mana salah yang mana benar… Kalau rakyat diam jangan anggap mereka bodoh…kita biarkan mereka memimpin ….kita dulu memilih …supaya mereka amanah… Sebagian besar dr kita ini munafik….kita nyatakan Bertuhan tetapi kita tidak mengerti bahwa dunia ini bukan rumah tujuan. (HS DILLON).(KC-0507)









Intelektual itu ialah orang-orang yang mengerjakan apa saja yang memang bukan tugasnya.









kalau ada pemimpin tidak tahu batas kemampuan anda sendiri, maka anda akan mengatakan bahwa orang yang tertawa ketir (karena banjir) itu adalah gembira (M. sobary/kc-0207)









Partai-partai adalah batang-batang yang menciptakan kurungan bagi Garuda….. Tapi kita jangan benci pada kurungan, karena kita bisa copoti dan dipakai untuk fungsi yang lain









Tawakal itu perwakilan atau pelimpahan urusan kepada Allah. Ada presentase dari kehidupan kita yang kita wakilkan kepada Allah. Kita naik motor itu tidak menjamin tidak ada yang menabrak itu. Kemungkinan untuk tidak tertabrak ini kita serahkan kepada Allah. Jantung kita berdetak atau tidak, itu kita hanya bisa tawakal, kita tidak bisa atur itu





Catatan Kecil Dari Redaksi
14 April 2009, 10:57:27
Warna-warni Cinta
Ditulis Oleh: Adi

Misalnya kalau tarikan cinta kita kepada Allah digambarkan sebagai vektor vertikal dan tarikan ... [detail] ...
04 March 2009, 10:19:51
Pilihan Atau Pilihan
Ditulis Oleh: Adi

Sepintas judul diatas mungkin bisa dianggap bahwa catatan kali ini tentang pemilu yang ... [detail] ...

Man Of The Match
Mohammad Natsir Yang Konsisten

Mohammad Natsir lahir di Jembatan Berukir, Alahan Panjang Kebupaten Solok, pada hari Jumat tanggal 17 Juli 1908 bertepatan dengan tanggal 17 Jumadil Akhir 1326 Hijriah. Kedua orang tuanya berasal dari Maninjau. Ayahnya Idris Sutan Saripado seorang pegawai pemerintah dan pernah menjadi asisten demang di Bonjol. Ibunya bernama Kadijah.

Sampai kelas dua Sekolah Rakyat,


Penulis
Muhammad Affip
Syamsuri Muhammad

Serambi
23 March 2009, 12:56:59
Hidup Itu Di Hati
Emha Ainun Nadjib

Manusia hidup dari hatinya. Manusia bertempat tinggal dihatinya. Hati adalah sebuah perjalanan panjang. ... [detail] ...
23 February 2009, 14:38:41
1 Tamparan 3 Pertanyaan

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri. ... [detail] ...

Podjok Media
24 July 2009, 10:28:34
Gontor Itu Indah
Ditulis Oleh: Red/Tempo

Di pesantren gontor setiap anak berlatih membangun privacy, mendengarkan kesunyian diri. keistimewa- annya: ... [detail] ...
30 June 2009, 10:32:55
Lakon Politik Pak Kanjeng
Ditulis Oleh: Nirwan Dewanto

Pak kanjeng, monolog karya Emha Ainun Nadjib, ... [detail] ...

Polling KC
Apakah anda setuju dengan akan diadakannya Maiyah Se-Nusantara?
Setuju
Antara Setuju & Tidak Setuju
Tidak Setuju
Lain-lain


View results
Version 2.07

Agenda
Calendar Script
July 2010
S M T W T F S
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

Link
Bangbang Wetan
Kiai Kanjeng
maiyahKC
PadhangMbulan
Taman Ismail Marzuki
Copyright © 2008 By www.kenduricinta.com All rights reserved